YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Kata—”ishlah”—pernah amat menggembirakan nahdliyin, bagai janji tentang siang yang teduh. Ia disambut, dengan kelegaan bersama, tak hanya oleh kaum sarungan di seluruh penjuru Nusantara, tapi mungkin juga oleh bangsa jin di alam sana. Ada semacam rasa syukur kolektif: keretakan akan terkatup, perpecahan usai. Ia adalah momen ketika keramat Lirboyo bertua dan berakar: damai dan selesai.
Namun islah, rupanya, adalah “makhluk” yang pemalu. Ia tak selalu datang hanya karena sebuah mufakat struktural yang telah dibacakan. Kita bicara tentang “ishlah” yang hakiki, yang dalam Kitab Tibyan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, mestinya bermakna pembenahan yang menyeluruh, tulus, dan berjangka panjang. Ia bukan sekadar basa-basi diplomatik.
Ia menuntut “taslim”—penyerahan diri sepenuhnya pada kemaslahatan bersama, pada kehendak yang lebih besar dari ego pribadi atau golongan. Tapi kemudian, realitas datang dengan suara yang lebih keras dari puisi. Belum lama janji itu terucap, kegelisahan kembali menggerayangi ruang-ruang batin.
Rois Am yang kita hormati bersama, masih menyebut Gus Zulfa sebagai Pj, sebab belum “dinasakh”, butuh pleno. Kapan pleno? Pertanyaan itu menggantung, tak terjawab. Di sisi lain, gaung berbeda terdengar dari Batang, Gus Yahya menyebut Said Amin Husni sebagai Sekjen PBNU. Dua narasi yang berbeda, dua realitas yang bertabrakan di atas satu panggung “islah” yang sama.
Di mana letak “taslim” yang dijanjikan itu? Apakah ia menguap bersama angin, atau hanya tersimpan dalam lemari arsip mufakat yang dingin? Tampaknya, masalahnya bukan pada kata ishlah itu sendiri, melainkan pada ketidaksiapan psikologis para pelakunya.
Damai mungkin bisa diterima secara formal, di lisan, di atas kertas atau meja konsultasi dengan para pejuang yang sudah banyak makan garam. Tetapi, di batin, dinamika masih berkecamuk. Ada jarak yang menganga antara pernyataan publik dan kegelisahan privat. Lisan berkata “selesai”, batin masih menjeritkan “belum.”
Mungkin saja, bagi sebagian orang, “ishlah” adalah ancaman. Ia bukan tahqiq al-mashlahah (realisasi kemaslahatan), melainkan penutup peluang. Mungkin saja ada peluang proyek atau akses kekuasaan yang dipertaruhkan. Dan, bagi mereka yang hidup dari ekosistem konflik, damai adalah musim paceklik. Maka, api ambisi material itu sulit padam.
Ia hanya bisa padam jika para kiai sepuh benar-benar didengarkan, bukan sekadar diposisikan sebagai pemanis bibir dalam upacara seremonial. Sebab, ishlah sejati hanya gagal di hadapan mereka yang bersikeras memelihara luka lama, yang merasa terancam lenyap jika harmoni terwujud.
Bagi mereka yang mencari ridha ilahi, ridha umat—damai justru memperluas napas kehidupan. Ia membuka ruang yang lebih lapang untuk berkhidmat, produktif, dan berpikir jernih. Mungkin saja ishlah yang kita saksikan kemarin lusa itu baru permulaan dari sebuah episode. Ia adalah isyarat bahwa struktur bisa didamaikan, tapi hati manusianya masih perlu waktu.
Waktu untuk benar-benar melepaskan jubah kepentingan dan mengenakan pakaian ketulusan. Butuh kejujuran radikal untuk mengakui bahwa, kadang-kadang, kita lebih mencintai posisi dan jabatan ketimbang keutuhan jamaah.
Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, dalam kitab At-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, telah mengingatkan kita dengan liris namun tajam. Beliau menulis tentang hakikat persaudaraan bukan sebagai transaksi, melainkan sebagai “tali Tuhan” yang tak boleh diputus oleh ego.
Kita butuh islah yang melampaui kertas. Islah yang lahir dari rasa takut kepada Allah akan perpecahan umat, bukan islah yang lahir dari kalkulasi kursi. Jika hati belum benar-benar “tuntas”, maka pleno dan pernyatan damai seribu kali pun hanya akan menjadi ajang untuk saling mengunci.
Bagi Kiai Hasyim, perpecahan adalah kegelapan, dan islah adalah upaya menjemput kembali cahaya yang hilang itu. Maka di sanalah, di palung kejujuran itu, Kitab Tibyan Hadratussyaikh menunggu untuk dihayati, bukan sekadar dibaca sebagai mantra. Ia menuntut kita untuk benar-benar bertaqwa, agar hati kita siap menerima damai, kapan pun, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Wallahu’alm bishawab.
Dr. KH. Aguk Irawan MN, Lc, MA, Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta, Santri Alumni Darul Ulum, Langitan. Pernah kuliah jurusan Aqidah-Filsafat di Al-Azhar University Cairo dan Sekolah Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Pengajar Antropologi-budaya di STIPRAM Yogyakarta, serta di Ma’had Aly KH. Ali Maksum Krapyak dan STAI Pandanaran Yogyakarta. Buku terbarunya terbit di penerbit Mizan Group; Genealogi Etika Pesantren, Kajian Intertekstual (2018) dan Sosrokartono, Sebuah Biografi Novel (2018).

























