YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Kematian, dalam bayangan kita adalah sebuah titik yang tak bisa ditawar. Ia datang seperti eksekutor yang tepat waktu, membawa mandat yang mutlak dari langit. Namun, di kamar yang sempit dengan aroma doa di Tambakberas pada tahun 1971 itu, kematian tampaknya harus bersedia menunggu di ambang pintu.
Malaikat Izrail konon bertemu dengan seorang kiai sepuh yang bersahaja berusia 83 tahun yang punya alasan kuat untuk tidak menyerah: sebuah laporan pertanggungjawaban. Sebuh momen krusial organisasi NU. Kiai sepuh itu adalah Kiai Wahab Hasbullah, atau yang akrab disapa Mbah Wahab, sedang dalam kondisi krisis.
Tubuhnya beliau yang renta seolah sudah menyerahkan diri pada gravitasi bumi. Para santri melantunkan Surat Yasin, sebuah simfoni perpisahan yang lirih. Di sana, kematian bukan lagi tamu tak diundang, melainkan kepastian yang sudah berdiri di ujung tempat tidur. Kemudian datanglah Kiai Bisri Syansuri. Beliau tidak datang dengan penghiburan yang melankolis. Beliau datang dengan sebuah gugatan yang hampir terdengar seperti gurauan: “Kiai, jangan wafat dulu. Kiai masih punya utang.”
Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama, “utang” bukanlah sekadar perkara materi. Bagi Kiai Bisri, utang itu adalah mandat organisasi—Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya. Ini adalah sebuah ironi yang indah: di saat manusia bersiap menghadap Sang Pencipta untuk mempertanggungjawabkan seluruh hidupnya, ia justru diingatkan untuk mempertanggungjawabkan kerjanya di dunia kepada sesama manusia.
Mendengar kata “utang” dan “LPJ”, Mbah Wahab seolah ditarik kembali dari lorong cahaya. Ada sesuatu yang keras dalam semangat kaum pergerakan angkatan beliau; sebuah rasa tanggung jawab yang bahkan lebih kuat daripada tarikan Izrail.
Kisah ini kemudian berlanjut dan akrab di telinga kaum Nahdliyin. Setelah sempat mengucapkan syahadat—titik final bagi setiap Muslim—Mbah Wahab tiba-tiba tersenyum sumringah. “Nggak jadi!” katanya mengagetkan. Beliau kemudian mengaku telah bernegosiasi dengan malaikat maut. “Nanti saja setelah Muktamar!”
Mungkin di sana letak keunikan pengalaman rohani. Tuhan dan para utusan-Nya tidak digambarkan sebagai sosok yang angker dan kaku, melainkan sebagai entitas yang bisa diajak “ngomong-ngomong”. Ada ruang bagi humor di tengah ketegangan naza’. Ada ruang bagi diplomasi di hadapan takdir.
Setelah itu ajaib, Mbah Wahab benar-benar sehat dan hadir di Surabaya, Desember 1971. Beliau membacakan LPJ-nya, menuntaskan amanahnya, dan bahkan kembali terpilih sebagai Rais Aam. Beliau melunasi utang dunianya dengan kontan. Baru setelah semua tugas organisatoris itu selesai, beliau benar-benar melangkah pergi.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa Muktamar NU bukan sekedar jadwal organisasi biasa, tapi bagi orang-orang seperti Mbah Wahab, Muktamar adalah momen yang sakral dan hidup bukan sekadar durasi antara lahir dan mati. Hidup adalah sebuah penugasan. Kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan sekadar janji temu yang bisa dijadwal ulang jika pekerjaan di bumi belum usai.
Di balik kemampuannya “bernegosiasi” dengan Izrail, kita melihat sebuah integritas yang langka. Sebuah pesan bahwa pemimpin yang besar adalah ia yang paling gelisah jika belum memberikan pertanggungjawaban kepada mereka yang dipimpinnya. Bahkan jika ajal sudah mengetuk pintu, etika organisasi tetap harus dijunjung tinggi.
Mbah Wahab wafat tak lama setelah Muktamar berakhir. Beliau pergi membawa tas yang sudah rapi, dengan laporan yang sudah tuntas. Dan mungkin, di sana, beliau melanjutkan obrolannya dengan Malaikat Izrail, kali ini dengan senyum yang jauh lebih lega. Wallahu’alam bishawab. (Aguk Irawan MN)
Dr. KH. Aguk Irawan MN, Lc., MA., Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta, Santri Alumni Darul Ulum, Langitan. Pernah kuliah jurusan Aqidah-Filsafat di Al-Azhar University Cairo dan Sekolah Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga. Pengajar Antropologi-budaya di STIPRAM Yogyakarta, serta di Ma’had Aly KH. Ali Maksum Krapyak dan STAI Pandanaran Yogyakarta. Buku terbarunya terbit di penerbit Mizan Group; Genealogi Etika Pesantren, Kajian Intertekstual (2018) dan Sosrokartono, Sebuah Biografi Novel (2018).
Sumber Bacaan:
KH. Abdul Wahab Hasbullah: Hidup dan Perjuangannya oleh Choirul Anam. Duta Mulia Aksara (2017)
K.H. Abdul Wahab Hasbullah: Bapak Pandu Jagat NU oleh Rizem Aizid. Diva Press (2023)
Tambakberas: Menelisik Sejarah, Memetik Aswaja (Buku Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum). Pustaka Bahrul Ulum (2017)

























