JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
“Ken Arok adalah Raja Jawa yang berasal dari kasta rendah namun memiliki ambisi tinggi. Ia cerdik, licik, dan ambisius namun dibungkus dengan penampilan sederhana dan ndeso sehingga menarik simpati rakyat Tumapel. Namun tak dapat dipungkiri bahwa darinya lahir raja-raja Jawa pada masa berikutnya.”
Ken Dedes —wanita tercantik di Tumapel (daerah Malang dan sekitarnya kini), permaisuri Tunggul Ametung, penguasa wilayah itu—saat turun dari kereta kencana tanpa sengaja pakaian bagian bawahnya tersingkap karena tertiup angin. Betis dan pahanya yang putih mulus terlihat oleh Ken Arok. Ken Arok terkesima. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Siang malam wajah Ken Dedes menggelayut dalam pikirannya.
Ken Arok mengatur strategi bagaimana caranya merebut Ken Dedes. Dalam pikirannya, satu-satunya cara adalah membunuh Tunggul Ametung. Ia berkonsultasi kepada Lohgawe, seorang Resi ternama. Lohgawe meramal, siapa yang bisa merebut Ken Dedes maka akan menjadi penguasa Tumapel. Nasehat-nasehat Lohgawe menguatkan tekad Ken Arok. Kini misi membunuh Tunggul Ametung bukan hanya soal asmara, tapi bercampur dengan misi politik.
Ken Arok mendatangi Mpu Gandring, seorang ahli pembuat senjata pusaka. Ia minta dibuatkan keris pusaka yang ampuh. Mpu Gandring menjanjikan satu tahun keris yang dipesan selesai. Tapi Ken Arok tidak mau menunggu terlalu lama. Setelah lima bulan, Ken Arok datang. Mpu Gandring tak menuruti keinginan Ken Arok. Kesal. Ken Arok membunuh Mpu Gandring dengan keris yang dibuatnya sendiri. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Mpu Gandring mengucapkan sumpah bahwa keris itulah nanti yang akan membunuh Ken Arok dan tujuh keturunannya.
Ken Arok bukanlah keturunan bangsawan, juga tidak berkasta tinggi. Serat Pararaton menjelaskan bahwa ia berasal dari rakyat biasa yang berkasta rendah. Dia seorang penjahat yang suka merampok dan memperkosa wanita. Namun demikian ia berotak cerdik, juga licik. Ia berhasil masuk ke lingkungan istana dan bersahabat dengan pembesar-pembesar dan perwira-perwira Tumapel. Dia sudah menghitung, membunuh Tunggul Ametung secara terang-terangan atau di dalam istananya adalah perbuatan bodoh, bahkan bunuh diri. Akalnya bekerja. Dia melirik sahabat kentalnya bernama Kebo Ijo yang bisa dipinjam tangannya (nyilih tangan).
Kebo Ijo ini komandan pasukan pengamanan raja. Dia sosok yang mabuk pujian dan ketenaran. Suka menonjolkan kemampuan di depan banyak orang. Sosok seperti inilah yang dibutuhkan Ken Arok untuk menjalankan misinya. Mula-mula ia memamerkan keris Mpu Gandring kepada Kebo Ijo. Kebo Ijo tertarik. Lalu Ken Arok meminjamkan keris itu kepadanya. Kebo Ijo dengan bangga memamerkan keris itu kemana-mana, seolah-olah keris itu miliknya.
Suatu malam, Ken Arok mengambil keris itu tanpa sepengetahuan Kebo Ijo. Diam-diam Ken Arok memasuki kamar Tunggul Ametung yang sedang tertidur, lalu menikamnya dan meninggalkan keris itu tertancap di dadanya. Sementara di sudut ruangan, Ken Dedes, istri Tunggul Ametung terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Ia menatap nanar wajah Ken Arok yang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.
Hati Ken Dedes terbelah, antara sedih dan gembira. Sedih, karena ayah dari puteranya Anusapati mati; gembira karena mengingat ia dahulu diambil paksa dari orangtuanya oleh Tunggul Ametung. Ken Dedes menatap jenazah Tunggul Ametung yang bersimbah darah, kemudian mengalihkan pandangan kembali ke arah pemuda gagah di hadapannya. Ia mengingat Ken Arok adalah seorang pemuda biasa (bukan bangsawan) yang sejak dahulu betul-betul mencintainya.
Rakyat Tumapel marah. Semua tuduhan diarahkan kepada Kebo Ijo karena dialah (yang dianggap) pemilik keris Mpu Gandring itu. Ken Arok tampil bak pahlawan. Dia mengejar Kebo Ijo lalu membunuhnya dengan keris Mpu Gandring. Rakyat Tumapel yang tidak mengerti kejadian yang sebenarnya menganggap Ken Arok sebagai pahlawan, sementara Kebo Ijo sebagai penjahat yang terkutuk. Karena itu tak ada yang protes ketika Ken Arok mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Tumapel menggantikan Tunggul Ametung.
Kitab Pararaton mencatat, pada tahun 1222 Ken Arok resmi mendirikan Kerajaan Singasari setelah mengalahkan Kertajaya dari Kerajaan Kediri dalam perang Ganter. Ken Arok mendirikan Wangsa Rajasa dan menggunakan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Kelak ia menurunkan raja-raja Jawa selanjutnya. Misi Ken Arok merebut Ken Dedes dan Menguasai Tumapel telah selesai, tapi kutukan keris Mpu Gandring belum selesai.
Anusapati adalah putera Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Ketika Tunggul Ametung dibunuh Ken Arok, ia sedang mengandung Anusapati. Sejak kecil Anusapati tak tahu bahwa dirinya sebenarnya bukanlah anak kandung Ken Arok; karena itu ia diperlakukan berbeda dengan putera-putera “ayahnya” yang lain. Yang lebih mengherankan Anusapati lagi, Ken Arok mengangkat Mahisa Wong Ateleng sebagai putera Mahkota, padahal dirinya yang paling tua.
Setelah dewasa Anusapati bertanya kepada ibunya perihal perlakuan “ayahnya”. Ibunya menjelaskan sebenarnya dia bukanlah putera kandung Ken Arok, melainkan Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok. Mulai saat itu timbul dendam kesumat dalam diri Anusapati. Ia bertekad membalas dendam kematian ayahnya. Ia mengambil Keris Mpu Gandring yang disimpan Ken Dedes.
Akan tetapi, membunuh Ken Arok secara langsung adalah perbuatan konyol. Seperti dejavu, Anusapati menemukan sosok yang tepat untuk dipinjam tangannya, Ki Pengalasan yang tinggal di desa Batil. Ia adalah pelayan setia Ken Arok sejak puluhan tahun yang lalu, tapi hidup dalam keadaan miskin dan serba kekurangan. Anusapati menyerahkan Keris Mpu Gandring kepadanya dan menjanjikan harta dan beberapa bidang tanah apabila berhasil membunuh Ken Arok.
Karena terhimpit persoalan ekonomi, juga rasa sakit hati karena loyalitasnya disia-siakan oleh Ken Arok, Ki Pengalasan menerima tawaran Anusapati. Pada suatu senja, di saat Ken Arok sedang menikmati makan sore, Ki Pengalasan tiba-tiba muncul dari belakang dan menancapkan keris Mpu Gandring ke punggung Ken Arok. Ken Arok langsung meninggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1247 —menurut Negarakertagama tahun 1227.
Setelah misi selesai, Ki Pengalasan segera melapor kepada Anusapati. Namun ia malah dibunuh oleh Anusapati. Anusapati tak ingin ada saksi bahwa yang mengatur semua itu adalah dirinya. Kepada semua orang ia mengumumkan bahwa Ki Pengalasan telah gila dan mengamuk hingga menewaskan raja. Dia tidak menyadari bahwa ada seorang anak Ken Arok yang mengetahui konspirasi jahat itu. Dia adalah Panji Tohjaya, putera Ken Arok dari istri Ken Umang.
Anusapati naik tahta menjadi Raja Singasari. Tak ada yang protes, termasuk putera-putera Ken Arok. Semua menganggap Anusapati berjasa besar, kecuali Tohjaya.
Tohjaya mencari cara membunuh Anusapati. Membunuh terang-terangan tidak mungkin karena Anusapati dijaga ketat oleh pengawal-pengawalnya. Tohjaya menemukan akal. Anusapati ini punya hobi sabung ayam. Suatu hari ia mengajak Anusapati keluar mengadu ayam. Anusapati menurut tanpa curiga. Saat Anusapati asyik menyaksikan ayam bertarung, tiba-tiba Tohjaya menusuknya dengan menggunakan keris Mpu Gandring. Anusapati pun tewas seketika. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1249 M. Kutukan Mpu Gandring kembali memakan korban.
Tohjaya kemudian naik tahta. Akan tetapi dia pun meninggal. Namun Pararaton dan Negarakertagama tidak mengungkap sebab kematian Tohjaya, apakah kutukan keris Mpu Gandring juga atau bukan.
Ken Arok adalah Raja Jawa yang berasal dari kasta rendah namun memiliki ambisi tinggi. Ia cerdik, licik, dan ambisius namun dibungkus dengan penampilan sederhana dan ndeso sehingga menarik simpati rakyat Tumapel. Namun tak dapat dipungkiri bahwa darinya lahir raja-raja Jawa pada masa berikutnya.
Penulis melihat ada relevansinya dengan kasus kuota haji di negeri Konoha saat ini. Ada representasi Ken Arok sebagai Raja Jawa, sosok yang disebut mengetahui dan menyetujui pengaturan kuota haji jadi 50:50. Ada representasi Kebo Ijo dan Ki Pengalasan, tokoh yang dikorbankan oleh Raja Jawa. Dan ada Keris Mpu Gandring simbol penegak hukum (KPK). Kita tidak tahu apakah kutukan Mpu Gandring masih berlaku atau tidak—keris itu akan membunuh tuannya sendiri. Lalu, Ken Dedes-nya siapa?
Utara Jakarta, 02 Februari 2026
KM. Imaduddin, M.Hum., Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara
























