JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Peran Ulama masih sangat dibutuhkan dalam mengawal perjalanan arah bangsa. Nahdlatul Ulama sebagai representasi dari hal tersebut, memiliki beban khusus sesuai fungsinya yaitu khodimul ummah atau pelayan bagi umat.
Dalam sejarah panjangnya, Nahdlatul Ulama yang pada tahun ini genap 1 abad hitungan masehi, telah melewati banyak fase dan dinamika pasang surut merawat hubungannya dengan kekuasaan.
Kekuasaan dalam perspektif yang sederhana adalah penguasa – Presiden atau pemerintahan saat ini. Nahdlatul Ulama pernah menjadi oposisi dan berulangkali juga dalam waktu yang berbeda menjadi mitra pemerintah terutama dalam menjalankan program-program keumatannya.
Lalu, apa yang terjadi setelah proses panjang ini? Apa yang sesungguhnya dibutuhkan Nahdlatul Ulama, baik secara jama’ah atau kultural maupun jam’iyyah, organisatoris? Mari kita coba diskusikan dengan sederhana, mencoba menghindar dari kejelimetan.
Pertama, harapan, harapan sekian banyak orang terhadap Nahdlatul Ulama. Sebuah keharusan bagi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama mendengarkan keinginan dan harapan banyak orang, baik dari dalam strukturnya yang jauh kebawah hingga anak ranting, atau bahkan harapan orang-orang diluar NU yang menginginkan organisasi ini terus bermanfaat bagi khalayak. Mendengarkan sebagai bagian dari tuntutan kedewasaan.
Dari sekian banyak harapan dan keinginan, muncul nama Gus Kikin dan Gus Salam, sebagai sosok yang dianggap sangat cocok untuk menahkodai Nahdlatul Ulama. Keduanya memiliki karakter yang khas, hampir sama meskipun berbeda. Keduanya lahir dari rahim pondok pesantren besar, sama-sama dzuriyat atau keturunan muassis NU. Gus Salam, mengalir dalam darahnya sosok Kiai Bisri Syansuri, Denanyar. Sedangkan Gus Kikin, cicit dari Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, Tebuireng Jombang.
Keduanya memiliki karakter yang sama sesuai dengan karakter Nahdlatul ulama, kelebihannya, Gus Kikin selain pengasuh ponpes, beliau juga seorang pengusaha sukses. Gus Salam, pengasuh ponpes Denanyar penerus tradisi NU, juga penggerak dan trendsetter sukses bagi kebanyakan santri di Indonesia.
Kedua, Kebutuhan. Kebutuhan Nahdlatul Ulama yang sangat penting adalah diantaranya konsolidasi organisasi, selain itu, secara jam’iyyah NU harus diajak menguatkan kembali peta jalan abad kedua Nahdlatul Ulama. Lalu siapa yang mampu melakukan ini? Jelas sosok Rois Aam yang multi talenta.
Kiai Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU dua periode, pengasuh Ponpes Luhur Al-Tsaqofah Jakarta, keluarga besar ponpes Khas Kempek Cirebon, dianggap sangat layak mengampu beban kebutuhan Nahdlatul Ulama saat ini.
Kiai Said, menurut banyak orang baik internal maupun eksternal NU adalah sosok yang mampu beradaptasi dengan panas dingin cuaca politik di Indonesia. Dekat dengan berbagai kalangan, kealiman yang tidak diragukan, bahkan seringkali menjadi rujukan bagi persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.
Kesimpulannya, pada calon Ketua Umum PBNU yang akan datang, disitu harapan dan keinginan masyarakat Indonesia terutama nahdliyyin tertuju. Namun, pada sosok calon Rais Aam, Indonesia bukan hanya memiliki harapan, namun kebutuhan yang mendesak dimana arah dan perjalanan Nahdlatul Ulama kedepan dipertaruhkan. Salam.
Husny Mubarok Amir, Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta
























