SIDOARJO | LIPUTAN9NEWS
Tadarus adalah tradisi membaca, mempelajari, dan menyimak Al-Qur’an secara bersama-sama atau bergiliran, terutama saat bulan Ramadhan datang.
Tadarus berasal dari bahasa Arab darasa, yang meliliki arti mempelajari atau menelaah. Dimana aktivitas ini bertujuan memahami makna dan memperbaiki tajwid.
Tradisi tadarus ini sangat populer di Indonesia. Dan, pada umumnya dilakukan di masjid atau musholla setelah tarawih untuk mempererat silaturahmi.
Dalam referensinya, tradisi tadarus diambil dari hadis sebagaimana berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله : « وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ » رَوَاهُ مُسْلِمُ.
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW. bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur’an dan bertadarus di antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat).” (HR. Muslim)
Sebagai catatan kita bersama, bahwa kata tadarus dalam hadis tersebut sebenarnya bukan sebatas membaca Al-Qur’an secara bergantian.
Namun, tadarus yang dimaksud disini adalah mempelajari Al-Quran secara bersama-sama. Sedangkan yang dimaksud dengan mempelajari disini bukan sebatas belajar cara membacanya akan tetapi mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Dalam istilahnya orang awam tadarus yang dimaksud disini berarti mengaji tafsir secara bersama-bersama.
Namun karena tingkat pemahaman atau pengetahuan masyarakat kita berbeda-beda. Bahkan belum sampai ke situ, maka diganti dengan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama atau bergantian. Sembari ada yang mengingatkan kalau ada bacaan yang salah. Sehingga dari belajar tafsir jadi belajar membaca.
Intinya Ini tetap bagus dan bernilai maslahah. Akan tetapi seandainya ada suatu daerah atau masyarakat yang sudah siap terkait sumber daya manusianya untuk mengaji tafsir, maka lebih bagus lagi kalau tadarus diupgrade atau dikembalikan kepada makna aslinya. Yakni, mengaji dan mengkaji tafsir Al-Qur’an dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Dr. Heru Siswanto, M. Pd.I, Ketua Program Studi dan Dosen PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo; Dosen PAI-Terapan Poltek Pelayaran Surabaya; Dosen Aswaja UNUSIDA Sidoarjo; Pengurus Lembaga Takmir Masjid PCNU Sidoarjo; Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Krembung.

























