TANGERANG | LIPUTAN9NEWS
Sesungguhnya istiqamah dalam keta’atan dan tetap teguh di atasnya hingga akhir hayat adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wata’aalaa karuniakan kepada hamba-Nya
Naskah khutbah dengan judul Khutbah Jumat: Istiqamah Hingga Akhir Hayat ini, disampaikan pada sidang shalat Jumat di MRBJ (Masjid Raya Bintaro Jaya) Sektor 9 Pondok Aren Tangerang Selatan, 10 April 2026 M/21 Syawwal 1447 H. Naskah khutbah Jumat ini dapat di download dengan klil tautan yang ada di akhir artike lini.
الحمد لله الذي جعل الإستقامة على طاعته سبيلاً إلى وفاة حسن الخاتمة و جنته، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.
Ma’asyiral muslimin, jema’ah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
Menjadi prioritas utama bagi khatib dalam mengawali khutbah ini untuk senantiasa mengingatkan, mengajak, dan berwasiat kepada diri khatib dan para jama’ah untuk terus dan tak henti-hentinya berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa.
Wujud peningkatan ketakwaan ini adalah dengan penguatan komitmen untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jum’at yang dimuliakan Allah Ta’ala
Sesungguhnya istiqamah dalam keta’atan dan tetap teguh di atasnya hingga akhir hayat adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wata’aalaa karuniakan kepada hamba-Nya.
Dalam surat fusshilat ayat 30 Allah Subhanahu wata’aalaa berfirman :
إِنَّ ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحۡزَنُوا۟ وَأَبۡشِرُوا۟ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِی كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
Para ulama tafsir termasuk Imam Ibnu Katsir rohimahumullah menjelaskan maksud ayat di atas :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا اللهُ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan dengan jujur : “Tuhan kami ialah Allah”). Yakni Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
ثُمَّ اسْتَقٰمُوا۟
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka). maksudnya, mengakui, mengucapkan dan ridha dengan rububiyah Allah serta berserah diri kepadaNya, teguh atas tauhid, tidak bergantung kepada selain Allah. Lalu mereka buktikan dengan istiqamah di atas syari’at Allah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak berkhasiat hingga akhir hayat
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ
Para malaikat turun kepada mereka secara berulang-ulang dan terus-menerus dengan membawa kabar gembira yang mereka inginkan.
MUJAHID mengatakan bahwa itu terjadi saat sakaratul maut
QATADAH mengatakan bahwa itu terjadi ketika mereka dibangkitkan dari kubur mereka.
أَلَّا تَخَافُوا۟
Dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut (terhadap urusan akhirat yang akan kalian hadapi.)
وَلَا تَحْزَنُوا۟
dan janganlah merasa sedih (terhadap urusan dunia yang kalian tinggalkan berupa istri, anak, dan harta.)
وَأَبْشِرُوا۟ بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ
dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepada mereka yang tinggal di dalamnya serta kekal dalam kenikmatannya.
Pertanyaannya, apa saja kiat agar tetap istiqamah pasca Ramadhan hingga akhir hayat ?
1. Membangun kesadaran bahwa pelipatan pahala ibadah tidak hanya di bulan Ramadan.
Melainkan di luar Ramadhan pahala ibadah juga dilipatgandakan.
مَن جَاۤءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَاۤءَ بِٱلسَّیِّئَةِ فَلَا یُجۡزَىٰۤ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا یُظۡلَمُونَ
Artinya: “Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan),” (QS. Al-an’am : 160)
Allah Subhanahu wata’aalaa perjelas lagi dalam hadits qudsy, Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu riwayat Imam Muslim ridhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallalm bersabda :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Artinya: “Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Imam Muslim).
2. Membangun kesadaran
Bahwa sebagai sebuah madrasah (sekolah), Ramadhan idealnya tidak hanya dimaknai sebagai Syahrul ibadah (bulan ibadah), bulan kesempatan untuk mendulang pahala/ganjaran yang sebesar-besarnya. Karena andai Ramadhan hanya dimaknai sebagai bulan ibadah dan menganggap di luar Ramadhan pahalanya tidak dilipat gandakan, maka apa yang selama ini terjadi dimana semarak/semangat ibadah yang hanya ada di bulan Ramadhan akan terulang kembali.
Akan tetapi Ramadhan hendaknya kita maknai juga sebagai Syahruttarbiyah (bulan trainning/pelatihan) untuk meningkatkan kwalitas ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’aalaa. Karena inilah sesungguhnya tujuan utama disyariatkannya puasa Ramadhan seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata’aalaa dalam surat Al-Baqarah ayat 183
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }
Kata تَتَّقُونَ yang terdapat dalam ayat di atas adalah fi’lun mudhori’ yadullu ‘alaa al-istimror (kata kerja yang mencakup pekerjaan yang dikerjakan di waktu sekarang dan akan datang sampai akhir hayat). Artinya Allah SWT mensyari’atkan ibadah puasa dengan tujuan agar kita terlatih untuk bertaqwa selama lamanya sampai akhir hayat bukan saat Ramadhan saja.
Sebulan penuh kita digembleng dengan aneka ibadah, baik individual maupun sosial serta menahan hawa nafsu syahwat dan amarah dengan tujuan agar kita terlatih istiqamah beribadah di sebelas bulan berikutnya bahkan hingga akhir hayat. Dengan demikian kita akan diwafatkan Husnul khatimah.Karena wafat Husnul khatimah adalah wafat dimana seseorang dalam keadaan istiqamah ibadah.
Diantara tarbiyah (pelatihan) yang didapat saat Ramadhan adalah :
a. Istiqamah puasa Sunnah
Sebulan penuh kita dilatih puasa secara berturut-turut, disamping mendapat pahala yang tak terhingga dan ampunan Allah Subhanahu wata’aalaa, tujuannya agar bisa kita lanjutkan di luar Ramadhan dengan puasa-puasa Sunnah. Jika 30 hari berturut-turut saja ternyata kita mampu, apalagi puasa syawwal yang hanya 6 hari, ayyaamul bidh yang hanya 3 hari serta Senin Kamis yang hanya dua hari seharusnya kitapun mampu.
b. Istiqamah shalat berjama’ah di masjid
Shalat tarawih yang kita kerjakan tak terputus selama sebulan, disamping sebagai ampunan dosa tujuannya agar kita terlatih untuk istiqamah shalat berjama’ah di masjid.
Selama Ramadhan, jangankan shalat wajib, shalat sunnat saja ternyata Alhamdulillah kita mampu melaksanakannya secara berjama’ah seperti tarawih dan qiyamullail. Karena itu, bila shalat sunnat saja kita lakukan secara berjama’ah, apalagi shalat wajib yang lima waktu. Harusnya kitapun mampu
c. Istiqamah shalat di awal waktu
Hanya di Ramdhan semua orang beriman di dunia ini kompak menunggu waktu maghrib untuk berbuka puasa. Pelajaran yang ingin Allah SWT sampaikan adalah agar kita ISTIQAMAH SHALAT DI AWAL WAKTU SECARA BERJAMA’AH DI MASJID
عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا »
Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud hadits shahih
d. Istiqamah bangun malam
Kalau selama Ramadhan kita mampu bangun sebelum subuh setiap hari, seharusnya kitapun mampu melakukannya di luar Ramadhan.
e. Istiqamah membaca Al-Qur’an
Kalau di Ramadhan kita mampu membaca Al-Qur’an satu juz sekali duduk, harusnya di luar Ramadhan kita mampu membaca 2 lembar saja setiap ba’da shalat Fardu sehingga sehari bisa satu juz dan sebulan sekali khatam
f. Istiqamah sedekah
Jika di bulan Ramadan, umat Islam lebih dermawan dalam bersedekah, maka setelah Ramadhan, kebiasaan ini harus tetap dilanjutkan karena sedekah memiliki segudang keutamaan.
3. Membangun kesadaran bahwa Allah Subhanahu wata’aalaa memerintahkan kepada kita untuk beribadah hingga akhir hayat.
Seperti yang dikatakan oleh seorang ulama Sufi Hasan Al-bashry rohimahullah
لا نهاية للعمل إلاَّ بنهاية الأجل. إنَّ الله لم يجعل لعمل المؤمن أجَلاً دون الموت”، ثم قرأ: {وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ} [الحجر: 99]، فالمؤمن لا ينقطع عن العمل إلاَّ بانقطاع الأجل،
Artinya: “Tidak ada akhir bagi amal (kebaikan) kecuali dengan berakhirnya ajal. Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas bagi amal orang mukmin kecuali kematian.” Kemudian beliau membaca (ayat): “Dan sembahlah (beribadalah kepada Tuhanmu) sampai datang kepadamu kematian (yang pasti).” (QS. Al-Hijr: 99)
Semudah dengan ayat di atas firman Allah surat Adz-Dzariyat: 56
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ
Artinya: “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali hanya untuk (terus menerus) beribadah kepadaKu”
Maka, orang mukmin tidak akan berhenti dari beramal kecuali dengan berakhirnya ajalnya
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah ditanya, متى الراحة ؟ (kapan kit istirahat) ? الموت راحة للمؤمنبن (mati itulah istrahatnya orang beriman)
وقد سُئِل الإمام أحمد: متى يجد العبدُ طعم الراحة؟ قال: عند أول قدمٍ في الجنَّة
Imam Ahmad pernah ditanya, “Kapan seorang hamba merasakan rasa nyaman ?” Beliau menjawab, “Ketika pertama kali menginjakkan kaki di surga.”
Ulama mengatakan,
كن ربانيين ولا تكن رمضانيين
“Jadilah hamba Allah SWT selamanya dan janganlah menjadi hamba Ramadhan”
Ibadah yang paling disukai Allah SWT adalah ibadah yang bersifat kontinyu/istiqamah sampai mati
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.” (HR. Muslim no. 783)
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala
4. Membangun kesadaran bahwa Istiqamah dalam keta’atan merupakan indikator terbesar wafat husnul khotimah.
(الثبات على الطاعة سببٌ لِحُسن الخاتمة)
“Jika seorang hamba terus-menerus melakukan ketaatan, maka itu menjadi salah satu sebab terpenting untuk mencapai husnul khatimah (akhir hayat yang baik). Sudah menjadi sunnatullah dalam ciptaan-Nya adalah bahwa siapa yang terus-menerus melakukan sesuatu, maka dia akan mati dalam keadaan itu, dan siapa yang mati dalam keadaan itu, maka dia akan dibangkitkan dalam keadaan itu. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu:
يُبعث كلُّ عبد على مات عليه
“Setiap hamba akan dibangkitkan di atas apa yang dia mati di atasnya (kebiasaannya).”
Kesimpulan
Indikator diterimanya ibadah Ramadhan adalah
استمرار على طاعة الله بعد رمضان حتى الموت
“Berlanjutnya keta’atan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa pasca Ramadhan hingga akhir hayat”
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Lathaif Al-Ma’arif dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dari tafsir surat Al-Lail, mengatakan :
إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا
“Sesungguhnya di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Dan di antara balasan dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”
Maksudnya adalah tanda suatu amalan itu diterima adalah jika dilanjutkan dengan kebaikan selanjutnya dan tanda suatu amalan tidak diterima (dinilai jelek) adalah jika dilanjutkan dengan kejelekan selanjutnya.
Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan kepada kita kekuatan kepada kita untuk selalu ISTIQAMAH beribadah kepadaNya samapi akhir hayat sehingga dengan demikian kita diwafatkan HUSNUL KHATIMAH.Aamiin
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)

























