JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Istiqamah memang tidak mudah. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen yang kuat. Namun, justru di situlah letak nilai ibadah seorang hamba. Allah tidak menilai besarnya amal semata, tetapi kesinambungan dan ketulusan di dalamnya.
Naskah khutbah Jumat dengan judul “Khutbah Jumat: Amaliah Terbaik Pasca Ramadan” ini, sebelumnya telah tayang di Halaman MUI dengan judul yang sama ditulis oleh Dr KH Ahmad Suja’i Mughni, MM.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ:(فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat rahmat-Nya, inayah-Nya, karunia-Nya, kita dikumpulkan bersama pada hari yang mulia ini, di rumah-Nya yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.
Mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apa pun ibadah yang kita lakukan selama ini terutama di bulan Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT. Dan mudah-mudahan semua ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amin.
Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,
Ramadan telah meninggalkan kita. Bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka telah berlalu. Namun, ada pertanyaan penting yang patut direnungkan bagi kita semua: Apakah ibadah Ramadhan selama ini hanya sebagai rutinitas tahunan, ataukah ia benar-benar melahirkan perubahan dalam diri kita?
Sesungguhnya ukuran keberhasilan Ramadhan bukan terletak pada berakhirnya puasa, tetapi pada istiqamahnya amal setelah Ramadhan. Orang yang sukses menjalani Ramadhan adalah mereka yang tetap menjaga nilai-nilai ketaatan meskipun bulan suci telah pergi.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)
Ibadah tidak dibatasi oleh waktu, ibadah tidak hanya di bulan Ramadhan saja, tetapi tetapi berlangsung sepanjang hayat kita.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah prinsip amaliah terbaik pasca Ramadhan, yaitu amal yang istiqamah. Lebih baik sedikit namun terus dilakukan, daripada banyak tetapi terputus.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Di antara tanda diterimanya amal Ramadhan adalah tetap terjaganya ketaatan setelah bulan suci berlalu.
Para ulama menjelaskan, siapa yang bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan lalu kembali meninggalkan ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang yang merugi.
Sebaliknya, orang yang mampu menjaga amal walaupun Ramadhan telah pergi, dialah hamba yang mendapatkan keberuntungan.
Salah seorang ulama besar, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, mengatakan bahwa sesungguhnya amal yang paling berat bagi jiwa adalah istiqamah.
Istiqamah memang tidak mudah. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen yang kuat. Namun, justru di situlah letak nilai ibadah seorang hamba. Allah tidak menilai besarnya amal semata, tetapi kesinambungan dan ketulusan di dalamnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Beberapa amaliah utama yang perlu kita jaga setelah Ramadhan antara lain:
Pertama, menjaga shalat wajib dan sunnah. Menjaga shalat wajib dan sunnah adalah wujud kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Shalat wajib menjadi tiang utama yang tidak boleh ditinggalkan, sementara shalat sunnah menjadi pelengkap yang menyempurnakan dan memperindah ibadah. Dalam setiap rakaat, hati dilatih untuk tunduk, pikiran diarahkan pada kebaikan, dan jiwa dipenuhi ketenangan.
Ketika shalat dijaga dengan konsisten, ia bukan hanya menjadi kewajiban, tetapi juga kebutuhan. Shalat menjadi tempat kembali, menguatkan iman, dan menenangkan hati di tengah kesibukan dunia.
Jika di bulan Ramadhan kita terbiasa shalat tepat waktu, shalat malam, dan memperbanyak sujud, maka jangan biarkan kebiasaan itu hilang. Shalat adalah tiang agama dan ukuran utama keimanan seseorang.
Kedua, melanjutkan interaksi dengan Alquran. Interaksi dengan Alquran bukan sekadar membaca teks suci, melainkan sebuah perjalanan batin yang menghubungkan manusia dengan petunjuk Ilahi.
Setiap ayat yang dilantunkan menghadirkan ketenangan, membuka ruang refleksi, dan mengarahkan hati untuk memahami makna kehidupan.
Melalui tilawah, tadabbur, dan pengamalan, Alquran menjadi sahabat yang menuntun langkah. Bukan hanya saat lapang, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan.
Dalam interaksi yang konsisten, Alquran perlahan membentuk karakter, menumbuhkan keimanan, dan menghadirkan cahaya dalam setiap aspek kehidupan.
Ramadhan menjadikan kita dekat dengan Alquran. Maka setelah Ramadhan, jangan sampai Alquran hanya tersimpan di lemari. Bacalah, pahami, dan amalkan meski hanya beberapa ayat setiap hari.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Ketiga, puasa sunnah Syawal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal sebagai tanda kesinambungan ibadah setelah Ramadhan.
Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyusulinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa.” (HR Muslim)
Melanjutkan ibadah Ramadan dengan puasa sunnah di bulan Syawal merupakan bentuk kesungguhan dalam menjaga semangat ketaatan. Setelah sebulan penuh melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri, puasa Syawal hadir sebagai penyempurna yang menguatkan nilai-nilai tersebut.
Ibadah ini bukan sekadar tambahan, melainkan wujud cinta kepada Allah dan upaya mempertahankan kedekatan spiritual yang telah dibangun selama Ramadhan.
Dengan melanjutkan puasa, seorang muslim menunjukkan bahwa kebaikan tidak berhenti pada satu bulan saja, tetapi terus hidup dan tumbuh dalam keseharian.
Keempat, istiqamah dalam ketaatan. Amaliah terbaik pasca Ramadhan adalah menjaga konsistensi atau istiqamah.
Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 112:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Istiqamah dalam ketaatan adalah tentang menjaga langkah tetap lurus di jalan yang diridhai Allah, meski godaan dan rintangan silih berganti. Ia bukan tentang melakukan hal besar sesekali, tetapi tentang konsistensi dalam amal-amal kecil yang terus dijaga.
Dalam setiap doa, ibadah, dan perbuatan baik, istiqamah melatih hati untuk tetap teguh, tidak mudah goyah oleh keadaan. Dengan istiqamah, ketaatan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu perlahan membentuk pribadi yang kuat, sabar, serta penuh harap akan rahmat-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Kelima, menjaga shalat malam dan tilawah. Jika di malam Ramadhan kita terbiasa dengan shalat Tarawih dan tadarus, maka pasca Ramadhan, amaliah terbaik adalah menjaga shalat Tahajjud meski hanya dua rakaat, serta tetap menjadwalkan tilawah Alquran setiap hari.
Al-Imam Bisyr al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan saja. Lalu beliau memberikan nasihat yang sangat mendalam:
بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ لَا يَعْرِفُونَ اللَّهَ إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا
“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang saleh itu adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh di sepanjang tahun.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Oleh karena itu, marilah kita menjaga amaliah pasca Ramadhan dengan memperbanyak dzikir, melanggengkan sedekah, serta memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat.
Ramadan telah mendidik kita untuk menahan amarah, menumbuhkan empati, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Nilai-nilai luhur inilah yang harus terus kita hidupkan sepanjang tahun.
Jangan sampai masjid hanya ramai di bulan Ramadhan, namun kembali sepi setelahnya. Jangan pula Alquran hanya sering dibaca di bulan Ramadhan, lalu ditinggalkan pada bulan-bulan berikutnya.
Inilah ujian keimanan kita yang sesungguhnya: apakah ibadah kita bersifat musiman, atau menjadi karakter hidup seorang mukmin.
Semoga Allah Ta‘ala memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah dalam ketaatan, menjaga amal-amal saleh meskipun Ramadhan telah berlalu, dan menjadikan bulan Ramadhan sebagai titik awal perubahan hidup menuju ridha Allah.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Terakhir, mari kita berkomitmen menasihati diri kita sendiri: jangan jadikan Ramadhan sebagai akhir ibadah, tetapi jadikan ia sebagai awal perubahan hidup menuju ketaatan yang berkelanjutan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Dr. KH. Ahmad Suja’i Mughni, MM, Ketua 2 MUI Kota Tangerang

























