• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Nasaruddin Umar

”Abrahamic Religions” dan Kerusakan Alam

August 28, 2024
Membangun kesadaran bahwa pelipatan pahala ibadah tidak hanya di bulan Ramadan.

Kiat Menjaga Ketaqwaan Pasca Ramadan

April 2, 2026
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Untuk Akhiri Konflik Timur Tengah (Foto: JPNN.COM)

Dorong Perdamaian, PBNU Temui Dubes Arab Saudi

April 2, 2026
Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

April 2, 2026
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PNIB: Dialah Pahlawan Perdamaian yang Sesungguhnya

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PNIB: Dialah Pahlawan Perdamaian yang Sesungguhnya

April 2, 2026
Ketua Umum DPP Kesatuan Tour Travel Haji Umroh Republik Indonesia (Kesthuri) Asrul Azis Taba. (Foto: Antara)

Jadi Tersangka Korupsi Haji, Ketum Kesthuri Asrul Azis Taba Diminta Pulang dari Saudi

April 1, 2026
Hilmab Latief, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) saat melaksanakan tugas di Makkah (Foto: Dok. Kemenag)

KPK Ungkap Hilman Latief Akui Terima Uang Terkait Korupsi Kuota Haji

April 1, 2026
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (04/03/2026). (Foto BPMI Setpres)

Pemerintah Aktifkan Kembali 625 Ribu Penerima BPJS Kesehatan

April 1, 2026
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu (kiri) didampingi juru bicara KPK, Budi Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin, 30 Maret 2026. (Foto Niaga.Asia/G Sitompul)

KPK Sebut Ismail Adham Berikan Uang Kepada Hilman Latief, Diduga Terkait Korupsi Kuota Haji

March 31, 2026
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur (Foto: Antara/MSN)

KPK Tetapkan Direktur Maktour dan Ketum Kesthuri Tersangka Korupsi Kuota Haji

March 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, April 3, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

”Abrahamic Religions” dan Kerusakan Alam

Oleh: KH. Nasaruddin Umar

Moh. Faisal Asadi by Moh. Faisal Asadi
August 28, 2024
in Uncategorized
A A
1
Nasaruddin Umar

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., Imam Besar Masjid Istiqlal

533
SHARES
1.5k
VIEWS

Jakarta, LIPUTAN 9 NEWS

Menarik untuk dikaji sebuah tesis yang dikemukakan Karen Armstrong dalam buku terbarunya, Sacred Nature, Restoring our Ancient Bond with The Natural World. Ia mengungkapkan, paham monoteisme yang diperkenalkan oleh agama anak-anak cucu Nabi Ibrahim (Abrahamic religions), yaitu agama Yahudi, Kristen, dan Islam, berhubungan dengan terjadinya akselerasi kerusakan alam dan lingkungan hidup.

Armstrong agaknya terpengaruh dengan buku The Sacred and The Profane, The Nature of Religion karya Mircea Eliade, yang mengungkapkan, paruh kehidupan manusia dahulu kala dikendalikan oleh mitos (myth) dan paruh kehidupan belakangan manusia dikendalikan oleh sains (logos).

Masyarakat adat tradisional merespons setiap persoalan hidupnya dengan mengandalkan persahabatannya dengan alam semesta. Mereka dengan terampil menyelesaikan persoalan dan tantangan kehidupannya menggunakan apa yang disebut Levy-Bruhl (1857-1939), seorang antropolog Perancis, dengan istilah ”participations”, yakni melibatkan alam semesta untuk berpartisipasi menyelesaikan persoalan manusia.

BeritaTerkait:

Jusuf Kalla Respon Pernyataan Menag Nasaruddin, Zakat dan Wakaf Sama-Sama Penting

ICW Sinyalir Dugaan Gratifikasi Penggunaan Jet Pribadi oleh Menteri Agama

KPK Dalami Dugaan Gratifikasi Fasilitas Jet Pribadi dari OSO untuk Nasaruddin Umar

Nasaruddin, Nusron, dan Zulfa, Masuk Radar Calon Kuat Muktamar NU Ke-35 Tahun 2026

Tuhan, manusia, alam semesta

Mereka yakin bahwa alam semesta seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan apa yang dipersepsikan manusia modern dengan ’benda mati’ masing-masing memiliki hidup tersendiri dan di antara satu sama lain bisa saling menolong. Manusia tradisional lebih mengandalkan otak kanan dalam berkomunikasi dengan alam semesta.

Mereka tidak perlu menghadirkan peralatan canggih untuk memahami dan selanjutnya ’memaksa’ alam untuk berpartisipasi memenuhi kebutuhan hidup manusia. Namun, mereka cukup dengan melakukan ritual tertentu, maka alam itu sendiri yang membuka rahasianya dan secara sukarela memberikan partisipasinya untuk menolong satu sama lain, termasuk menolong manusia.

”Tuhan” yang dipersepsikan oleh masyarakat adat tradisional bukan sosok yang memiliki kekuatan yang bersifat transenden dan supernatural, jauh, dan terpisah dengan manusia, tetapi mereka hadir secara inmanen dan intransik di dalam diri. Ia lebih merupakan sebuah energi sakral, lebih dalam dan lebih fundamental. Inilah yang disebut Bragma Nirguna dalam agama Hindu dan oleh tradisi China klasik disebut Dao (”jalan”) fundamental kosmos.

Fang Yizhi (1611-1671) menyebutnya Qi, sesuatu yang tak akan dapat diketahui, bahkan dikatakan, ia bukan ”Tuhan” atau wujud apa pun, tetapi ia adalah energi yang meliputi segala sesuatu. Ia berada di luar kategori yang bisa didefinisikan. Ini mirip konsep Summa Theologiae Thomas Aquinas yang menggambarkan Tuhan tidak terikat pada suatu surga supernatural, melainkan hadir di mana-mana di dalam segala sesuatu.

Tuhan bukan sesuatu wujud, melainkan wujud itu sendiri (esse seipsum). Pemikiran ini mirip dengan seniornya, Ibn ’Arabi, seorang filsuf Muslim, yang mengatakan: ”Dia masuk ke dalam segala sesuatu tetapi tidak bercampur, keluar dari segala sesuatu tetapi tidak terpisah.” Alam ini, menurut dia, tidak lain adalah manifestasi (tajalli) Dia. Ia juga menggambarkan alam semesta ini sesungguhnya bukan kosmos, melainkan a-cosmos (acosmism).

Berbeda dengan masyarakat modern yang seolah-olah mengasumsikan diri sebagai sesuatu entitas yang non-alam semesta, tetapi sang penguasa alam semesta. Evolusi perkembangan manusia yang mampu mengembangkan dunia logos sedemikian hebat.

Tidak heran jika Francis Bacon (1561-1626) dengan bangga menganggap manusia sebagai ”Tuhan” karena sudah mampu menemukan dan menciptakan hukum-hukum kekuatan yang pada saatnya mampu menjinakkan dan menaklukkan alam. Tugas para filsuf adalah bagaimana mengangkat martabat manusia yang sekian lama tenggelam dalam pemujaan alam semesta sebagai akibat penyesalan dirinya yang telah melakukan dosa dan di surga yang membuatnya jatuh ke bumi.

Manusia harus mengendalikan dan menundukkan bumi sebagaimana diperintahkan Allah. Alam bukan sebuah teofani (jelmaan Tuhan), melainkan komoditas yang harus dieksploitasi.

Apalagi Bacon mengutip salah satu pasal dalam Kitab Kejadian (Genesis): Allah memberkati mereka dan mengatakan kepada mereka, ”Beranak cuculah dan penuhilah bumi dan kuasailah itu. Berkuasalah atas ikan di dalam laut dan burung-burung di udara. Berkuasalah atas setiap makhluk hidup yang bergerak di atas bumi” (Genesis, 1:28).

Pemikiran Bacon dilanjutkan oleh Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal dengan konsep ”cogito ergo sum” (Aku berpikir maka aku ada). Ia dengan lancung mengatakan seorang ilmuwan harus mengosongkan pikirannya dari wahyu Ilahi dan tradisi manusia.

Pikiran serupa dikemukakan Isaac Newton (1642-1727) yang mengatakan alam semesta tidak memiliki ini suci atau sesuatu yang sakral. Ia pun mereduksi Tuhan hanya sebagai sebuah fenomena fisika. Konsep representatif (dominatio). Khalifah dalam Islam diidentifikasi sebagai gaya gravitasi yang mengontrol kosmos. Teolog Yahudi dan Kristen tidak jauh berbeda di dalam dunia Islam.

Kalangan pemikir Islam juga menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam ayat: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Membaca ulang kitab suci

Kalangan pemikir Muslim juga memahami manusia sebagai penguasa alam semesta, apalagi dengan adanya ayat yang menegaskan: ”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS Al-Jatsiyah/45:13).

Demikianlah asumsi teologis yang berkembang di dalam penganut Abrahamic Religions, yang kemudian menuai kritik dari para pemikir dan pelestari lingkungan hidup.

Atas dasar inilah komunitas pemerhati lingkungan hidup dari para penganut Abrahamic religions mencoba untuk membaca ulang kitab-kitab suci masing-masing, apakah betul tudingan itu? Mungkin ada benarnya atau mungkin ada yang dapat dikritisi?

Kelompok Abrahamic religions sebagai salah satu kelompok agama terbesar di dunia sudah pasti memiliki peran besar untuk menyelamatkan lingkungan alam semesta. Tantangan kita adalah bagaimana mengerem laju pembakaran bahan bakar fosil melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, terperangkap di sana, dan menyebabkan naiknya suhu bumi secara ekstrem.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Sumber: Kompas
Editor: Moh. Faisal Asadi

Tags: Alam SemestaImam Besar IstiqlalNasaruddin UmarTuhan
Share213Tweet133SendShare
Moh. Faisal Asadi

Moh. Faisal Asadi

Aktual, Faktual, Kompeten, Konsisten dan Terpercaya

BeritaTerkait

Jusuf Kalla
Nasional

Jusuf Kalla Respon Pernyataan Menag Nasaruddin, Zakat dan Wakaf Sama-Sama Penting

by liputan9news
March 2, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) turut menyinggung polemik zakat yang mencuat menjelang Ramadan....

Read more
Menag Nasaruddin Umar

ICW Sinyalir Dugaan Gratifikasi Penggunaan Jet Pribadi oleh Menteri Agama

February 20, 2026
Nasaruddin Umar

KPK Dalami Dugaan Gratifikasi Fasilitas Jet Pribadi dari OSO untuk Nasaruddin Umar

February 19, 2026
Imam Jazuli

Nasaruddin, Nusron, dan Zulfa, Masuk Radar Calon Kuat Muktamar NU Ke-35 Tahun 2026

November 12, 2025
Load More

Comments 1

  1. finessa says:
    2 months ago

    **finessa**

    Finessa is a natural supplement made to support healthy digestion, improve metabolism, and help you achieve a flatter belly.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2539
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Membangun kesadaran bahwa pelipatan pahala ibadah tidak hanya di bulan Ramadan.

Kiat Menjaga Ketaqwaan Pasca Ramadan

April 2, 2026
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Untuk Akhiri Konflik Timur Tengah (Foto: JPNN.COM)

Dorong Perdamaian, PBNU Temui Dubes Arab Saudi

April 2, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In