JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Apakah kekisruhan elit NU ini adalah prakondisi muktamar? Skenarionya adalah mendegradasi wibawa ketua umum, Yahya Chalil Staquf, sebagai figur yang bermasalah secara moral. Dengan memakai stempel lembaga spiritual organisasi, skenario ini nampak berjalan sesuai rencana. Targetnya adalah mengalahkan Yahya Staquf pada muktamar nanti. Jika dalam prosesnya Yahya Staquf bisa dijatuhkan sebelum muktamar, itu lebih baik. Pemakzulan ketua umum, bahkan sekadar narasi sekali pun, sudah cukup ampuh untuk merusak citra sang ketua di hadapan muktamirin (peserta muktamar di dalam gedung) dan muktamirout (peserta di luar gedung).
Namun melihat perkembangan terakhir, manuver kelompok anti-Yahya nampaknya tidak sesuai harapan. Surat pemberhentian berhasil dikeluarkan. Pimpinan baru sementara berhasil dinobatkan. Tapi reaksi publik NU terhadap keputusan lembaga Syuriah itu cenderung negatif. Tokoh-tokoh kunci kultural NU turun tangan. Narasinya satu: ishlah. Dan itu persis narasi yang dibangun para pendukung ketua umum. Dengan demikian, kubu Yahya dan para sepuh NU satu nafas.
Pertarungan di ranah simbolik dua kelompok ini juga terjadi secara intens. Kelompok anti-Yahya berhasil mengklaim dukungan Syuriah yang secara formal merupakan lembaga tertinggi di organisasi NU. Namun narasi ishlah yang didukung para kiai sepuh membuat posisi Yahya Staquf bisa mengimbangi bahkan mengungguli kelompok penentang. Ishlah juga adalah narasi yang dekat dengan karakter Nahdliyyin yang cenderung mencari jalan tengah dan menghindari konflik. Sementara pemakzulan adalah kosakata yang agak asing dalam kamus orang-orang NU.
Selain blunder narasi, kelompok anti-Yahya juga melakukan sejumlah kesalahan kecil yang secara akumulatif semakin membuat mereka kehilangan legitimasi. Kesalahan-kesalahan kecil itu antara lain pemilihan tempat rapat pleno di Hotel Sultan untuk menjatuhan ketua umum tanfidziyah. Pada rapat pleno itu, hadir setidaknya dua menteri (Saifullah Yusuf dan Nasaruddin Umar) dan gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansah. Sementara Yahya Staquf menggalang solidaritas para sepuh di pondok-pondok pesantren utama Nahdliyyin seperti Tebu Ireng, Ploso, dan Lirboyo. Ini secara langsung memberi pesan yang sangat kuat pada Nahdliyyin bahwa yang sedang bertarung ini adalah kelompok yang dekat dengan penguasa dan oligarki melawan kelompok santri lemah yang didukung para kiai.
Blunder terakhir menambah kesan kontras itu, yakni tampilnya Rais Aam memberi penjelasan keputusan Syuriah di kanal CNN Indonesia milik Chairul Tanjung yang juga pemilik Trans TV. Trans TV sebelumnya menjadi sasaran amarah warga NU karena tayangannya yang dinilai melecehkan kiai dan pesantren NU. Ini semakin memperjelas posisi para pihak yang berkisruh. Alih-alih menggunakan kanal media resmi PBNU, kubu anti-Yahya justru bekerja sama dengan media yang sebelumnya membuat murka warga NU.
Belum ada kesimpulan final dari kisruh yang sudah menjadi menu bacaan dan tontonan pemirsa tanah air dua bulan terakhir ini. Yang pasti, sementara ini kubu Yahya Staquf terlihat lebih mudah diterima dibanding lawannya. Yahya Staquf menginginkan semua bersatu. Sementara kubu lawannya ingin Yahya jatuh. Sikap Yahya Staquf lebih mewakili karakter NU dibanding lawannya sementara ini.
Rest Area 166 Cipali, 24 Desember 2025
Saidiman Ahmad, Alumnus Crawford School of Public Policy, Australian National University
























