• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Demokrasi di Era Digital

June 23, 2025
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Untuk Akhiri Konflik Timur Tengah (Foto: JPNN.COM)

Dorong Perdamaian, PBNU Temui Dubes Arab Saudi

April 2, 2026
Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

April 2, 2026
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PNIB: Dialah Pahlawan Perdamaian yang Sesungguhnya

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PNIB: Dialah Pahlawan Perdamaian yang Sesungguhnya

April 2, 2026
Ketua Umum DPP Kesatuan Tour Travel Haji Umroh Republik Indonesia (Kesthuri) Asrul Azis Taba. (Foto: Antara)

Jadi Tersangka Korupsi Haji, Ketum Kesthuri Asrul Azis Taba Diminta Pulang dari Saudi

April 1, 2026
Hilmab Latief, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) saat melaksanakan tugas di Makkah (Foto: Dok. Kemenag)

KPK Ungkap Hilman Latief Akui Terima Uang Terkait Korupsi Kuota Haji

April 1, 2026
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (04/03/2026). (Foto BPMI Setpres)

Pemerintah Aktifkan Kembali 625 Ribu Penerima BPJS Kesehatan

April 1, 2026
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu (kiri) didampingi juru bicara KPK, Budi Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin, 30 Maret 2026. (Foto Niaga.Asia/G Sitompul)

KPK Sebut Ismail Adham Berikan Uang Kepada Hilman Latief, Diduga Terkait Korupsi Kuota Haji

March 31, 2026
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur (Foto: Antara/MSN)

KPK Tetapkan Direktur Maktour dan Ketum Kesthuri Tersangka Korupsi Kuota Haji

March 31, 2026
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)

Tetap Istiqomah Pasca Ramadan

March 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Thursday, April 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Demokrasi di Era Digital

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
June 23, 2025
in Opini
A A
1
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Ketua Bidang Perfilman Majelis Kebudayaan Banten

505
SHARES
1.4k
VIEWS

Banten | LIPUTAN9NEWS

Dalam bukunya yang bertajuk Democracy in the Digital Age itu, Anthony G. Wilhelm beberapa kali mengutip pandangan Martin Heidegger, Jacques Derrida, Henry David Thoreau dan lainnya yang terbilang para filsuf mayor, yang kebetulan ia ‘masukan’ dalam kategori kelompok dystopian.

Memang, menurut Hiedegger, teknologi tak lebih dari sekadar alat atau mesin. Karena itu, sarannya, jangan sampai kita malah diperalat atau bahkan diperbudak mesin. Kita memang semestinya menjadi tuan dari alat-alat atau teknologi yang kita ciptakan, bukan malah ‘memenjara’ kita dan ironisnya menumpulkan kecerdasan dan nalar kita. Ketika manusia malah ‘dikendalikan’ oleh mesin dan teknologi yang ia ciptatakan.

Heidegger menganggap teknologi tak lebih sebagai “cara pengungkapan” (way of revealing) atau “modus pengungkapan” (mode of revealing), yang membentuk cara kita memahami dan berinteraksi dengan dunia dalam kehidupan kita. Ia juga mengkritik esensi teknologi modern yang, menurutnya, cenderung menempatkan segala sesuatu sebagai “persiapan” atau “cadangan” (standing-reserve) yang siap dimanfaatkan, yang dapat menyebabkan krisis ekologis dan alienasi sosial (keterasingan berjamaah dalam masyarakat).

BeritaTerkait:

Kiai Imam Jazuli: NU Harus Melahirkan Ulama Digital, Hadapi Realitas Zaman

Mengatur Uang, Menjaga Kewarasan: Fakta di Balik Keuangan dan Kesehatan Mental

Ponpes Taswirul Afkar 26 Solusi Anak Dhuafa di Era Digital

Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

Teknologi informasi memang telah mendekatkan dan memampatkan jarak dan waktu dalam skala global sekaligus. Tapi tidak sedikit yang memandang komunikasi dan ‘perjumpaan’ yang dimediasi instumen atau perangkat teknologi informasi bersifat semu belaka. Hambar bahkan justru menciptakan alienasi atau keterasingan baru manusia. Hilangnya keintiman sejati seperti keintiman yang kita dapatkan dalam perjumpaan nyata (konkrit) tanpa perantara perangkat atau aplikasi digital (internet).

Persoalan yang sama juga sesungguhnya terjadi dalam peristiwa-peristiwa politik. Banyak masalah yang timbul ketika demokrasi kini berada di era digital. Dari persoalan monopoli oleh mereka yang memiliki kapital besar untuk menguasai seluruh ruang-ruang dan media-media digital untuk kepentingan elit segelintir. Sehingga segelintir elit kecil itu bisa membayar platform digital itu sendiri hingga menyewa para buzzer dan konten kreator untuk memonopoli opini hingga propaganda yang bisa sangat mempengaruhi para pengguna media sosial dan internet.

Ada tiga mazhab dan pendekatan dalam memandang teknologi informasi yang dipaparkan Anthony G. Wilhelm, atau ada tiga varian pandangan dalam menyikapi era digital: Dystopian, Neo-Futuris, dan Teknorealis, dalam bukunya yang bertajuk Democracy in the Digital Age itu. Kelompok dystopian adalah mereka yang sangat berhati-hati pada penerapan teknologi informasi, bahkan menghindari, karena menurut mereka dapat mengacaukan kehidupan sosial-politik.

Kelompok dystopian ‘menyesali’ hilangnya pesona dan kualitas hidup akibat teknologi informasi dan merebaknya media yang melahirkan kedangkalan, sehingga mereka pun ‘berharap’ agar kita tidak menjadi para pecandu teknologi, yang justru malah akan diperalat dan dipenjara teknologi (alat/instrument) itu sendiri. Mereka yang masuk dalam kategori kaum dystopian ini contohnya antara lain filsuf besar dari Jerman Martin Heidegger dan Edmund Husserl, Hannah Arendt, Henry David Thoreau, dan Benjamin Barber.

Hannah Arendt, contohnya, memandang keberadaan media (dan teknologi) justru menghilangkan hubungan antar manusia yang sejati. Sedangkan Martin Heidegger menganjurkan kita agar memandang teknologi tak lebih sebagai cadangan tetap yang harus dikontrol dan ditata. Tidak jauh berbeda dengan Heidegger, menurut Arendt di era kemajuan teknologi informasi justru terjadi pelemahan hubungan politik karena pemusnahan ruang-ruang publik oleh rezim totalitarian baru (maksudnya: rezim teknologi komunikasi modern).

Sementara itu menurut kelompok neo futuris, teknologi-teknologi dengan kecepatan tinggi adalah realitas yang akan menggilas apa saja yang dilewatinya. Alvin Toffler, sebagai salah satu dari kelompok ini, misalnya menganjurkan kita untuk terus-menerus memperbaiki dan berpikir ulang mengenai tujuan sosial yang ia sebut sebagai demokrasi antisipator agar kita selamat dari guncangan masa depan. Bagi neo futuris lainnya, yaitu Jim Ruben, kemajuan teknologi digital justru akan memberi semangat baru bagi demokrasi. Di jalan tengah ada kelompok tekno-realis yang mengakui bahwa teknologi memang tidak netral, dan internet adalah revolusioner tetapi tidak utopia.

Kelompok neo-futuris sadar bahwa ada banyak kepentingan di balik penggunaan (penerapan) media, semisal media bermula dari mengontrol ruang-waktu, namun kemudian mengontrol orang: contohnya iklan-iklan yang massif dan senantiasa hadir untuk selalu ‘memerintah’ banyak orang agar tak pernah berhenti untuk membeli dan mengkonsumsi. Media menjadi mesin dari hasrat tirani pasar yang tak berkesudahan, dan banyak orang kemudian diubah hanya menjadi masyarakat konsumer yang kehilangan kritisisme dan mengalami pembusukan nalar.

Menurut Anthony G. Wilhelm, kelompok neo futuris adalah mereka yang tidak kritis dan sangat terbuka pada hal-hal baru dari kemajuan teknologi, dan selalu melihat masa depan dengan harapan membuta. Sedangkan kaum dystopian adalah mereka yang sangat kritis dan berhati-hati pada teknologi, bahkan cenderung menentangnya karena dianggap mereduksi kualitas esensial masyarakat dan membawa kekacauan secara politik dan sosial. Adapun kelompok teknorealis memandang bahwa teknologi informasi mempunyai manfaat-manfaat praktis yang dapat digunakan tanpa harus melawan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

Barangkali kita bisa membaca konstruk bangunan teoritik Anthony G. Wilhelm tentang tiga pendekatan dalam memahami perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut bukanlah sebuah kategori melainkan sebuah rangkaian, seperti yang dicetuskan dalam teori dialektika Friedrich W. Hegel mengenai tesis, antitesis dan sintesis. Dalam hal ini kelompok neo-futuris adalah tesis: teknologi penting untuk kehidupan manusia di masa depan. Sedangkan kelompok dystopian hadir sebagai antitesis neo-futuris: dengan kritik mereka terhadap penerapan teknologi dan dampak sosialnya. Lalu kelompok tekno-realis menawarkan sintesis bahwa teknologi mempunyai manfaat-manfaat praktis yang dapat digunakan tanpa harus mendobrak nilai-nilai sosial. Sintesis inilah yang kemudian akan bergerak kembali menjadi tesis baru seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan.

Sulaiman Djaya, Pengasuh Kajian Demokrasi dan Ekonomi Politik Sekretariat KAHMI Banten

Tags: DemokrasiDigitalEra Digital
Share202Tweet126SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Kiai Imam Jazuli: NU Harus Melahirkan Ulama Digital, Hadapi Realitas Zaman
Nasional

Kiai Imam Jazuli: NU Harus Melahirkan Ulama Digital, Hadapi Realitas Zaman

by liputan9news
February 11, 2026
0

CIREBON | LIPUTAN9NEWS Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, KH Imam Jazuli menilai Nahdlatul Ulama atau NU yang memasuki...

Read more
Mengatur Uang, Menjaga Kewarasan: Fakta di Balik Keuangan dan Kesehatan Mental

Mengatur Uang, Menjaga Kewarasan: Fakta di Balik Keuangan dan Kesehatan Mental

February 11, 2026
Ponpes Taswirul Afkar 26 Solusi Anak Dhuafa di Era Digital

Ponpes Taswirul Afkar 26 Solusi Anak Dhuafa di Era Digital

February 10, 2026
Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

January 24, 2026
Load More

Comments 1

  1. herpafend says:
    1 month ago

    **herpafend**

    herpafend is a natural wellness formula developed for individuals experiencing symptoms related to the herpes simplex virus.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2539
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Untuk Akhiri Konflik Timur Tengah (Foto: JPNN.COM)

Dorong Perdamaian, PBNU Temui Dubes Arab Saudi

April 2, 2026
Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

April 2, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In