Jakarta, Liputan9.id – Khususiyah merupakan rutinan Jamaah Thariqah Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqabandiyah (TSQN) Pondok PETA yang dilakukan setiap malam Selasa dan malam Jum’at. Khususiyah diawali dengan shalat maghrib secara berjaamaah, dzikir, pembacaan aurad thariqah, disambung lagi dengan shalat isya’ berjamaah, lalu dzikir ba’da shalat, pembacaan aurad dan ditutup dengan majelis ilmu.
Dalam rutinan khususiyah kali ini, sebagai Imam Khususiyah KH Agus Salim HS, mengupas tentang pentingnya sifat zuhud dan perlunya meninggalkan sifat sombong dan cinta dunia. Khususiyah dilaksanakan pada hari Senin, (12/12).
KH Agus Salim HS yang juga Ketua Umum Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU) memulai materi majelis ilmu dan khususiyah dengan mengutip ungkapan syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandari tentang zuhud.
Maqolahnya Syekh Ibnu Athaillah yang terkandung kitab Al-Hikam tentang Zuhud, sebagai berikut:
ماَقـَلَّ عَملٌ بَرَزَ من قلْبٍ زاَهِدٍ ولاكَثـُرَ عملٌ بَرَزَ من قلبٍ رَاغِبٍ
“Tidak dapat dianggap sedikit amal perbuatan yang dilakukan dengan hati yang zuhud, dan tidak dapat dianggap banyak amal yang dilakukan oleh seseorang yang cinta dunia.”
Lalu, Kiai Agus menjelaskan bahwa makna zuhud itu sendiri memiliki arti meninggalkan sesuatu yang hina atau yang dapat merusak dunia. Dalam pengertian bahwa zuhud bukan semata-mata meninggalkan dunia. Akan tetapi dunia sekadar perantara atau wasilah, bukan goyah atau menjadi tujuan.
Kiai Agus menyampaikan bahwa, Imam Al-Ghazali menerangkan zuhud yang berkaitan harta duniawi. Menurutnya, banyak orang keliru memahami zuhud. Banyak orang mengira, zuhud merupakan kondisi papa (ngere) dan menjauhi kehidupan (harta) duniawi. Ini anggapan keliru yang terlanjur populer di masyarakat. Imam Al-Ghazali mengatakan:
اعلم أنه قد يظن أن تارك المال زاهد وليس كذلك فإن ترك المال وإظهار الخشونة سهل على من أحب المدح بالزهد
“Ketahuilah, banyak orang mengira, orang yang meninggalkan harta duniawi adalah orang yang zuhud (zahid). Padahal tidak mesti demikian. Pasalnya, meninggalkan harta dan berpenampilan “buruk” itu mudah dan ringan saja bagi mereka yang berambisi dipuji sebagai seorang zahid,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin)
Menurut Kiai Agus Salim HS, yang juga Rois Idarah Syu’biyah JATMAN menerangkan bahwa, hakikat zuhud itu sendiri adalah kondisi batin yang tidak tercemar, terpengaruh oleh ambisi merasa memiliki dan mengakui harta duniawi.
“Seperti yang dikatakan Imam Malik. Zuhud bukan berarti ketiadaan harta duniawi. Zuhud merupakan kesucian hati dari harta duniawi. Seperti Nabi Sulaiman as sendiri di tengah gemerlap kekuasaannya tetap tergolong orang yang zuhud,” papar Kiai Agus.
Imam Malik ra adalah orang yang zuhud di mana harta duniawi tidak singgah di dalam hati dan pikirannya. Sementara ia adalah ulama besar yang kaya raya. Kiai Agus juga menegaskan, melepas sifat pengakuan, membuang sifat merasa-merasa, meninggalkan bangga amal, selalu menghinakan diri dihadapan Allah, akan menjadi sebab leburnya sifat basyariah yang menjadi hijab, penghalang, sampainya kita kehadirat Allah. (Ai)
Liputan9.id | Liputan9 Sembilan | Liputan9_id | Liputan 9 Nusantara | Seputar Nusantara