LIPUTAN9.ID – Peringatan Hari sosial dilakukan setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Sebagian masyarakat tidak banyak yang tahu, bahwa tanggal 22 Desember bukan hanya Hari Ibu saja, tapi juga sebagai Hari Sosial.
Dalam kamus besar bahsa Indonesia (KBBI), “sosial” dapat diartikan berkenaan dengan masyarakat. Sosial juga dapat dilihat sebagai suatu perhatian yang diberikan secara sukarela demi kepentingan umum, seperti suka membantu, menolong sesama, dan sebagainya.
Demikian materi khutbah jum’at ini (22/12/23), semoga kita bisa mengambil pelajaran dari perilakuku peduli sesame yang bis akita praktekan dan rasakan dengan melakukan beberapa hal dibawah ini; Berbuatbaik kepada orang tua, Berbuatbaik kepada Anak Yatim dan OrangMiskin,Berbuat baik kepada Kerabat dan Tetangga, Berbuat Baik kepada Ibnu Sabil dan Hamba Sahaya, Kelima, Berbuat baik kepada orang lain.
Semoga, Allah memudahkan dan memberi kekuatan serta semangat kepada kita untuk bisa menyemangati diri kita untuk berusaha berbuat baik yang banyak kepada Orang lain
Khutbah Pertama
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرْهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهدُ أَنْ لاَ إَلَهَ إِلاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
قَالَ تَعَالَى: وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (الحشر: ٩)
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,
Marilah kita bersyukur kepada Allah dengan melangitkan kalimat Tahmid sebagai manifestasi dari pujian kita kepada Allah Swt. atas segala limpahan nikmat, rahmat, serta keberkahan yang kita terima setiap saat yang terkadang tanpa harus keluar keringat, Semoga kitab isa dan selalu berusaha menjadikan diri menjadi orang yang selalu bersyukur kepadaNya amin. Shalawat dan salam marilah senantiasa kita sanjungkan kepada baginda Rasulullah Muhammad Saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya. Amin.
Selanjutnya, Khatib berwasiat pada diri khatib pribadi dan kepada segenap jamaah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan taqwa yang sebenar-benar taqwa. Marilah kita menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya; memperbanyak berbuat baik, menghormati perbedaaan yang dianugerahkan kepada kita, serta senantiasa menjaga nikmat perdamaian dan kerukunan yang terlimpah kepada bangsa-bangsa dinunia ini.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,
Pada khutbah kali ini khotib ingin menyampaikan judul khutbahnya yaitu, Sikap Peduli dalam Al-Qur’an (Refleksi Hari Sosial).
Peringatan Hari sosial dilakukan setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. Sebagian masyarakat tidak banyak yang tahu, bahwa tanggal 22 Desember bukan hanya Hari Ibu saja, tapi juga sebagai Hari Sosial.
Dalam kamus besar bahsa Indonesia (KBBI), “sosial” dapat diartikan berkenaan dengan masyarakat. Sosial juga dapat dilihat sebagai suatu perhatian yang diberikan secara sukarela demi kepentingan umum, seperti suka membantu, menolong sesama, dan sebagainya.
Dalam pandangan agama, bahwa sosial adalah bersiafat kemasyarakatan atau menyangkut kehidupan orang lain, sehingga ketika dikatakan social artinya perduli dengan orang lain. Pada hakikatnya manusia dsecara fitrah adalah mahluk social yang memiliki sifat atau naluri atau karakter sosial, sebagaimana firman Allah:
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗوَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ 32
“Kami telah menentukan di antara mereka keadaan hidup mereka di dunia ini, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka daripada sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka mengambil manfaat dari sebagian lain.” (QS Az-Zukhruf: 32)
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,
Sebagai mahluk sosial secara fitrah, manusia memiliki kepedulian terhadap sesama manusia yang lain, karenanya ketika ada sesuatu masalah dari manusia yang lain atau masyarakat maka akan merespon baik kepada sesama mansuai lain untuk membantu atau mengatasi masalah saudara sesama manusia, apalagi sesama muslim.
Respon membatu sesama manusia atau saudaranya yang lain tentu merupakan sikap yang sangat baik apalagi dilakukan dalam kondisi yang sedang kurang beruntung maka akan menjadi sangat mulia. Hal ini sudah ditunjukan oleh sahabatsahabat anshor yang membantu sahabat muhajirin yang dlam kondisi memperihatinkan dengan iktunya berhijrah bersama nabi. Hal ini tergambar dam al-Qur’an:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (al-Hasyr [59]: 9)
Selanjutnya setelah kita mengatahui bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat atau karakter peduli dengan yang lain sebagai satu iabadah sosial yang baik, kemudian kepada siapa saja yang didahulukan sikap baik atau bantuan kita untuk disalaurkan baik beruapa harta, tenaga, pikiran, fasilitas ataupun lainya:
Pertama, Berbuat Baik kepada Orang Tua,
Sejatinya Orang tua atau ibu bapak merupakan orang yang paling dekat dengan kita, paling mengetahui kita, paling baik dengan kita walaupun ada orang tua yang tidak demikian dan sangat sedikit jumlahnya. Lantaran kebaikan dan kedekatannya dengan kita sehingga Allah memberikan keistimewaan kepada oarang tua bahwa:
Ridhonya Allah tergantung dengan ridhonya orang tua. Hal menjadi hal penting posisi anak terhadap orang tua, yang tidak boleh berbuat jahat atau tidak adil kepada mereka lantaran Allah sudah memberikan keistimewaan kepada orang tua.
Dengan kemulyaan orang tua, maka sungguh sangat baik apabila kita berlaku ramah tamah kepada mereka dan senang membantu dan memberikan kebaikan mendahului kepada orang lain. Allah berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا
“Dan Rabb-mu menyuruh manusia untuk beribadah kepada-Nya dan selalu berbuat baik kepada orang tua. Jika salah satu atau keduanya berusia lanjut. Maka jangan mengatakan ‘ah’ dan membentaknya,” “Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang baik dan rendahkan dirimu dengann penuh kasih sayang. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku sayangi keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil,” (QS Al-Isra’: 23-24).
Kedua, Berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin,
Anak yantim adalah sosok anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya yang sedianya memberikan kebutuhan dan kebahagiaan kepada mereka. Tidak ada anak yang menginginkan menjadi yatim, namun karena kehendak Allah sehingga menjadi yatim, Ada kebahagiaan dan kaih sayang yang hilang bagi yatim yang seharusnya mereka dapatkan. Tidak ada juga orang yang ingin menjadi miskin.
Dalam kondisi timpang atau kurang kebutuhna dan atau kurang kebahagiaan baik adari ayah maupun ibunya, terkadang muncul perilaku-perilaku yang kurang baik dari yatim, sehingga sungguh berat mengasuh anak yatim dalam keluarga kita. Dan juga kondisi miskin seseorang yang juga berat dalam menjalani kehidupan padahal mereka ingin hidup layak seperti yang lainnya.
Karena itu seorang muslim sangat dianjurkan untuk membantu dan memberikan kebahagiaan kepada yatim dan orang miskin dengan kemampuan dan cara-cara yang baik untuk mereka anak yatim. Tidak boleh berbuat sewenang-wenang yang menjadikan anak yatim sedih atau marah tetapi berusaha membatu dan membahagiakan mereka dimana ada kesematan dan kemampuan. Allahberfirman:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا
“Dan apabila pada waktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari sebagian harta itu dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada mereka.” QS. An-Nisa/4: 8
Ketiga, : Berbuat baik kepada kerabat dekat dan Tetangga,
Kerabat adalah orang yang memiliki hubngan darah atau hubungan keluarga satusama lain dan saling berinteraksi diantara mereka, sedangkan tetangga adalah orang yang secara territorial sangat dekat dengan kita. Hubungan kerabat dan tetangga menjadi sangat erat talike keluargaannya, sehingga akan terasa kurang apabila dianatara mereka kurang komunikasi dan hubungan kekeluargaan. Jika diantara mereka ada yang kekurangan atau memerlukan bantuan, maka kita sebagai kerabat, harus sesegera mungkin memberikan bantuan atau memberikan kebaikan untuk mereka sebelum yang lain melakukannya.
Kerabat dan tetangga adalah sangat urgen dalam kehidupan kita manusia, tanpa kerabat mereka akan merasa ada yang kurang dan tidak lengkap sehingga jika tidak ada kerabat, akan sangat mungkin mempengaruhi sikap dan perilakuk sehari hari. Untuk itu sebagai kerabat manfaatkan, lakukan kepedulian kepada kerabat jika mereka memerlukan bantuan. Alah berfirman:
وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. AN-Nisa/4: 36
Keempat, : Berbuat baik kepada Ibnu Sabil dan Hamba sahaya,
Ibnusabil adalah orang yang sedang dalam perjalanan jauh sehingga meninggalkan keluarga dan hartanya, sedangkan hamba sahaya adalah seseorang yang yang menjadi pembantu dan tanggung jawab sang tuan. Kedua kelompok ini menjadi tak banyak punya keukuasaan atas dirinya lantaran kondisi yang dialaminya. Hal ini yang menjadikan keduanya termasuk kelompok yang menadapatkan zakat.
Konsidi yang lemah ini menjadikan keduanya memerlukan bantuan dari yang kainnya agar mereka bisa layak melakukan aktfitasnyamaupun ibadahnya. Untuk itu bantuan bagi mereka menjadi penting untuk kita berikan. Allah berfirman:
وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. AN-Nisa/4: 36
Kelima, : Berbuat baik kepada Orang Lain
Siapa yang membatu, akan dibantu begitu juga siapa yang jahat maka akan dijahati orang lain, hukum kausalitas ini berlakuk bagi kehidupan manusia. Untuk itu membantu orang lain pada hakikatnya adalah membantu dirinya sendiri, Apa bantuan yangharus diberikan? Bantuannya adalah sesuai yang dibutuhkan oleh orang lain yang sekiranya kita mampu membantunya, jangan kita membantu justrumalah membuat repot yang dibantu.
Lakkukan batuan dengan hati yangikhlas dan semangat, karenanya seteah membantu akan terasa nikmat dan plong karena dimotivasi oleh keikhlasan dan ridho Allah. Oleh karenanya semakin kita banyak membantu, maka maslah kita akan lebih baik dan mudah melakukannya. Alah berfirman:
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا
Artinya: Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai. QS. Al-Isra/17: 7
Hadirin sidang jum’ah yang dimulyakan Allah,
Demikian khutbah yang singkat ini, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari perilakuku peduli sesame yang bis akita praktekan dan rasakan dengan melakukan beberapa hal dibawah ini:
- Berbuatbaik kepada orang tua,
- Berbuatbaik kepada Anak Yatim dan OrangMiskin,
- Berbuat baik kepada Kerabat dan Tetangga,
- Berbuat Baik kepada Ibnu Sabil dan Hamba Sahaya,
- Kelima, Berbuat baik kepada orang lain.
Semoga, Allah memudahkan dan memberi kekuatan serta semangat kepada kita untuk bisa menyemangati diri kita untuk berusaha berbuat baik yang banyak kepada Orang lain, sehingga Allah ridho memberikan kebaikan-kebaikan yang banyak, amin amin ya Robbal “aalamiiin.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ سَوَاءَ السَّبِيْلِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
Materi khutbah Jum’at dengan tema Khutbah Jum’at: Sikap Peduli dalam Al-Qur’an (Refleksi Hari Sosial) ini, dalam bentuk PDF dapat di Download dengan KLIK disini
KH. Ahmad Misbah, M.Ag., Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Tangerang
Comments 1