• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman-Djaya

Menolak Liberalisasi Pendidikan

May 10, 2024
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memimpin konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)

Ketum PBNU Tegaskan Seluruh Unsur Organisasi Kompak Hadiri Harlah Ke-100 NU

January 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Menolak Liberalisasi Pendidikan

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
May 10, 2024
in Uncategorized
A A
0
Sulaiman-Djaya

Sulaiman Djaya, Esais, Penyair, dan Pengurus Majelis Kebudayaan Banten

509
SHARES
1.5k
VIEWS

Banten, LIPUTAN 9 NEWS
Diantara yang memprihatinkan saat ini adalah ketika pendidikan telah menjadi bisnis dan industri jasa yang melibatkan Negara dan birokrasi. Kenyataan itulah yang disorot para pemikir pendidikan semisal Ivan Illich, Paulo Freire, Henry Giroux dan lainnya, ketika institusi pendidikan semata-mata mengabdi pada logika dan imperatif mekanistik kapitalisme dan neo-liberalisme.

Menurut Paulo Freire dan Ivan Illich, contohnya, pendidikan formal justru telah membagi masyarakat dalam kelas-kelas tertentu yang tidak egaliter dan menciptakan ruang-ruang baru diskriminasi. Masyarakat dimanipulasi bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui dan dari sekolah, padahal tidak sedikit mereka yang inovatif dan menjadi para pencipta ruang-ruang baru dalam hidup adalah orang-orang yang drop out dari sekolah dan menimba pengetahuan dan pengalaman dari perjuangan serta praktik kehidupan langsung.

Pada kenyataanya, institusi pendidikan hanya mencetak orang-orang untuk mengisi pos-pos yang telah disiapkan korporasi dan korporat, seperti menjadi ahli ini dan ahli itu, dan tidak bisa keluar dari domain dan wilayah yang telah di-pos-kan.

BeritaTerkait:

Mendidik Anak Berbasis Pertanyaan 

Ketua PBNU Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Gus Mus: Orang NU Ikut Dukung Tidak Ngerti Sejarah

Kemendikbud Siapkan 150 Ribu Beasiswa untuk Guru yang Belum S1/D4

Program Wajib Belajar 13 Tahun pada 2026, PIP untuk TK dan Insentif Guru Dinaikkan

Yang juga acapkali terjadi adalah ketika pendidikan formal hanya mengajarkan teori-teori yang terasing dan tercerabut dari realitas faktual kehidupan. Maka tidak heran, bila di dunia kehidupan ini, mereka yang drop out dari sekolah dan sukses dalam kehidupan nyata seperti Steve Jobs dan yang lainnya tak lain karena mereka lebih sanggup membaca zaman tersebab belajar dari praktik dan pengalaman langsung yang mengasah kepekaan pikiran dan menggembleng skill mereka dalam proses kenyataan langsung yang dihadapi.

Yang paling celaka adalah ketika kelas dan institusi pendidikan menjadi wadah baru tirani monologis dan sepihak, yaitu ketika para peserta dididik tidak dipandang setara sebagai peserta dialog partisipatoris.

Pendidikan Berbudaya

Pendidikan sudah semestinya menjadikan manusia lebih manusiawi dan semakin menjadikan kita lebih peka pada kehidupan dan semesta, bukan malah mengasingkan kita dari realitas kehidupan. Bahwa kemumpunian kita yang didapat dari pendidikan bersifat religius sekaligus humanistik, menjadikan kita menjadi saleh dan memiliki integritas.

Dahulu kala, contohnya, para filsuf menyampaikan pandangan dan ajaran mereka tentang kehidupan, alam dan pengetahuan, termasuk muatan-muatan keagamaan, di ruang terbuka: di taman, di alam, yang tidak ada sekat dan bersifat interaktif, mempraktikkan laku berbincang dialogis partisipatoris, semisal yang dilakukan Sokrates di Athena, Yunani.

Saat ini, ada sejumlah pemikir yang menyoroti modernisasi pendidikan justru malah mengasingkan manusia dari kesemestaan alam dan kehidupan manusia itu sendiri. Sekolah ternyata, demikian menurut mereka, telah menciptakan sekat dan diskriminasi baru atau melanggengkan kelas sosial, bukannya menciptakan humanisme dan kesetaraan, sampai-sampai ada sekolah-sekolah favorit dan sekolah-sekolah yang hanya bisa dijangkau oleh anak-anak dari kelas menengah atas.

Singkatnya, telah terjadi kapitalisasi atau industrialisasi jasa pendidikan, hingga kemudian dikritisi oleh para pemikir seperti Paulo Freire, Ivan Illich dan Henry Giroux, untuk menyebut sedikit saja.

Namun sebelum para pemikir pendidikan dan para penulis di benua Amerika itu menawarkan pendidikan humanis berbudaya, Ki Hajar Dewantara sesungguhnya telah lebih dulu menawarkan filsafat pendidikan pembebasannya kepada kita. Ki Hajar Dewantara di masa-masa perjuangannya telah menunjukkan bahwa perjuangan untuk pendidikan adalah juga perjuangan sosial-politik untuk memerdekakan, membebaskan dan memanusia-kan manusia.

Selain itu juga Ki Hajar Dewantara telah mengenalkan peran pengajar dan pendidik yang humanis dan partisipatoris dengan tiga formulanya: Ing ngarso sung tulodo (di depan jadi teladan), ing madya mangun karso (di tengah memberikan bimbingan), dan tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan atau motivasi). Ia juga melawan pendidikan diskriminatif yang dilakukan Belanda yang elitis, yang sayangnya saat ini, pendidikan elitis diskrimatif itu kembali ada seiring dengan komodifikasi pendidikan oleh kapitalisme dan liberalisme.

Sebagaimana dijelaskan Suhartono Wiryopranoto, di masa perjuangannya Ki Hajar Dewantara melakukan resistensi atau perlawanan terhadap Undang-undang SekolahLiar (Wilden scholen ordonantie 1932) yang akhirnya dihapuskan Belanda (Lihat: Suhartono Wiryopranoto dkk, Ki Hajar Dewantara – Pemikiran dan Perjuangannya, Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2017, h. 10).

Perjuangan Ki Hajar Dewantara untuk melahirkan pendidikan setara bagi semua kalangan dan rakyat sudah tentu memang merupakan perjuangan sosial-politik, sehingga Ki Hajar Dewantara layak disebut sebagai tokoh pengubah sejarah sosial-politik Indonesia. Lebih lanjut Suhartono Wiryopranoto memaparkan bahwa pendidikan diskriminatif Belanda itu sendiri memang dalam rangka mempertahankan koloniliasme dan menanamkan inferioritas dan ketakutan kepada pribumi. Selain demi mempertahankan kedudukan sosial-politik kaum penjajah atas mayoritas pribumi Indonesia (h.11-12).

Adalah ironis ketika saat ini di bangsa kita, justru pendidikan elitis yang tidak setara dan diskriminatif malah kembali diadakan. Sesuatu yang berlawanan dengan semangat dan tujuan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang dipelopori dan digerakkan oleh para bapak bangsa kita. Bagaimana mungkin kita sanggup memanfaatkan surplus demografi bangsa kita bila kita sendiri menghambat kelancaran dan kesuksesan pendidikan yang terjangkau untuk semua rakyat Indonesia?

Menolak Komodifikasi Pendidikan

Kapitalisme dan liberalisme, tak pelak lagi, telah memberlakukan dan mempraktikkan pendidikan sebagai komoditas jasa, dan karenanya mereka pun kembali menciptakan pendidikan diskriminatif dan elitis. Pengetahuan dan pengajaran tak ubahnya komoditas yang dijajakan dan institusi-institusi pendidikan telah menjadi perusahaan-perusahaan penyedia jasa bagi orang-orang kaya yang sanggup membelinya. Celakanya, mereka kerapkali ‘menyetir’ Negara untuk membuat kebijakan-kebijakan pendidikan yang sesuai dengan keinginan mereka.

Begitu pula, ada korporat atau kelompok korporat yang mendirikan institusi atau lembaga pendidikan elitis khusus untuk kalangan mereka yang seakan hendak meng-eksclusif-kan diri mereka. Pendidikan elitis, komodifikasi pendidikan, serta pendidikan diskriminatif ala kapitalisme liberal atau yang lazim disebut neoliberalisme saat ini.

Sulaiman Djaya, Penyair di Kubah Budaya

Tags: Institusi PendidikanLiberalismeLieberalisasiMenolakPendidikan
Share204Tweet127SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA
Opini

Mendidik Anak Berbasis Pertanyaan 

by liputan9news
November 16, 2025
0

BONDOWOSO | LIPUTAN9NEWS Saat saya mengajar baik disekolah maupun dikampus selalu minta pertanyaan kepada murid dan mahasiswa untuk mengukur sampai...

Read more
Ketua PBNU Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Gus Mus: Orang NU Ikut Dukung Tidak Ngerti Sejarah

Ketua PBNU Dukung Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Gus Mus: Orang NU Ikut Dukung Tidak Ngerti Sejarah

November 6, 2025
Kemendikbud Siapkan 150 Ribu Beasiswa untuk Guru yang Belum S1/D4

Kemendikbud Siapkan 150 Ribu Beasiswa untuk Guru yang Belum S1/D4

October 27, 2025
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti

Program Wajib Belajar 13 Tahun pada 2026, PIP untuk TK dan Insentif Guru Dinaikkan

October 27, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In