Ciamis, Jawa Barat, LIPUTAN 9
Setelah selesai ziarah ke Makam KH. Mahfudz Syafi’i, rombongan langsung melanjutkan perjalanan untuk ziarah dan silaturrahim ke Mbah Wali yaitu Mbah Panjalu, Ciamis Jawa Barat, pada hari Rabu, (15/03/23).
Menurut beberapa sumber, Syeikh Panjalu adalah Prabu Borosngora putra dari Prabu Cakradewa. Sedangkan menurut Gus Dur, beliau adalah prabu Hariang Kencana atau Sayid Ali Bin Muhammad bin Umar (Mbah Panjalu).
Syeikh Panjalu atau juga biasa disebut Mbah Panjalu adalah seorang Ulama penyebar agama Islam di sekitar wilayah Ciamis, Jawa Barat.
Lokasi makam Mbah Panjalu berada di pulau Nusa Gede, di tengah sebuah danau yang berada di sebuah bukit yang masuk wilayah Ciamis Jawa Barat. Danau yang mengelilingi pulau kecil yang disebut Nusa Gede atau Larangan ini dikenal dengan sebutan Situ Lengkong Panjalu.

Letak makam Mbah Panjalu sendiri berada di kawasan hutan lebat seluas 57 hektare di tengah pulau kecil ini. Pulau Nusa Gede atau Larangan ini dikelilingi air yang berwarna kehijauan. Konon air di Situ Lengkong ini berasal dari mata air zam-zam di Mekkah.
Menurut sejarahnya, Situ Lengkong ini dibuat oleh leluhur Panjalu. Dahulu kala di Panjalu telah berdiri kerajaan Hindu yakni kerajaan Panjalu. Pada saat itu kerajaan ini diperintah oleh Prabu Cakradewa. Sang raja memiliki seorang putra yang bernama Borosngora. Raja menginginkan agar putranya pergi berkelana mencari ilmu sejati. Putra raja itu pun mematuhi perintah ayahnya.
Ia berkelana jauh mencari ilmu sejati sampai akhirnya ia sampai di tanah Mekkah. Di sana ia kemudian masuk Islam dan berguru kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karamallahu Wajhah. Setelah cukup lama, maka pulanglah sang putera mahkota ke tanah Panjalu dengan dibekali Air Zam-zam. Sang putra mahkota akhirnya menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahandanya dengan gelar Sang Hyang Borosngora.
Konon, air Zam-zam yang dibawa dari Mekkah ditumpahkan ke sebuah lembah yang bernama lembah Pasir Jambu. Seiring dengan bertambah banyaknya air di lembah itu, maka terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong Panjalu.
Untuk menuju lokasi makam Mbah Panjalu, dari dermaga, para peziarah harus menyeberangi danau dengan menggunakan perahu motor. Biasanya pada saat-saat ramai musim berziarah, pengunjung mesti antri untuk mendapat giliran naik perahu.
Rombongan napak tilas bulan Sya’ban 2023 sampai di Makam Mbah Panjalu, pada musim ramai ziarah, kami beserta rombongan sampai pada pagi sekitar jam 05.15 peziarah sudah cukup padat. Rombongan langsung sewa perahu untuk menyebrangi danau atau Situ Lengkong Panjalu lokasi Makam Mbah Panjalu. Karena saat ini musim dengan curah hujan tinggi, maka air danau sangat. setelah tiba rombongan langsung Ziarah dan silaturrahim dengan Mbah Panjalu (Sayid Ali Bin Muhammad bin Umar). (ASR)
Dengan memuja dan muji keagungan Allah swt seluruh jamaah telah menjalani Napak Tilas bulan sya’ban 2023, semoga tahun tahun berikutnya jamaah di bisakan Allah untuk kembali menjalani aktivitas napak tilas.