CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Forum Bahtsul Masail para Kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta, belum lama ini membahas permasalahan yang tengah hangat di tubuh PBNU, di Pondok Pesantren Kempek Cirebon yang diikuti para kiai muda. Kegiatan tersebut digelar pada Jumat (16/01/2026).
Selain membahas soal pemberhentian Jabatan Ketua Umum Gus Yahya disebabkan zionisme dan pemberhentian semua pengurus yang terlibat atau berpotensi terlibat dalam korupsi kuota haji, forum bahtsul masail juga berhasil merumuskan landasan keagamaan percepatan muktamar PBNU.
“Para kiai menyuarakan percepatan Muktamar, tujuannya agar NU lepas dari jaringan zionisme dan keluar dari lingkaran setan korupsi yang sedang ditangani KPK dari beberapa oknum petinggi PBNU dan nama baik NU segera pulih kembali dengan cepat. Percepatan muktamar dibahas dengan menggunakan narasi argumentasi keagamaan,” ujar Kiai Muhammad Shofi bin KH Mustofa Aqil Siroj (Pengasuh Pesantren Kempek).
Menurutnya, alasan pelaksanaan Muktamar ke-35 harus dipercepat berlandaskan pada kaidah fikih:
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
“Dar` al-mafasid muqaddam ‘ala jabl al-mashalih” (Menolak kerusakan harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan).
Adapun mafsadat (kerusakan) yang sedang berlangsung yang harus segera dihindari dengan percepatan muktamar, kata Kiai Shofy, sebagai berikut:
Pertama, kepemimpinan PBNU saat ini tidak lagi efektif sejak dipecatnya Gus Yahya sebagai Ketum secara tidak terhormat oleh Rois Aam dan Syuriyah, karena terindikasi melakukan tata kelola keuangan organisasi yang tidak sesuai syariat dan Undang-Undang dan menjadi bagian dari jaringan zionisme internasional, di samping ada beberapa pengurus PBNU yang terjerat kasus korupsi dana haji, maka perlu dilakukannya percepatan muktamar.
Kedua, pemecatan Gus Yahya melahirkan dualisme kepemimpinan antara syuriyah dan tanfidziyah, di mana masing-masing mengklaim memiliki legitimasi dan sah secara hukum (AD ART).
“Saat ini ada dua Ketum yaitu KH. Zulfa Musthofa PJ Ketum PBNU menggantikan Gus Yahya dan Gus Yahya sendiri yang masih mengkalim dirinya sebagai Ketum PBNU. Kalau ini terus dibiarkan, maka ini tidak sehat bagi keberlangsungan organisasi,” utara Kiai Shofy.
Ketiga, terjadinya perpecahan dan polarisasi atau keterbelahan sosial di tengah warga NU. Ini sangat terasa dan tampak di media sosial dan interaksi sosial yang terjadi kerenggangan yang mengarah pada ketegangan.
Keempat, kepengurusan PBNU saat ini, terutama Gus Yahya, sudah tidak layak lagi dan sudah kehilangan legitimasi; kehilangan legitimasi moral, legitimasi spiritual, legitimasi sosial, bahkan legitimasi politik.
“Di samping itu Gus Yahya secara de jure sudah dipecat secara tidak terhormat oleh Rois Aam dan Suriyah PBNU,” katanya.
Kelima, perlunya pembenahan terhadap organisasi NU secara keseluruhan; perlu evaluasi dan pembenahan kepemimpinan struktural yang ada di PBNU. Harus dibersihkan dari unsur-unsur yang tidak sesuai dengan amanat muktamar.
“Intinya, PBNU sebagai sebuah organisasi perlu direset ulang, dengan diisi oleh orang-orang yang memiliki kredibilitas, kapabilitas, integritas, moralitas, dan kapasitas keulamaan,” jelasnya.
Selain itu, percepatan muktamar PBNU, lanjut dia, adalah ikhtiar untuk segera keluar dari prahara konflik, lantaran Gus Yahya berambisi mempertahankan jabatannya dan tidak mau dipecat (hubbu al-jah). Dalam kaidah fikih dikatakan:
الْخُرُوجُ مِنْ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ
“al-khuruj min al-khilaf mustahabbun” [Keluar dari perselisihan adalah disunnahkan (dianjurkan)].
Menurut Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wa al-Nadzhair, lanjut dia, menyebutkan, pentingnya segera keluar dari keruwetan konflik atau polemik adalah agar tidak memunculkan persoalan-persoalan baru yang lain yang dapat menambah konflik dan polemik berkepanjangan. Atau konflik yang berkepanjangan akan menimbulkan konflik-konflik baru bermunculan yang harus dihindari.
Karena itu, dalam forum bahtsul masail di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, para kiai mendukung kepada Rois Aam sebagai pimpinan tertinggi PBNU beserta jajaran Suriyah untuk sesegera mungkin untuk menggelar muktamar PBNU dan Gus Yahya yang sudah dinyatakan dipecat dengan dua alasan yaitu afiliasi zionisme dan tata kelola keuangan yang tidak syar’i tidak boleh lagi mencalonkan dirinya atau dicalonkan oleh pihak lain.
“Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU. Yaitu sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan dan pengetahuan yang luas, baik pengetahuan agama (faqih) maupun pengetahuan umum, termasuk pengetahuan berorganisasi; otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan; zuhud (asketis) alias tidak hubbu ad-dunnya (cinta dunia) dan hubbu al-jah (ambisi jabatan) sebagai ciri ulama su (ulama buruk),” ungkapnya.
Maksudnya, lanjut Kiai Shofy, sebagaimana dikatakan al-Ghazali, tidak menggunakan ilmu, jabatan dan organisasi untuk memperkaya diri; Pemimpin harus bisa menempatkan dirinya sebagai khadim (pelayan) organisasi; karismatik; memiliki basis dan pijakan lokal dan nasional.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” (Q.S. Fathir: 28).
“Ayat ini dengan sangat jelas bahwa hanya ulama yang punya rasa takut (khasyah) kepada Allah. Rasa takut ini muncul sebagai konsekuensi dari keimanan, keilmuan, spiritualitas dan akhlak yang tertanam kuat di hatinya,” terang Kiai Shofy.
Ia juga menyebutkan Ibarat dari hasil bahtsul masail tersebut, yakni:
- Hadits Nabi
حدَّثنا إِسْمَاعِيلُ: حدَّثني مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قالَ: «دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالاتِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَاتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ».مَنْ وُلِيَ مِنْ أَمْرِ النَّاسِ شَيْئًا فَاحْتَجَبَ عَنْ أُوْ لِى الضَّعْفِ وَالْحَاجَةِ، إِحْتَجَبَ اللهُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
.وَشِرَارُ اَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيَبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ
خِيَارُ اَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْ نَكُمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ.
يقول الله سبحانه وتعالى: ﴿وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُ ونَهُ مِنْهُمْ﴾ ]النساء: 83 [، وولَة الأمر: هم العلماء والحُكَّام . فأما العلماء: فهم المرجع في إدراك الأحكام الشرعية وإنزالها على الأفعال والأقوال . وأما الحُكَّام: فهم المنوطون بالإلزام في تطبيق الأحكام؛ تحقيقًا لمصالح الأنام، والمخولون بالسياسة الشرعية؛ لإصلاح الرعية. قال القاضي أبو بكر بن العربي في “أحكام القرآن” ) 1 / 472 ، ط. دار إحياء التراث العربي(: ]والصحيح عندي: أنهم الأمراء والعلماء جميعًا؛ أما الأمراء: فلأن أصل الأمر منهم، والحكم إليهم. وأما العلماء: فلأن سؤالهم واجب متعين على الخلق، وجوابهم لَزم، وامتثال فتواهم واجب[ اه. وممَّا ذُكِر يُعلَم الجواب عن السؤال .والملوك سلاطين بسبب ما معهم من القدرة والمُكْنَة، إلَ أن سلطنة العلماء أكمل وأقوى من سلطنة الملوك، لأن سلطنة العلماء لَ تقبل النسخ )= الإزالة( والعزل وسلطنة الملوك تقبلهما، ولأن سلطنة الملوك تابعة لسلطنة العلماء، وسلطنة العلماء من جنس سلطنة الأنبياء، وسلطنة الملوك من جنس سلطنة الفراعنة”
2. (Fakhruddin al-Razi, Tafsir Mafatih al-Ghayb, Juz III, hal. 230)
من المهمات العظيمة معرفة العلامات الفارقة بين علماء الدنيا وعلماء الآخرة ونعني بعلماء الدنيا علماء السوء الذين قصدهم من العلم التنعم بالدنيا والتوصل إلى الجاه والمنزلة عند أهلها قال صلى الله عليه وسلم : إن أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه وعنه صلى الله عليه وسلم أنه قال : لا يكون المرء عالما حتى يكون بعلمه عاملا وقال صلى الله عليه وسلم العلم علمان علم على اللسان فذلك حجة الله تعالى على خلقه وعلم في القلب فذلك العلم النافع وقال صلى الله عليه وسلم يكون في آخر الزمان عباد جهال وعلماء فساق وقال صلى الله عليه وسلم : لا تتعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولتماروا به السفهاء ولتصرفوا به وجوه الناس إليكم فمن فعل ذلك فهو في النار وقال صلى الله عليه وسلم : من كتم علما عنده ألجمه الله بلجام من نار وقال صلى الله عليه وسلم : لأنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال فقيل : وما ذلك ؟ فقال : من الأئمة المضلين وقال صلى الله عليه وسلم : من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا
3. Imam Jalaluddin al-Suyuthi, kitab al-Asybah wa al-Nadzhair, hal. 94
الْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةَ عَشْرَةَ الْخُرُوجُ مِنْ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ فُرُوعُهَا كَثِيرَةٌ جِدًّا لَا تَكَادُ تُحْصَى:فَمِنْهَا: اسْتِحْبَابُ الدَّلْكِ فِي الطَّهَارَة, وَاسْتِيعَابُ الرَّأْس بِالْمَسْحِ, وَغَسْلُ الْمَنِيِّ بِالْمَاءِ, وَالتَّرْتِيبُ فِي قَضَاءِ الصَّلَوَاتِ, وَتَرْكُ صَلَاةِ الْأَدَاءِ خَلْفَ الْقَضَاءِ, وَعَكْسُهُ, وَالْقَصْرُ فِي سَفَرٍ يَبْلُغ ثَلَاثَ مَرَاحِلَ, وَتَرَكَهُ فِيمَا دُونَ ذَلِكَ, وَلِلْمَلاحِ الَّذِي يُسَافِرُ بِأَهْلِهِ وَأَوْلَادِهِ, وَتَرْكُ الْجَمْعِ. وَكِتَابَةُ الْعَبْدِ الْقَوِيِّ الْكَسُوبِ, وَنِيَّةُ الْإِمَامَةِ. وَاجْتِنَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارِهَا مَعَ السَّاتِرِ, وَقَطْعَ الْمُتَيَمِّمِ الصَّلَاةَ إذَا رَأَى الْمَاءَ ; خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ الْجَمِيعَ. وَكَرَاهَةُ الْحِيَلِ فِي بَابِ الرِّبَا. وَنِكَاحُ الْمُحَلِّل خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ حَرَّمَهُ. وَكَرَاهَةُ صَلَاةِ الْمُنْفَرِد خَلْفَ الصَّفِّ, خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَبْطَلَهَا. وَكَذَا كَرَاهَةُ مُفَارَقَةِ الْإِمَامِ بِلَا عُذْرٍ, وَالِاقْتِدَاءُ فِي خِلَالِ الصَّلَاةِ ; خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ لَمْ يُجِزْ ذَلِكَ . تَنْبِيهٌ: لِمُرَاعَاةِ الْخِلَافِ شُرُوطٌ: أَحَدُهَا: أَنْ لَا يُوقِعَ مُرَاعَاتُهُ فِي خِلَافٍ آخَرَ, وَمِنْ ثَمَّ كَانَ فَصْلُ الْوِتْرِ أَفْضَلَ مِنْ وَصْلِهِ, وَلَمْ يُرَاعِ خِلَافَ أَبِي حَنِيفَةَ لِأَنَّ مِنْ الْعُلَمَاءِ مَنْ لَا يُجِيزُ الْوَصْلَ.الثَّانِي: أَنْ لَا يُخَالِفَ سُنَّةً ثَابِتَةً ; وَمِنْ ثَمَّ سُنَّ رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ, وَلَمْ يُبَالِ بِرَأْيِ مَنْ قَالَ بِإِبْطَالِهِ الصَّلَاةَ مِنْ الْحَنَفِيَّةِ ; لِأَنَّهُ ثَابِتٌ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم مِنْ رِوَايَةِ نَحْوِ خَمْسِينَ صَحَابِيًّا. الثَّالِثُ: أَنْ يَقْوَى مُدْرِكُهُ ; بِحَيْثُ لَا يُعَدُّ هَفْوَةً. وَمِنْ ثَمَّ كَانَ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ أَفْضَلَ لِمَنْ قَوِيَ عَلَيْهِ ; وَلَمْ يُبَالِ بِقَوْلِ دَاوُد: إنَّهُ لَا يَصِحُّ. وَقَدْ قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ: إنَّ الْمُحَقِّقِينَ لَا يُقِيمُونَ لِخِلَافِ أَهْلِ الظَّاهِرِ وَزْنً
Forum Bahtsul Masail dihadiri antara lain; KH. Muhammad Shofy, KH. Ahmad Ashif Shofiyullah, KH. Nanang Umar Faruq, KH. Ghufron, KH Abdul Muiz Syaerozi, KH Jamaluddin Muhammad, KH. Ahmad Baiquni, KH. Mukti Ali, KH. Muchlis, KH. Asnawi Ridwan, KH. Roland Gunawan, Ustadz Ahmad Subhan, Ustadz Muhammad Sirojuddin, KH. Khozinatul Asror, dan puluhan kiai muda lainnya.

























