Jakarta, LIPUTAN 9 NEWS
Di tengah-tengah menyuntuki kitab Tahafut at-Tahafut karya Ibnu Rusyd, juga kitab Tahafut al-Falasifah karya Abu Hamid al-Ghazali, Allah swt tiba-tiba menakdirkan kedatangan seorang tamu, yang membawa kitab Hidayatul Qur’an fi Tafsiril Qur’ani bil Qur’an, karya Dr. KH. M Afifudin Dimyathi, sebagai barang titipan teruntuk guru Dr. KH. Aguk Irawan Mn. Mau tidak mau harus istirahat dari Tahafut at-Tahafut untuk sementara waktu. Sungguh Allah Mahatahu mengistirahatkan hamba-Nya yang lelah dan menghiburnya dengan yang indah pula; silaturahmi buku.
Silaturahmi buku saya rasakan betul selama di Jogja, yang bagi saya masih terasa seperti dulu; antara menulis, membaca, dan membicarakan buku bacaan besama teman-teman. Dua tiga hari yang lalu, sebelum tulisan ini dibuat, saya bertemu para guru dan teman-teman, seperti Kiai Aguk Irawan MN sekeluarga, Nur Kholik Ridwan sekeluarga, Muda’i sekeluarga, juga santri-santri Baitul Kilmah.
Semua orang tampak sangat antusias; setelah buka puasa bersama, membahas pemikiran Imam Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111), seorang filsuf Persia yang kelak menjadi ikon sufisme Islam. Perbincangan terus bergeser dari al-Ghazali ke Ibnu Rusyd (1126-1198), filsuf Andalusia yang hidup pasca al-Ghazali. Peran Ibnu Rusyd juga ikonik, karena hadir sebagai anti-tesa al-Ghazali.
Cukup terkesima menyimak percakapan yang penuh antusiasme mencari kebenaran. Dalam percakapan itu, topik utamanya adalah relasi Tuhan dan ciptaan; sebuah pertanyaan tentang keazalian semesta, yang membuat al-Ghazali berseberangan dengan para filsuf seperti al-Farabi, Ibnu Sina, dan kelak Ibnu Rusyd.
Juga sempat nimbrung dan urun rembug gagasan, bahwa sebelum percakapan tentang relasi Tuhan dan ciptaan maupun topik keazalian semesta sebagai konsekuensi dari keberadaan Tuhan, satu pertanyaan dasar yang harus diajukan; mungkinkah manusia membicarakan Tuhan?
Sebab, saat itu, teringat dengan Tafsir al-Qur’an karangan Syeikh Abdul Qadir Jailani (1078-1166), seorang sufi besar kelahiran Iran yang hidup sezaman dengan al-Ghazali maupun Ibnu Rusyd. Tafsir al-Qur’an al-Jailani ini memang menjadi mata pelajaran santri-santri Baitul Kilmah, tempat saya belajar dan mengabdikan ilmu.
Salah satu pelajaran penting yang bisa digali dari Tafsir al-Jailani ini adalah mukadimah surat al-Fatihan dan ketika menjelaskan makna Allah, ar-Rahman, dan ar-Rahim dalam Surat al-Fatihah. Alam semesta adalah jejak-jejak sifat-sifat Allah, yang berasal dari nama-nama Dzat Ilahiah. Pada setiap wujud di alam semesta ada nama dan sifat Allah. Ketika Allah berkehenak membimbing hamba-Nya kepada sifat dan nama Allah, para hamba akan melakukannya dengan cara mendekat melalui cinta dan rindu. Cinta dan rindu iniah yang melahirkan pluralitas dan keragaman ciptaan (pp. 1/53).
Berikutnya, dalam menjelaskan ayat 1 al-Fatihah, Syeikh Abdul Qadir menjelaskan bahwa nama Allah adalah sebuah nama yang tidak mungkin menggambarkannya, karena mengandung seluruh sifat dan nama Allah. Beda halnya dengannama ar-Rahman, sudah bisa digambarkan dan dinarasikan, sebagai tajalli dalam realitas material-empirik semesta alam ini. Dan ar-Rahim adalah realitas unifikasi atau penyatuan kembali setelah penciptaan semesta yang beragam (pp. 1/61-62).
Pandangan Syeikh Abdul Qadir Jailini menjadi modal saya dalam percakapan tentang perbedaan sudut pandang Imam al-Ghazali dan Ibnu Rusyd terkait hakikat Allah, Allah dalam hubungan-Nya dengan ciptaan, dan sifat ciptaan itu sendiri sebagai sesuatu yang baharu (huduts) menurut al-Ghazali ataukah sebagai yang purba (qidam) menurut para filsuf yang dibela oleh Ibnu Rusyd.
Kehadiran Tafsir Hidayatul Qur’an yang Tiba-tiba
Saya pernah mendengar sebelumnya, kitab tafsir Hidayatul Qur’an karya Kiai Afifuddin Dimyathi ini sudah terbit akhir tahun 2023. Di beberapa media juga banyak kajian dan analisa tentang karangan Gus Awis ini. Pertama sekali, saya merasa bahagia dan sangat bersyukur pada Allah, di tengah-tengah belajar Tafsir al-Jailani hadir kitab tafsir lain. Saya sebut lain, karena kitab tafsir al-Jailani bisa disebut kategori tafsir isyari, sementara kategori kitab tafsir Hidayatul Qur’an ini tercermin dari judulnya, tafsiril Qur’an bil Qur’an (penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an).
Setelah menerima titipan kitab tafsir Hidayatul Qur’an yang berjumlah 4 jilid tersebut, spontan saya mengambil jilid 1 dan membuka tafsir surat al-Fatihah. Dalam benak tersirat, apa kira-kira informasi penting yang akan saya dapatkan dan berguna untuk memecahkan perdebatan antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Tentu saja sejak semula saya tidak berharap mendapatkan analisa kritis filosofis seperti al-Ghazali dan Ibnu Rusyd maupun mistis-esoteris seperti Syeikh Abdul Qadir.
Pada pandangan pertama sungguh saya dibuat terpukai, karena tafsir atas ayat 1 surat al-Fatihah, antara lain, adalah ayat 3 surat al-Hadid, ayat 54 surat al-An’am, dan ayat 110 surat al-Isra’. Dari ayat 3 al-Hadid, saya disadarkan, pembicaraan tentang Allah harus melibatkan Itsbat (Afirmasi) sekaligus Nafi (Negasi). Dialah Tuhan yang awal sekaligus akhir, yang eksoterik sekaligus yang esoterik. Pengetahuan Allah meliputi segala hal.
Dari ayat 54 al-An’am, Tuhan digambarkan sebagai pemilik kasih sayang (rahmat), sehingga manusia yang melakukan keselahan dan keburukan karena ketidaktahuan namun pada akhirnya bertaubat, maka Tuhan pasti mengampuninya. Untuk mencari pengampunan dari Tuhan, manusia dapat memohon kepada Tuhan sebagai Allah atau kepada Tuhan sebagai Ar-Rahman, sebagaimana keterangan ayat 110 al-Isra’ (pp. 1/23).
Karena metode penafsiran yang digunakan dalam Hidayatul Qur’an adalah Tafsir al-Qur’an bil Qur’an, sudah barang tentu Kiai Afifuddin Dimyathi tidak menyertakan analisa yang panjang. Ayat pertama surat al-Fatihah cukup ditafsirkan dengan menghadirkan ayat-ayat lain yang memiliki kesamaan topik secara deskriptif, tanpa analisa kritis apapun. Sehingga informasi yang tersaji bersifat terbuka, atau yang dalam istilah akademik dikenal sebagai Open Source Researchs.
Karena sifat informasinya yang terbuka, pembaca juga lebih leluasa untuk menggali inspirasi. Dalam konteks perdebatan antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, saya menemukan jawabannya dari karangan Gus Awis, bahwa apapun pendapat manusia, termasuk al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, bukan saja tidak holistik sebagaimana sudut pandang Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, tetapi juga berpotensi keduanya saling melengkapi. Sebab, jika ada dua pendapat (tesa versus anti-tesa) yang sama-sama tidak sempurna, maka kombinasi dari kedua (sintesa) jauh lebih lebih sempurna.
Ketidaksempurnaan manusia adalah sesuatu yang pasti, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Namun, ketidaksempurnaan yang dilakukan secara tidak sengaja, berpotensi diampuni oleh Tuhan, sebagaimana ayat 54 al-An’am. Jika pun upaya sintesa antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd tidak bisa dilakukan, sehingga kedua tetap dalam posisi semula sebagai tesa dan anti-tesa, maka kitab tafsir Hidayatul Qur’an karya Gus Awis ini memberikan solusinya. Hal itu bisa dilihat ketika menafsirkan ayat 4 surat al-Fatihah dengan ayat 17-19 surat al-Infithar, ayat 56 surat al-Hajj, dan ayat 25 surat an-Nur (pp. 1/25).
Dari ayat-ayat yang dikutip oleh Gus Awis tersebut, penulis kembali disadarkan, apabila ada dua hal yang bertentangan (tesa versus anti-tesa) yang sudah disatukan (sintesa), maka biarkan keduanya tetap begitu. Kelak di kehidupan akhirat, manusia tidak akan memiliki apapun, termasuk dirinya sendiri, lebih-lebih pendapatnya. Segala sesuatu akan kembali menjadi milik Tuhan.
Tuhan tidak akan tinggal diam, tetapi akan mengambil tindakan penghakiman, dengan memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Tuhan akan menjelaskan mana keyakinan yang benar, dan memberikan ganjaran atau reward terhadap amal perbuatan yang baik. Dengan kata lain, dunia ini memang diciptakan oleh Tuhan untuk menyaksikan keragaman maupun perbedaan. Kelak di kehidupan akhirat, Tuhan akan mengambil keputusan akhir mana yang benar dan mana yang salah.
Keunggulan Tafsir Hidayatul Qur’an
Bagi saya, keunggulan Tafsir al-Qur’an yang menggunakan ayat-ayat al-Qur’an terletak pada fungsi informasi yang disajikan. Perlu dicatat juga, selain metode tafsir Isyari (sufistik) dan Ma’qul (argumentatif), ada tafsir bil Ma’tsur (periwayatan). Bukan hanya itu, kitab Hidayatul Qur’an ini—sependek yang penulis— bisa disebut satu-satunya karya tafsir ulama Indonesia yang mengambil metode bil Ma’tsur. Sependek yang saya tahu, karya tafsir ulama Indonesia dominan menggunakan metode bil Ma’tsur dan beberapa bil Isyari.
Dalam pandangan saya sebagai penulis, hirarki kesulitan penulisan kreatif dalam disiplin ilmu tafsir al-Qur’an bertingkat-tingkat. Proses kreatif yang paling mudah berdasarkan pengalaman penulis dan santri-santri di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah adalah penulisan tafsir al-Qur’an bil Ma’qul. Karenanya, saya dan para santri Baitul Kilmah sering kali menerbitkan buku-buku ensiklopedik al-Qur’an (dan hadits), yang dilengkapi dengan banyak ilmu bantu, baik sains eksak maupun humaniora. Kitab tafsir klasik dengan genre ini antara lain Tafsir Zamaksyari karangan Abul Qasim Mahmud Umar Zamakhsyari (w. 1143).
Proses kreatif yang setingkat lebih sulit adalah kepenulisan tafsir al-Qur’an bil Ma’tsur, sebagaimana kitab Hidayatul Qur’an karya Gus Awis ini. Memang tidak banyak disiplin ilmu bantu yang diperlukan, tetapi pemahaman yang komprehensif terhadap keseluruhan ayat al-Qur’an sangat diperlukan. Dari pemahaman tersebut, proses kepenulisan mampu menangkap hubungan substansial antar ayat dalam satu surat, antar ayat dalam berbagai surat, ataupun hubungan substansial antar surat itu sendiri. Kitab tafsir klasik dengan genre ini antara lain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karangan Imam Ibnu Katsir (w. 1347).
Proses kreatif yang sangat sulit adalah kepenulisan tafsir al-Qur’an Isyari. Sebab, sumber rujukan utamanya bukan disiplin ilmu rasional maupun pemahaman diri sendiri, melainkan semacam limpahan inspirasi/ilham dari Tuhan yang suci. Kitab tafsir klasik dengan genre ini antara lain Tafsir al-Jailani karangan Syeikh Abdul Qadir Jailani, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karangan Syikh Muhyiddin Ibnu Arabi (w. 1240), dan lainnya.
Terlepas dari semua itu, saya sangat mengapresiasi para intelektual pondok pesantren melahirkan banyak karya secara produktif, lebih-lebih bisa diterima oleh publik nasional maupun internasional, misalnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar luar. Dengan begitu, ciri khas pondok pesantren sebagai mujtahid literasi tidak sebatas sebagai pendaras yang pasif melainkan sebagai aktor yang aktif, sebagaimana telah dicontohkan oleh para ulama Nusantara. Mereka produktif melahirkan karya, termasuk karya tafsir, dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit Timur Tengah.[]
Imam Nawawi, Penerjemah buku Islam Klasik, Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga dan Santri Baitul Kilmah.




















