• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Foto: Ilustrasi Soeharto

Menolak Soeharto Bukan Karena Benci, Tapi Memuliakan Makna Pahlawan

November 7, 2025
KH. Muzaki Kholish Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta

KH. Muzaki Kholish Sebut Pernyataan Kiai Said Cerminkan Kedewasaan dan Adab Kepemimpinan NU

May 18, 2026
KH Said Aqil siroj

KH Said Aqil Siroj Konfirmasi Tidak akan Maju pada Perhelatan Muktamar NU ke-35

May 18, 2026
Konferensi pers Sidang Isbat penetapan awal Zulhijjah 1447 H yang digelar di Kantor Kemenag Jl. MH. Thamrin Jakarta, Ahad (17/05/2026).

Gelar Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Adha 27 Mei 2026

May 18, 2026
Muhammad Ikhsanurrizqi, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara.

Ketua BEM PTNU Sentil Pernyataan Presiden soal Rupiah: Rakyat Kecil Tetap Jadi Korban

May 18, 2026
Kongkalikong Tender Gedung BTN Sulampua? Logis 08 Desak BTN dan Danantara Buka-bukaan

Logis 08 Soroti Danantara, Proyek Perkampungan Haji di Mekkah Belum Tunjukkan Progres Nyata

May 16, 2026
Fatayat NU dan Ratusan Jamaah Semarakkan Cahaya Hati Indonesia di Masjid Al-Hijrah Bekasi Utara

Fatayat NU dan Ratusan Jamaah Semarakkan Cahaya Hati Indonesia di Masjid Al-Hijrah Bekasi Utara

May 16, 2026
DPD PPNI Kabupaten Bekasi Sukses Jadi Tuan Rumah International Nurses Day 2026 Tingkat Jabar

DPD PPNI Kabupaten Bekasi Sukses Jadi Tuan Rumah International Nurses Day 2026 Tingkat Jabar

May 16, 2026
KH. Cholil Nafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah

Jamaah Haji 2026 Diizinkan Kemenhaj Bayar Dam di Tanah Air, Inilah Respon Kiai Cholil Nafis

May 16, 2026
SDIT Atssurayya Luncurkan Kelas Talenta dan Tahfidz untuk Jawab Tantangan Pendidikan Modern

SDIT Atssurayya Luncurkan Kelas Talenta dan Tahfidz untuk Jawab Tantangan Pendidikan Modern

May 16, 2026
Gus Rosikh : KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat

Gus Rosikh: KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat

May 15, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Menolak Soeharto Bukan Karena Benci, Tapi Memuliakan Makna Pahlawan

Oleh: Virdika Rizky Utama

liputan9news by liputan9news
November 7, 2025
in Opini
A A
0
Foto: Ilustrasi Soeharto

Ilustrasi Soeharto (Foto: AI/MSN)

512
SHARES
1.5k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Bangsa yang takut mengingat sedang menyiapkan diri untuk kehilangan jati dirinya. Setiap upaya melupakan masa lalu atas nama persatuan hanyalah bentuk baru dari penundaan moral. Ketika negara hari ini berencana memberi gelar pahlawan nasional kepada Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto, pertanyaan yang muncul bukan semata apakah ia berjasa bagi pembangunan, melainkan apakah bangsa ini masih mengenali batas antara keberhasilan administratif dan kebajikan moral. Gelar pahlawan adalah pengakuan tertinggi yang hanya layak diberikan kepada mereka yang hidup dengan keberanian etis, bukan kepada mereka yang menukar kebenaran dengan ketertiban.

Sejarah politik modern mengajarkan bahwa kejahatan tidak selalu tampil dalam bentuk kebengisan. Ia sering hadir dalam wajah yang rapi, melalui bahasa administrasi dan keputusan resmi yang tampak wajar. Kekuasaan semacam itu menciptakan keadaan di mana keburukan menjadi bagian dari tata laku sehari-hari, diterima tanpa rasa bersalah, dan dijalankan seolah sebuah kewajiban. Pada saat yang sama, kekuasaan juga membentuk ingatan kolektif yang menyeleksi apa yang boleh diingat dan apa yang harus dilupakan. Melalui monumen, upacara, dan gelar kehormatan, negara menulis ulang masa lalunya agar tampak bersih dari dosa. Dua mekanisme ini, normalisasi keburukan dan rekayasa ingatan, bekerja saling menopang. Dan keduanya kini terlihat jelas dalam kasus Soeharto.

Keputusan pemerintah untuk tetap memproses gelar Soeharto dengan alasan telah memenuhi syarat formal memperlihatkan bagaimana moralitas publik telah dibirokratisasi. Penilaian etis digantikan oleh mekanisme administratif, dan nurani digeser oleh prosedur. Seolah-olah kebenaran bisa diringkas menjadi daftar yang perlu disetujui. Dengan logika semacam itu, pelanggaran hak asasi yang terjadi di masa lalu dianggap tidak relevan karena tidak tercantum dalam formulir. Di sinilah bahaya moral yang paling dalam bersembunyi. Sebuah bangsa tidak kehilangan arah karena tidak memiliki hukum, melainkan karena berhenti berpikir tentang makna dari hukum itu sendiri.

Yang lebih berbahaya adalah bahwa proses administratif ini berjalan beriringan dengan rekayasa simbolik. Negara tidak hanya berusaha memutihkan kekuasaan lama, tetapi juga menata ulang cara publik mengingat masa itu. Gelar pahlawan tidak sekadar penghargaan, melainkan perangkat politik untuk mengatur memori publik. Melalui tindakan simbolik semacam ini, negara menulis ulang sejarah agar yang dulu menindas dapat diingat sebagai penyelamat. Ia menciptakan versi masa lalu yang bisa diterima tanpa rasa bersalah, di mana represi disebut ketegasan, kontrol disebut stabilitas, dan kesunyian disebut kedamaian. Jika narasi seperti ini diterima, maka generasi mendatang akan mewarisi memori yang telah disterilkan dari konflik moralnya.

BeritaTerkait:

Gerindra, Golkar dan Pengkhianatan Kebangsaan

Wawan H Purwanto Dukung Soeharto: Sebuah Refleksi Kepemimpinan Orde Baru

Bung Ray Rangkuti Tolak Soeharto Dijadikan Pahlawan Nasional

Soeharto Bukan Pahlawan

Tidak mengherankan bila upaya ini beriringan dengan pengusulan nama-nama korban kekerasan politik sebagai pahlawan dalam daftar yang sama. Tindakan semacam ini menciptakan ilusi keseimbangan moral. Seolah-olah dengan menempatkan pelaku dan korban berdampingan, bangsa ini telah berdamai dengan dirinya sendiri. Padahal yang terjadi justru pembauran etika yang menghapus garis pembeda antara keadilan dan kekuasaan. Ketika korban dan pelaku ditempatkan dalam ruang simbolik yang sama, maka yang diperingati bukan keberanian untuk melawan, melainkan kemampuan untuk melupakan.

Bangsa yang sehat tidak membutuhkan rekonsiliasi semu seperti ini. Ia membutuhkan keadilan yang lahir dari keberanian mengakui kebenaran. Pengakuan tidak akan mengancam negara, justru menguatkannya. Sebaliknya, melupakan akan membuat negara kehilangan legitimasi moral di mata rakyatnya sendiri. Kita telah melihat bagaimana janji penyelesaian pelanggaran HAM berat terus gagal diwujudkan, bagaimana penyintas terus hidup tanpa kepastian, dan bagaimana luka lama dibiarkan mengering tanpa pengakuan. Dalam konteks seperti ini, pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto bukan sekadar langkah politis, melainkan bentuk baru pengingkaran terhadap korban. Ia menutup pintu kebenaran dengan cara yang lebih sopan.

Masalah yang paling dalam terletak pada cara kita menilai keberhasilan. Bangsa ini telah lama terjebak dalam logika pembangunan yang menilai segala sesuatu dari hasil, bukan dari nilai. Selama jalan dibangun dan ekonomi tumbuh, maka moralitas dianggap urusan sekunder. Padahal pembangunan yang mematikan ruang kritik hanyalah proyek keheningan yang berumur panjang. Kita boleh memuji hasil-hasil Orde Baru, tetapi tidak ada keberhasilan yang cukup besar untuk menebus penderitaan manusia. Menghormati jasa tanpa menilai akibat adalah bentuk lain dari pengkhianatan terhadap kebenaran.

Kita sering mendengar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Namun yang lebih benar, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menentukan siapa yang layak disebut pahlawan. Pahlawan bukanlah orang yang berkuasa paling lama, tetapi orang yang paling berani membela nilai kemanusiaan ketika kekuasaan berubah menjadi penindasan. Pahlawan sejati tidak menciptakan ketakutan, ia memerdekakan pikiran. Gelar pahlawan tidak boleh menjadi alat untuk menenangkan sejarah, melainkan panggilan untuk memperbaiki masa depan. Jika negara ingin memberi penghormatan sejati, maka seharusnya ia menghormati keberanian moral, bukan keberhasilan teknokratis.

Krisis yang kita hadapi hari ini bukan sekadar krisis sejarah, melainkan krisis berpikir. Kita telah menjadi bangsa yang pandai menghafal peristiwa tetapi malas memahami maknanya. Kita memperingati tanpa refleksi dan menghormati tanpa memahami. Bangsa yang kehilangan kemampuan berpikir moral akan mudah dikendalikan oleh kekuasaan yang menawarkan ketenangan. Ia akan menukar kebebasan dengan rasa aman, dan kebenaran dengan ketertiban. Ketika keadaan seperti ini dibiarkan, maka sejarah akan berhenti menjadi guru dan berubah menjadi pembenar.

Untuk keluar dari lingkaran ini, kita perlu mengembalikan makna ingatan sebagai ruang moral. Mengingat bukanlah kegiatan nostalgia, melainkan tindakan etis untuk menjaga agar kebenaran tidak hilang. Ingatan yang jujur menuntut keberanian untuk menatap luka tanpa menutupinya dengan seremoni. Ingatan seperti ini tidak akan melumpuhkan bangsa, justru akan menguatkannya. Sebab bangsa yang sanggup menatap masa lalunya dengan jujur adalah bangsa yang siap menghadapi masa depannya dengan kepala tegak.

Menolak pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto bukan tindakan kebencian, melainkan bentuk penghormatan terhadap makna kepahlawanan itu sendiri. Ia adalah pernyataan bahwa bangsa ini belum kehilangan kemampuan untuk menilai, belum menyerah pada logika politik yang menukar kebenaran dengan stabilitas. Gelar pahlawan tidak boleh menjadi alat cuci moral negara, karena kehormatan sejati hanya lahir dari keberanian menghadapi kegelapan masa lalu. Jika bangsa ini ingin memperingati Hari Pahlawan dengan bermartabat, maka langkah pertama adalah menjaga agar kata pahlawan tidak kehilangan maknanya.

Pahlawan sejati tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari keberanian untuk melawannya ketika kekuasaan melanggar batas kemanusiaan. Mereka tidak memerlukan patung atau gelar untuk diingat, karena kebenaran sudah menjadi monumen mereka yang abadi. Tugas negara bukan memuliakan penguasa, melainkan menjaga agar rakyat tidak kehilangan keyakinan terhadap keadilan. Keadilan bukan hasil dari seremoni, melainkan dari keberanian untuk berkata tidak kepada kebohongan. Jika negara gagal menjalankan keberanian itu, maka rakyat yang harus mengambilnya alih dengan cara mengingat.

Dan di situlah letak kemerdekaan yang sejati. Bukan pada kemampuan untuk melupakan, melainkan pada keberanian untuk mengingat tanpa takut. Selama bangsa ini masih bisa mengingat dengan jujur, maka kebenaran tidak akan pernah sepenuhnya kalah.

Virdika Rizky Utama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate

Artikel yang berjudul “Menolak Soeharto Bukan Karena Benci, Tapi Memuliakan Makna Pahlawan” ini, yang ditulis  Virdika Rizky Utama sebelumnya telah tayang di NU Online pada Rabu, 5 November 2025.

Tags: Menolak SoehartoPahlawan NasionalSoeharto
Share205Tweet128SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Sulaiman-Djaya
Opini

Gerindra, Golkar dan Pengkhianatan Kebangsaan

by Sulaiman Djaya
November 12, 2025
0

BANTEN | LIPUTAN9NEWS Apa jadinya jika partai politik yang mestinya memberikan keteladanan visioner dan pendidikan politik, justru menjadi para pengkhianat...

Read more
Soeharto

Wawan H Purwanto Dukung Soeharto: Sebuah Refleksi Kepemimpinan Orde Baru

November 10, 2025
Ray Rangkuti

Bung Ray Rangkuti Tolak Soeharto Dijadikan Pahlawan Nasional

November 10, 2025
Ilustrasi Soeharto bukan Pahlawan

Soeharto Bukan Pahlawan

November 10, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2561
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
KH. Muzaki Kholish Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta

KH. Muzaki Kholish Sebut Pernyataan Kiai Said Cerminkan Kedewasaan dan Adab Kepemimpinan NU

May 18, 2026
KH Said Aqil siroj

KH Said Aqil Siroj Konfirmasi Tidak akan Maju pada Perhelatan Muktamar NU ke-35

May 18, 2026
Konferensi pers Sidang Isbat penetapan awal Zulhijjah 1447 H yang digelar di Kantor Kemenag Jl. MH. Thamrin Jakarta, Ahad (17/05/2026).

Gelar Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Adha 27 Mei 2026

May 18, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In