• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya, Pekerja Budaya

Setelah Bung Karno Dikudeta Amerika

November 16, 2025
Gus Din

Reformasi Agama Sebagai Pemikiran Politik

May 1, 2026
Ketua Koperasi Cahaya Alam Semesta (CAS) Laporkan Dirut PT. TTP Diduga Menipu dan Gelapkan Dana 6,5 Miliar

Ketua Koperasi Cahaya Alam Semesta (CAS) Laporkan Dirut PT. TTP Diduga Menipu dan Gelapkan Dana 6,5 Miliar

May 1, 2026
Semangat Kartini 2026: KOWANI Galang Kekuatan Organisasi Perempuan Nasional untuk Kawal "Kebaya Goes to UNESCO"

Semangat Kartini 2026: KOWANI Galang Kekuatan Organisasi Perempuan Nasional untuk Kawal “Kebaya Goes to UNESCO”

May 1, 2026
KOWANI Peringati Hari Kartini, Gelar Gerakan Nasional Wanita Berkebaya dan Fun Walk 1,2 km

KOWANI Peringati Hari Kartini, Gelar Gerakan Nasional Wanita Berkebaya dan Fun Walk 1,2 km

May 1, 2026
Handri Priatna Burhanudin, akrab disapa Andri atau Achoonk’s calonan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Cikarang Kota periode 2026–2034

Sosok Muda dari Dusun II, Handri Priatna Burhanudin Siap Mengabdi sebagai Calon BPD Desa Cikarang Kota 2026–2034

April 30, 2026
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Warga NU, Kiai Kampung

Menyongsong Muktamar Nahdlatul Ulama Ke-35: Membincang Peluang, Menghitung Suara

April 30, 2026
Kiai Said Aqil Siroj Tegaskan Bangun Palang Pintu Perlintasan Kereta bukan Kewajiban KAI

Kiai Said Aqil Siroj Tegaskan Bangun Palang Pintu Perlintasan Kereta bukan Kewajiban KAI

April 29, 2026
Kiai Said Sebut Taksi Listrik Green SM Pemicu Tabrakan Maut Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line

Kiai Said Sebut Taksi Listrik Green SM Pemicu Tabrakan Maut Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line

April 29, 2026
Sosok Nurhayati, Pengurus Muslimat NU Meninggal Dunia Kecelakaan Kereta di Bekasi

Sosok Nurhayati, Pengurus Muslimat NU Meninggal Dunia Kecelakaan Kereta di Bekasi

April 29, 2026
BEM PTNU Wilayah Jakarta Dukung Pansus DPRD DKI dalam Pengelolaan Sampah dan Penguatan Inovasi Energi Berbasis Masyarakat

BEM PTNU Wilayah Jakarta Dukung Pansus DPRD DKI dalam Pengelolaan Sampah dan Penguatan Inovasi Energi Berbasis Masyarakat

April 29, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Saturday, May 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Setelah Bung Karno Dikudeta Amerika

Oleh: Sulaiman Djaya

liputan9news by liputan9news
November 16, 2025
in Opini
A A
0
Sulaiman Djaya, Pekerja Budaya

Sulaiman Djaya, Pekerja Budaya

505
SHARES
1.4k
VIEWS

BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Secara garis besar, skenario Kudeta Bung Karno itu adalah: Pertama, para jenderal pendukung Bung Karno (Ahmad Yani dkk) harus dihabisi. Kedua, kekuatan politik pendukung Bung Karno (PKI, Partindo, PNI dll) harus dihancurkan. Dan ketiga, pengikut dan pendukung Bung Karno harus dipisahkan, dicerai-beraikan, seperti penangkapan para menteri Kabinet Dwikora, termasuk Soebandrio, para anggota MPRS, DPR-GR, DPA dan Front Nasional.

Untuk memungkasi skenario tersebut, dibuatlah drama dan narasi bahwa yang berusaha mengkudeta Bung Karno dan membunuh para jenderal itu adalah PKI. Dengan demikian, Soeharto dkk akan dianggap sebagai hero atau pahlawan ketika menghajar PKI. Padahal pelaku kudeta tersebut adalah militer, –di mana para elit TNI AD yang loyal kepada Soeharto yang kemudian belakangan terungkap, setelah para peneliti sejarah dan para sejarawan meneliti lalu kemudian menuliskannya, entah kemudian dipublikasi dalam bentuk buku atau pun dalam bentuk jurnal dan publikasi lainnya.

Bersamaan dengan itu, kemudian, tersibak pula tragedi pembantaian massal terhadap 3.000.000 (menurut pengakuan Sarwo Edhi sebagai komandan eksekutor lapangan) mereka yang dituduh PKI dan simpatisan PKI, yang menurut pengakuan sejumlah kyai NU yang menyaksikan peristiwa eksekusi-eksekusi terhadap mereka yang dituduh PKI dan simpatisan PKI di masa-masa itu, ternyata tidak semuanya simpatisan PKI.

Skenario untuk meng-kudeta Bung Karno itu disusun Amerika selama bertahun-tahun, sejak Bung Karno berkuasa, sembari terus menunggu perkembangan dan moment yang tepat untuk dijalankan. Amerika bisa terus belajar dari kegagalan pemberontakan terhadap Bung Karno, seperti oleh PRRI-Permesta di Sumatera. Terus menggali informasi dan memantau perkembangan politik dan konflik kekuasaan di dalam negeri Indonesia. Amerika sadar, menggulingkan Bung Karno dengan metode separatisme tidak berguna, dan terbukti tidak berhasil di lapangan.

BeritaTerkait:

Iran Anggap Tuntutan AS Tak Masuk Akal, Perundingan Damai 21 Jam Gagal

Kritik Pengutusan Wapres AS ke Perundingan, Bolton Sebut Washington Didikte Teheran

Masa Gencatan Senjata, Iran Cengkeram Selat Hormuz Ubah Peta Kekuatan Jalur Energi Dunia

Bahrain Klaim Ledakan di Permukiman Sipil Dipicu Rudal Patriot AS, Bukan Serangan Iran

Bagi Amerika, Bung Karno, Ahmad Yani, dan Soebandrio adalah tritunggal. Intelijen CIA pun rajin memberikan laporan kepada Washington. Amerika menilai Bung Karno yang kerapkali menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, tidak mengijinkan eksploitasi kekayaan sumber daya alam (SDA) Papua, dan sejumlah kebijakan lainnya yang menutup pintu kepentingan ekonomi Amerika, dinilai akan merugikan Amerika secara ekonomi, dan secara politik-ideologi akan merugikan Amerika pula karena dibawah pimpinan Bung Karno, Indonesia akan menjadi Negara sosialis terbesar di Asia Tenggara, dan karenanya akan mempengaruhi kawasan Asia Tenggara, dan akan menjadi penghalang pengaruh ideologi kapitalisme Amerika.

Sangat jelas, di masa-masa itu, untuk menghentikan pengaruh sosialisme di Asia Tenggara, bagi Amerika, adalah dengan melengserkan Bung Karno dari tampuk kekuasaan Indonesia sebagai jantungnya Asia Tenggara. Itulah satu-satunya pilihan politik luar negeri Amerika di masa itu untuk ‘menanggulangi’ dan ‘mengendalikan’ Indonesia agar bisa berada di bawah pengaruh Amerika yang kapitalis, dan bukan berada di bawah pengaruh Uni Soviet atau pun Tiongkok yang sosialis.

Dalam kadar demikian, kita harus membaca Indonesia sebagai korban geopolitik –lepas dari cengkeraman Belanda lalu jatuh ke jebakan Amerika yang tak kalah mengerikan dalam hal menguras dan merampok kekayaan Indonesia, apa yang Bung Karno menyebutnya sebagai ancaman neo-kolonialisme. Bangsa yang masih tertatih setelah lepas dari ancaman dan cengkeraman Belanda kemudian jadi mangsa predator yang lebih kuat, yaitu Amerika.

Kudeta itu berlanjut menjadi tragedi, ketika TNI AD memanfaatkan benih-benih konflik horizontal di masyarakat akar rumput demi kepentingan politis rezim dan kekuasaan yang kemudian dikenal sebagai rezim orde baru, selain TNI AD sendiri yang langsung membantai mereka yang dianggap anggota dan simpatisan PKI, semisal di Purwodadi yang dikenal sebagai salah-satu basis PKI. Pemberantasan (baca: pembantaian) mereka yang dianggap menganut ideologi (paham) sosialisme dan anggota partai komunis itu sendiri sejalan dengan misi dan visi politik luar negeri Amerika yang menganut ideologi kapitalisme, di seluruh dunia, termasuk di Asia Tenggara, yang mana Indonesia merupakan Negara terbesar di kawasan ini.

Satu-satunya presiden Indonesia yang peka dan memahami secara mendalam luka tragedi yang mengerikan ini adalah Gus Dur (K.H. Abdurrahman Wahid), budayawan-agamawan yang memang humanis dan berwawasan luas tajam dan mendalam. Sementara presiden Prabowo Subianto justru malah anti-tesis atau lawan dari visi Gus Dur tersebut. Prabowo Subianto malah terlihat jelas ingin memalsukan sejarah Indonesia itu sendiri –mengingkari luka yang mestinya disembuhkan, yang justru dilakukannya malah menambahkan luka tersebut.

Pengabaian Negara atas Tragedi 1965 menunjukkan bahwa bangsa ini sesungguhnya bangsa pengecut, dan menyingkap watak sejati Negara dan para elite-nya yang menganggap tidak ada dan tidak berharganya hidup dan nyawa rakyat, yang justru merupakan inti utama adanya Negara.

Meski demikian, kepengecutan tersebut tidak boleh diwariskan kepada generasi selanjutnya, bahkan generasi saat ini, dan karena itu satu-satunya hal yang paling rasional dan paling mewakili kesejatian kita sebagai generasi muda penentu masa depan bangsa ini adalah melawan dan menolak impunitas –menolak penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto dan Sarwo Edhi. Sebab penganugerahan tersebut sama atinya dengan membenarkan pembantaian terhadap rakyat dan warga Negara.

Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan

Tags: Amerika SerikatBung KarnoSoekarno
Share202Tweet126SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf (Foto: MAJID ASGARIPOUR/REUTERS)
Internasional

Iran Anggap Tuntutan AS Tak Masuk Akal, Perundingan Damai 21 Jam Gagal

by liputan9news
April 12, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Iran menyatakan perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, gagal karena tuntutan Washington dinilai tidak...

Read more
enasihat Keamanan Nasional Gedung Putih pada masa Pemerintahan pertama Donald Trump, John Bolton mengkritik pedas keputusan Gedung Putih untuk mengirim Wapres AS, J.D. Vance ke perundingan di Pakistan.

Kritik Pengutusan Wapres AS ke Perundingan, Bolton Sebut Washington Didikte Teheran

April 11, 2026
Masa Gencatan Senjata, Iran Cengkeram Selat Hormuz Ubah Peta Kekuatan Jalur Energi Dunia

Masa Gencatan Senjata, Iran Cengkeram Selat Hormuz Ubah Peta Kekuatan Jalur Energi Dunia

April 11, 2026
Bahrain Klaim Ledakan di Permukiman Sipil Dipicu Rudal Patriot AS, Bukan Serangan Iran

Bahrain Klaim Ledakan di Permukiman Sipil Dipicu Rudal Patriot AS, Bukan Serangan Iran

March 25, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2559
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Gus Din

Reformasi Agama Sebagai Pemikiran Politik

May 1, 2026
Ketua Koperasi Cahaya Alam Semesta (CAS) Laporkan Dirut PT. TTP Diduga Menipu dan Gelapkan Dana 6,5 Miliar

Ketua Koperasi Cahaya Alam Semesta (CAS) Laporkan Dirut PT. TTP Diduga Menipu dan Gelapkan Dana 6,5 Miliar

May 1, 2026
Semangat Kartini 2026: KOWANI Galang Kekuatan Organisasi Perempuan Nasional untuk Kawal "Kebaya Goes to UNESCO"

Semangat Kartini 2026: KOWANI Galang Kekuatan Organisasi Perempuan Nasional untuk Kawal “Kebaya Goes to UNESCO”

May 1, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In