CIREBON | LIPUTAN9NEWS – Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH. Imam Jazuli, Lc. MA., mengirimkan surat terbuka buat KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, pada hari Jumat (28/11/2025).
Inilah isi surat Kiai Imam Jazuli yang ditujukan kepada Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Kepada yang terhormat DR. (HC) K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang kami cintai dan hormati.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim.
Gus, izinkan kami mencurahkan perasaan dan harapan akar rumput nahdliyin yang getir dan rintihan dari jutaan pasang mata yang menatap cemas.
Tentu saja, surat ini bukan titah, apalagi menyerupai fatwa, melainkan sekadar kegelisahan dari hati yang merindukan kembali keheningan dan kedamaian di taman sari kultur dan struktur Nahdliyyin, yang kini terasa sedikit berserak oleh riak-riak fatamorgana.
Dengan segala kerendahan hati, surat ini kami tulis, mewakili suara hati yang pedih dari akar rumput Nahdliyin yang berharap ada pelukan hangat dan kebersamaan dalam rumah besar kita, Nahdlatul Ulama.
Kami memahami dinamika yang terjadi saat ini sangat kompleks, namun kami yakin bahwa di balik semua itu, ada jiwa besar seorang santri Krapyak dan Gus yang mengalir dalam diri Gus Yahya.
Gus, kami semua sayang sama panjenengan. Kami memandang Gus Yahya sebagai panutan dan pemimpin yang memiliki kapasitas luar biasa. Justru karena rasa sayang dan hormat itulah, kami berharap Gus Yahya dapat menunjukkan sikap legowo (berlapang dada) demi keutuhan jam’iyyah.
Engkau, Gus, adalah mutiara yang lahir dari rahim keagungan para pejuang dan kiai sepuh. Darah yang mengalir di nadimu, kami yakin adalah cahaya dari sanad keabadian ilmu yang tak terputus hingga Baginda Nabi. Kami tahu, akalmu cerdas, pandanganmu jauh menembus batas cakrawala, namun, Gus, terkadang kebijaksanaan sejati justru ditemukan di dalam diam dan kepatuhan.
Konflik, Gus, ibarat badai yang mengoyak layar perahu besar yang bernama Nahdlatul Ulama. Perahu ini, yang dibangun dengan cucuran keringat dan air mata para pendahulu, kini oleng dihantam ego dan kepentingan sesaat. Sudahi, Gus, sudahi prahara ini. Apapun alasannya, sebesar apapun argumen logikamu, tiada yang lebih mulia daripada merajut kembali benang sutra persaudaraan yang terkoyak.
Adab dan manut (patuh) kepada kiai sepuh adalah mahkota kemuliaan kita, permata yang membedakan kita dari yang lain. Ia adalah benteng dari kesombongan intelektual, oase di tengah gurun fatwa yang kering. Engkau pasti memilikinya, Gus, adab itu, yang terpatri sejak engkau menghirup udara pesantren.
Kembalilah pada khittah tanfidliyah, dengarkan bisikan para sesepuh, yang suaranya mungkin pelan, namun mengandung kekuatan dan keberkahan yang abadi.
Konflik yang lumayan berlarut dan pelik ini, Gus, sungguh berdampak tidak baik di tingkat bawah. Akar rumput merasakan keresahan dan kekhawatiran akan perpecahan. Kami ingin melihat NU yang teduh, yang menjadi payung bagi umat, bukan arena perselisihan.
Sekali lagi, kami memohon dengan sangat, agar Gus Yahya berkenan untuk manut pada Syuriah, menerima keputusan atau arahan dari para sesepuh dan dewan syuriah, yang merupakan benteng moral dan marwah organisasi. Sikap nerimo dan kepatuhan pada garis ulama adalah warisan yang diajarkan para pendiri NU kepada kita semua.
Mari kita sudahi polemik ini, jangan diperpanjang lagi. Tunjukkanlah kepada kami, kepada seluruh Nahdliyin, bahwa Gus Yahya adalah pemimpin yang siap mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan umat dan martabat NU.
Kami percaya, dengan sikap legowo Gus Yahya, ketenangan akan kembali tercipta, dan marwah Nahdlatul Ulama akan tetap terjaga. Semoga surat ini, yang hanya secarik doa yang terbungkus dalam kata-kata, menyentuh relung hatimu yang paling dalam. Kami merindukan NU yang damai, NU yang teduh, di bawah naungan restu kiai-kiai panutan kita.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
KH. Imam Jazuli, Lc. MA., Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia











Kepada yang terhormat DR. (HC) K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang kami cintai dan hormati.












