KUDUS | LIPUTAN9NEWS – Kompleks Makam Sunan Kudus tidak sekadar dipenuhi manusia. Ia dipenuhi ingatan. Ribuan santri dan warga duduk berimpitan, melantunkan tahlil, menyatukan doa-doa yang mengalir pelan di antara nisan dan angin Desember.
Di situlah Haul ke-68 KHR Asnawi Kudus digelar. Haul bukan sekadar mengenang wafat seorang ulama, juga meneguhkan kembali jejak laku dan dakwahnya.
Di hadapan jamaah, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan mauidhoh hasanah dengan nada teduh. Pesannya sederhana, tetapi dalam.
Haul, kata Kiai Mif, bukan hanya peringatan tahunan. Ia adalah momentum meneladani. Mengikuti perilaku, jalan dakwah, dan keteguhan iman seorang ulama yang hidupnya diabdikan untuk umat.
KHR Asnawi, bagi KH Miftachul Akhyar, bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah suluh. Cahaya yang seharusnya terus menyala di tengah zaman yang kerap disebut sebagai zaman harj, zaman yang serba tak menentu.
Zaman ketika kemajuan teknologi bisa berubah menjadi disrupsi. Ketika sesuatu yang mapan tiba-tiba runtuh. Dan, yang paling mengkhawatirkan, ketika keimanan pun bisa tergerus perlahan.
“Di zaman seperti ini,” ujar KH Miftachul Akhyar, “menjaga cinta kepada para auliya dan tokoh-tokoh ulama adalah benteng keimanan.”
Kalimat itu mengendap lama di benak jamaah. Seolah mengingatkan bahwa di tengah derasnya perubahan. Ada nilai-nilai yang tak boleh hanyut.
KHR Asnawi adalah salah satu penjaga nilai itu. Ulama Kudus yang menjadi bagian dari fondasi Nahdlatul Ulama. Sosok yang dakwahnya tidak keras, tetapi meresap. Tidak gegap gempita, tetapi berjejak panjang. Maka, harapan besar pun disampaikan: lahirnya “KHR Asnawi-KHR Asnawi baru” dari generasi sekarang. Bukan dalam rupa yang sama, tetapi dalam semangat yang serupa. Alim, bersahaja, dan berpijak pada sanad keilmuan yang jelas.
Haul tahun ini memang terasa berbeda. Sejak Kamis, 11 Desember 2025, rangkaian acara telah digelar dengan tema “Suluh Peradaban; Mulat Ngelmu lan Laku”. Tema yang menegaskan bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan laku. Tidak berhenti pada teks, tetapi menjelma praktik hidup.
Ada halaqah turats yang mengkaji karya-karya KHR Asnawi. Ada bahtsul masail yang mempertemukan tradisi fiqh dengan persoalan kontemporer. Ada ziarah dan napak tilas—menyusuri jejak perjalanan KHR Asnawi dari Pondok Bendan menuju Sunan Muria. Ada khatmil Qur’an, hingga pengajian umum yang akan menutup rangkaian haul.
Semua itu menjadikan Kudus bukan sekadar kota ziarah, tetapi ruang belajar kolektif. Ruang di mana santri dan masyarakat diajak untuk mulat ngelmu lan laku—berkaca pada ilmu dan perilaku para pendahulu.
Puncak haul, Selasa (16/12/2025), bertepatan dengan wafatnya KHR Asnawi pada 25 Jumadil Akhir 1379 H atau 26 Desember 1959. Ribuan jamaah hadir. Tokoh-tokoh ulama Kudus tampak lengkap. Tahlil mengalun serempak, seolah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Usai mauidhoh, satu momentum penting kembali terjadi. KH Miftachul Akhyar meresmikan secara simbolis Kantor Turats Ulama Kudus di Jalan Sunan Kudus No. 188. Sebuah langkah konkret untuk memastikan warisan keilmuan ulama tidak berhenti di cerita, tetapi terdokumentasi, diteliti, dan diwariskan.
Kantor turats itu diharapkan menjadi “mesin penggerak”. Tempat menelusuri jejak ulama Kudus, merawat manuskrip, dan menjaga sanad keilmuan agar tetap hidup. Sebuah ikhtiar sunyi, tetapi strategis.
Haul pun berakhir menjelang malam. Jamaah beranjak pulang, tetapi pesan yang ditinggalkan tetap tinggal. Bahwa di tengah dunia yang berisik dan cepat berubah, teladan ulama seperti KHR Asnawi adalah suluh peradaban. Dan suluh itu hanya akan terus menyala jika generasi hari ini bersedia menunduk, belajar, lalu melangkah.

























