KABUPATEN BEKASI | LIPUTAN9NEWS
Setiap tanggal 2 Mei, kita tidak sekadar merayakan tanggal lahir Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara. Lebih dari itu, kita merayakan harapan. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah momen pengingat bahwa di balik tumpukan buku dan layar gawai, ada masa depan bangsa yang sedang ditenun.
Seorang pendidik adalah sang pembawa pelita. Mereka tidak menghilangkan malam secara instan, tetapi mereka memastikan bahwa langkah anak didik mereka tidak terperosok.”Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan”. Begitu pepatah mengatakan.
Kegelapan sering kali menjadi simbol ketidaktahuan atau kebodohan. Pendidikan adalah sumbu yang kita nyalakan agar seseorang tidak lagi meraba-raba dalam gelapnya ketidakpastian. Satu pelita mungkin kecil, tapi cukup untuk menunjukkan jalan bagi orang-orang di sekitarnya.
Ingat slogan legendaris “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.
Filosofi ini bukan cuma hiasan belaka. Ini adalah fondasi kepemimpinan dan pengajaran. Di depan memberi teladan. “Guru dan orang tua adalah kompas moral”. Di tengah membangun semangat. “Pendidikan harus menghidupkan kemauan, bukan mematikannya”. Di belakang memberi dorongan. “Membiarkan anak bangsa terbang dengan sayapnya sendiri, namun tetap dalam pengawasan yang suportif.”
Dulu, pendidikan mungkin identik dengan menghafal rumus atau tahun sejarah. Namun hari ini, dunia berubah lebih cepat dari cara kita membalik halaman buku. Pendidikan bukan lagi soal seberapa banyak pengetahuan yang kita simpan di kepala karna Syeikh Google lebih dari segalanya. Pendidikan paling penting saat ini adalah Karakter dan Etika. Seorang guru tidak hanya transfer of knowledge namun transfer of value jauh lebih penting. Ilmu tanpa adab hanyalah kepintaran yang berbahaya. Seorang revolusioner dari Afrika Selatan -Nelson Mandela- berkata: “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia.”
Kita harus jujur, tantangan pendidikan kita masih besar, mulai dari kesenjangan fasilitas hingga kesejahteraan guru yang perlu terus diperjuangkan. Namun, optimisme harus tetap menyala. Program seperti Digitalisasi Sekolah/Pembelajaran. Program ini fokus pada penyediaan Panel Interaktif Digital (PID/IFP), laptop, dan materi digital telah memberi ruang bagi siswa dan pengajar untuk lebih fleksibel dalam mengeksplorasi potensi diri. Namun perlu diperhatikan Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah. Ia dimulai dari meja makan rumah kita, dari rasa penasaran yang kita pupuk setiap hari, dan dari kemauan kita untuk menjadi “pembelajar sepanjang hayat” (long-life learner).
Mari terus bergerak!. Hardiknas tahun ini adalah undangan bagi kita semua. Bagi para siswa, jangan takut untuk bertanya. Bagi para guru, terima kasih telah menjadi pelita yang tak pernah redup. Dan bagi kita semua, mari sadari bahwa belajar tidak berhenti saat kita menerima ijazah.
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Mari terus melangkah, karena setiap langkah kecil dalam belajar adalah lompatan besar bagi kemajuan Indonesia.
Cikarang, 1 Mei 2026
Pajrin, S.Pd.I., M.M., Gr., Kepala SMPIT Manbaul Hikmah

























