JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Pada intinya Asma Allah Al-Jabbār dan Al-Qahhār pada tataran hamba berkaitan erat dengan kekuatan ilahiah dalam menegakkan kebenaran dan menghancurkan kezaliman. (Gus Imad)
Salah satu kekeliruan paling serius dalam membaca Nahdlatul Ulama (NU) hari ini adalah anggapan bahwa kekuatannya terletak semata-mata pada jumlah jamaah, jaringan struktural, atau kedekatan dengan kekuasaan. Cara pandang semacam ini bukan hanya reduktif, tetapi juga berbahaya. Ia mengabaikan fondasi paling hakiki NU sejak kelahirannya: spiritualitas.
NU tidak berdiri pertama-tama sebagai mesin politik atau sekadar organisasi massa, melainkan sebagai jama’ah ruhaniyah yang kemudian menjelma menjadi kekuatan sosial. Dari rahim spiritualitas inilah lahir spirit perjuangan, daya tahan moral, serta kewibawaan (haibah) NU di tengah umat dan bangsa.
Tulisan ini berusaha menguraikan unsur-unsur spiritualitas yang mengiringi kelahiran Nahdlatul Ulama, menelusuri jejak spiritualitas para tokoh pendiri serta para penerusnya, dan menganalisis kondisi NU pada masa kini dengan membandingkannya dengan kiprah NU di masa lalu.
Sejarah berdirinya NU tidak dapat dilepaskan dari figur sentral Syaikhona Kholil Bangkalan (1820–1925). Dalam riwayat yang banyak beredar—bersumber dari KH. As‘ad Syamsul Arifin— juga diceritakan KH. Saifudin Zuhri dalam bukunya, Guruku Orang-orang dari Pesantren, bahwa Syaikhona Kholil memberikan isyarat tasbih dan tongkat kepada KH. Hasyim Asy’ari.
Dalam tradisi tasawuf, simbol semacam ini bukan sekadar tanda restu personal, melainkan legitimasi spiritual atas sebuah misi besar. Tasbih melambangkan dzikir sebagai napas perjuangan, sementara tongkat merupakan simbol kepemimpinan, amanah, dan tanggung jawab umat.
Lebih dari itu, Syaikhona Kholil juga mengijazahkan dzikir Asmaul Husna: Yā Jabbār, Yā Qahhār—asma yang dalam literatur tasawuf, sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali dalam al-Maqshad al-Asnā, memiliki makna yang sangat dalam. Al-Jabbār, pada tataran hamba, adalah sosok yang telah naik dari derajat mengikuti (ittibā‘) menuju derajat ditaati; mencapai tingkat ketundukan orang lain kepadanya; dan tegak dalam ketinggian martabatnya. Ia memberi manfaat kepada makhluk tanpa mengambil manfaat dari mereka; berpengaruh namun tidak terpengaruh; menguasai tanpa dikuasai.
Sementara itu, Al-Qahhār pada tataran hamba berarti penaklukan (al-qahr) terhadap musuh-musuhnya—yang pada hakikatnya merupakan bagian dari penaklukan Allah atas musuh-musuh itu—termasuk penaklukan terhadap hawa nafsu (Abu Hamid al-Ghazali, al-Maqshad al-Asnā fī Syarḥ Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, Dar Ibn Hazm, Beirut: 1974, hlm. 74 dan 81–82).
Pada intinya Asma Allah Al-Jabbār dan Al-Qahhār pada tataran hamba berkaitan erat dengan kekuatan ilahiah dalam menegakkan kebenaran dan menghancurkan kezaliman.
Para pendiri Nahdlatul Ulama adalah ulama yang menyatukan fikih dan tasawuf, ilmu dan laku. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menurut Rais ‘Aly JATMAN KH. Chalwani Nawawi, merupakan pengamal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Beliau mengambil ijazah tarekat tersebut dari gurunya, Syekh Mahfuzh Termas. Selain itu, KH. Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai pengamal Dalā’il al-Khairāt karya Imam al-Jazuli yang dijalankan secara istiqamah.
Al-Maghfurlah KH. Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo, dalam salah satu mata rantai sanad Dalā’il al-Khairāt, meriwayatkan amalan tersebut melalui KH. Hasyim Asy’ari hingga bersambung kepada Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, pengarang kitab Dalā’il al-Khairāt.
Dalā’il al-Khairāt sendiri merupakan tradisi yang secara historis dihubungkan dengan Tarekat Syadziliyah, mengingat Imam al-Jazuli adalah tokoh besar tarekat tersebut dari Maroko. Berdasarkan hal ini, terdapat pendapat yang cukup kuat bahwa tarekat KH. Hasyim Asy’ari kemungkinan besar adalah Syadziliyah. Namun demikian, perlu dicatat bahwa para pengamal Dalā’il al-Khairāt tidak selalu secara formal berbaiat kepada Tarekat Syadziliyah. Oleh karena itu, menurut hemat saya, bukan tidak mungkin Mbah Hasyim mengambil ijazah dari dua tarekat besar tersebut secara bersamaan.
KH. Wahab Hasbullah—yang dikenal luas sebagai organisator ulung Nahdlatul Ulama—sesungguhnya tumbuh dan dibentuk dalam kultur spiritual pesantren yang kuat, ditandai oleh riyāḍhah, wirid, dan disiplin keilmuan. Dimensi ini sering luput dalam pembacaan yang terlalu menekankan peran beliau sebagai aktivis sosial dan politik.
Greg Barton dan Greg Fealy mencatat bahwa selama bermukim di Makkah, KH. Wahab Hasbullah berguru kepada sejumlah ulama penting yang tidak hanya berpengaruh dalam bidang fikih dan hadis, tetapi juga merupakan simpul-simpul strategis jaringan tarekat di Indonesia. Di antara mereka adalah Syekh Mahfuzh Termas, tokoh utama dalam mata rantai Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), serta Syekh Nahrawi Muhtaram Banyumas, figur sentral dalam transmisi Tarekat Syadziliyah di Nusantara.
Syekh Nahrawi Banyumas sendiri tercatat sebagai guru dari Syekh Dalhar Watucongol dan KH. Abdul Malik Purwokerto. Melalui beliau pula bertemu mata rantai sanad KH. Abdul Jalil Mustaqim (Pondok PETA, Tulungagung). Ketiga tokoh tersebut merupakan figur kunci dalam jejaring Tarekat Syadziliyah di Indonesia, yang berperan besar dalam menyebarkan etos tasawuf amali berbasis pesantren.
Dalam konteks inilah KH. Wahab Hasbullah dapat dipahami bukan sekadar sebagai organisator dan penggerak sosial, melainkan sebagai representasi ulama yang mampu mengintegrasikan aktivisme sosial dengan kedalaman spiritual. Sintesis antara “gerak” dan “laku” ini merupakan ciri khas tradisi keulamaan NU—sebagaimana dicatat oleh Greg Fealy dan Greg Barton—yang memadukan komitmen terhadap tradisi keilmuan, pengamalan tasawuf, dan keterlibatan aktif dalam dinamika sosial kemasyarakatan (Nahdlatul Ulama: Traditional Islam and Modernity in Indonesia, Monash Asia Institute, Clayton, Australia, 1996, hlm. 13–15).
KH. Bisri Syansuri, Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama setelah KH. Wahab Chasbullah, dikenal sebagai ulama yang sangat ketat dalam ibadah personal, wirid, serta disiplin keilmuan. Dalam keseharian, KH. Bisri Syansuri dikenal istiqamah menjaga shalat berjamaah serta konsisten membaca shalawat Nūrudz Dzāti.
Seperti halnya KH. Hasyim Asy‘ari dan KH. Wahab Chasbullah, sebelum melanjutkan studi ke Makkah beliau terlebih dahulu berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Di Makkah, KH. Bisri Syansuri juga belajar bersama KH. Wahab Chasbullah kepada Syekh Mahfuzh at-Tarmasi, sertap sejumlah ulama Haramain lainnya.
Dalam bidang fikih, KH. Bisri Syansuri dikenal sebagai seorang faqih yang sangat berhati-hati dalam berfatwa. Ketegasan prinsipnya tercermin dalam sikap beliau yang tidak segan menyampaikan pendirian, tanpa memandang siapa pun yang dihadapinya. Sikap ini tampak, sebagaimana diceritakan oleh KH. Aziz Masyhuri, antara lain, ketika beliau berhadapan dengan Presiden Soeharto dan Menteri Dalam Negeri Jenderal Amir Machmud dalam polemik lambang Ka‘bah Partai Persatuan Pembangunan (KH. Aziz Masyhuri, Al Maghfurlah KHM Bishri Syansuri, Al Ikhlas, Surabaya: 1983, hal. 28-81)
Hal serupa juga ditemukan pada sosok KH. Idham Chalid. Meskipun beliau berkiprah luas di panggung politik nasional—pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, Wakil Perdana Menteri, hingga Ketua DPR/MPR—akar spiritualitas pesantren tidak pernah tercerabut dari dirinya. KH. Idham Chalid tumbuh dalam tradisi keilmuan dan tasawuf NU, serta dikenal dekat dengan dunia tarekat dan amalan wirid yang terjaga. Ahmad Muhajir, penulis buku Idham Khalid Guru Politik orang NU menceritakan salah satu sisi spiritualitas KH. Idham Khalid bahwa beliau istiqamah mengamalkan wirid Dalā’il al-Khairāt dan tidak pernah meninggalkannya hingga akhir hayat (Ahmad Muhajir, Idham Khalid, Guru Politik Orang NU, Pustaka Pesantren, Yogyakarta: 2007, hal. 150-152)
Konsistensi spiritual KH. Idham Chalid menunjukkan bahwa keterlibatan ulama NU dalam ruang publik dan politik tidak identik dengan sekularisasi batin. Justru, bagi generasi ulama NU klasik, aktivitas politik dipahami sebagai perpanjangan khidmah, yang harus ditopang oleh kekuatan riyāḍhah, dzikir, dan pengendalian diri. Dalam kerangka ini, wirid seperti Dalā’il al-Khairāt bukan sekadar amalan individual, melainkan sumber etos moral, ketenangan batin, dan penjaga niat agar kekuasaan tidak menjauhkan ulama dari Allah.
Selanjutnya Gus Dur, meski kerap dipersepsikan sebagai intelektual liberal, pluralis, bahkan “nyeleneh”, namun membaca Gus Dur semata dari sisi rasional-intelektual adalah sebuah reduksi serius. Orang sering lupa bahwa dibalik liberalnya Gus Dur, tersimpan Jejak spiritual yang panjang.
Salah satu figur penting dalam pembentukan spiritualitasnya adalah KH. Khudhori Tegalrejo, seorang kiai kharismatik yang dikenal memiliki kedalaman tasawuf dan ketajaman bashīrah. Dalam berbagai kesaksian, KH. Khudhori bukan sekadar guru, melainkan pembimbing batin yang menanamkan kepekaan nurani, sikap rendah hati, dan penghargaan terhadap kemanusiaan. dalam diri Gus Dur.
Sewaktu mondok di Magelang, Gus Dur juga mengaji Kitab Al Hikam kepada KH. Dalhar Watucongol, yang dikenal sebagai wali Allah dan Mursyid Tarekat Syadziliyah. Gus Dur juga mengaji al-Hikam kepada KH. Imam Kholil Sarang, serta memperoleh ijazah Dalail Khairat dari Mbah Imam Sarang. Sekeluarnya dari Pesantren Tegalrejo, Gus Dur masih tetap membaca hizb Ghazali (Mukhlas Syarkum, Ensiklopedi Abdurrahman Wahid, Jilid 1, PPPKI, Jakarta: 2013, hal. 98-101).
Seiring perjalanan hidupnya, Gus Dur tidak berhenti pada spiritualitas kultural. Ia tercatat pernah masuk jalan tarekat, meskipun tidak pernah menampilkan identitas tarekatnya secara terbuka. Gus Dur memandang tasawuf sebagai kerja batin yang sunyi, bukan sebagai simbol atau klaim kesalehan. Greg Barton mencatat bahwa Gus Dur sangat akrab dengan praktik-praktik sufistik, namun menolak menjadikannya sebagai identitas formal yang dipamerkan ke ruang publik (Greg Barton, Dari Pesantren ke Istana: Biografi Presiden ke-4 KH. Abdurrahman Wahid, terj. Abdurrahman Wahid: Muslim Democrat, Indonesian President, Awal Nahda Resources, Selangor, Malaysia: 2016, hal. 143-145)
Salah satu ciri paling menonjol dari spiritualitas Gus Dur adalah kedekatannya dengan para kiai waskita—ulama sepuh yang dikenal memiliki pandangan batin tajam dan sering dipersepsikan masyarakat sebagai wali. Gus Dur dikenal rutin sowan dan berkonsultasi secara senyap kepada tokoh-tokoh seperti Gus Miek, Guru Sekumpul, Mbah Lim Klaten, Habib Ja‘far Kudur, dan sekumpulan Kiyai-kiyai sepuh yang dikenal pada awal reformasi dengan Forum Langitan (KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Idris Marzuki Lirboyo, KH. Zainuddin Jazuli Ploso, KH. Mas Subadar Besuk, KH. Abdullah Abbas Buntet, dan lain-lain), serta sejumlah kiai sepuh lain yang tidak selalu berada dalam struktur formal NU. Banyak penuturan orang dekat Gus Dur menyebutkan bahwa sowan-sowan ini kerap dilakukan menjelang pengambilan keputusan penting, baik saat memimpin PBNU maupun ketika menjabat Presiden RI (Ahmad Suaedy, Gus Dur, Islam Nusantara, dan Kewarganegaraan, LP3ES, Jakarta: 2018, hlm. 63–67)
Selain sowan, ziarah kubur merupakan bagian tak terpisahkan dari laku spiritual Gus Dur. Ia bukan hanya berziarah ke makam wali-wali yang populer seperti Wali Songo, tetapi juga ke makam-makam sunyi yang bahkan tidak dikenal masyarakat luas. Dalam beberapa kesaksian, Gus Dur sering meminta sopir berhenti di lokasi tertentu tanpa penjelasan rasional, lalu berdoa dalam diam. Ziarah, bagi Gus Dur, adalah dialog batin lintas zaman—cara menyambung sanad ruhani dengan para kekasih Allah. Pernah Gus Dur ditanya, mengapa sering ziarah ke makam-makam keramat? Gus Dur menjawab, karena orang mati tidak punya kepentingan.
Banyak orang mengagumi pemikiran Gus Dur dan berusaha meniru langkah-langkahnya, namun sebagian dari mereka lupa pada jejak panjang spiritualitas yang dilalui Gus Dur. Ibarat menanam pohon yang sama dengan Gus Dur, tapi cara merawat dan membesarkannya tidak sama dengan Gus Dur, selain kualitas pohonnya juga berbeda, alhasil menghasilkan buah yang berbeda dengan Gus Dur. Beberapa orang itu cuma dapat nyeleneh dan kontroversinya, tapi effort dan efeknya tidak didapat: bukan dipuja, tapi malah dicaci.
Fakta-fakta ini menegaskan bahwa NU dibangun dan dijalankan oleh para ahli spiritual dan ahli shalawat, yang dalam setiap keputusan strategisnya selalu bertumpu pada bashirah (pandangan batin), bukan semata kecanggihan strategi. Para muassis dan pemimpin NU dahulu berpolitik dan mengambil keputusan dengan tirakat, bukan dengan pragmatisme.
Pengalaman pribadi saya ketika menjadi Pengurus Harian Lembaga Dakwah PBNU pada periode kedua KH. Said Aqil Siraj (2015–2021) mendekatkan hal tersebut. Setiap malam Kamis di awal bulan, LD-PBNU rutin mengadakan istighatsah di lantai dasar dan halaman parkir Gedung PBNU. Ini merupakan bagian dari konsolidasi langit sebagaimana dimaksud di atas.
Menariknya, setiap istighatsah jamaah selalu membludak hingga ke Jalan Kramat Raya di depan Gedung PBNU, meskipun tidak ada undangan khusus kepada warga Nahdliyin. Kiai-kiai sepuh dari jajaran Syuriah dan Mustasyar PBNU turut hadir, demikian pula para dai NU yang tengah digemari. Tercatat KH. Said Aqil Siraj sendiri, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus Lirboyo, KH. Mustofa Aqil Siradj, Gus Baha, Gus Kautsar Ploso, dan ulama NU lainnya pernah mengisi acara tersebut.
Tradisi istighatsah di PBNU sejatinya telah berlangsung sejak periode pertama KH. Hasyim Muzadi pada tahun 1999, sebagai kelanjutan dari istighatsah akbar PBNU di Gelora Bung Karno pada 1998 di masa Gus Dur. Awrad istighatsah yang digunakan adalah susunan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sendiri
Namun, pasca kepemimpinan KH. Said Aqil Siraj, tradisi istighatsah di Gedung PBNU dihentikan, seiring renovasi lantai dasar gedung yang didesain bergaya kantor BUMN lengkap dengan gazebo, coffee shop, dan sensor pintu masuk, juga berubah nama menjadi Plaza PBNU—sebuah perubahan yang terkesan elitis.
Saya tidak tahu, apakah penghentian istighatsah ini ada relevansinya dengan konflik internal PBNU saat ini dan beberapa pengurus PBNU yang tersandung kasus korupsi. Manakala benteng spiritual PBNU sudah roboh, maka ia akan mudah ditembus oleh pihak luar yang ingin melemahkan NU. Robohnya benteng itu boleh jadi juga bukan oleh pihak luar, tetapi oleh ulah pengurusnya sendiri karena telah melenceng jauh dari thoriqoh para muassisnya.
NU akan kuat dan solid apabila pengurusnya menempuh jalan para muassis dan pendahulunya. Begitu juga ketika konsolidasi langit (dzikir, shalawat, riyāḍhah, doa para kiai sepuh, santri, dan istighatsah nahdliyin yang ikhlas di berbagai tempat) menyatu dengan konsolidasi bumi (organisasi, pendidikan, dan perjuangan sosial). Ketika dua hal ini ditinggalkan, NU memang tetap besar secara angka, tetapi kehilangan haibah dan kharisma. Pada titik itulah NU mudah dipermainkan, diperalat, dipecah belah dan kehilangan haibah-nya di mata penguasa dan umat.
Oleh karena itu, menurut saya, pada saat ini penting bagi NU untuk merawat ruh para muassisnya: menyeimbangkan antara konsolidasi bumi dan konsolidasi langit. Setiap keputusan, baik pada level individu maupun organisasi, semestinya terlebih dahulu dikonsultasikan kepada para kiai sepuh yang memiliki ketajaman pandangan batin (bashīrah), baik yang berada di ranah struktural maupun kultural.
Dalam tradisi NU kiyai sepuh ditempatkan sebagai Moral and Spiritual Authority, rujukan moral dan spiritual, sebagaimana Mbah Hasyim terlebih dahulu meminta petunjuk kepada Syaikhona Kholil Bangkalan sebelum mendirikan NU. Juga Gus Dur yang senantiasa berkonsultasi terlebih dahulu kepada para Kiyai Sepuh sebelum mengambil keputusan strategis.
Berikutnya Istighatsah dan riyāḍhah kolektif perlu terus digalakkan di setiap level kepemimpinan NU sebagai upaya memperkuat benteng spiritual organisasi. Pada saat yang sama, NU juga harus berani mengikis elitisme struktural. NU dibangun dari pesantren, dari kesederhanaan dan laku tirakat para kiai, bukan dari hotel mewah dan ruang rapat berpendingin udara.
Kekuatan NU justru terletak pada kepercayaan jamaah kepada para kiai yang hidup sederhana, zuhud, dan menjaga jarak dari kemewahan. Ketika simbol-simbol kekuasaan lebih dominan daripada simbol-simbol kesalehan, yang terkikis bukan hanya citra, tetapi juga barakah organisasi.
NU mungkin akan tetap besar secara jumlah dan struktur meski kehilangan spiritualitasnya. Namun, ia tidak lagi ditakuti oleh kezaliman dan tidak lagi dicintai oleh umat. Kekuatan sejati NU bukan pada kedekatannya dengan penguasa, melainkan pada kedekatannya dengan Yang Maha Kuasa.
Selama tasbih para kiai masih berputar, shalawat masih dibaca dengan khusyuk, dan doa-doa malam masih dipanjatkan di pesantren-pesantren NU, selama itu pula NU akan dijaga—bukan oleh elite, melainkan oleh langit. Wallahua’lam bisshawab
Utara Jakarta, 16 Rajab 1446 H.
KM. Imaduddin, M.Hum. Alumni Pesantren Lirboyo, Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara, Anggota Lajnah Pelatihan & Kaderisasi Tarekat, Idarah Aliyyah JATMAN, Anggota Lembaga Pentashihan Buku & Konten Keislaman (LPBKI) MUI Pusat, Kandidat Doktor Sejarah Peradaban Islam (SPI) UNUSIA Jakarta
























