YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Para tokoh dan kader NU menggelar kegiatan Dialog Kebangsaan Kader NU yang dilaksanakan di Ponpes Minggir, Sabtu, (30/05/2026). Acara dihadiri puluhan kader NU dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
KH Aguk Irawan MN, Pengasuh Pondok Pesanren Baitul Kilmah Bantul DIY, memaparkan sejarah Muktamar NU dari masa ke masa. Ia mengungkapkan, di setiap Muktamar, NU selalu mengambil keputusan strategis untuk kebaikan jam’iyyah dan kebaikan Indonesia.
Menurutnya, Muktamar ke-35 NU nanti, harus mengurai semua masalah dan mengembalikan NU sebagai kekuatan civil society (masyarakat sipil). Cirinya, kata alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini, NU memiliki nalar kritis dan selalu tampil menonjol dalam pembelaan pada kaum tertindas.
“Muktamar NU nanti harus mengurai semua masalah internal. Dan meneguhkan kembali NU sebagai kekuatan civil society pembela kaum tertindas,” tutur kyai muda yang dikenal sebagai budayawan ini,” ujarnya dalam sesi pemaran.
Kiai Aguk juga merinci, saat ini rakyat tertindas merasa sendirian tanpa pembelaan. Diantaranya, tanah rakyat yang diduduki TNI, tanah ulayat milik masyarakat adat yang dirampas, gunung yang dirusak, hutan yang dibabat, lalu bencana alam melanda, diantaranya banjir besar di pulau Sumetera, namun pemerintah abai.
“Di saat rakyat tertindas dan terabaikan, NU tidak bisa tampil memberi advokasi. Bahkan ada pengurus NU menjadi komisaris di perusahaan perusak alam,” terang Aguk dengan nada sedih.
Khusus soal tambang, Aguk yang mengajar di UIN Sunan Kalijaga ini menyatakan, itu adalah sumber fitnah di dalam NU. Mestinya NU tegas menolak sesuatu yang jelas membawa madhorot. Dalam Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya tahun 1994, ungkap Aguk, ada keputusan bahwa pertambangan yang merusak alam adalah haram.
“Tambang telah menjadi sumber fitnah di NU. Menimbulkan madhorot yang nyata. Para kyai sepuh sudah bersuara agar mengembalikan saja ke pemerintah. Padahal mestinya ditolak NU sejak awal,” ungkap penulis buku dan sastrawan ini.
Gong dialog ditabuh oleh Direktur Executive Center for Strategic on Islamic Internasional Studies (CSIIS) Jakarta Dr Sholeh Basyari. Dia beberkan, para kyai di jajaran Syuriyah, lebih-lebih Rais Am, itu dikenal sebagai ulama khos, bahkan min auliyaillah (bagian dari kekasih Allah). Simbolnya memakai udheng atau surban. Sedangkan Tanfidziyah simbolnya memakai peci biasa.
Maka menurutnya, tidak pantas orang level peci masuk jajaran Syuriyah. Dan sangat mengherankan ada orang sudah memakai udheng-udheng tapi masih kemaruk jabatan.
“Sejak NU berdiri, pemimpin tertinggi itu ulama-fuqoha’. Bahkan auliya. Simbolnya pakai udheng-udheng. Lha kok ada orang sudah pakai udheng masih kemaruk jabatan,” tuturnya mengajak instrospeksi hadirin.
Jajaran Tanfidziyah, lanjut Sholeh, adalah pelayan kyai. Ketua Umum PBNU pertama, yaitu Hasan Gipo, itu bukan ulama. Melainkan saudagar yang cinta pada ulama.
Sholeh mengharapkan profil Ketua Tanfidziyah NU semacam itu. Jangan sampai keras dan bertangan besi. Lebih bagus lagi jika jenaka seperti Gus Dur dan KH Hasyim Muzadi. Atau yang piawai menyapa umat kelas bawah seperti KH Said Aqil Siroj.
“Ketua umum PBNU sekarang dirasa tidak seperti ketua umum. Karena tidak seperti para pendahulunya yang jenaka dan populis. Dan malah ada kesan bertangan besi, yaitu pernah memecat pengurus NU wilayah atau cabang,” pungkasnya.

























