BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Antologi puisi “Kita Seperti Kata”karya Sulaiman Djaya telah memuat 45 judul puisi. Namun ada yang menarik bagi saya sebagai pembaca puisi-puisi beliau. Ada tata tulis atau apabila diucap itu sesuatu yang khas. Yakni, Ada ketahanan kata-kata untuk disampaikan kepada objek yang dipujinya –entah kepada seorang lawan jenis atau sahabat semata. Sulaiman tidak menambah atau melebar untuk menilai seseorang itu indah. Cukup saja hanya mengatakan “rambut” dan “mata” untuk ia yang terlihat indah. Sangat sopan. Bukan bibir, tengkuk leher, ataupun lengkung pinggang juga bagian tubuh lainnya.
Sopan: hormat dan takzim (akan, kepada); tertib menurut adat yang baik.
Kesopanan: adat sopan santun; tingkah laku (tutur kata) yang baik; tata krama.
Mapan: mantap (baik, tidak goyah, stabil) kedudukannya (kehidupannya).
Sumber: KBBI VI offline.
Alangkah tidak sungguh berlebihan bagi saya untuk mematenkan sebuah judul tulisan ini. Lantas kemapanan dari manakah? Ini kali kedua buku puisi yang beliau tulis. Dan bagi saya bukan seberapa banyak buku puisi yang dikategorikan penyair itu mapan dalam berkarya. Akan tetapi, ada kelahiran sebuah proses masa ke masa, –gulungan waktu– tahun ke tahun yang membuat penyair ini tetap menulis demi menjaga kualitas karya. Setidaknya kurang dari 20 tahun semenjak saya berkuliah –2008 telah mendengar beliau menulis puisi –menyandang gelar penyair Banten. Itu mapan.
Marilah kita telusuri beberapa potongan-potongan puisi yang terlahir sopan dan mapan. Sekiranya ada 23 judul puisi dari ke 45 judul puisi pada puisi kedua ini. Penyair secara teguh menggunakan kata yang penuh kesopanan dan bertahan untuk menilai indah terhadap suatu objek.
Berikut ini ke-23 judul puisi dan potongan lirik yang terdapat kata matamu dan rambutmu.
1) Agustus, hal. 2 …sepasang bola matamu
2) Fur L, hal. 9 Rambutmu yang hitam kental
3) Lukisan, hal. 11…, rambutmu dikerumuni kunang-kunang …, ….…di sepasang matamu
4) Demi Malam di Liang Tungku, hal. 13 Mencumbui rambutmu.
5) Karangantu, hal. 15 Dengan sepasang mata….
6) Cello, hal. 19 Di gugusan rambutmu. …………Merimbun sepasang matamu.
7) Rebana, hal. 21 Sepasang matamu yang indah.
8) Stanza Subuh, hal. 24 …, matamu adalah wadah waktu ….. ……Rambutmu seperti tumpukan sepi
9) Gitanjali, hal. 27 …, di hadapan matamu.
10) Kupu-kupu, hal. 30 Aku bayangkan semesta matamu ….……Di gugusan rambutmu
11) Cibutak, hal. 33 Di pelupuk matamu.
12) Rendezvouis, hal. 35 …, pandangan matamu
13) Ciujung, hal. 36… matamu yang manis, …matamu menjelma laut….
14) Jendela, hal 45 Dari gugusan rambutmu.
15) Lampu, hal. 47 …serimbun dua matamu
16) Kunang-kunang, hal. 51 …sepasang matamu.
17) Kwatrin Jakarta, hal. 52 …cemburu pada rambutmu.
18) Mantra, hal. 58 Adalah harum rambutmu.
19) Stanza, hal. 61 Sepasang matamu.
20) Komedi, hal. 63 …sepasang matamu lebih misterius ….…. …… …. ….. Gususan rambutmu itu.
21) Animasi, hal. 66 Di dalam sepasang matamu.…… … ……. ……..Gususan rambutmu.
22) Mazmur Asmara, hal. 74 …seperti kemarau di matamu hal. 75 … di Januari matamu.
23) Aku adalah Perumpamaan, hal. 78 Di sepasang matamu….
Demikianlah, September 2026
Asep Syaeful Bahri, seorang guru Bahasa, Indonesia dan Seni di SMK Buddhi Tangerang, Banten.

























