BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Membaca puisi-puisi Sulaiman Djaya dalam buku antologi puisi terbarunya, Kita Seperti Kata (Media Edukasi Indonesia Agustus 2026), seakan kita dibawa untuk merefleksikan kehidupan kita sendiri sebagai para pembaca. Banyak puisi-puisinya di buku itu bercerita tentang kegembiraan masa kanak juga nestapanya, kenangan bersama ibunda, atau bagaimana suasana dan kehidupan dunia pedesaan yang hilang karena gempuran keserakahan kapitalisme dan laju industrialisasinya, disalin menjadi kenangan liris sekaligus reflektif.
Para pembaca yang peka dan akrab dengan bacaan buku-buku sastra, terutama puisi, tentu akan langsung mencerap dan merasakan dengan cepat, bahwa puisi-puisinya yang sarat renungan, sesungguhnya merupakan buah pergulatan pelik filosofis dan religius yang sublim dan dalam, namun tetap disuarakan atau disampaikan kepada kita dengan kesahajaan. Metafora puisi-puisinya tidak dibuat mengada-ada, tetapi tepat sebagai pilihan diksi dan parafrase.
Begitu pun, meski seolah-olah dibangun dengan suara liris sajak cinta, para pembaca yang jeli dan cerdas serta cermat, akan mendapati dan merasakan, itu pun hanya pinjaman untuk menyampaikan refleksi filosofis kehidupan hingga isu-isu religius atau permenungan berat, agar bisa diterima para pembaca, karena tidak semua pembaca akrab dengan khasanah teologis dan filosofis penyair, yang diakrabinya sejak kuliah hingga sekarang.
Baca saja puisinya yang berjudul ‘Kita Seperti Kata’, yang merupakan puisi pembuka buku antologi puisinya:
Kita selalu kesulitan untuk mengemukakan kata yang tepat
saat ingin berbicara, dan karenanya puisi ada.Kita juga seringkali ingin berdamai dengan keindahan
dan karenanya kita ingin menyimak nada dalam bahasa.Kita sesekali ingin akrab dengan burung-burung yang berlesatan
ketika merasa bosan dan kesepian di dalam rumah,memandang langit selepas hujan –seakan kita ingin tinggal di sana.
Sesungguhnya kita selalu ingin menggambar duniaDengan kata-kata yang ada di dalam diri kita. Kau menulis
dan membaca apa yang juga kutulis dan kubacadengan dan dari kata-kata yang sama, meski menghasilkan gambar
dan dunia yang berbeda –dan karenanya keindahan pun ada.Engkau menulis dan bicara tentang cinta dan kesepian,
aku pun demikian. Kita tinggal di rumah yang samadengan pintu-pintu dan jendela-jendela lembab dan lengang
namun usia kita tak pernah sama ketika memahaminya.(Kita Seperti Kata, h. 1).
Puisi yang juga pernah dipublikasi koran (harian) Indo Pos edisi 2 Agustus 2015 itu bisa kita tafsir sebagai lanskap kepercayaan penyairnya bahwa selagi manusia menjalani kehidupan dengan segala kegembiraan dan nestapanya, puisi akan tetap mendapatkan para pembacanya. Puisi itu ingin menyatakan kepada kita ihwal esensi mengapa manusia mencipta keindahan dan karya seni, semisal puisi, tak lain karena kata-kata dan bahasa yang dibunuh kapitalisme dan banalitas dunia mesin acapkali gagal menampung meluapnya rasa, sepi, cinta, dan kerinduan kita akan keindahan alam yang bersahaja dan jujur apa adanya.
Puisi itu juga hendak menggugah kita, bahwa ketika percakapan sehari-hari terasa sempit, puisi hadir memberikan ruang bagi jiwa untuk bernapas dan menemukan nadanya. Puisi hadir untuk menyegarkan kembali keintiman kita pada kejujuran dan ketulusan, pada kesahajaan yang merupakan substansi kesejatian. Nada reflektif bait terakhir puisi tersebut memberikan penutup yang liris sekaligus arif bijaksana. Disampaikan dengan ajakan berdialog dan berbincang dengan jujur tanpa manipulasi: ‘Meski kita berbagi ruang yang sama’ (rumah yang lembab dan lengang), ‘usia’ atau kematangan emosional kita dalam mengartikan cinta dan kesepian akan selalu berbeda. Bahwa pengalaman hidup dan penghayatan personal setiap orang memang akan menciptakan kenangan dan ingatan yang tidak sama, unik bagi setiap individu yang berbeda.
Dengan demikian, puisi-puisi Sulaiman Djaya bisa dikaji secara serius dan rigid, atau secara akademik, namun juga bisa diresapi dengan santai. Penyair sudah menyadari bahwa puisi-puisinya seyogyanya berkenan bagi semua kalangan, bagi yang berpendidikan tinggi atau pun sebaliknya, karenanya puisi-puisi Sulaiman Djaya dibangun dan dikonstruksi seakan-akan puisi cinta. Meskipun bila kita baca secara berulang atau dengan santai, terbaca-lah bahwa banyak puisinya yang seolah puisi cinta itu pun, sesungguhnya adalah puisi-puisi meditatif reflektif. Mari kita contohkan dengan salah satu puisinya di buku itu, yang berjudul ‘Lukisan’:
Singgah sebentar pada sepotong senja
selepas hujan, rambutmu dikerumuni
kunang-kunang. Pada bunga cuaca
di kaca beranda. Pada mimpi
yang terjaga karena bohlam.Hanya udara yang nyata, udara
yang segaib dingin pancaroba.
Tapi aku bukan Theseus yang dikutuk
setelah meninggalkan teluk,
setelah diterjang rabunkarena asmara. Di belakang pintu,
waktu terkantuk pada selembar sajak
yang tak rampung. Sementara maut
tertidur bersama daun-daun.
Seperti iklim di negeri yang letih,tahun-tahun di sepasang matamu
menjadi usia yang terhentak langit marun.
Barangkali aku adalah Odisius
yang mengarung laut dan tanjung
bertahun-tahun. Tapi sajakmungkin hanya kelakar bisu
ketika aku jatuh cinta padamu.
ketika seberkas cahaya yang lampus
seperti nasib yang tersungkur
dan enggan berkebun.(Kita Seperti Kata, h. 11).
Sekilas puisi itu adalah puisi cinta, tapi ternyata itu hanya kulitnya atau bentuk dan penampilannya saja. Misalnya di puisi itu kita dapati baris ‘nasib yang tersungkur dan enggan berkebun’ atau bunyi ‘maut tertidur bersama daun-daun’. Puisi yang pernah dipublikasi Jurnal Sajak Nomor 8 Tahun 4 (2014) itu sesungguhnya berbicara tentang ironi ambisi manusia yang berupaya mencari kompensasi dari upaya yang acapkali sia-sia seperti digambarkan dengan tokoh Odisius dan Theseus di puisi tersebut. Dua tokoh dalam cerita dan mitologi bangsa Yunani kuno. Tentu pembaca perlu mengetahui terlebih dulu siapa gerangan Theseus dan Odisius, untuk bisa memahami konteks ‘peminjaman’ reflektif puisi tersebut. Juga, dalam puisi itu, waktu digambarkan ;terkantuk pada selembar sajak yang tak rampung’ dan maut ‘tertidur bersama daun-daun, yang segera menciptakan efek magis seolah-olah dunia berhenti berputar ketika si penyair larut dalam ingatan atau kenangan tentang apa dan siapa.
Sekedar untuk mendapatkan informasi awal, terutama untuk mereka yang belum mengenal secara akrab puisi-puisi Sulaiman Djaya, kita bisa googling hingga bertanya kepada perangkat kecerdasan buatan ihwal keunikan atau karakteristik puisi Sulaiman Djaya. Sebagai contoh, bila kita ketik di google ‘Karakteristik Puisi Sulaiman Djaya’, maka perangkat kecerdasan buatan akan memberikan jawaban semisal: ‘Karya sastra dari penyair asal Banten, Sulaiman Djaya, memiliki karakteristik estetika yang sangat kuat, khas, dan kontemplatif. Puisi-puisinya kerap menggabungkan keindahan bahasa yang intim dengan kepekaan sosial terhadap realitas zaman modern.’
Dan sebagai penyair kelahiran Banten, Sulaiman Djaya pun menyertakan puisi-puisinya tentang Banten di buku antologi Kita Seperti Kata, semisal puisi yang berjudul Sundakala, yang juga pernah dipublikasi Jurnal Sajak Nomor 8 Tahun 4 (2014):
“Pun, sapun! Kula ngahaturkeun
mantra gunung, ka para karuhun
nu aya di hilir, nu aya di pucuk:
jadilah limbung, jadilah rimbun”.Ini adalah negeri para Hyang
yang menghuni gunung-gunung.
Dengan mantra paling sakti
bagi Nhay Larasati, bagi Dewi Pohaci.“Jadilah limbung, jadilah rimbun
sebab air adalah jiwa bumi
dan batang-batang hutan
adalah tiang-tiang penyangga”.Dahulu kala, di hilir Kali Pandan,
Sri Jayabupati mendirikan kota
Banten Girang. Dari kenangan
Tarumanagara yang kalah,Sunda nan resah dan gundah
selepas prahara karena asmara para raja.
Nun jauh di timur Jawa, di negeri Daha,
lelaki bernama Airlanggameregang nyawa penuh iba
karena serangan Sriwijaya nan tiba-tiba.
Dan Darmawangsa pun hijrah
ke negeri Niskala Wastu Kencanadi hilir Kali Pandan, di Banten Girang.
Tak ada kekuasaan yang kekal
melebihi usia di negeri Sunda.
Inilah negeri Banten yang tuamuasal para raja dan punggawa
yang kelak bertahta di Pakuwuan
di nagari pusaka Pajajaran,
di negeri kelahiran Raden Kian Santang.“Pun, sapun! Kami para puun
menabuh angklung-angklung buhun
agar gunung-gunung tetap kukuh
bagi segenap anak-cucu”.Dan di negeri Galuh, Rahyang Niskala
pun masygul, setelah Banten Girang
hancur-luluh oleh para perusuh,
tetangga yang cemburu pada paras ayu.“Pun, sapun! Kami para anak cucu
ngahaturkeun putih sangu
ka para puun, ka para karuhun
ka para Hyang di gunung-gunung”.(Kita Seperti Kata, h. 7).
Sumala Djaya, bekerja di SMA PGRI Kragilan, Kab, Serang, Banten

























