BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Pesantren menghadapi pekerjaan rumah besar: tidak cukup hanya mencetak generasi saleh dan memahami agama, tetapi juga harus menyiapkan santri agar mampu mengambil peran strategis dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan pembangunan nasional.
Pesan itu ditegaskan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, KH Imam Jazuli, saat membuka perspektif pengembangan pesantren dalam Workshop Pesantren Rintisan ke-5 yang diselenggarakan Imam Jazuli Foundation (IJF) di Aston Hotel Serang, Banten, Ahad (18/10/2026).
“Pesantren memiliki pekerjaan rumah besar: bagaimana mengantarkan santri agar dapat menempati posisi strategis dalam pembangunan Indonesia, bukan menjadi kelompok yang terpinggirkan,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, tersebut dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).
Menurut Kiai Imam Jazuli, pendidikan pesantren perlu diarahkan pada peningkatan mutu, pembenahan tata kelola, dan penguatan kompetensi santri. Tujuannya, agar lulusan pesantren tidak hanya memiliki bekal keagamaan, tetapi juga mampu bekerja, berwirausaha, meningkatkan kesejahteraan, serta memberdayakan masyarakat.
Kiai Imam Jazuli menilai kemampuan membaca perubahan menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan pesantren. Ia menyoroti fenomena sejumlah pesantren lama yang mengalami penurunan jumlah santri, sementara beberapa pesantren baru justru tumbuh pesat.
“Mengapa banyak pesantren lama mengalami penurunan jumlah santri, sementara sejumlah pesantren baru justru mengalami peningkatan jumlah santri yang pesat? Kuncinya terletak pada respons terhadap perubahan,” katanya.
Menurutnya, pesantren perlu mengevaluasi metode pendidikan, manajemen kelembagaan, dan program pembelajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat. Namun, pembaruan itu harus tetap menjaga identitas pesantren dan nilai-nilai keislaman.
Dengan pendekatan tersebut, pesantren diharapkan mampu melahirkan santri yang kuat dalam pemahaman agama sekaligus memiliki kecakapan menghadapi tantangan kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Selain adaptasi, Kiai Imam Jazuli menekankan pentingnya membangun kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan pesantren.
Ia menyebut proporsi penduduk Indonesia usia sekolah yang menempuh pendidikan di pesantren masih sekitar 5 persen. Angka tersebut, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pesantren untuk memperluas kontribusinya dalam pendidikan nasional.
“Jumlah penduduk Indonesia usia sekolah yang masuk pesantren masih sangat sedikit, kurang-lebih 5 persen, sehingga harus bergandengan tangan untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai peningkatan mutu pendidikan dan tata kelola menjadi bagian penting untuk menjawab tantangan tersebut. Pesantren perlu menunjukkan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu membentuk karakter, memperkuat pemahaman agama, dan mempersiapkan masa depan santri.
Gagasan tersebut disampaikan di hadapan 680 pengasuh pesantren yang mengikuti Workshop Pesantren Rintisan ke-5 di Serang. Jumlah peserta melampaui kapasitas awal yang disiapkan panitia, yakni 500 orang.
Peserta merupakan pengasuh atau pengambil keputusan di lembaga masing-masing. Panitia mensyaratkan kehadiran langsung agar materi dan strategi pengembangan pesantren dapat dipahami oleh pihak yang memiliki kewenangan menerapkannya.
Perwakilan Imam Jazuli Foundation, Ubaydillah Anwar, mengatakan program Workshop Pesantren Rintisan menargetkan 10.000 pengasuh pesantren. Setelah angkatan kelima di Banten, jumlah peserta yang telah mengikuti rangkaian program tersebut mencapai sekitar 3.600 orang, menurut panitia.
Program ini melanjutkan Workshop Transformasi Pesantren yang telah diikuti sekitar 5.000 pengasuh pada Juli–Agustus 2026. Kedua program menyasar kelompok pesantren berbeda.
Workshop Transformasi Pesantren ditujukan bagi lembaga yang memiliki lebih dari 100 hingga 3.000 santri. Sementara itu, Workshop Pesantren Rintisan menyasar pesantren dengan jumlah santri kurang dari 100 orang, lembaga yang sedang dirintis, serta pengelola yang ingin mengintegrasikan sekolah dengan pesantren.
Ubaydillah menjelaskan, kebutuhan kegiatan, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi peserta, ditanggung Imam Jazuli Foundation.
“IJF tidak menerima donasi dalam bentuk sedekah, zakat, atau wakaf dari pihak luar,” tegasnya.
Dalam workshop tersebut, Kiai Imam Jazuli juga membagikan pengalaman mengembangkan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon. Pesantren yang berdiri pada 2013 itu kini memiliki lebih dari 5.000 santri.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu materi pembelajaran bagi para pengasuh yang tengah merintis maupun mengembangkan lembaga pendidikan pesantren.
Salah seorang peserta, KH Shofiullah dari Lebak, mengaku memperoleh perspektif baru untuk mengembangkan lembaga yang diasuhnya.
“Saya sudah lama membaca tulisan-tulisan Kiai Imam Jazuli di media sosial. Bagi saya sebagai pengasuh pesantren rintisan, materi yang disampaikan membuka pemikiran dan menguatkan keyakinan saya untuk melangkah,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan pengijazahan wirid dan tirakat Dalailul Khairat oleh Kiai Imam Jazuli.
Pesan utama workshop tersebut menegaskan bahwa masa depan pesantren tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga tradisi, tetapi juga oleh kesiapan meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat tata kelola, dan menyiapkan santri agar mampu berkontribusi lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.

























