• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Islam, Tradisi, Sastra: Tentang Perjumpaan Tekstual

Islam, Tradisi, Sastra: Tentang Perjumpaan Tekstual

February 17, 2024
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memimpin konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)

Ketum PBNU Tegaskan Seluruh Unsur Organisasi Kompak Hadiri Harlah Ke-100 NU

January 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Islam, Tradisi, Sastra: Tentang Perjumpaan Tekstual

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
February 17, 2024
in Uncategorized
A A
0
Islam, Tradisi, Sastra: Tentang Perjumpaan Tekstual

Sulaiman Djaya, adalah esais dan penyair dan pengasuh pondokpesantren

508
SHARES
1.5k
VIEWS

Banten, LIPUTAN 9

SAYIDINA ALI berkata: Musibah terbesar adalah kebodohan. Tak ada agama yang akan tumbuh dengan orang-orang bodoh.

Segalanya bermula dari perjumpaan dengan dunia membaca, ketika saya belajar secara formal di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan menjadi seorang pembaca dan pengkaji literatur di Forum Mahasiswa Ciputat. Berjumpa dengan pikiran para penulis dari Timur (Iran) dan dari Barat (para filsuf Anglo-Saxon dan Kontinental Eropa) serta Amerika hingga khazanah sastra Indonesia, Arab dan Barat.

Sebagai seorang yang pernah akrab dengan kitab kuning di dunia pesantren, saya mendapatkan hal baru ketika berjumpa literatur dan buku-buku filsafat, dari ateisme hingga Marxisme ketika beberapa tahun numpang duduk di kelas di Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin sebuah kampus Islam di Ciputat, yang bersamaan dengan itu saya ikut aktif dalam sebuah forum studi dan kajian para mahasiswa di kawasan Semanggi-Ciputat. Kemudian segera mengenal seni atau khazanah dan produk-produk kultural yang terkait dengan Marxisme dan gerakan-gerakan kiri, semisal mengenal penyanyi yang bernama Nathalie Cardone dan Ibrahim Ferrer yang menyenandungkan lagu tentang Che Guevara: Hasta Siempre. Sejak itu, yang namanya Marxisme, ateisme, buku-buku para filsuf Iran bukan lagi sebagai bacaan-bacaan yang tabu bagi saya –sembari menikmati lagu-lagunya Ibrahim Ferrer dan Nathalie Cardone.

BeritaTerkait:

Rumi

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

Kiai Zulfa Mustofa Kunjungi Sejumlah Pondok Pesantren di Jawa Timur

Begitulah, ada masa-masa ketika saya mencampakkan Islam, masa-masa ketika saya bergairah mencandra filsafat Barat dan khazanah ateisme. Masa-masa itu kemudian berakhir ketika saya membaca buku-buku yang ditulis para intelektual Islam di Iran -dan segera saya pun kembali menemukan Islam, dan tentu saja dengan pemahaman yang berbeda, bahkan merasa menemukan Islam yang memang sudah lama hilang dan disembunyikan dari narasi sejarah tradisi Islam saya sebelumnya.

Saya mengenal Islam, dan kemudian “menghidupinya”, mula-mula tentulah karena saya lahir dari keluarga muslim –yang seperti nanti akan saya paparkan, berbeda dengan ketika saya berkenalan dengan sastra secara khusus, dan kesenian secara umum. Saya dididik dalam tradisi Islam sejak kanak-kanak oleh almarhumah ibu saya sendiri –sebelum saya belajar Islam, utamanya al Qur’an, kepada ustad-ustad saya di kampung, dan belajar fikih, nahwu, sharaf di pesantren selepas saya lulus sekolah menengah pertama. Namun, ada persamaan mendasar: Islam dan Sastra yang saya kenali dan saya akrabi ada dan hadir dalam sebuah “tradisi”, yang pertama tradisi keagamaan dan yang kedua tradisi pendidikan sekuler.

Awalnya, saya mengenal dan mengakrabi Islam dengan anggapan bahwa Islam merupakan agama yang hanya berkenaan dengan tauhid dan ibadah ritual semata –yang kemudian anggapan itu berubah ketika saya menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi Islam di Ciputat. Di fase inilah, saya menjadi seorang yang kembali mencari Islam –setelah saya berkenalan dengan Islam yang telah saya katakan itu, yang kemudian tanpa sengaja, saat saya bergelut dengan dunia kajian mahasiswa di Ciputat, saya menjumpai Islam yang demikian luas: sebagai sebuah khazanah sekuler dan wawasan peradaban.

Dengan apa yang saya paparkan itu, dapatlah dikatakan, perkenalan saya dengan Islam, setelah perkenalan dari tradisi di kampung dan dalam keluarga sendiri, yang kemudian juga perkenalan saya dengan sastra, kemudian karena sebuah pergulatan, meski mula perjumpaannya bisa dibilang sebagai kebetulan, yang barangkali dengan bahasa lain dapat disebut karena “takdir”. Adalah juga sebuah kebetulan –yang barangkali memang takdir, saya berkenalan dengan dunia kajian di luar kuliah dan kemudian merasa nyaman dengan dunia tersebut, setelah salah-seorang teman saya, yang justru kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Diryarkara, mengajak saya untuk hadir di sebuah diskusi tentang Karl Marx.

Saya merasa perlu memaparkan hal tersebut tak lain karena perjumpaan dengan dunia dan “tradisi” yang lain itu telah memperkaya pemahaman saya tentang Islam, sebelum bersamanya pula saya berkenalan dan kemudian akrab dengan sastra –juga terjadi di Ciputat. Bila di keluarga sendiri dan di pesantren saya hanya belajar al Qur’an, fikih, nahwu, sharaf, di Ciputat itulah saya jadi tahu bahwa Islam juga berkenaan dengan sejarah, peradaban, pemikiran, bahkan seni, dan tentu pula kesusastraan. Itu semua merupakan hal-hal baru, juga khazanah baru –yang kemudian memancing minat saya, ditambah lagi forum kajian yang saya ikuti menyelenggarakan jadwal kajian Islamic Studies secara berkala seminggu sekali.

Andai saya tidak memilih Ciputat, mungkin ceritanya akan lain. Sekedar informasi, saya juga mendaftarkan diri saya ke IAIN Maulana Hasanuddin Banten, selain ke Ciputat, dan kebetulan diterima di kedua kampus tersebut. Namun, entah karena dorongan apa, yang saya tak ingat lagi, saya memutuskan untuk memilih Ciputat, memilih IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat, dan kemudian menjalani masa-masa yang bersahaja namun bergairah dalam dunia kajian mahasiswa di luar jam kuliah –mengakrabi filsafat, bahkan sempat meninggalkan tradisi ritual keagamaan saya karena terpengaruh wacana-wacana filsafat ateisme, hingga tak jarang saya melontarkan hal-hal yang “tabu” menyangkut Islam.

Tetapi waktu memang terus berjalan, dan saya diberi kesempatan menikmati rahmat terbesar saya dari Tuhan –yaitu usia, hingga saya kemudian berkenalan dengan khazanah dan diskursus pemikiran Islam, “dunia” filsafat dan pemikiran dari para penulis Islam di Iran, semisal Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari, Syahid Sayid Muhammad Baqir Sadr, dan Ali Syari’ati –yang pelan-pelan mengembalikan saya ke Islam. Demikian lah perkenalan saya berlanjut hingga membaca buku-bukunya Mohammed Arkoun, Syed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, dan yang lainnya. Dari sanalah, saya menjumpai Islam sebagai kekayaan yang lain, dalam arti bukan semata wacana fikhiyyah –dan yang tak diragukan lagi, telah membuka mata saya tentang keberadaan khazanah ilmu Islam yang sebelumnya tidak saya ketahui.

Di Ciputat itulah, saya berkenalan dengan pemikiran dan tulisan-tulisan Karl Marx dan Marxisme, yang kemudian tanpa sengaja, beberapa bulan kemudian, berkenalan dengan Marx-nya Islam, yaitu Ali Syari’ati. Sembari terus mengakrabi filsafat Barat dan kesusastraan, saya membaca tulisan-tulisan para filsuf, ulama, dan penulis Islam Iran, tentu juga khazanah Islam lainnya. Inilah fase di mana saya “kembali berjumpa” dengan Islam –setelah dalam waktu yang cukup lama saya mencampakkannya ketika asik dengan khazanah filsafat sekuler dan ateisme.

Sebab, haruslah saya akui, ketika saya asik dalam khazanah materialisme, ateisme, dan sekulerisme itulah saya mulai berani meragukan agama, dan bahkan mulai berani meninggalkan ritual Islam saya. Sementara itu, khazanah kesusastraan saya kenal lewat jurnal dan majalah berkala, semisal majalah sastra Horison dan jurnal Kalam –yang selebihnya dari lembar-lembar koran –alias harian, di setiap hari minggu, karena kebetulan tempat kajian di mana kemudian saya tinggal, berlangganan semua terbitan itu.

Bersamaan dengan itu semua, saya mulai terbuka dengan khazanah Islam yang lain, semisal Islam di Iran –yah lewat pembacaan tekstual, lewat buku dan tulisan. Dengan sendirinya saya mulai memandang tinggi tradisi menulis, tak lain karena saya berjumpa dengan khazanah yang sebelumnya saya tidak ketahui tersebut dapat saya kenali, saya akrabi, saya kaji, singkatnya: saya baca, tak lain lewat buku dan tulisan.

Akhirnya, dapatlah dikatakan bahwa perjumpaan saya dengan kesusastraan dan perjumpaan kembali saya dengan Islam, tak lepas dari pembacaan, “tradisi yang lain”, pergulatan serta pencarian intelektual itu sendiri –yang memang tidak terlepas dari buku-buku, tulisan, singkatnya dengan “teks”, setelah sebelumnya saya juga menjumpainya, yang dalam hal ini sisi keagamaan saya, dalam “tradisi”, dalam sebuah dunia yang tidak terlepas dari “situasi epistemiknya” serta wawasan dan khazanahnya. Dalam hal ini, “pembacaan” dan “penulisan” merupakan sebuah ikhtiar dalam rangka “menghidupkan” sekaligus merawat, dan tentu juga dalam rangka menghindari “kemalasan intelektual” sejauh menyangkut keduanya.

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

Tags: IslamSastraSulaiman DjayaTradisi
Share203Tweet127SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Rumi
Opini

Rumi

by liputan9news
January 17, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS “Cinta adalah dasar perbuatanku” (Muhammad Rasulullah Saw). “Agama itu cinta dan cinta adalah agama” (Imam Muhammad Al-Baqir...

Read more
Sulaiman-Djaya

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

December 28, 2025
Sulaiman-Djaya

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

December 24, 2025
Penjabat (Pj.) Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Zulfa Mustofan menyambangi sejumlah pesantren di Jawa Timur. (Foto: Dok. PBNU).

Kiai Zulfa Mustofa Kunjungi Sejumlah Pondok Pesantren di Jawa Timur

December 19, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In