JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) bekerja sama dengan Komunitas Muda Madura (KAMURA) menggelar Seminar Nasional bertajuk “KEK Tembakau: Instrumen Pemerataan dan Transformasi Ekonomi Madura” di Hotel Diradja, Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Seminar ini menjadi ruang diskusi lintas pemangku kepentingan untuk membahas masa depan industri tembakau Madura dalam kerangka pembangunan ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh akademisi, peneliti, aktivis, serta perwakilan lembaga negara. Sejumlah narasumber yang hadir antara lain anggota Komisi XI DPR RI Eric Hermawan, Dewan Pengurus LP3ES Gus Hamid, peneliti senior LP3ES Buya Tafta Zani, Kepala Biro Perencanaan dan Pembentukan KEK Paulus Riyanto, serta perwakilan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sri Hananto.
Eric Hermawan menilai usulan KEK Tembakau yang digagas Komunitas Muda Madura menarik karena menawarkan model pembangunan berbasis ekosistem ekonomi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia membayangkan sebuah ekosistem di mana proses penanaman, pengolahan, hingga industrialisasi berjalan dalam satu rantai nilai yang utuh.
“Dalam konteks tembakau, pembangunan tidak boleh berhenti pada industri rokok. KEK ini juga membuka ruang bagi pengembangan ekstraksi nikotin untuk kepentingan farmasi dan kosmetik,” ujarnya.
Eric menambahkan bahwa KEK Tembakau merupakan gagasan konkret untuk mengubah ketergantungan ekonomi masyarakat Madura menjadi sumber kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.
Dari sisi regulator, perwakilan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sri Hananto menyatakan bahwa pihaknya pada prinsipnya terbuka dan siap mendukung pembentukan KEK Tembakau, sepanjang menjadi tujuan bersama dan disiapkan secara matang.
“Jika secara prinsip KEK ini memang menjadi tujuan bersama dan disetujui oleh Dewan KEK, maka dari pihak Bea Cukai tentu akan mendukung,” terangnya.
Dalam sesi talkshow, peneliti senior LP3ES Buya Tafta Zani memberikan perspektif historis dan sosiologis mengenai tembakau di Madura. Ia menekankan bahwa tembakau tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang dan struktur sosial masyarakat Madura.
“Saya melihat tembakau bukan semata-mata fenomena ekonomi, tetapi juga bagian dari sejarah dan struktur sosial masyarakat Madura. Tembakau telah lama menjadi lokomotif penting ekonomi Madura,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pada masa lalu, produksi rokok melalui industri rumahan di Madura merupakan bentuk perlawanan masyarakat terhadap praktik ekonomi yang tidak adil. Menurutnya, fenomena tersebut seharusnya dibaca sebagai bentuk negosiasi ekonomi masyarakat Madura untuk bertahan hidup di tengah struktur industri tembakau yang timpang.
“Fenomena ini harus dilihat sebagai reaksi alamiah masyarakat terhadap struktur ekonomi tembakau yang tidak cukup adil bagi petani dan pelaku industri kecil,” jelasnya.
Dewan Pengurus LP3ES Gus Hamid menegaskan bahwa isu tembakau tidak dapat dipandang secara sempit hanya sebagai persoalan rokok dan perokok. Menurutnya, terdapat dimensi moral dan sosial yang kerap terabaikan, terutama yang berkaitan langsung dengan kehidupan petani tembakau.
Menurutnya, tembakau memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih luas melalui berbagai produk turunannya.
“Banyak orang memandang tembakau hanya karena satu produknya, tanpa melihat beragam produk turunan lainnya,” katanya.
Seminar nasional ini diharapkan menjadi titik awal konsolidasi gagasan dan dukungan lintas sektor terhadap pembentukan KEK Tembakau di Madura. Melalui forum ini, LP3ES dan KAMURA mendorong agar tembakau tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas bahan mentah, melainkan sebagai basis pembangunan ekonomi yang terintegrasi dan berkeadilan.
Diskusi yang berlangsung juga menunjukkan bahwa pembentukan KEK Tembakau tidak hanya memerlukan dukungan kebijakan, tetapi juga kesiapan riset, regulasi, serta sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, KEK Tembakau diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai tambah, memperkuat posisi petani, serta membuka peluang industrialisasi baru bagi perekonomian Madura ke depan.
(MFA)
























