• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Banten Girang –Prahara di Cibanten

January 14, 2025
Membangun kesadaran bahwa pelipatan pahala ibadah tidak hanya di bulan Ramadan.

Kiat Menjaga Ketaqwaan Pasca Ramadan

April 2, 2026
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Untuk Akhiri Konflik Timur Tengah (Foto: JPNN.COM)

Dorong Perdamaian, PBNU Temui Dubes Arab Saudi

April 2, 2026
Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

Musisi dan Bassist Muda Rahman Torana Masuk 50 Besar S2 Magister Law and Finance (MLF) Oxford University

April 2, 2026
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PNIB: Dialah Pahlawan Perdamaian yang Sesungguhnya

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PNIB: Dialah Pahlawan Perdamaian yang Sesungguhnya

April 2, 2026
Ketua Umum DPP Kesatuan Tour Travel Haji Umroh Republik Indonesia (Kesthuri) Asrul Azis Taba. (Foto: Antara)

Jadi Tersangka Korupsi Haji, Ketum Kesthuri Asrul Azis Taba Diminta Pulang dari Saudi

April 1, 2026
Hilmab Latief, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) saat melaksanakan tugas di Makkah (Foto: Dok. Kemenag)

KPK Ungkap Hilman Latief Akui Terima Uang Terkait Korupsi Kuota Haji

April 1, 2026
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (04/03/2026). (Foto BPMI Setpres)

Pemerintah Aktifkan Kembali 625 Ribu Penerima BPJS Kesehatan

April 1, 2026
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu (kiri) didampingi juru bicara KPK, Budi Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin, 30 Maret 2026. (Foto Niaga.Asia/G Sitompul)

KPK Sebut Ismail Adham Berikan Uang Kepada Hilman Latief, Diduga Terkait Korupsi Kuota Haji

March 31, 2026
Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur (Foto: Antara/MSN)

KPK Tetapkan Direktur Maktour dan Ketum Kesthuri Tersangka Korupsi Kuota Haji

March 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, April 3, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Lainnya Seni Budaya

Banten Girang –Prahara di Cibanten

Oleh: Sulaiman Djaya

liputan9news by liputan9news
January 14, 2025
in Seni Budaya
A A
0
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Budayawan

502
SHARES
1.4k
VIEWS

Banten | LIPUTAN9NEWS

Dalam pertempuran tak imbang itu, sejumlah prajurit di depan benteng dan gapura ibukota Banten Girang telah siaga kapan saja jika tindakan mereka untuk membakar cairan pada sebuah parit yang mengelilingi benteng itu akhirnya harus disulut dan dinyalakan.

Para prajurit itu sadar tengah berperang dengan kerajaan yang memiliki angkatan perang lima kali lipat lebih besar dari kekuatan mereka. Dan pada saat itu pula, mereka juga tahu pasukan yang tengah melakukan pertempuran dengan kawan-kawan dan saudara-saudara mereka itu baru sebagian dari kekuatan pasukan yang harus mereka lawan dengan terpaksa.

Sementara itu, di tempatnya, Prabu Sri Jayabupati telah bangkit dari semedi dan tapa singkatnya, dengan dikawal langsung oleh Ki Purba. Dua petinggi negeri Kerajaan Sunda itu telah lengkap mengenakan pakaian dan perlengkapan perang mereka.

BeritaTerkait:

Belajar dari Einstein

Seni yang Menyadarkan

Pemimpin Harus Mengafirmasi Aspirasi Masyarakat

Ekoteologi dan Falsafah Perennial Ekologi Masyarakat Kanekes Banten

Senjata pusaka milik mereka masing-masing, pelindung lengan, dan ketopong yang dikirim dari dinasti Song di negeri Yunan yang jauh ternyata pas dengan kepala mereka setelah seniman gambar mengirimkan sketsa wajah para petinggi negeri Banten Girang itu ke negeri Yunan.

Di tempat lain, di Pelataran Banusri, dengan rasa percaya diri, namun tetap waspada, Ranubaya berjalan dengan gegap-gempita bersama dengan seratus prajurit yang masing-masing hanya bersenjatakan tombak yang lebih mirip lembing di tangan dan golok di pinggang.

Mereka berangkat bersama-sama dari sisi Barat benteng ibukota Banten Girang. Tugas mereka hanya satu: memancing sebagian kekuatan lawan dengan jalan melemparkan tombak-tombak mereka ke arah pasukan yang lebih banyak dari mereka tersebut, dan setelah itu mereka pun berlari ke arah pinggiran sungai yang disusul oleh pasukan lawan, sebuah sungai bernama Kali Pandan (Sungai Cibanten).

Dan akhirnya, tak lama kemudian, di tepi sungai itulah mereka bertarung, hingga pasukan lawan yang tewas diceburkan ke sungai, yang tak ayal lagi telah membuat Kali Pandan menjadi berwarna merah dan segera menghembuskan bau anyir darah segar di saat waktu telah mendekati senja. Persis ketika sejumlah pasukan musuh mengejar kelompoknya Ranubaya itu, pasukan yang dipimpin Aria Wanajaya telah berhasil memukul mundur dan menewaskan sejumlah pasukan lawan yang berusaha merangsek ke Alas Dawa atau yang lebih dikenal dengan Alas Banten Girang.

Kedua pasukan itu pun segera bergabung dan langsung menggempur pasukan lawan yang berada di dekat Kali Pandan.

Untuk sementara mereka masih sanggup menahan pasukan lawan yang terus memaksa untuk mendekati benteng ibukota Banten Girang yang memang bertujuan untuk menghancurkan pusat ibukota tersebut.

Saat itu Aria Sentanu tampak begitu gagah perkasa menjejakkan kedua kaki depannya ketika sejumlah prajurit lawan berusaha mendekati dan menghantamkan senjata ke arah Aria Wanajaya. Namun dengan sigap, Aria Wanajaya selalu berhasil menyabetkan goloknya yang lebih panjang dari kebanyakan golok milik prajurit lainnya ke arah siapa saja yang mencoba mencelakakan ksatria yang anggun itu.

Hanya saja, pertarungan yang sebenarnya cukup sengit itu, ternyata, bagi pihak lawan baru merupakan ajang uji coba untuk menerka dan mengetahui kekuatan lawan mereka. Juga sebaliknya, Prabu Sri Jayabupati menyadari intrik dan taktik lawannya, dan karena itu, ia bersama Ki Purba dan sejumlah perwira lainnya, tidak mau terburu-buru untuk turun ke medan laga sebelum mengetahui kekuatan pasukan lawan sesungguhnya.

Ketika itulah, di balairungnya, ia teringat iparnya, Airlangga di bagian paling Timur pulau Jawa yang juga pernah mengalami kemelut yang sama seperti yang tengah ia hadapi tersebut.

Begitulah untuk sementara, Sri Jayabupati masih bisa memperpanjang waktu agar kekuatan musuh tak segera dapat mendekati ibukota Banten Girang. Ia sadar ia tengah menghadapi sebuah badai di saat ia mengibaratkan dirinya bak tumpukan bata yang akan roboh bila badai itu akan datang dengan hantaman yang lebih keras. Tetapi, tentu saja, ia tak mungkin menampakkan ketakutan dan rasa kecut di dalam hatinya itu menyebar ke wajahnya, ia tetap berusaha sigap dan optimis.

Kini, setelah Sudamala wafat beberapa waktu lalu, ia mengandalkan Prabasena, Ranubaya, Surajaya, dan terutama Aria Wanajaya yang telah terbukti efektif untuk menggerogoti dan mengurangi kekuatan lawan.

Pada saat itulah ia memerintahkan Ki Kanta untuk pergi ke arah utara ke sebuah tempat di dekat Sungai Cisadane, demi mendapatkan kekuatan tambahan. Dan seketika itu pula, ia mengijinkan Ki Kanta menggunakan salah-satu kuda miliknya sebagai tunggangan agar bisa melakukan tugas dengan cepat, ketika di ibukota sendiri akan tetap berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk berusaha menahan kekuatan musuh agar tetap tidak dapat mendekat.

Ia pun memerintahkan Ki Purba untuk mengamankan dan membawa kaum perempuan dan anak-anak ke sebuah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Ki Purba, di lereng Gunung Karang.

Dengan rasa bimbang, Sri Jayabupati seolah tengah mengangankan kabut di depan kedua matanya sendiri, di saat ia merasa terlambat untuk meminta bantuan saudaranya di Jawa, di saat saudaranya sendiri di Jawa tengah merasakan nasib yang sama akibat amarah dan balas dendam Sriwijaya. Tapi nasi telah menjadi bubur dan nasib itu harus ia tanggung sendiri.

Di malam kesekian ia menyepi dan bersemedi itu, istri dan keluarganya telah mengosongkan ruangan di mana mereka seharusnya ada. Beberapa anggota keluarganya ia perintahkan untuk pergi, mengungsi, dan meminta bantuan kepada saudara-saudara mereka yang hidup dan menghuni di sebuah daerah ke arah Barat, ke daerah yang dialiri oleh Sungai Cikalumpang di sekitar Gunung Wangun. Di sebuah daerah yang sebenarnya masih lebat dengan pohon-pohon raksasa dan hutan yang dihuni binatang-binatang buas.

Sebagian di antara kelompok yang hijrah itu, selain kaum perempuan, adalah beberapa pengrajin yang hanya sanggup menyelamatkan beberapa milik mereka, ketika ibukota Banten Girang sendiri telah resmi hanya dihuni para perwira, senopati, dan para prajurit.

Sesaat setelah Ranubaya dan Aria Wanajaya bersama para prajurit mereka yang tersisa selepas pertempuran yang gagah-berani dan gegap-gempita di dekat Kali Pandan itu, Sri Jayabupati memerintahkan mereka untuk membangun sebuah pagar-pagar runcing dengan jalan menebang ratusan pohon Albasia, agar bila sewaktu-waktu ketika pasukan lawan tak lagi mampu mereka tahan, mereka bisa berlindung dibaliknya sembari melemparkan kayu-kayu runcing dan tombak yang tersisa sebelum bertarung dengan jalan berhadap-hadapan.

Sebagian yang lain, yang rupa-rupanya para empu dan para pengrajin ahli yang tak mengungsi, sibuk membuat senjata-senjata tambahan dan memanaskan sejumlah cairan untuk mereka tumpahkan ke parit-parit tambahan yang baru digali. Sedangkan beberapa dari mereka menanak ubi dan hasil kebun lainnya untuk menghilangkan rasa lapar dan rasa lelah mereka.

Dan begitulah, keesokan harinya, karnaval dari seberang lautan kembali datang dengan gagah-berani, dan kali ini dengan jumlah yang lebih besar bersama dengan para senopati dan para panglima mereka.

Sulaiman Djaya, Pemerhati Sosial Kebudayaan

Tags: Banten GirangCerpenSulaiman Djaya
Share201Tweet126SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Sulaiman-Djaya
Opini

Belajar dari Einstein

by Sulaiman Djaya
March 10, 2026
0

BANTEN | LIPUTAN9NEWS “Saya bukan jenius, saya hanya selalu ingin tahu,” demikian ujar Einstein tentang betapa bakat dan kecerdasan saja...

Read more
Sulaiman Djaya

Seni yang Menyadarkan

February 27, 2026
Sulaiman Djaya

Pemimpin Harus Mengafirmasi Aspirasi Masyarakat

February 25, 2026
Sulaiman-Djaya

Ekoteologi dan Falsafah Perennial Ekologi Masyarakat Kanekes Banten

March 15, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2540
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Membangun kesadaran bahwa pelipatan pahala ibadah tidak hanya di bulan Ramadan.

Kiat Menjaga Ketaqwaan Pasca Ramadan

April 2, 2026
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
PBNU Temui Dubes Arab Saudi, Dorong Diplomasi Untuk Akhiri Konflik Timur Tengah (Foto: JPNN.COM)

Dorong Perdamaian, PBNU Temui Dubes Arab Saudi

April 2, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In