JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Ratusan warga Nahdlatul Ulama mengecam sikap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang mendukung keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald John Trump. Protes mereka dituangkan lewat surat terbuka itu yang tersebar di sejumlah wilayah.
Warga Nahdlatul Ulama dari berbagai latar belakang mencantumkan nama di surat terbuka tersebut. Deretan nama tersebut di antaranya Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta M. Mustafid, Wakil Ketua Fatayat NU DIY Rika Iffati Farihah, Marzuki Wahid dari Institut Studi Islam Fahmina, pegiat hak asasi manusia dan perempuan Masruchah, aktivis antikorupsi Wasingatu Zakiyah, pengajar Pesantren Ekologi Misykat al Anwar Roy Murtadho, serta akademisi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Achmad Munjid.
Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta M. Mustafid mengatakan ratusan warga NU tersebut prihatin dan menolak tegas keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace. Mereka mengecam sikap Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf yang menyebut langkah Presiden Prabowo membawa Indonesia masuk Dewan Perdamaian merupakan jalan yang tepat dalam memperjuangkan Palestina.
Mustafid mengatakan, klaim itu terdengar mulia. Padahal pernyataan itu mengabaikan kenyataan bahwa banyak intelektual Indonesia dan dunia telah lama mengingatkan bahwa perdamaian yang dibangun tanpa keadilan hanyalah kelanjutan imperialisme-kolonialisme dengan bahasa yang manipulatif.
“Sementara itu, darah tetap mengalir, tanah terus dirampas, dan kemerdekaan Palestina semakin menjadi ilusi,” ujar Mustafid melalui siaran pers yang diterima Liputan9news, pada Selasa (03/02/2026).
Pernyataan bahwa keterlibatan Indonesia diperlukan demi membuka akses, kata Mustafid, memang terdengar masuk akal. Namun, logika itu rapuh ketika mengabaikan sejarah, relasi kuasa, dan struktur dominasi.
Mustafid mencontohkan sejumlah pemikir ekonomi politik telah lama mengingatkan bahwa akses yang dibuka oleh pusat kekuasaan global seringkali bukan pintu dialog, namun menjadi alat pengendalian dan tempat suara korban dibungkam agar tidak mengganggu arus kepentingan ekonomi dan geopolitik.
Lebih lanjut, Musftafid menegaskan bahwa forum-forum kekuasaan global seperti Board of Peace (BoP) bukanlah ruang hampa nilai. Tapi lahir dari sejarah panjang sejak pendudukan dan genosida atas warga Palestina, dari Nakba hingga Gaza hari ini.
“Forum-forum itu justru didesain membangun dan memelihara ketimpangan struktural atas pendudukan dan genosida warga Palestina,” terangnya.
Selain itu, pengajar Pesantren Ekologi Misykat al Anwar, Roy Murtadho, mengatakan Board of Peace sejak kelahirannya lebih menyerupai perpanjangan tangan kepentingan Amerika Serikat ketimbang upaya perdamaian yang sah dan berkeadilan.
“Forum itu dirancang secara sepihak, bahkan tanpa satu pun perwakilan Palestina sebagai pihak yang paling terdampak di meja perundingan. Perdamaian tanpa kemerdekaan Palestina hanyalah gema kepentingan geopolitik dan ekonomi AS,” jelasRoy Murtadho.
Formula tersebut, kata dia, sama sekali bukan jawaban atas ketidakadilan struktural yang dialami rakyat Palestina. Board of Peace mereduksi genosida di Gaza sebagai proyek rekonstruksi dan rehabilitasi untuk menjadi ladang bisnis kepentingan negara penindas, bukan menyembuhkan jeritan kemanusiaan dan luka sejarah yang menuntut keadilan mendalam.
Menurut Roy, kepemimpinan moral NU sedang diuji. Seorang pemimpin organisasi ulama, kiai, dan pejuang tidak seharusnya menyederhanakan persoalan dengan seruan harus terlibat, tanpa menimbang risiko etik dan politik. Para muassis (pendiri) dan masyayikh (kiai sepuh) NU telah mewariskan kehati-hatian terhadap kekuasaan zalim yang mengingatkan bahwa agama akan kehilangan ruhnya ketika dijadikan legitimasi penindasan dan penjajahan.
Roy Murtadho menyebutkan, Palestina bukan sekadar strategi diplomasi, isu hubungan internasional yang bisa ditimbang untung-ruginya, dan transaksi tarif perdagangan global. Palestina merupakan benteng terakhir perjuangan moral dunia hari ini. Di sanalah pertarungan antara kebenaran sejati dan kesesatan berlangsung tanpa tirai. Genosida yang terus terjadi saat ini merupakan imperialisme-kolonialisme yang dipertahankan dengan berbagai instrumen internasional.
“Ini adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan,” tegasnya.
Kegagalan Indonesia dalam menghentikannya adalah kegagalan politik mewujudkan tujuan nasional, kegagalan nurani, dan kegagalan kemanusiaan. Membicarakan Palestina hanya dengan bahasa damai dan stabil tanpa keadilan adalah upaya meredam perlawanan dan menormalkan pendudukan, genosida, dan ketidakadilan struktural.
Sebab, kata dia, narasi damai yang dilepaskan dari keadilan hanya akan mengulang sejarah lama. Narasi itu menjadikan korban sebagai objek pengaturan, bukan subjek penentu nasibnya sendiri. Inilah yang berulang kali diperingatkan oleh para pemikir global bahwa imperialisme-kolonialisme paling licik justru bekerja ketika kekerasan diberi wajah prosedural, dialogis, damai, dan ketimpangan diberi label kompromi untuk kesejahteraan.
Selanjutnya, Roy menyerukan, PBNU seharusnya berdiri sebagai penjaga nurani umat dan pembimbing moral bagi jutaan warganya mengenai mana yang benar dan mana yang sesat.
“Sejarah NU justru kuat karena kemampuannya menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan, kemampuan menyuarakan kebenaran dan keadilan meskipun pahit, bukan karena kedekatan dengan kekuasaan,” utaranya.
Ketegasan moral, kata Roy, merupakan bentuk kesetiaan pada prinsip yang diwariskan para ulama. Dunia boleh berubah, peta kekuasaan boleh bergeser, tetapi prinsip etik tidak boleh diputar agar sejalan dengan arah angin. NU seharusnya menjadi ruang kejernihan keberpihakan.
NU dituntut berbicara tidak hanya dengan bahasa yang bisa diterima oleh kekuasaan, tetapi dengan bahasa yang benar di hadapan sejarah dan Allah.
“Amanah keulamaan diuji dengan membela kebenaran, keadilan, yang tertindas, dan melawan kezaliman mesli berseberangan dengan arus besar dunia,” kata Roy.
Ia menegaskan, dukungan warga NU melalui surat terbuka yang memprotes pernyataan Ketua Umum PBNU terus mengalir. Surat itu, kata Roy, belum dikirim ke PBNU dan baru menyebar di kalangan internal warga NU di akar rumput.
Inilah daftar warga NU yang mengecam sikap PBNU atas dukungannya terhadap langkah Presiden Prabowo yang menjadi bagian Board of Peace (BoP):
- M. Mustafid (wakil sekretaris PWNU DIY)
- Heru Prasetia (sekretaris Lakpesdam PWNU DIY)
- Hasan Basri (anggota lesbumi NU)
- Nur Khalik Ridwan
- Roy Murtadho (pengajar pesantren Ekologi Misykat al Anwar)
- Abdurrohman Azzuhdi (dept. Keagamaan dan Ideologi Ansor Pajangan Bantul)
- Citra Orwela (Akademisi)
- Lutfi Makhasin (Akademisi)
- Ahmad Hasby (LTN PCNU TEGAL)
- Dedik Priyanto (Aktivis Media NU)
- Machmud Nasrudin Arsyad (Aktivis Sosial)
- Mahbub Junaidi (Profesional)
- Azzah Nilawaty (Akademisi)
- Wakhit Hasim ( Dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
- Kalis Mardiasih (Aktivis Perempuan)
- Aziez Zamzami (Pengusaha)
- M. Rendra Setiawan (Social Worker)
- Azmil Husna N (Pegawai)
- Angga Palsewa Putra (Guru)
- Antok Suryaden (Warga)
- Achmed Roy, SH (Advocate)
- Alfin Rizal (Seniman)
- Wibisono ahmad (Aktivis lingkungan)
- Moh Yasir Alimi, PhD (akademisi)
- Bosman Batubara (peneliti di Yayasan Amerta Air Indonesia)
- Muhammad Azmi Hafizha Rahman, (ketua Propinsi D.K.I. Serikat Perjuangan
Rakyat Indonesia) - Faqihuddin Abdul Kodir (Akademisi dan Aktivis hak-hak Perempuan dalam
Islam) - Budi Santoso (takmir masjid)
- Rika Iffati Farihah (Wakil Ketua Fatayat NU DIY)
- Listia (Pegiat Pendidikan)
- Masruchah (Pegiat HAM Perempuan)
- Ahmad Munjid (akademisi)
- Adi Nugroho (akademisi)
- Marzuki Wahid (ISIF Cirebon)
- Nur Rofiah (akademisi)
- Ninid Al Fatih (Jombang)
- Imam Baehaqi (PP MIS Sarang)
- Taufik CH (Advokat)
- AR Waluyo Wasis Nugroho (Ketua Umum PNIB)
- Syukron MD (Forum Kader Nu se- Dunia)
- Ahmad Samsul Rijal (Sekretaris GPSI-Ketua ICDHRE/ Islamic Center for
Democracy and Human Rights Empowerment) - Fahmi Basya (Wakil Rois Syuriah PCNU Sleman)
- Ainur Rohim (Pengusaha)
- Abdul Quddus Salam (akademisi)
- A.Rosikh Rohibi
- M. Syarbani haira (Peneliti Rabithah Melayu Banjar)
- Dr. Tumenggung Mayang (Akademisi, Wakil Tanfidziyah PWNU Papuaa)
- Imroatul Azizah (Akademisi)
- Arifah Alfi Maziyya (Warga)
- Emqi Arif Harisul Ilmi (Gusdurian)
- Muthtaruddin, SH., M.H., LBH Fahmina
- Rosidin (Ketua Lakpesdam Cirebon)
- Nur Afni Khafsoh (Dosen)
- Akhiriyati Sundari (Guru)
- Rastra Arif Pradana (Profesional)
- Zaimatus Sa’diyah (Akademisi)
- Dr. Din Alfina, Sp.A
- Sari Oktaviana (Peneliti)
- Hidayatut Thoyyibah (warga NU/)
- Wasingatu Zakia (Caksana Institut)
- Rindang Farihah (Lakpesdam PWNU DIY)
- Hijroatul Maghfiroh (mahasiswa)
- Sahal Sabilil Muttaqin (Mahasiswa)
- Mazdan Maftukha (Peneliti)
- Nuriyatul Lailiyah Suhail (Akademisi, Ibu Rumah Tangga, Aktivis)
- SK Dewi (Ibu Rumah Tangga, Akademisi)
- Iklilah Muzayyanah DIni Fajriyah (peneliti, akademisi, & aktivis hak perempuan
dan anak) - Imam Malik (peneliti)
- Ali Usman (dosen)
- Maya Fitria (dosen)
- Siti Munawaroh (Wakil Ketua PW Fatayat NU DIY)
- Achmad Fadloli (akademisi)
- Arif Maftuhin (dosen)
- Rose Merry (LKP3A PW Fatayat NU DIY)
- Khotimatul Husna (Lakpesdam PWNU DIY dan PW Muslimat NU DIY)
- Mart Widarto (Wakil Ketua LPBI PWNU DIY)
- Ahmad Murtajib (Syarikat Indonesia)
- Rumekso Setiadi (pengusaha)
- Nasih Luthfi (Lakpesdam PWNU DIY)
- Moh. Najikh Suhail (Ketua Gerakan Pikir dan Dzikir JAMAN)
- Taufiqurrahman (Dosen)
- Dr. AS Hikam (pengamat politik)
- Ahmad Ghozi. NI (LKK PWNU DIY)
- Asman Aziz (pegiat NU)
- Ahmad Husain Fahasbu (Penulis, Inisiator Forum Sabtu Wage)
- Tri Noviana (Yayasan LKIS)
- Ahmad Rifki Harianto (Warga NU & anggota forum Sabtu wage)
- Fatmi Asri (alumni Seroja TimTim)
- Mutimmatur Rahmah Suhail (Warga NU Surabaya)
- Dr. Alvira Nailatul Izza (Warga NU Malang)
- M.Kafil Faiz (Warga NU Surabaya)
- Dr. Savero Mizan Jahidi (Warga NU Malang)
- Lautri Ramadhiana (Warga NU Sidoarjo)
- Endah Musfiroh (Anggota Fatayat Surabaya)
- Nevisra Viviani ( Warga NU , pengamat sosial)
- Yuyun Sri Wahyuni
- Ahmad Rahma Wardhana (LPP PWNU DIY, Akademisi UGM)
- AZQ. Haqiqi Rizqi Fauzi (Anggota Forum Sabtu Wage)
- Afif Thohir Furqoni (Anggota Forum Sabtu Wage)
- Ahmad Rusli H (Anggota Forum SAbtu Wage )
- Ahmad kafin billah (Anggota Forum sabtu Wage)
- Sarjoko (mahasiswa KBM UGM)
- Yuni Ma’rufah (PW Muslimat NU DIY)
- Ema Rahmawati (PW Fatayat NU Jawa Timur)
- Syamsurijal Ad’han (Warga NU Sulawesi Selatan)
- Ummi Hamidah (Warga NU Blora)
- Lailatuz Zahro’ (Warga NU Tanggulangin Sidoarjo)
- Dina Fitri Eka Sari (Warga NU Kediri)
- Abimanyu A (Warga NU Kota Semarang)
- Airlangga A (Warga NU Kota Semarang)
- Suraji (Warga NU)
- Rumail Abbas (Nahdliyin, Historian, GUSDURian)
- Rifqi Fairuz (Dosen)
- Mochamad Fadholy (Warga NU Jakarta)
- Rizky Zulkarnain, S.H, MA (Warga NU Jakarta)
- M Maftuhul Fahmi (warga NU Malang)
- Sugeng Prabowo (Warga Nu Ponorogo)
- Amrul Mufid (Warga NU Banyumas)
- Ahmad Umam Aufi (Warga NU kota Semarang)
- shifah cirebon
- Ahmad Wildan Thobibi Bahja (Akademisi Bojonegoro)
- Afwan Hilmi Muttaqin (Warga NU)
- Afrizal (Warga NU Sidoarjo)
- Atho’ (warga nu madiun
























