BANTEN | LIPUTAN9NEWS
“Apa yang saya lihat malam ini akan menjadi kelumrahan di masa depan. Film-film terbaik di dunia saat ini dibuat di Iran” (Werner Herzog).
Saat kita membicarakan film yang berkesan dan inspiratif, pada saat itu sebenarnya kita sedang berbicara tentang kehidupan itu sendiri dan diri kita sebagai manusia. Wajar jika ikon aktor Bollywood India, Amitabh Bachchan, pernah mengajukan pertanyaan retoris, ‘Apakah film itu gambar yang bergerak ataukah kehidupan yang bergerak?’ Pertanyaan retoris Amitabh Bachchan itu memang dilontarkan dalam rangka untuk ‘memahami’ kembali apa sesungguhnya arti dan makna film dalam keterkaitannya dengan kehidupan keseharian kita.
Sebuah film terbentuk dari dua unsur, yaitu: unsur naratif dan unsur sinematik. Yang pertama berhubungan dengan aspek cerita atau tema seperti tokoh, konflik, masalah, waktu, tempat (lokasi), dan lainnya. Semua elemen tersebut akan membentuk unsur naratif secara keseluruhan. Yang kedua (unsur sinematik) merupakan aspek teknis pendukung produksi sebuah film yang terbagi menjadi empat elemen, yaitu: mise-en-scene, sinematografi, editing dan suara.
Film berkembang dengan lahir dan muncul banyak genre-nya, dan yang dimaksud genre ini adalah jenis atau klasifikasi dari kelompok film yang memiliki karakter atau pola yang sama seperti setting, tema, isi dan subjek cerita, struktur cerita, aksi atau peristiwa, gaya, periode, situasi, mood, ikon, serta tokoh. Klasifikasi tersebut menghasilkan genre-genre film seperti biography, action, horror, animation, adventure, romance, comedy, crime, mystery, documentary dan lainnya.
Film documentary adalah genre film yang paling tua, ketika pada tahun 1890 di Perancis, Lumiere Brothers membuat film yang berkisah tentang perjalanan (travelogoues). Istilah documentary itu sendiri sebenarnya baru dimunculkan oleh John Grierson pada 8 Februari tahun 1926 di New York Sun ketika meresensi film Moana besutan Robert Flaherty.
Adapun yang dimaksud istilah mise-en-scene (dari bahasa Perancis) artinya placing on stage atau menempatkan di atas panggung. Istilah tersebut pada mulanya digunakan dalam dunia teater untuk menggambarkan pengaturan panggung, namun kemudian berkembang menjadi konsep yang lebih luas dalam dunia perfilman dan periklanan visual.
Mise-en-scene mencakup semua elemen visual yang terlihat dalam sebuah adegan, termasuk setting, pencahayaan, kostum, property, tata-rias, serta penempatan dan pergerakan aktor di dalam frame. Dengan demikian, mise-en-scene merupakan salah-satu aspek terpenting dalam membentuk narasi visual dan menyampaikan pesan yang diinginkan. Sedangkan yang dimaksud sinematografi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara menangkap gambar menjadi rangkaian gambar yang bercerita.
Elemen sinematik selanjutnya adalah editing, suatu aktivitas atau kegiatan mengkoordinasikan materi-materi hasil shooting menjadi satu kesatuan yang utuh dan padu sesuai skenario atau konsep film dengan mempertimbangkan aspek mise en scene (unsur-unsur visual), sinematografi dan suara. Sementara itu suara dalam film bisa berfungsi untuk menciptakan suasana dan emosi tertentu.
Seperti telah diramalkan oleh ikon sinemanya Jerman, Werner Herzog di tahun 1995, Iran memang terbukti menjadi produsen film-film unik yang mengubah dunia dalam memandang film, yang tak lagi menjadikan Hollywood sebagai kiblat. Dalam iklim sensor yang ketat Republik Islam Iran, para sineas dan seniman per-film-an Iran malah sanggup memproduksi film-film realis puitis bercitarasa humanis, semisal Children of Heaven-nya Majid Majidi yang menghadirkan cara pandang anak-anak dari keluarga miskin di Iran.
Secara historis, bioskop pertama di Iran hadir pada tahun 1900-an bernama Soli Cinema yang dibangun oleh misionaris Katolik Roma di Tabriz sebagai media penayangan film-film dakwah (misi penginjilan). Setelah itu, bioskop-bioskop lokal di Jalan Amir Kabir Teheran didirikan oleh tokoh-tokoh liberal Iran, seperti Aradeshir Khan, Ibrahim Sahaf Bashi, dan Russi Khan di kisaran tahun 1904-1905. Orang-orang itulah, bersama Motazedi, yang merupakan para perintis sinema Iran.
Bioskop besar yang bisa menampung hingga 500 penonton baru dibuka pada 1926 di Teheran Grand Hotel, yang segera disusul dengan kemunculan bioskop-bioskop lainnya, yang sebagian besar menayangkan film-film impor dari Hollywood (Amerika). Iran mulai memproduksi film panjang sendiri pada tahun 1930, sebuah film bisu berjudul Abi-o-Rabi (Abi and Rabi) besutan Ovanes Oganian, sutradara lulusan Akademi Film Moskow. Hanya saja film tersebut tidak mendapatkan respon yang baik, dan malangnya, satu-satunya salinan film itu pun musnah akibat kebakaran yang terjadi setelah penayangannya.
Sebagai seorang perintis, Ovanes Oganian adalah perintis yang gagal –film-film selanjutnya seperti Haji Agha, the Actor Film dan Frivolous yang rilis di tahun yang sama, yaitu tahun 1932, sama-sama gagal di pasaran. Sejarawan Behrouz Turani bahkan menyatakan bahwa film Abi and Rabi-nya Ovanes Oganian tak lebih sebuah imitasi komedi pop Denmark, Double Patte and Patachon.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa kegagalan film-film Ovanes Oganian di pasaran dikarenakan perilisan film-nya Abdol Hossein Sepanta, sutradara Iran di India, Lor Girl (Dokhtar-e-Lor), yang merupakan film bersuara pertama Iran, dan sukses besar di pasaran, diantaranya karena teknologi audio yang dimilikinya, yang lebih canggih dan modern. Film Lor Girl itu bercerita tentang pelayan kedai atau kafe bernama Golnar yang jatuh cinta kepada Jafar, seorang pegawai pemerintahan, dengan konflik yang berkisar pada balas dendam Jafar terhadap para bandit atau geng yang menculik Golnar serta kisah cinta mereka setelahnya. Film itu diproduksi oleh orang-orang Iran di India yang membangun jaringan dengan kalangan liberal di Iran, dan film-nya dibuat di Mumbai, India.
Selanjutnya, produksi film di Iran pun mulai hidup, semisal produksi film komersial, seperti kontribusi seorang pengisi suara bernama Esma’il Kooshan yang beralih profesi menjadi produser film dan mendirikan Mitra Film Studio, yang berhasil membuat film bersuara dalam negeri pertama, The Tempest of Life (Toofan-e Zendegi), pada tahun 1948, yang disutradarai Ali Daryabeigi. Hanya saja film tersebut gagal di pasaran, bahkan studionya pun tidak berlanjut. Meski demikian, Esma’il Kooshan tidak menyerah, dan malah kemudian mendirikan rumah produksi (production house) Pars Film, yang karenanya kemudian ia dikenal sebagai bapak sinema Iran.
Tidak seperti Mitra Film Studio, Pars Film sukses bertahan dan berlanjut, hingga sanggup memproduksi sejumlah film komersial Iran, seperti: Ashamed (Sharmsar, tahun 1950) yang disutradarai Esma’il Kooshan sendiri, dan Amir Arsalan (1953) yang disutradarai Shapour Yasami dan menjadi film terlaris di masa itu. Di tahun itu (1953), Iran bahkan tercatat berhasil memproduksi 37 film.
Ada banyak pustaka bila kita ingin mengetahui ihwal sejarah dan kerja produksi film di Iran, diantaranya adalah: Iranian National Cinema karya Anne Demy-Geroe (Routledge 2020), Iranian Cinema karya Hamid Reza Sadr (Bloomsbury 2006), The New Iranian Cinema karya Richard Tapper (AbeBooks 2002), Close up: Iranian cinema past, present, and future karya Hamid Dabashi (Verso 2001), A Social History of Iranian Cinema karya Hamid Naficy (Duke University Press 2011), dan pustaka lainnya, dalam bentuk daring dan cetak, seperti Directory of World Cinema: Iran (Intellect Books 2012) atau tulisan-tulisannya Behrouz Turani dan yang lainnya.
Menurut sejumlah pengulas dan penulis sejarah sinema Iran, Pars Film telah memberikan kontribusi signifikan dalam menghidupkan kerja perfilman di Iran, seperti ketika rumah produksi itu merilis film berwarna pertama Iran berjudul Runaway Bride (1958). Dua tahun kemudian, yaitu di tahun 1963, sinema Iran mulai tampil di kancah internasional lewat film Swallows Return to Their Nest yang disutradarai Majid Mohseni dengan berhasil meraih penghargaan di Festival Film Moskow.
Pars Film menjadi pelopor film komersil Iran yang sukses di panggung internasional, dan berhasil pula meraih keuntungan, yang memotori para pekerja film dan sineas di Iran ikut berkiprah dalam kerja dan produksi perfilman Iran. Di masa-masa itu, muncul pula bintang-bintang film tenar seperti aktris Azar Shiva yang cantik dan mempesona, dan aktor Mohammad Ali Fardin yang juga populer sebagai bintang layar kaca, selain sebagai aktor tenar film Iran.
Majid Majidi Ikon Sinema Iran
Dalam jagat dan sejarah sinema Iran, Majid Majidi adalah ikon dan legenda perfilman Iran. Film-filmnya yang berciri dan bercitarasa puitis humanis menjadikan Majid Majidi sebagai seorang seniman yang berhasil menangkap kedalaman nurani dan aspirasi manusiawi dalam kemiskinan dan kesahajaan orang-orang atau masyarakat yang diangkat lewat film-filmnya, seperti filmnya yang sempat booming di masa rilisnya, yaitu Children of Heaven.
Film yang berkisah tentang kakak adik (Ali dan Zahra) itu berhasil menyorot dan menyingkap sisi mendalam kehidupan keluarga miskin, tapi kaya cinta dan kasih sayang yang dipraktikkan dalam kesabaran. Di panggung internasional, Children of Heaven meraih penghargaan pada Newport International Film Festival, Montreal World Film Festival, dan Silver Screen Awards di Singapore International Film Festival.
Dengan susunan atau komposisi gambar bergerak yang lebih memilih bercerita atau melakukan story telling khas realis apa adanya yang minim niatan untuk menggurui para penontonnya, film itu sesungguhnya sarat ajaran dan nilai sederet makna dan spirit hidup yang kita sebut ketabahan, kejujuran, kepedulian atau welas-asih kepada sesama, tanggung-jawab, yang dalam istilah lainnya kita sebut budi-pekerti, karakter dan kepribadian unggul yang berhasil ditunjukkan dan dipraktikkan orang-orang miskin di desa.
Kehadiran Children of Heaven sudah dengan sendirinya merupakan alternatif dari film-film yang menonjolkan adegan seks, kekerasan, dan yang sejenis itu semua, yang malah membuat kita menjadi dangkal, tumpul, dan bahkan mempraktikkan kekerasan itu sendiri sebagai kewajaran. Children of Heaven pada dasarnya memang film yang puitis dan sastrawi yang mengajak kita berdialog dan berdiskusi dengan diri kita sendiri tentang apa artinya menjadi manusia.
Karena cinta dan kepedulian itulah, lahirlah tanggungjawab dan solidaritas kita kepada sesama yang lebih tulus. Inilah nilai-nilai dan spirit yang membuat hidup dan tindakan kita sebagai manusia menjadi bermakna. Jadi, sekedar menjawab secara singkat pertanyaan retoris Amitabh Bachchan, tentang apakah film itu gambar bergerak ataukah kehidupan yang bergerak, maka sebuah film memang adalah kehidupan yang bergerak yang berusaha ditangkap oleh kamera untuk menjadi wahana pembelajaran kita bersama tentang apa artinya menjadi manusia.
Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan
























