JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyatakan pasukan bersenjata negara itu menggagalkan operasi penyelamatan Amerika Serikat di selatan Provinsi Isfahan dan menghancurkan empat aset udara Militer AS, pada Minggu 5 April.
Menurut laporan Press TV, Juru Bicara Markas tersebut, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari mengatakan operasi yang disebut dirancang untuk mengevakuasi pilot jet tempur Amerika yang ditembak jatuh itu berakhir gagal total setelah pasukan Iran bergerak di lokasi.
Menurut Zolfaghari, dua pesawat angkut militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik AS dihancurkan dalam operasi tersebut.
“Operasi yang mereka sebut sebagai misi penyelamatan, yang dirancang sebagai upaya tipu daya dan pelarian cepat dengan dalih mengevakuasi pilot pesawat yang jatuh di sebuah bandara terbengkalai di selatan Isfahan, berhasil digagalkan sepenuhnya oleh kehadiran tepat waktu Angkatan Bersenjata Iran,” ujar Zolfaghari.
Ia menegaskan hasil operasi itu menunjukkan Militer Amerika gagal memaksakan dominasinya dalam konflik yang disebut Teheran sebagai “perang yang dipaksakan terhadap Iran”.
“Setelah operasi (Iran) yang membanggakan dan berhasil ini, Presiden Amerika yang kalah buru-buru berusaha menutupi kegagalannya lewat kebohongan dan perang psikologis. Seperti sebelumnya, ia terus melontarkan klaim palsu dan saling menyalahkan, sementara realitas di lapangan menunjukkan keunggulan Iran,” terangnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump mengeklaim di media sosial bahwa Militer Amerika telah “berhasil mengevakuasi” seorang pilot, sehari setelah penyelamatan pilot lain.
Namun, klaim tersebut dibantah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut upaya Amerika untuk menyelamatkan pilot pesawat tempur yang jatuh berakhir dengan “kekalahan memalukan” setelah sejumlah objek terbang musuh yang memasuki wilayah Iran tengah dihancurkan dalam operasi gabungan.
Operasi itu, menurut IRGC, melibatkan Pasukan Dirgantara, Pasukan Darat, serta unsur rakyat, Basij, dan Kepolisian.
IRGC juga menilai insiden terbaru memiliki kemiripan dengan peristiwa 25 April 1980 di Tabas, ketika operasi militer Amerika untuk membebaskan sandera di Iran berakhir gagal akibat badai pasir besar.
Pada hari yang sama, sistem pertahanan udara Iran juga dilaporkan menembak jatuh dua drone yang disebut melanggar wilayah udara Provinsi Isfahan, masing-masing satu unit MQ-9 dan satu unit Hermes-900.

























