BANTEN | LIPUTAN9NEWS – “Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional” (Emmanuel Levinas, filsuf). “Ia takkan menjalani pekerjaan yang mengeksploitasi orang lain…ia tak suka dengan kiprah para ahli hukum yang lebih tunduk kepada peraturan ketimbang hati nurani” (Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie, Gramedia 2001 halaman 82-83).
Kutipan-kutipan itu, memang hendak menegur dan mengingatkan kita dalam kehidupan sehari-hari, bahwa pada akhirnya yang akan menentukan siapa kita adalah kepedulitan dan solidaritas kita kepada orang lain.
Sadar atau tidak sadar, kita merasa bermakna dan punya alasan untuk hidup bahagia dan bermakna karena kita merasa berarti untuk orang lain, dan ketika kita pun merasa berarti karena kehadiran orang yang kita sayangi. Itulah yang tumbuh dan hadir karena sikap peduli kita kepada orang lain –bersikap empati dan bertindak menjadi manusiawi ketika banyak orang membutuhkan uluran tangan kita, seperti yang ditunjukkan Feri Irwandi dan warga Negara lainnya untuk para korban banjir longsor Sumatra akibat cuaca ekstrim dan kerusakan ekologis karena keserakahan korporasi yang dibantu negara, bukan memanfaatkannya untuk pencitraan (kampanye), tapi justru untuk memulihkan harapan dan kepercayaan.
Meskipun demikian, tulisan ini bermaksud berbagi bacaan sebuah buku sastra yang bermuatan filsafat, yang anehnya ditulis seorang jurnalis olah raga. Buku itu ditulis oleh Mitch Albom yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan diterbitkan Gramedia (2001) dengan judul: Selasa Bersama Morrie. Yah, seperti dicontohkan dengan kepedulian sesama warga Negara terhadap warga Negara lainnya yang tertimpa bencana dan kesulitan, yaitu di Indonesia, buku ini berkisah tentang seorang jurnalis papan atas olah raga dengan mantan dosennya seorang profesor yang mengidap penyakit ALS.
Lebih dari sekedar otobiografi, buku itu pada dasarnya sebuah novel yang mengisahkan kepedulian satu sama lain diantara mereka sepanjang persahabatan mereka, hingga akhir hayat sang profesor. Dibumbui dengan dialog dan perbincangan yang disarikan dari sejumlah pemikiran filsafat hidup dari beberapa filsuf seperti Emmanuel Levinas, buku ini memang terasa sebagai ajakan kepada kita untuk mengoreksi kekeliruan paradigma bisnis dan kapitalisme yang justru memperkosa kehidupan, dan memenjara manusia dalam hubungan mekanik dan birokrasi demi keuntungan sepihak semata, yang bisa berdampak pada tergerusnya kualitas hidup itu sendiri dan melahirkan kerontang jiwa manusia.
Meski dalam beberapa hal bercampur dengan opini pribadi penulisnya, semisal ketika ia mengutip perkataan Mahatma Gandhi dan lainnya, untuk menguatkan ‘pandangan’ pribadi si penulis terkait kehidupan, tetaplah bisa kita baca sebagai upaya berbagi pengalaman yang berharga. Ditambah lagi kutipan-kutipan puisi-puisi yang disertakan di dalamnya, seperti puisinya W.H. Auden dan E.E. Cumming, terasa menyentuh dan relevan untuk memaknai kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Gaya penceritaan otobiografis dan struktur penceritaannya yang tidak terlampau kompleks, sejak di lembar-lembar awal, justru menjadikannya bisa dibaca siapa pun:
“Di penghujung musim semi tahun 1979, pada suatu Sabtu siang yang panas, yang membuat badan terasa lengas, bersama ratusan mahasiswa lain aku duduk di kursi lipat dari kayu yang dibariskan berjajar di lapangan utama kampus. Mengenakan jubah wisuda warna biru, dengan sabar kami mendengarkan sambutan demi sambutan yang rata-rata cukup panjang. Maka ketika upacara usai, serentak kami melemparkan tutup kepala kami ke udara, sebagai ungkapan rasa gembira karena secara resmi telah diwisuda menjadi sarjana, dari Brandeis University di kota Waltham, Massachusetts. Bagi kebanyakan di antara kami, tirai seolah-olah baru saja terbuka, tirai yang memisahkan dunia kanak-kanak dari dunia dewasa.” (Halaman 3).
Itulah kisah bagaimana si penulis diajar sang profesor yang kemudian menjadi sahabat dan kawan diskusinya hingga akhir hayat –sebagai guru. Morrie Schwartz, nama profesornya, keturunan imigran berayah dari Rusia yang melarikan diri ke Amerika, dan menjalani hidup dalam kemiskinan sebelum akhirnya berhasil berjuang untuk bisa kuliah berkat dorongan dan motivasi kuat dari ibu tirinya setelah ibu kandungnya meninggal dunia.
Sebagai anak keturunan keluarga Yahudi yang peka dan religius, ia sepenuhnya tak membuang warisan tradisional religiusnya meski kemudian berkembang menjadi pribadi yang kritis saat dewasa, dan tetap mempercayai dan menyakini banyak anjuran religius justru sangat relevan ketika dunia dan hidup digerus materialisme dan dikerontangkan logika bisnis dan kapitalisme, sehingga kita melupakan salah-satu kebutuhan dasar paling utama, welas asih dan solidaritas, yang kerapkali melampaui logika materialisme dan kalkulasi untung rugi.
Wujud dari spirit welas asih religius itu contohnya adalah kepedulian kita kepada orang lain, yang bisa menumbuhkan kepercayaan dan harapan: “Dan jika kita ingin orang lain percaya kepada kita, kita harus merasa bahwa kita dapat mempercayai mereka juga –bahkan meskipun kita sedang dalam kegelapan. Bahkan ketika kita sedang terjatuh”. (Halaman 65). Itulah salah-satu ajaran sang profesor, yang menyukai psikologi sosial, kepada para mahasiswanya, termasuk Mitch Albom.
Psikologi sosial sendiri, jika kita setuju dengan Gordon Allport, adalah ilmu yang mempelajari bagaimana pikiran, perasaan dan perilaku individu depengaruhi oleh kehadiran orang lain. Tapi dalam konteks pembicaraan bukunya Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie, orang lain itu dalam pandangan profesornya, Morrie Schwartz, bukan orang lain yang harus diekspolitasi sedemikian rupa sebagaimana dipraktikkan kapitalisme brutal, yang justru melahirkan dendam, kemarahan, kekecewaan, dan yang sejenis itu semua, yang pada akhirnya justru akan merusak kualitas hidup manusia, hingga menghancurkan makna kehadiran manusia itu sendiri dalam hidup sehari-hari: “Ia takkan menjalani pekerjaan yang mengeksploitasi orang lain…ia tak suka dengan kiprah para ahli hukum yang lebih tunduk kepada peraturan ketimbang hati nurani” (Halaman 82-83).
Keserakahan kapitalisme itu pula yang menciptakan perang dan menyuburkan bisnis senjata, dan memperlakukan nyawa manusia hanya sebagai angka dalam kalkulasi untung rugi semata. Perang yang membuat Morrie Schwartz, sang profesor favoritnya Mitch Albom si penulis buku Selasa Bersama Morrie, menangis saat ia melihat di siaran berita televisi seorang ibu di Bosnia berlari ketakutan dalam Perang Balkan di sejumlah wilayah di bekas Yugoslavia:
Mitch, kau bertanya bagaimana aku bisa terharu pada orang yang sama sekali tidak kukenal. Tapi aku ingin memberitahumu satu hal yang sekarang paling banyak kupelajari sehubungan dengan penyakit ini?
Apa itu?
Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang.
Suaranya lirih sampai seperti berbisik. ‘Biarkan cinta itu datang. Kita mengira bahwa kita tak usah peduli dengan cinta, kita mengira bahwa kalau terpengaruh kita akan jadi lembek. Tapi orang bijak yang namanya Levinas pernah berkata: Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.’ (Halaman 55-56).
Yah, kepedulian kita kepada orang lain lah yang pada akhirnya menentukan siapa kita. Adakah kita manusia yang berarti dan bermakna, atau tak lebih mur-mur kecil mesin birokrasi dan kapitalisme yang kehilangan jiwa dan nurani? Dalam kadar yang demikianlah buku yang ditulis Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie, ingin berbicara dan berbagi pandangan kepada kita.
Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan
























