• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman-Djaya

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

December 28, 2025
Haul Rizal Ramli

Peringati Haul 2 Tahun Rizal Ramli, FJN Bertekat  Hidupkan Pemikiran dan Mengenang Kebaikan RR

January 10, 2026
Menjemput Momentum Kebangkitan: Mengapa Gus Rozin Adalah Jawaban bagi Masa Depan PBNU?

Menjemput Momentum Kebangkitan: Mengapa Gus Rozin Adalah Jawaban bagi Masa Depan PBNU?

January 9, 2026
Gus Yahya

PBNU Respon Penetapan Tersangka Eks Menang Yaqut Cholil Qoumas

January 9, 2026
Gus Alex-KPK

KPK Tetapkan Yaqut dan Alex sebagai Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji Khusus

January 9, 2026
Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji

Yaqut Cholil Qoumas Jadi Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji

January 9, 2026
Imam Jazuli

Urgensi Rekonstruksi Sistem AHWA Berbasis Zonasi Keterwakilan Daerah

January 9, 2026
Foto: Ilustrasi

Penguat Demokrasi Lokal

January 9, 2026
Rajab

Khutbah Jumat: Rajab Bulan Menanam, Sya‘ban Bulan Menyiram, dan Ramadhan Bulan Memanen

January 9, 2026
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Fitroh Rohcahyanto di Gedung Juang KPK, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

KPK Tegaskan BPK Sepakati Kerugian Negara Kasus Korupsi Haji Bisa Dihitung

January 8, 2026
Masjid Nabawi

Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian

January 8, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Saturday, January 10, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
December 28, 2025
in Opini
A A
0
Sulaiman-Djaya

Sulaiman Djaya, Esais, Penyair, dan Pengurus Majelis Kebudayaan Banten

495
SHARES
1.4k
VIEWS

BANTEN | LIPUTAN9NEWS – “Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional” (Emmanuel Levinas, filsuf). “Ia takkan menjalani pekerjaan yang mengeksploitasi orang lain…ia tak suka dengan kiprah para ahli hukum yang lebih tunduk kepada peraturan ketimbang hati nurani” (Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie, Gramedia 2001 halaman 82-83).

Kutipan-kutipan itu, memang hendak menegur dan mengingatkan kita dalam kehidupan sehari-hari, bahwa pada akhirnya yang akan menentukan siapa kita adalah kepedulitan dan solidaritas kita kepada orang lain.

Sadar atau tidak sadar, kita merasa bermakna dan punya alasan untuk hidup bahagia dan bermakna karena kita merasa berarti untuk orang lain, dan ketika kita pun merasa berarti karena kehadiran orang yang kita sayangi. Itulah yang tumbuh dan hadir karena sikap peduli kita kepada orang lain –bersikap empati dan bertindak menjadi manusiawi ketika banyak orang membutuhkan uluran tangan kita, seperti yang ditunjukkan Feri Irwandi dan warga Negara lainnya untuk para korban banjir longsor Sumatra akibat cuaca ekstrim dan kerusakan ekologis karena keserakahan korporasi yang dibantu negara, bukan memanfaatkannya untuk pencitraan (kampanye), tapi justru untuk memulihkan harapan dan kepercayaan.

Meskipun demikian, tulisan ini bermaksud berbagi bacaan sebuah buku sastra yang bermuatan filsafat, yang anehnya ditulis seorang jurnalis olah raga. Buku itu ditulis oleh Mitch Albom yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan diterbitkan Gramedia (2001) dengan judul: Selasa Bersama Morrie. Yah, seperti dicontohkan dengan kepedulian sesama warga Negara terhadap warga Negara lainnya yang tertimpa bencana dan kesulitan, yaitu di Indonesia, buku ini berkisah tentang seorang jurnalis papan atas olah raga dengan mantan dosennya seorang profesor yang mengidap penyakit ALS.

BeritaTerkait:

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

Menjadi Bermakna Sebagai Manusia

Film The Name of the Rose, Satir Semiotik di Antara Sejarah dan Politik 

Teater Musikal yang Riang

Lebih dari sekedar otobiografi, buku itu pada dasarnya sebuah novel yang mengisahkan kepedulian satu sama lain diantara mereka sepanjang persahabatan mereka, hingga akhir hayat sang profesor. Dibumbui dengan dialog dan perbincangan yang disarikan dari sejumlah pemikiran filsafat hidup dari beberapa filsuf seperti Emmanuel Levinas, buku ini memang terasa sebagai ajakan kepada kita untuk mengoreksi kekeliruan paradigma bisnis dan kapitalisme yang justru memperkosa kehidupan, dan memenjara manusia dalam hubungan mekanik dan birokrasi demi keuntungan sepihak semata, yang bisa berdampak pada tergerusnya kualitas hidup itu sendiri dan melahirkan kerontang jiwa manusia.

Meski dalam beberapa hal bercampur dengan opini pribadi penulisnya, semisal ketika ia mengutip perkataan Mahatma Gandhi dan lainnya, untuk menguatkan ‘pandangan’ pribadi si penulis terkait kehidupan, tetaplah bisa kita baca sebagai upaya berbagi pengalaman yang berharga. Ditambah lagi kutipan-kutipan puisi-puisi yang disertakan di dalamnya, seperti puisinya W.H. Auden dan E.E. Cumming, terasa menyentuh dan relevan untuk memaknai kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Gaya penceritaan otobiografis dan struktur penceritaannya yang tidak terlampau kompleks, sejak di lembar-lembar awal, justru menjadikannya bisa dibaca siapa pun:

“Di penghujung musim semi tahun 1979, pada suatu Sabtu siang yang panas, yang membuat badan terasa lengas, bersama ratusan mahasiswa lain aku duduk di kursi lipat dari kayu yang dibariskan berjajar di lapangan utama kampus. Mengenakan jubah wisuda warna biru, dengan sabar kami mendengarkan sambutan demi sambutan yang rata-rata cukup panjang. Maka ketika upacara usai, serentak kami melemparkan tutup kepala kami ke udara, sebagai ungkapan rasa gembira karena secara resmi telah diwisuda menjadi sarjana, dari Brandeis University di kota Waltham, Massachusetts. Bagi kebanyakan di antara kami, tirai seolah-olah baru saja terbuka, tirai yang memisahkan dunia kanak-kanak dari dunia dewasa.” (Halaman 3).

Itulah kisah bagaimana si penulis diajar sang profesor yang kemudian menjadi sahabat dan kawan diskusinya hingga akhir hayat –sebagai guru. Morrie Schwartz, nama profesornya, keturunan imigran berayah dari Rusia yang melarikan diri ke Amerika, dan menjalani hidup dalam kemiskinan sebelum akhirnya berhasil berjuang untuk bisa kuliah berkat dorongan dan motivasi kuat dari ibu tirinya setelah ibu kandungnya meninggal dunia.

Sebagai anak keturunan keluarga Yahudi yang peka dan religius, ia sepenuhnya tak membuang warisan tradisional religiusnya meski kemudian berkembang menjadi pribadi yang kritis saat dewasa, dan tetap mempercayai dan menyakini banyak anjuran religius justru sangat relevan ketika dunia dan hidup digerus materialisme dan dikerontangkan logika bisnis dan kapitalisme, sehingga kita melupakan salah-satu kebutuhan dasar paling utama, welas asih dan solidaritas, yang kerapkali melampaui logika materialisme dan kalkulasi untung rugi.

Wujud dari spirit welas asih religius itu contohnya adalah kepedulian kita kepada orang lain, yang bisa menumbuhkan kepercayaan dan harapan: “Dan jika kita ingin orang lain percaya kepada kita, kita harus merasa bahwa kita dapat mempercayai mereka juga –bahkan meskipun kita sedang dalam kegelapan. Bahkan ketika kita sedang terjatuh”. (Halaman 65). Itulah salah-satu ajaran sang profesor, yang menyukai psikologi sosial, kepada para mahasiswanya, termasuk Mitch Albom.

Psikologi sosial sendiri, jika kita setuju dengan Gordon Allport, adalah ilmu yang mempelajari bagaimana pikiran, perasaan dan perilaku individu depengaruhi oleh kehadiran orang lain. Tapi dalam konteks pembicaraan bukunya Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie, orang lain itu dalam pandangan profesornya, Morrie Schwartz, bukan orang lain yang harus diekspolitasi sedemikian rupa sebagaimana dipraktikkan kapitalisme brutal, yang justru melahirkan dendam, kemarahan, kekecewaan, dan yang sejenis itu semua, yang pada akhirnya justru akan merusak kualitas hidup manusia, hingga menghancurkan makna kehadiran manusia itu sendiri dalam hidup sehari-hari: “Ia takkan menjalani pekerjaan yang mengeksploitasi orang lain…ia tak suka dengan kiprah para ahli hukum yang lebih tunduk kepada peraturan ketimbang hati nurani” (Halaman 82-83).

Keserakahan kapitalisme itu pula yang menciptakan perang dan menyuburkan bisnis senjata, dan memperlakukan nyawa manusia hanya sebagai angka dalam kalkulasi untung rugi semata. Perang yang membuat Morrie Schwartz, sang profesor favoritnya Mitch Albom si penulis buku Selasa Bersama Morrie, menangis saat ia melihat di siaran berita televisi seorang ibu di Bosnia berlari ketakutan dalam Perang Balkan di sejumlah wilayah di bekas Yugoslavia:

Mitch, kau bertanya bagaimana aku bisa terharu pada orang yang sama sekali tidak kukenal. Tapi aku ingin memberitahumu satu hal yang sekarang paling banyak kupelajari sehubungan dengan penyakit ini?

Apa itu?

Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang.

Suaranya lirih sampai seperti berbisik. ‘Biarkan cinta itu datang. Kita mengira bahwa kita tak usah peduli dengan cinta, kita mengira bahwa kalau terpengaruh kita akan jadi lembek. Tapi orang bijak yang namanya Levinas pernah berkata: Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.’ (Halaman 55-56).

Yah, kepedulian kita kepada orang lain lah yang pada akhirnya menentukan siapa kita. Adakah kita manusia yang berarti dan bermakna, atau tak lebih mur-mur kecil mesin birokrasi dan kapitalisme yang kehilangan jiwa dan nurani? Dalam kadar yang demikianlah buku yang ditulis Mitch Albom, Selasa Bersama Morrie, ingin berbicara dan berbagi pandangan kepada kita.

Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan

Tags: KepedulianSehatSulaiman Djaya
Share198Tweet124SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Sulaiman-Djaya
Opini

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

by Sulaiman Djaya
December 24, 2025
0

BANTEN | LIPUTAN9NEWS “Orang yang tidak menguasai ilmu logika, otoritas ilmu dan keilmuannya kurang bisa dipercaya” (Al-Ghazali dari Iran dalam...

Read more
Sulaiman Djaya

Menjadi Bermakna Sebagai Manusia

December 11, 2025
Sulaiman Djaya

Film The Name of the Rose, Satir Semiotik di Antara Sejarah dan Politik 

December 15, 2025
Teater Musikal yang Riang

Teater Musikal yang Riang

November 22, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2515
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

141
Haul Rizal Ramli

Peringati Haul 2 Tahun Rizal Ramli, FJN Bertekat  Hidupkan Pemikiran dan Mengenang Kebaikan RR

January 10, 2026
Menjemput Momentum Kebangkitan: Mengapa Gus Rozin Adalah Jawaban bagi Masa Depan PBNU?

Menjemput Momentum Kebangkitan: Mengapa Gus Rozin Adalah Jawaban bagi Masa Depan PBNU?

January 9, 2026
Gus Yahya

PBNU Respon Penetapan Tersangka Eks Menang Yaqut Cholil Qoumas

January 9, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In