JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama (NU) tidaklah statis, melainkan selalu berubah mengikuti dinamika zaman. Oleh karena itu, karakter dan formula kepemimpinan Ketua Umum PBNU pada setiap periode pun tidak bisa diseragamkan. Setiap masa menuntut tipe kepemimpinan yang berbeda—kepemimpinan yang relevan dengan tantangan zaman.
Duet KH. Wahab Hasbullah dan KH. Idham Khalid Menavigasi Sejarah
Keduanya berhasil membawa NU keluar dari pusaran konflik politik antara Masyumi dan Presiden Soekarno yang kala itu merangkul PKI. Setelah NU memutuskan keluar dari Masyumi, organisasi ini menjadi sasaran hujatan bertubi-tubi. NU dituduh tidak mampu berpolitik, bahkan dicap sebagai pengkhianat Islam dan pendukung komunisme. Salah satu ungkapan sinis yang terkenal adalah pernyataan seorang tokoh Masyumi: “Jika kepala Kiai Wahab dibelah, isinya palu arit.”
KH. Wahab Hasbullah dan KH. Idham Khalid tidak menggubris tudingan tersebut. Dengan kepercayaan diri dan keteguhan sikap, ia justru berhasil membangkitkan mental para pengurus dan warga NU yang sempat terpuruk. Upaya itu membuahkan hasil: Partai NU tampil sebagai pemenang ketiga dalam Pemilu 1955—sebuah capaian politik yang sangat signifikan.
Gus Dur: Sang Guru Bangsa dan Pelopor Kebangkitan Anak Muda NU
Pada masa Orde Baru, NU menghadapi tekanan sistematis dari rezim yang berkuasa. Di bawah kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), NU berhasil diselamatkan dari kebijakan represif negara. Proses de-NU-isasi terjadi secara masif: pengurus NU yang berstatus PNS dipaksa memilih antara jabatan negara atau keaktifan di NU. Asas tunggal Pancasila dan UU Subversif menjadi alat utama untuk menekan NU.
Gus Dur menyikapi situasi ini dengan kecerdasan politik yang luar biasa. NU menerima Pancasila sebagai asas dalam konteks berbangsa dan bernegara, namun secara tegas menolak menjadikannya sebagai pengganti agama. Dalam konteks teologis, Pancasila tidak dapat menggantikan kedudukan Islam.
Tekanan terhadap NU tidak berhenti di situ. Upaya menjegal Gus Dur kembali muncul pada Muktamar Cipasung 1994. Namun, berkat dukungan kuat para kiai sepuh, Gus Dur kembali terpilih untuk ketiga kalinya. Selanjutnya, Gus Dur menjadi lokomotif gerakan reformasi yang berujung pada runtuhnya Orde Baru dan mengantarkannya menjadi Presiden RI ke-5.
Prestasi terbesar Gus Dur selama memimpin NU adalah kebangkitannya dalam membangun tradisi intelektual di kalangan santri dan pemuda NU. Ia mendorong generasi muda NU untuk tidak hanya berkutat pada kitab kuning dan pagar pesantren, tetapi juga membuka diri terhadap gagasan-gagasan global, bahkan melanjutkan studi ke perguruan tinggi Barat.
KH Hasyim Muzadi: Sosok Visioner dan Gagasan Islam Rahmatan lil Alamiin yang Mendunia
Pada era reformasi berikutnya, NU dipimpin oleh KH. Hasyim Muzadi. Tantangan global saat itu ditandai oleh menguatnya tesis clash of civilizations ala Samuel Huntington yang memosisikan Islam sebagai “musuh baru” Barat pasca-komunisme. KH. Hasyim Muzadi menjawab tantangan tersebut dengan mengarusutamakan Islam rahmatan lil ‘alamin di panggung internasional.
Ia menginisiasi pendirian International Conference of Islamic Scholars (ICIS), sebuah forum ulama dan cendekiawan Muslim moderat dunia. Melalui ICIS, NU memperkenalkan konsep moderasi Islam, hubbul wathan minal iman, dan Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai solusi atas krisis global. Pada masa inilah gagasan NU mulai diterima luas secara internasional dan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU berdiri di berbagai negara.
KH Said Aqil Siroj: Konsolidator Ulung dan Penggagas Konsep Islam Nusantara
Dalam laporan pertanggungjawaban PBNU periode 2010–2015 pada Muktamar ke-33 NU di Jombang, menunjukkan berbagai capaian konkret dalam waktu lima tahun kepemimpinan Beliau. Antara lain, NU berhasil mendirikan 24 universitas, banyak rumah sakit, serta puluhan sekolah di seluruh Indonesia—semuanya milik organisasi, bukan milik pribadi.
Berikutnya pada periode kedua (2015–2020), capaian tersebut semakin meluas. Hampir setiap provinsi memiliki Universitas NU, bahkan lebih dari satu. Di bidang kesehatan, rumah sakit, klinik, dan balai kesehatan NU berdiri di berbagai daerah.
Masa kepemimpinan Kiai Said bertepatan dengan fase krusial bangsa Indonesia: menguatnya gerakan Islam politik pasca-Pilpres 2014 dan 2019, puncaknya terlihat dalam mobilisasi massa Aksi 212. Aksi tersebut tidak hanya berdimensi hukum-keagamaan, tetapi juga sarat kepentingan politik elektoral. Di sinilah NU menghadapi ujian berat: apakah akan terseret arus populisme Islam, atau berdiri sebagai penyangga keislaman moderat.
Di bawah kepemimpinan Kisi Said, NU mengambil posisi tegas. NU tidak larut dalam euforia politik identitas, tetapi justru mengonsolidasikan diri sebagai kekuatan civil society yang menjaga jarak kritis dari eksploitasi agama untuk kepentingan kekuasaan. Sikap ini memang sempat membuat NU terlihat “sendirian” di tengah hingar-bingar politik jalanan, namun justru di situlah nilai strategis kepemimpinan KH. Said: berani tidak populer demi menjaga marwah jam’iyyah.
Pasca Aksi 212, sebagian warga NU sempat mengalami krisis kepercayaan diri, seolah-olah Islam moderat berada di posisi defensif. Namun KH. Said mampu membalik keadaan. Melalui penguatan narasi Islam Nusantara, kaderisasi ideologis, serta diplomasi internasional (termasuk membawa wacana Islam Nusantara ke forum-forum global), NU kembali tampil percaya diri sebagai representasi Islam rahmatan lil ‘alamin. NU tidak sekadar “bertahan”, tetapi melakukan counter-hegemony wacana.
Kiai Said juga menunjukkan kemampuan konsolidasi yang khas NU. Dukungan politik NU pada periode ini tidak bersifat emosional atau reaktif, melainkan berbasis pertimbangan kebangsaan dan kemaslahatan jangka panjang. NU tidak berubah menjadi partai politik, tetapi tetap menjadi moral force yang memiliki daya pengaruh signifikan. Di sinilah letak kecerdikan kepemimpinan Kiai Said: menjaga NU tetap di jalur khittah, namun tidak kehilangan relevansi politiknya.
Pada pemilu 2019 usaha konsolidasi terus-menerus yang dilakukan oleh Beliau sukses mengantarkan kader terbaik NU, KH. Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo, meski berbagai tekanan dan serangan politik bebasis agama membombardir beliau dan NU.
Kesimpulan
Menelusuri lintasan sejarah kepemimpinan Ketua Umum PBNU sejak Era KH Idham Khalid sampai KH Said Aqil Siroj, menunjukkan bahwa kekuatan utama NU terletak pada kemampuannya menyesuaikan karakter kepemimpinan dengan tantangan zamannya.
KH Wahab Hasbullah dan KH Idham Khalid meneguhkan mental dan kemandirian politik NU di tengah konflik ideologis negara. Gus Dur menyelamatkan NU dari tekanan otoritarianisme Orde Baru sekaligus membangkitkan tradisi intelektual dan kaderisasi pemuda. KH Hasyim Muzadi membawa NU ke panggung global dengan gagasan Islam rahmatan lil ‘alamin sebagai jawaban atas stigma dan konflik peradaban. Sementara itu, KH Said Aqil Siroj tampil sebagai konsolidator organisasi dan ideologi, memperkuat infrastruktur pendidikan-kesehatan NU, serta menjadikan Islam Nusantara sebagai penyangga moderasi Islam di tengah gelombang politik identitas.
Keseluruhan periode tersebut menegaskan bahwa NU tidak pernah bertahan dengan satu pola kepemimpinan tunggal. Justru fleksibilitas, keberanian mengambil sikap tidak populer, serta kemampuan memadukan khittah keagamaan dengan tanggung jawab kebangsaan menjadi kunci keberlanjutan NU sebagai kekuatan keislaman, keindonesiaan, dan peradaban.
KM. Imaduddin, M.Hum., Alumni Pesantren Lirboyo, Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara, Anggota Lembaga Pentashihan Kitab & Konten Keislaman MUI Pusat, Anggota Lajnah Kaderisasi & Pelatihan Idarah Aliyyah JATMAN,. Kandidat Doktor Sejarah Peradaban Islam UNUSIA Jakarta
























