JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara KH Agus Muslim, kembali menegaskan pentingnya proses kaderisasi dalam melahirkan kepemimpinan yang kuat di tubuh NU. Ia menilai, pemimpin NU tidak bisa hadir secara instan, melainkan harus ditempa melalui proses panjang yang berjenjang dan berkesinambungan.
“Pemimpin NU harus dibesarkan lewat kaderisasi, bukan instan. Dari proses itu lahir militansi, pemahaman ideologis, dan komitmen terhadap jam’iyah,” ujar Kiai Agus dalam keterangannya di Jakarta Utara, Sabtu (04/04/2026).
Menurutnya, kaderisasi juga harus berjalan beriringan dengan pengalaman langsung di tengah masyarakat. Hal itu penting agar seorang pemimpin benar-benar memahami persoalan riil yang dihadapi warga Nahdliyin.
“Kalau tidak pernah bersentuhan dengan akar rumput, sulit memahami kebutuhan umat. NU ini besar karena basisnya di bawah, maka pemimpinnya pun harus tumbuh dari bawah,” tegasnya.
Ia menambahkan, kekuatan NU terletak pada soliditas struktur dari tingkat anak ranting hingga pusat, yang semuanya dibangun melalui sistem kaderisasi yang terarah.
Menurutnya, NU di Jakarta memiliki peran strategis sebagai penyangga nilai-nilai moderasi Islam di tengah kehidupan metropolitan. Karena itu, penguatan kaderisasi menjadi kebutuhan mendesak agar organisasi tetap mampu menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan kekinian.
Pernyataan tersebut tidak lepas dari pengalaman panjang Kiai Agus Muslim dalam berkhidmah di NU. Ia menempuh pendidikan pesantren di Pesantren Raudlatul Ulum dan Pesantren Al Muhajirin Gunung Tangkil, yang menjadi fondasi awal dalam memahami nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Ia mulai aktif di lingkungan NU sejak kurang lebih 29 tahun lalu, mengawali pengabdian sebagai Wakil Sekretaris Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jakarta Utara. Sejak itu, ia tidak pernah terputus dari struktur organisasi, menapaki satu per satu jenjang kepemimpinan dari bawah.
Dalam bidang kaderisasi, Kiai Agus termasuk generasi awal peserta program Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang digagas PBNU pada 2012. Selain itu, ia juga mengikuti berbagai jenjang kaderisasi strategis lainnya, seperti Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU), Pendidikan Dasar (PD) Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU, hingga Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU). Konsistensinya dalam dunia kaderisasi mengantarkannya dipercaya sebagai instruktur dalam kaderisasi MKNU dan PDPKP NU.
Lebih lanjut, karier organisasinya terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU, Kelapa Gading, Sekretaris PCNU Jakarta Utara, serta Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Ketua PCNU Jakarta Utara untuk periode kedua.
Sejak dilantik pada 2020, Kiai Agus langsung melakukan langkah konsolidasi organisasi secara menyeluruh. Di bawah kepemimpinannya, PCNU Jakarta Utara berhasil memperkuat struktur dengan membentuk dan mengaktifkan 6 MWCNU, 31 ranting, serta sekitar 120 anak ranting di seluruh wilayah Jakarta Utara.
Tidak hanya fokus pada penguatan struktur, ia juga mendorong pembangunan infrastruktur organisasi. Bersama Rais Syuriyah PCNU Jakarta Utara KH Nasihin Zain dan jajaran pengurus, memyempurnakan kembali Kantor PCNU Jakarta Utara dengan pembangunan tahap kedua pada 2021 dan diresmikan pada Oktober 2022. Gedung tersebut kemudian menjadi salah satu ikon kantor PCNU di wilayah DKI Jakarta.
Selain itu, di bawah kepemimpinannya, PCNU Jakarta Utara juga aktif mendorong penguatan kaderisasi, pelayanan umat, serta berbagai program sosial-keagamaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Dengan pengalaman panjang tersebut, Ia menegaskan bahwa masa depan NU sangat ditentukan oleh kualitas kaderisasi. Ia berharap, menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) NU DKI Jakarta, tradisi ini terus dijaga agar NU di Jakarta mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah, berintegritas, serta tetap dekat dengan akar rumput.
“NU ini besar karena kaderisasi dan kedekatannya dengan umat. Maka ke depan, kita harus terus melahirkan pemimpin dari proses yang benar, yang paham organisasi, paham ideologi, dan yang paling penting, paham betul persoalan di akar rumput,” pungkasnya.

























