السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
أَللهُ أَكْبَرُ 9×… أَللهُ أَكْبَرُ كَبْيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا عِيدَ الْفِطْرِ بِتَنْفِيذِ أَمْرِهِ، وَإِعْلَانًا بِتَكْبِيرِهِ وَذِكْرِهِ، وَقِيَامًا بِوَاجِبِ شُكْرِهِ، عَلَى أَدَاءِ مَا فَرَضَهُ عَلَى الْأَنَامِ، مِنْ تَأدِيَةِ فَرِيضَةِ الصِّيَامِ، وَأَنْوَاعٍ أُخَرَ مِنْ عِبَادَةِ شَهْرِ رَمَضَان.
أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، خَلَقَ الِْإنْسَانَ فَسَوَّاهُ، وَأَبْدَعَ تَكْوِينَهُ وَأَحْيَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَلْقَائِلُ فِي حَدِيثِهِ: زَيِّنُوا أَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيرِ.
صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم.
أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهُ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. أما بعد؛
Zumratal mu`minîn rahimakumullâh.
Alhamdulillah, Allah panjangkan usia kita, sehingga kita bisa kembali merasakan kebagiaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah, setelah kita merasakan nikmatnya beribadah puasa dan ibadah Ramadhan lainnya sebulan penuh.
Momentum Idul Fitri biasanya, antara lain, kita gunakan untuk saling kunjung-mengunjungi antar sanak saudara, kerabat, rekan dan sahabat, untuk saling memohon maaf dan memaafkan serta mendoakan satu sama lain. Inilah salah satu bentuk shilaturrahim, yang secara bahasa berarti sambung kasih sayang. Yang perlu diingat bahwa sebenarnya kewajiban melestarikan shilaturrahim, dengan berbagai bentuknya, adalah kewajiban harian yang mesti dijalani. Tentang hal itu, Allah SWT berfirman dalam penggalan Surah Al-Anfal ayat 1:
… فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَصْلِحُوْا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۤ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
… maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.
Lihatlah, betapa Islam memandang sangat penting menjaga kohesi sosial dengan cara memperbaiki hubungan baik antar sesama, sehingga perintah terkait hal tersebut berada langsung setelah perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT.
Biasanya, kita akan menyambung dan melestarikan shilaturrahim dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan baik dengan kita, dalam arti tidak ada masalah, seperti persaingan, amarah, permusuhan, kebencian atau dendam antara kita dan mereka. Tentu ini adalah sikap yang terpuji. Namun, jauh lebih terpuji lagi jika kita justru memulai atau mengawali untuk menyambung shilaturrahim dengan pihak-pihak yang antara kita dan mereka terdapat masalah, seperti hal-hal di atas. Rasulullah Saw. bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا (رواه البخاري وأبو داود والترمذي وأحمد)
Dari Abdillah ibn Amr, dari Nabi Saw, beliau bersabda: Bukanlah disebut sebagai penyambung tali shilaturrahim orang yang sejajar (yaitu yang menyambung tali shilaturrahim dengan pihak yang juga menyambung tali shilaturrahim dengannya), namun yang disebut sebagai penyambung tali shilaturrahim adalah orang yang menyambungkannya justru ketika tali shilaturrahim itu terputus (HR. Al-Bukhari)
Ma’âsyiral muslimîn rahimakumullâh.
Hendaknya kita jangan terlalu sibuk mencari siapa yang bersalah, karena ego manusia akan selalu mengatakan bahwa dirinya lah yang paling benar. Namun, berusahalah untuk menjadi orang yang lebih dahulu menyambung shilaturrahim yang terputus, maka sesungguhnya dialah orang menang atau minal fâ`izîn, kerena ia berhasil mengalahkan ego dan hawa nafsu amarah serta dendam dan kedengkian yang tertanam di dalam hatinya. Hal ini mungkin terasa berat, dan memang, kemenangan adalah hak orang-orang yang sukses menjalankan misi yang berat ini.
Jama’ah Idul Fitri yang berbahagia.
Di dalam kearifan Nusantara kita, momentum Idul Fitri biasanya juga dihiasi dengan tradisi Halal bi Halal. Di mana kita berkumpul dengan sanak saudara atau teman dan para sahabat untuk saling memohon maaf dan memaafkan. Tradisi yang sangat baik ini sesuai dengan wasiat Baginda Rasulullah Saw:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ (رواه البخاري)
Barang siapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya terkait kehormatannya atau yang lainnya, hendaklah ia meminta kehalalan (pemaafan) kepada saudaranya itu dari kezaliman tersebut pada hari ini juga, sebelum datang hari Kiamat yang tidak ada lagi uang dinar dan dirham. (Jika ia tidak meminta pemaafan dari saudaranya yang pernah ia zalimi itu) maka apabila ia memiliki amal shalih maka akan diambil pahala amal shalihnya itu yang sebanding dengan kezalimannya dan (pahala amal shalihnya tersebut) akan diberikan kepada saudaranya yang pernah ia zalimi. Jika ia tidak memiliki amal shalih maka soda saudaranya yang pernah ia zalimi akan diambil dan dipindahkan untuk dirinya (HR. Al-Bukhari)
Orang tua tentu punya salah kepada anak-anaknya, begitu juga anak kepada orang tuanya. Suami pasti punya salah kepada istrinya, begitu pula istri kepada suaminya. Atasan tentu pernah berbuat salah kepada bawahannya, begitu juga bawahan kepada atasannya. Pemimpin tentu pernah berbuat salah kepada rakyatnya, begitu juga rakyat kepada pemimpinnya.
Guru pasti pernah berbuat salah kepada muridnya, begitu pula murid kepada gurunya. Sesama tetangga, teman dan rekan tentu sama-sama pernah saling berbuat salah dan aniaya. Maka, janganlah memandang dan menilai diri kita dengan segala atribut dan topeng atau kedok keduniawian yang membuat kita angkuh dan jumawa, lalu gengsi dan tinggi hati untuk meminta maaf atas kesalahan dan kezaliman yang pernah kita perbuat kepada orang lain.
Cukup kesadaran bahwa diri kita ini adalah hamba-hamba Allah yang pernah bahkan banyak berbuat zalim, aniaya dan punya banyak kesalahan kepada banyak pihak. Maka mintalah, bahkan mohonlah kepada mereka agar mereka mau memaafkan kita, sehingga kita tidak termasuk golongan manusia yang bernasib sial dan naas kelak di Akhirat, yang tabungan pahalanya terkuras habis akibat menebus kesalahan dan kezalimannya kepada orang lain, bahkan mendapat limpahan saldo dosa dari orang-orang yang pernah dizaliminya, sebagaimana hadits Nabi di atas. Na’ûdzu billâh.
Di sisi lain, saat ada orang lain memohon maaf kepada kita, segera berikan maaf kita untuknya. Karena, jika kita mau orang lain mudah memaafkan kita, buatlah diri kita untuk terlebih dahulu mudah memaafkan orang lain. Itulah asas resiprokal (timbal balik) yang Islam dogmakan kepada kita, sebagaimana firman Allah SWT di dalam Surah Ar-Rahman ayat 50:
هَلْ جَزاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).
Juga, sebagaimana hikmah yang pernah disampaikan Abu ad-Darda` ra. yang dikutip oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal di dalam kitab Az-Zuhud-nya:
كَمَا تَدِينُ تُدَانُ
Sebagaimana engkau memperlakukan, demikian pula engkau akan diperlakukan.
Maka, lembutkanlah hati kita agar mudah memaafkan kesalahan orang lain, dengan demikian, insyaAllah akan Allah lembutkan juga hati orang lain untuk memaafkan segala kesalahan kita.
Demikianlah, akhirnya, semoga pada momentum Idul Fitri ini, segala amarah, benci, dendam dan kedengkian dapat kita singkirkan dari hati kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang berlapang dada untuk meminta maaf, dan berbesar hari untuk memaafkan. Semoga Allah SWT jadikan kita termasuk golongan minal fâ`izin, golongan orang-orang yang menang, terutama menang di dalam melawan ego, gengsi dan hawa nafsunya sendiri. Dan inilah bentuk kemenangan sejati di hari yang fitri ini. Âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُولَينَ. وَأَدْخَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الْصَالِحِينَ.
أَقُولُ قَوْلِي هذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوهُ…إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
أَللهُ أَكْبَرُ 7×… أَللهُ أَكْبَرُ كَبْيرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ عِيدَ الدِّينِ وَالْعِبَادَةِ، لَا مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا وَمَنَاهِجِ الْعَادَةِ، لِشُكْرِهِ عَلَى أَدَاءِ الصَّوْمِ الَّذِي بِهِ السَّعَادَةُ. فَهُوَ مِنِ مَوَاسِمِ الدِّينِ لِلْمُسْلِمِينَ، وَمِنْ مَظَاهِرِ الْإِبْتِهَاجِ بِطَاعَةِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، خَلَقَ الْخَلْقَ فَقَدَّرَ، وَسَيََّر الْعَوَالِمَ وَدَبَّرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَغَّبَ الطَّائِعِينَ وَبَشَّرَ، وَهَدَّدَ الْعَاصِينَ وَأَنْذَرَ.
صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَلَّمَ عَلَيهِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الْأَبْرَارِ الطَّيِّبِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
فَيَاأّيُّهَا النَّاس، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم.
أما بعد؛ أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد, كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم, فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد.
رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَلَوَالِدِينَا، وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات, أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَات, يِا قَاضِيَ الْحَاجَات.
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة, وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَار.
عِبَادَ الله, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان, وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَ الْبَغي, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم, وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
KH. A. Muzaini Aziz, Lc., MA., Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan, Kaderisasi dan Riset PP LADISNU (Pengurus Pusat Lajnah Dakwah Islam Nusantara) Jakarta dan Ketua Yayasan Al-Mu’in, Kota Tangerang.
Naskah Khutbah Jumat dalam bentuk PDF dapat di download dengan Klik tautan disini

























