اَلْحَمْدُ للهِ اَلْحَمْدُ للهِ اَلَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى ألِه وَأصْحَابِه وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّين،
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالى فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Hadirin yang dimuliakan Allah
Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj adalah peristiwa agung yang bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Saw, tetapi pelajaran besar tentang iman dan keterbatasan akal manusia. Isra’ Mi‘raj mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua kebenaran bisa dijangkau oleh rasio. Ada wilayah yang hanya bisa diterima dengan iman.
Allah Subḥanahu wa Ta‘ala berfirman:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
Artinya: “Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.” (QS. al-Baqarah: 2–3)
Perhatikan, jamaah sekalian. Ciri pertama orang bertakwa adalah iman kepada yang gaib. Surga dan neraka, siksa kubur, hari kebangkitan, hari perhitungan, dan hari kiamat—semuanya adalah perkara gaib. Kita tidak mengetahuinya dengan penelitian dan logika, tetapi dengan membenarkan wahyu Allah dan sabda Rasul-Nya.
Hadirin yang dirahmati Allah
Isra’ Mi‘raj berada di wilayah gaib. Ia adalah peristiwa luar biasa yang melampaui hukum kebiasaan. Maka sejak awal, Isra’ Mi‘raj bukan untuk ditimbang dengan logika semata, tetapi untuk diterima dengan iman.
Namun Islam bukan agama yang mematikan akal. Akal tetap memiliki peran penting. Bahkan para ulama Ahlussunnah menegaskan bahwa iman harus dibangun di atas pengetahuan, bukan sekadar ikut-ikutan.
Imam Abul Ḥasan al-Asy‘ari menegaskan bahwa pengenalan terhadap Allah (ma‘rifatullāh) adalah kewajiban rasional sebelum kewajiban syar‘i. Imam As-Sanusi dalam Ummul Barahin bahkan lebih tegas menyatakan bahwa iman orang yang sekadar mengikuti tanpa dasar penalaran (iman al-muqallid) berada dalam posisi bermasalah dan diperselisihkan keabsahannya.
Hal ini menunjukkan bahwa akal memiliki peran krusial dalam mengantarkan manusia pada iman, tetapi setelah iman itu berdiri, akal harus tunduk pada otoritas wahyu dalam perkara-perkara gaib. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:
تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللَّهِ وَلَا تَتَفَكَّرُوا فِي ذَاتِ اللَّهِ
Artinya: “Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang Dzat Allah.” (HR. al-Baihaqi)
Artinya, akal digunakan untuk mengenal kebesaran Allah, tetapi ketika berhadapan dengan perkara gaib, tugas akal adalah tunduk dan berserah.
Jamaah sekalian yang dirahmati Allah
Di zaman sekarang, kita hidup di era yang sering menuhankan rasionalitas. Segala sesuatu harus bisa dibuktikan, diukur, dan diuji. Isra’ Mi‘raj datang sebagai pengingat bahwa iman bukan sisa dari kebodohan, tetapi sikap sadar untuk tunduk kepada kebenaran Allah.
Isra’ Mi‘raj mengajarkan kepada kita bahwa akal adalah pintu menuju iman, tetapi iman adalah puncaknya. Ketika akal sudah sampai pada batasnya, maka imanlah yang menuntun kita untuk berserah diri.
Hadirin jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah
Sebagai penutup, marilah kita ingat satu kisah sederhana namun sangat dalam maknanya.
Ketika peristiwa Isra’ Mi‘raj disampaikan oleh Rasulullah Saw kepada kaum Quraisy, mereka menertawakan dan mengejek beliau. Mereka berkata, “Bagaimana mungkin seseorang pergi dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu kembali dalam satu malam?”
Dalam keadaan seperti itu, orang-orang Quraisy mendatangi Abu Bakar ra. Mereka berharap Abu Bakar akan ragu, bahkan meninggalkan Rasulullah Saw Mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah engkau percaya ucapan sahabatmu? Ia mengaku pergi ke Baitul Maqdis dan kembali dalam satu malam.”
Abu Bakar tidak meminta bukti. Tidak bertanya bagaimana caranya. Tidak pula berdebat dengan logika. Ia hanya berkata dengan penuh keyakinan:
إِنْ كَانَ قَالَ فَقَدْ صَدَقَ، إِنِّي أُصَدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ
Artinya: “Jika benar Muhammad yang mengatakan itu, maka pasti benar. Aku membenarkannya dalam perkara yang lebih jauh dari itu.”
Abu Bakar tidak dikenal sebagai orang yang paling cerdas secara teori, tetapi ia dikenal sebagai orang yang paling jujur imannya. Di situlah letak kemuliaannya.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati bukan iman yang selalu menuntut penjelasan, tetapi iman yang berserah ketika kebenaran datang dari Allah dan Rasul-Nya.
Maka, Isra’ Mi‘raj bukan hanya peristiwa yang diceritakan, tetapi pelajaran iman yang diwariskan—agar kita belajar berkata dalam hati: “Jika Allah dan Rasul-Nya yang menyampaikan, maka aku percaya.”
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَه اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
KM. Imaduddin, M.Hum. Alumni Pesantren Lirboyo, Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara, Anggota Lajnah Pelatihan & Kaderisasi Tarekat, Idarah Aliyyah JATMAN, Anggota Lembaga Pentashihan Buku & Konten Keislaman (LPBKI) MUI Pusat, Kandidat Doktor Sejarah Peradaban Islam (SPI) UNUSIA Jakarta.

























