Berikut ini kita agar ketaqwaan kita tetap lestari dan terjaga di sebelas bulan pasca Ramadhan sampai mati adalah :
1. Membangun kesadaran bahwa pelipatan pahala ibadah tidak hanya di bulan Ramadan.
Di selain Ramadhan pahala puasa juga dilipatgandakan. [Surat Al-An’am: 160]
مَن جَاۤءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَاۤءَ بِٱلسَّیِّئَةِ فَلَا یُجۡزَىٰۤ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا یُظۡلَمُونَ
Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu riwayat Imam Muslim ridhiallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallalm bersabda :
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Imam Muslim).
2. Membangun kesadaran bahwa
sebagai sebuah madrasah (sekolah), Ramadhan idealnya tidak hanya dimaknai sebagai Syahrul ibadah (bulan ibadah), bulan kesempatan untuk mendulang pahala/ganjaran yang sebesar-besarnya. Karena andai Ramadhan hanya dimaknai sebagai bulan ibadah dan menganggap di luar Ramadhan pahalanya tidak dilipat gandakan, maka apa yang selama ini terjadi dimana semarak/semangat ibadah yang hanya ada di bulan Ramadhan akan terulang kembali.
Akan tetapi Ramadhan hendaknya kita maknai juga sebagai Syahruttarbiyah (bulan trainning/pelatihan) untuk meningkatkan kwalitas ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’aalaa. Karena inilah sesungguhnya tujuan utama disyariatkannya puasa Ramadhan seperti yang difirmankan Allah Subhanahu wata’aalaa dalam surat Al-Baqarah ayat 183
{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ }
Kata تَتَّقُونَ yang terdapat dalam ayat di atas adalah fi’lun mudhori’ (kata kerja yang mencakup pekerjaan yang dikerjakan di waktu sekarang dan akan datang sampai mati). Artinya Allah SWT mensyari’atkan ibadah puasa dengan tujuan agar kita terlatih untuk bertaqwa selama lamanya sampai akhir hayat bukan saat Ramadhan saja.
Sebulan penuh kita digembleng dengan aneka ibadah, baik individual maupun sosial serta menahan hawa nafsu syahwat dan amarah dengan tujuan agar kita terlatih istiqamah beribadah di sebelas bulan berikutnya bahkan sampai akhir hayat. Dengan demikian kita akan diwafatkan Husnul khatimah.Karena wafat Husnul khatimah adalah wafat dimana seseorang dalam keadaan istiqamah ibadah.
Pelatihan istiqamah puasa Sunnah
Sebulan penuh kita dilatih puasa secara berturut-turut, disamping mendapat pahala yang tak terhingga dan ampunan Allah Subhanahu wata’aalaa, tujuannya agar bisa kita lanjutkan di luar Ramadhan dengan puasa-puasa Sunnah. Kalau 30 hari berturut-turut saja ternyata kita mampu, apalagi puasa syawwal yang hanya 6 hari, ayyaamul bidh yang hanya 3 hari serta Senin Kamis yang hanya dua hari seharusnya kitapun mampu.
Pelatihan istiqamah shalat berjama’ah di masjid
Shalat tarawih yang kita kerjakan tak terputus selama sebulan, disamping sebagai ampunan dosa tujuannya agar kita terlatih untuk istiqamah shalat berjama’ah di masjid.
Selama Ramadhan, jangankan shalat wajib, shalat sunnat saja ternyata Alhamdulillah kita mampu melaksanakannya secara berjama’ah seperti tarawih dan qiyamullail. Karena itu, bila shalat sunnat saja kita lakukan secara berjama’ah, apalagi shalat wajib yang lima waktu. Harusnya kitapun mampu
Pelatihan istiqamah shalat di awal waktu
Hanya di Ramdhan semua orang beriman di dunia ini kompak menunggu waktu maghrib untuk berbuka puasa. Pelajaran yang ingin Allah SWT sampaikan adalah agar kita ISTIQAMAH SHALAT DI AWAL WAKTU SECARA BERJAMA’AH DI MASJID
Pelatihan istiqamah bangun malam
Kalau selama Ramadhan kita mampu bangun sebelum subuh setiap hari, seharusnya kitapun mampu melakukannya di luar Ramadhan.
Pelatihan istiqamah membaca Al-Qur’an
Kalau di Ramadhan kita mampu membaca Al-Qur’an satu juz sekali duduk, harusnya di luar Ramadhan kita mampu membaca 2 lembar saja setiap ba’da shalat Fardu sehingga sehari bisa satu juz dan sebulan sekali khatam
3. Membangun kesadaran bahwa beribadah kepada Allah swt harus dilakukan sepanjang hidup/sepanjang hayat di kandung badan. Jiwa robbaaniyyiin bukan romadhoniyyin
Karena sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah SWT dari ibadah kita adalah ibadah yang istiqamah berkelanjutan sampai akhir hayat kita
Ulama mengatakan
كن ربانيين ولا تكن رمضانيين
“Jadilah hamba Allah SWT selamanya dan janganlah menjadi hamba Ramadhan”
{ وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ }
[Surat Adz-Dzariyat: 56]
{ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ یَأۡتِیَكَ ٱلۡیَقِینُ }
“Beribadalah kepada Allah SWT sampai mati” [Surat Al-Hijr: 99]
Ibadah yang paling disukai Allah SWT adalah ibadah yang bersifat kontinyu/istiqamah sampai mati
Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.” (HR. Muslim no. 783)
Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,
أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
‘”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”_(HR. Muslim no. 782)
’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ
”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.” (HR. Muslim no. 783)
Untuk itulah mari kita jadikan Ramadhan sebagai bulan pelatihan/training agar kita ISTIQAMAH beribadah kepada Allah SWT Samapi akhir hayat sehingga dengan demikian kita diwafatkan HUSNUL KHATIMAH.Aamiin.
4. Meluruskan Niat dalam Beribadah
Beribadah hanya berharap ridha Allah Subhanahu wata’aalaa semata [Surat Al-Bayyinah: 5]
{ وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰلِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ }
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وَمَا لاَ يَكُوْنُ لله لاَ يَنْفَعُ وَلاَ يَدُوْمُ و مَا كَانَ للهِ يَبْقَى
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal. Dan segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.” ((Dar’ At-Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql, 2:188).
Implikasi dari ikhlas dalam beribadah ibadah adalah istiqamah dalam beribadah. Orang yang ikhlas beribadah pasti istiqamah ibadahnya. Kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun dia pasti istiqamah beribadah
Indikator seseorang mendapatkan Lailatul Qadar dan diterimanya ibadah Ramadhan
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam Lathaif Al-Ma’arif dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim dari tafsir surat Al-Lail, mengatakan :
إِنَّ مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةَ بَعْدَهَا، وَإِنَّ مِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ بَعْدَهَا
“Sesungguhnya di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Dan di antara balasan dari amalan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”
Maksudnya adalah tanda suatu amalan itu diterima adalah jika dilanjutkan dengan kebaikan selanjutnya dan tanda suatu amalan tidak diterima (dinilai jelek) adalah jika dilanjutkan dengan kejelekan selanjutnya.
Indikator seseorang mendapatkan Lailatul Qadar dan diterimanya ibadah Ramadhan adalah
استمرار على طاعة الله بعد رمضان حتى الموت
“Berlanjutnya keta’atan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa pasca Ramadhan sampai mati”
Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberikan kepada kita kekuatan kepada kita untuk selalu ISTIQAMAH beribadah kepadaNya samapi akhir hayat sehingga dengan demikian kita diwafatkan HUSNUL KHATIMAH.Aamiin
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)
Domisili: Thali’a Clauster (Ps. Ceger) Jl. Musholla Nurul Huda No.1, blok B12Jurang Mangu Barat, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222 HP/WA +62852-1737-0897.
























