JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Esmail Qa’ani melontarkan ancaman baru kepada Amerika Serikat dan Israel setelah insiden militer di Iran tengah yang, menurut Teheran, menimbulkan kerugian di pihak Washington.
Dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Minggu 5 April, Qa’ani menyebut Washington dan Tel Aviv harus menunggu “kejutan-kejutan baru” menyusul operasi penyelamatan yang gagal di selatan Provinsi Isfahan.
Iran menyatakan dua pesawat angkut militer C-130 dan dua helikopter Black Hawk milik Amerika dihancurkan dalam operasi tersebut. Insiden itu disebut terjadi saat upaya evakuasi seorang pilot Amerika di wilayah selatan Isfahan.
Qa’ani kemudian membingkai insiden itu sebagai pengulangan kegagalan historis Militer Amerika di Iran. Ia merujuk pada Operasi Eagle Claw pada 1980, misi Militer Amerika yang berakhir gagal di gurun Tabas saat berupaya mengevakuasi warganya dari Iran pasca-Revolusi.
“Asap dari selatan Isfahan dan kapal Israel yang hangus di Laut Mediterania mengingatkan pada kegagalan Tabas 1980 dan insiden Angkatan Laut Sa’ar pada 2006,” tulis Qa’ani.
Pernyataan tentang kapal Israel di Laut Mediterania merujuk pada serangan Hizbullah yang menghancurkan sebuah kapal perang Israel di lepas pantai Lebanon.
Dalam unggahan yang sama, Qa’ani juga menyelipkan sindiran politis dengan menyebut “Elite Epstein”, dan menegaskan pola kegagalan operasi militer serupa tidak akan berhenti pada satu insiden, melainkan berpotensi meluas ke seluruh Kawasan.
“Jalan buntu operasi dan kegagalan seperti Desert One akan terulang, kali ini di seluruh Kawasan,” ujarnya.
Pernyataan Qa’ani muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa pekan terakhir. Eskalasi terbaru menandai semakin terbukanya konfrontasi militer di Kawasan, dengan ancaman meluas ke lebih banyak front jika tidak ada upaya de-eskalasi dalam waktu dekat.

























