• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Menyelidiki Sanad Nasionalisme Santri

Menyelidiki Sanad Nasionalisme Santri

August 1, 2022
Kiai Said

Marak Pengasuh Ponpes Jadi Pelaku Pelecehan, Kiai Said: Kekerasan Seksual Khianati Marwah Pesantren

May 20, 2026
Tegar Pradana, Koordinator Wilayah BEM PTNU DIY.

Rupiah Melemah dan Rakyat Menjerit, BEM PTNU DIY: Jangan Anggap Krisis Ekonomi Sekadar Angka

May 20, 2026
Kiai Said Aqil Siroj

Kiai Said Tegaskan Melaporkan Kekerasan Seksual di Pesantren Bukan Durhaka

May 20, 2026
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)

Umur Biologis dan Umur Hakiki

May 20, 2026
Muhadjir Effendy, Penasihat Khusus Presiden Bidang Urusan Haji, Menteri Agama Ad Interim Tahun 2022.

Muhadjir Effendy Dipaggil KPK Terkait Korupsi Kuota Haji

May 19, 2026
Menjelang Muktamar NU dan Harapan Lahirnya Energi Baru. Menjelang Muktamar NU dan Harapan Lahirnya Energi Baru

Menjelang Muktamar NU dan Harapan Lahirnya Energi Baru

May 19, 2026
Rupiah Terjun Bebas, PNIB Nilai Alarm Keras Kegagalan Pemerintah menjaga Stabilitas Ekonomi, Korbanya Rakyat Desa dan Kota

Rupiah Terjun Bebas, PNIB Nilai Alarm Keras Kegagalan Pemerintah menjaga Stabilitas Ekonomi, Korbanya Rakyat Desa dan Kota

May 19, 2026
Keterangan Gambar : Ilustrasi AI simulasi rekaman CCTV (Night Vision/Noise), yang direkonstruksi berdasarkan Laporan Polisi, dimana menunjukkan mobil Daihatsu Rocky merah di bahu jalan tol Tol Jakarta-Tangerang (Kebon Jeruk) dini hari. Terdapat label 'PELAKU MENDEKATI MOBIL' dan 'KORBAN DI SEMAK-SEMAK.

Pelaku Pencurian Mobil Sigra Di Tol Km 3,8 Diburu Polisi, Korban Berharap Bisa Tertangkap

May 19, 2026
Yudhie Haryon (CEO Nusantara Centre) dan Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

Rupiah Lemah itu Taktis

May 19, 2026
Kritik Pertumbuhan Ekonomi 2026 Kepada Prabowo, Lebih Beresensi Pujian dan Dukungan

Kritik Pertumbuhan Ekonomi 2026 Kepada Prabowo, Lebih Beresensi Pujian dan Dukungan

May 19, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Wednesday, May 20, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Menyelidiki Sanad Nasionalisme Santri

(Refleksi Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2022)

liputan9news by liputan9news
August 1, 2022
in Uncategorized
A A
1
Menyelidiki Sanad Nasionalisme Santri

Gus Imad, adalah Sekretaris Majelis Dakwah Nusantara (MADINA)

511
SHARES
1.5k
VIEWS

Jakarta, Liputan9 – Negeri indah bernama Indonesia ini sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, dan golongan, yang rentan sekali terjadi gesekan bernuansa SARA, yang akan mengancam kedamaian dan keutuhan bangsa.

Kita ingat, negeri ini telah beberapa kali dilanda konflik berlatar belakang SARA. Kita ingat di era orde baru, peristiwa tanjung Priok, pembakaran gereja di Tasikmalaya dan Situbondo, konflik etnis Madura dengan Dayak di Sambas Kalbar. Di era Gus Dur terjadi konflik Ambon dan Poso. Di era SBY pengusiran penganut Syiah Sampang Madura. Sedangkan di era Jokowi penyerangan jama’ah shalat idul Fitri oleh kelompok Pemuda Gereja GIDI di Tolikara, Papua, serta terakhir pembakaran Wihara di Tanjung Balai Sumatera Utara.

Diperkirakan konflik-konflik bernuansa SARA akan terus dan akan ada di negeri ini, terlebih orang semakin bebas bicara di media sosial. Meski sudah ada UU ITE, namun intoleransi dan radikalisme yang berpotensi menyulut konflik SARA masih saja marak di medsos.

BeritaTerkait:

PBNU Buka Beasiswa ke Maroko 2026, Inilah Syarat dan Tahapan Pendaftarannya!

Ketika Polarisasi Membunuh Karakter Nahdliyin-Santri, Kapan Selesai?

Dua Santri Putri Mahabbatul Quran Setu Raih Juara MTQH ke-57 Kabupaten Bekasi, Siap Tampil di Acara Penutupan

BEM PTNU DIY Gelar Talkshow Spesial Hari Santri: Merawat Citra Menguak Realita Membangun Dialog Terbuka antara Pesantren dan Media

Namun perlu dicatat, dalam ingatan dunia, Indonesia termasuk negara yang berhasil meredam konflik SARA. Kita berpengalaman mengelola konflik-konflik SARA hingga tak membesar menjadi konflik nasional. Selama ini konflik-konflik tersebut hanya bersifat lokal, tak sampai menjadi konflik berskala nasional yang mengakibatkan perang saudara berkepanjangan seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Kini, Suriah, Irak, Libya, Afghanistan kini porak poranda akibat konflik sektarian dan politik.

Mengapa Indonesia mampu meredam konflik SARA?
Ulama berperan penting dalam mencegah terjadinya konflik SARA, dan ulama juga berperan dalam mendamaikan kelompok yang bertikai. Kecintaan terhadap bangsa ini, agar bangsa ini tetap utuh, mendorong para ulama terlibat aktif dalam menyelesaikan konflik-konflik sosial. Pada sisi yang berbeda masyarakat Indonesia masih menaruh hormat kepada para ulama, karena para ulama itu adalah representasi Nabi Muhammad dalam membimbing umat.

Ulama yang berkarakter pendamai dan penyejuk umat secara umum dilahirkan dari tradisi pesantren, lebih khusus lagi pesantren tradisional. Pesantren-pesantren tradisional di Nusantara ini seluruhnya mengajarkan paham ahlussunah Wal jama’ah dan menerapkan laku tasawuf dalam metode pembelajaran.

Sebaimana kita tahu Aswaja adalah paham Islam yang menekankan prinsip Tawassuth atau moderat. Ketaatan kepada kiyai, keberkahan ilmu bergantung pada keridhoan guru, akhlak lebih utama daripada ilmu, riyadhoh, tarekat, adalah unsur-unsur tak terpisahkan dari doktrin pembelajaran di pesantren-pesantren tradisional. Hasil dari metode pendidikan demikian melahirkan ulama-ulama berkarakter moderat, toleran, santun, dan rekonsiliatif. Dan semuanya ulama-ulama tersebut mengabdi di Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Perbedaan pendapat di antara ulama (produk pesantren tradisional) sudah pasti ada, namun sebagaimana kita tahu perbedaan di antara mereka tidak menjadikan perpecahan dalam tubuh NU, juga tidak membuat sesama mereka saling mencaci maki dan menjauhi satu sama lain. Jalinan silaturahim di antara mereka tetap terjalin, meski dalam forum mereka berdebat sengit.

Sebagai contoh, dahulu pernah terjadi konflik yang terjadi antara KH. As’ad Syamsul Arifin dengan Gus Dur, yang menyebabkan Kiyai As’ad mufaraqah dari kepemimpinan Gus Dur. Juga antara KH. Bisri Syamsuri dengan ulama sepuh NU yang soal soal Pancasila. Dan masih banyak lainnya yang turut mewarnai perjalanan Jam’iyah NU.

Namun berbeda dengan ulama-ulama produk pesantren tradisional, di negeri ini ada juga ulama-ulama yang justru menjadi provokator. Ceramah-ceramahnya sering provokatif dan membakar emosi massa, serta menebar kebencian kepada kelompok yang berseberangan dengan mereka. Mereka malah memprovokasi rakyat, yang tragisnya di saat pemerintah dan ulama lainnya sedang berupaya meredakan konflik. Mereka suka mencaci maki pihak yang berbeda pandangan politik.

Biasanya ulama yang seperti ini bukan lahir dari rahim pesantren tradisional. Rata-rata kiblat keagamaan ulama model seperti ini langsung ke Timur Tengah, yang, sebagaimana kita tahu bangsa Arab kental dengan tradisi konflik.

PESANTREN, PEMEGANG TONGKAT ESTAFET DAKWAH WALISONGO
Sanad nasionalisme dan metode dakwah santun, toleran, dan akomodatif terhadap budaya, merujuk kepada Wali Songo. Wali Songo adalah para ulama yang membawa ajaran ahlussunah Wal jama’ah ke Nusantara. Oleh karena itu, proses islamisasi yang dilakukan oleh wali songo berjalan secara soft dan natural, sesuai dengan karakter ajaran Aswaja itu sendiri yang mengakomodir kebudayaan lokal.

Wali Songo berhasil mendialogkan ajaran Islam yang berasal dari Arab dengan tradisi masyarakat Nusantara. Mereka tidak merubah tradisi masyarakat yang sudah ada dan berlangsung, tetapi mewarnai sehingga melahirkan tradisi baru keislaman masyarakat nusantara. Maka tak salah jika Clifford Gertzs menyebut walisongo itu bukan hanya sekedar dai yang menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga sebagai cultural broker, makelar kebudayaan.

Untuk mencetak kader-kader dakwah di era selanjutnya, Wali Songo mendirikan pesantren. Dahulu pesantren adalah tempat pendidikan para calon pemuka agama Hindu. Walisonngo kemudian mengadopsi sistem tersebut untuk menggembleng calon-calon penerus dakwah Islam dan pemimpin umat.
Tercatat, Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta di Surabaya. Santri-santrinya antara lain, puteranya sendiri, Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan Ainul Yaqin atau Raden Paku (Sunan Giri), putera angkat Nyi Ageng Manila, seorang saudagar kaya dari Gresik.

Istilah Santri, menurut Zamakhsari Dhofier mengutip C.C. Berg, berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang-orang yang tahu kitab-kitab suci Agama Hindu. Kata Sasthri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Kata Pesantren diambil dari kata santri, berarti tempat tinggal para santri.

Sepeninggal Wali Songo, para ulama penerus ajaran Wali Songo juga mendirikan pesantren. Maka, banyak kita temukan pesantren-pesantren tua yang telah berdiri sekian abad yang lalu, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Jawa Barat. Sebagiannya justru masih eksis hingga kini, seperti Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Langitan di Tuban, dan Pesantren Buntet di Cirebon yang sudah berdiri sejak permulaan abad 18.

Keberadaan pesantren pasca Wali Songo memiliki sangat vital di tengah-tengah masyarakat. Kiyai dan pesantren bahkan melakukan transformasi total dalam sikap hidup masyarakat sekitarnya. Sehingga budaya masyarakat ikut dipengaruhi oleh pesantren. Pada akhirnya pesantren menjadi sub kultur, demikian Gus Dur.

SANAD NASIONALISME SANTRI BERSAMBUNG KE WALISONGO
Jargon hubbul Wathon minal iman, cinta tanah air bagian dari iman telah mengemuka sejak permulaan abad 20. Adalah kalangan santri dan pesantren yang diwakili oleh Hadratussyekh Hasyim Asy’ari yang mempopulerkan jargon ini pertama kali.

Saking populernya jargon ini, sampai-sampai dianggap sebagai hadis. Hubbul Wathon minal iman, adalah sebuah pandangan yang tak memisahkan antara ajaran agama dan nasionalisme, ibarat dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Pandangan ini muncul disaat kelompok-kelompok Islam yang ada bingung memutuskan antara apakah berjuang membela tanah air termasuk jihad fi Sabilillah.

Konsep Hubbul Wathon minal iman menginspirasi lahirnya Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 NU yang dipimpin oleh Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Isi resolusi jihad intinya adalah, bahwa memperjuangkan tanah air sama halnya dengan memperjuangkan agama karena agama Islam ini hidup di bumi Indonesia. Bahwa membela tanah air dari penjajahan belanda hukumnya adalah fardhu ‘ain dan mati mempertahankan tanah air hukumnya mati syahid.

PENUTUP
Pada akhirnya, wajar jika NU yang lahir dari rahim pesantren, menjadi garda terdepan dalam membela dan memperjuangkan bangsa ini dari rongrongan penjajah dan ideologi-ideologi yang ingin menghancurkan keutuhan bangsa ini. Sederhananya, NU punya saham yang besar atas bangsa ini.

Habib Lutfi bin Yahya, membuat analogi sederhana tentang bagaimana menjaga Indonesia. Indonesia ini ibarat sebuah botol yang terisi air. Aswaja adalah airnya. Jika botolnya pecah maka tentu saja airnya akan tumpah. Nah, menjaga Indonesia dari perpecahan sama halnya dengan menjaga Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Oleh karena itu, maka wajib hukumnya menjaga keutuhan bangsa ini.

Oleh: KH. M. Imaduddin, Sekretaris Majelis Dakwah Nusantara (MADINA)

Tags: 22 OktoberImadudinSantri
Share204Tweet128SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Universitas al-Qarawiyyin, Fatima al-Fihri in Fez, Morocco (Foto: africanpridemagazine.com)
Nasional

PBNU Buka Beasiswa ke Maroko 2026, Inilah Syarat dan Tahapan Pendaftarannya!

by liputan9news
January 27, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali membuka pendaftaran program beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan di...

Read more
Imam Jazuli

Ketika Polarisasi Membunuh Karakter Nahdliyin-Santri, Kapan Selesai?

December 28, 2025
Dua Santri Putri Mahabbatul Quran Setu Raih Juara MTQH ke-75 Kabupaten Bekasi, Siap Tampil di Acara Penutupan

Dua Santri Putri Mahabbatul Quran Setu Raih Juara MTQH ke-57 Kabupaten Bekasi, Siap Tampil di Acara Penutupan

November 22, 2025
BEM PTNU DIY

BEM PTNU DIY Gelar Talkshow Spesial Hari Santri: Merawat Citra Menguak Realita Membangun Dialog Terbuka antara Pesantren dan Media

October 29, 2025
Load More

Comments 1

  1. finessa says:
    3 months ago

    **finessa**

    Finessa is a natural supplement made to support healthy digestion, improve metabolism, and help you achieve a flatter belly.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2561
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Kiai Said

Marak Pengasuh Ponpes Jadi Pelaku Pelecehan, Kiai Said: Kekerasan Seksual Khianati Marwah Pesantren

May 20, 2026
Tegar Pradana, Koordinator Wilayah BEM PTNU DIY.

Rupiah Melemah dan Rakyat Menjerit, BEM PTNU DIY: Jangan Anggap Krisis Ekonomi Sekadar Angka

May 20, 2026
Kiai Said Aqil Siroj

Kiai Said Tegaskan Melaporkan Kekerasan Seksual di Pesantren Bukan Durhaka

May 20, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In