Tulungagung, Jawa Timur, LIPUTAN9.ID
Selesai Ziarah ke Mbah Panjalu, di pagi hari yang tenang dan cerah rombongan Jamaah TSQN melanjutkan perjalanan menuju Tulungagung Jawa Timur dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 680 KM. Rabu, (15/03/23) Malam hari.
Banyak sekali pelajaran yang dapat di jadikan faidah dan manfaat pada setiap jengkal perjalanan panjang ini, yang paling utama adalah mujahadah dan ghiroh kita terhadap guru, untuk menimba ilmu dan barokah dari guru Mursyid.
Pada malam hari yang sunyi rombongan sampai dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur kepada Allah SWT, karena kami sampai tepat waktu dengan selamat. Setibanya di Kutoanyar rombongan langsung menuju Makam Mbah KH. Chasbullah Marzuqi, Desa Kutoanyar, Tulungagung.
Setelah selesai mengumandangkan dzikir dan tahlil rombongan disambut dengan gembira oleh tuan rumah, yang tidak lain adalah para dzuriyah Mbah Kakung, Kyai Ali Murtadha. Banyak sekali pelajaran yang kami dapatkan dalam rangkain silaturrahim tersebut. Terutama kemurnian ajaran dan amaliah Mbah Kakung dalam mengamalkan Thoriqoh dalam kehidupan sehari-hari.
Riwayat Singkat Mbah KH. Chasbullah Marzuk Kutoanyar
Mbah Kakung atu Mbah Hasbulloh Marzuki adalah ayah dari istri KH. Mahfudz Syafi’i, yaitu Nyai Hj. Muhshonah Ch. (Ayah mertua sekaligus guru dari KH. Mahfudz Syafi’i). Beliau lahir di Kolomayan, Kediri, Jawa Timur pada hari Selasa Kliwon, 09 April 1901 M. atau 19 Dzul Hijjah 1318 H. yaitu putra dari pasangan suami istri KH. Marzuqi dan Nyai Kasiyam. Nasab KH. Hasbulloh bersambung kepada Seorang ‘Alim Hasan Besari, Ponorogo.
Pada saat kecil beliau mengaji dan sekolah di Pondok Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur yang diasuh oleh KH. Imam Jazuli. Karena kondisi Ekonomi beliau, maka jarak Kolomayan–Ploso yang sekitar 7 km beliau tempuh dengan berjalan kaki setiap harinya dan mengaji serta sekolah dengan perlengkapan sederhana bahkan dengan pakaian yang hanya satu-satunya untuk di kenakan setiap hari. Pernah pada suatu saat beliau dikeluarkan dari kelas dan tidak boleh mengikuti pelajaran karena belum membayar iuran. Namun, karena kegigihan dan semangat beliau yang tinggi, beliau rela belajar diluar kelas dibawah jendela.
Saat telah beranjak dewasa, beliau dijodohkan oleh keluarganya dengan sepupunya sendiri yaitu Nyai HJ. Ummi ‘Afifah putri dari pasangan suami istri H. Ridwan dan Hj. Hasanah. Beliau menikah pada umur 42 tahun, sedangkan Nyai HJ. Ummi ‘Afifah berumur 13 tahun yang kemudian dianugerahi beberapa orang putra dan putri, yaitu :
- Muhaimin,
- Nyai Muhshonah (Istri KH. Mahfudz Syafi’i),
- Nyai Muhayyaroh (Istri KH. Zaed ‘Abdul Hamid, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Mahir Arriyadh, Ringinagung, Pare, Kediri serta Pengasuh Pondok Pesantren Putri Islahiyyatul Ashroriyyah, Ringinagung, Pare, Kediri),
- Kiai Muhsin,
- Nyai Muhsinin,
- Nyai Mudhi’atuzzaman (Istri KH.’Abdulloh Faqih, pengasuh Pondok Pesantren Darun Naja, Bakung, Udanawu, Blitar, Jawa Timur),
- Nyai Munifah,
- Nyai Munawwaroh,
- Nyai Mudzakir,
- Kiai Alwi Mubarid,
- Nyai Muslimatul Bariroh (Istri Kyai Burhanuddin Qomari, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Gedangan, Kandangan, Kediri, Jawa Timur),
- Nyai Mudrikatul Ashroriyyah,
- Kiai Ahmad Ali Murtadho,
- Muhtajuddin,
- Nana Mu’ayyanah.

Mbah KH. Hasbulloh Marzuki merupakan murid pertama kali yang meminta untuk di bai’at kepada gurunya yaitu Mbah Kiai Mustaqim bin Husein dari sekian banyak murid yang pada saat itu belum ada satupun yang di bai’at.
Kiai Mustaqim pernah memerintahkan KH. Hasbulloh untuk mencari tujuh orang (termasuk KH. Hasbulloh) yang masih murni dan belum pernah bermaksiat (zina) yang kemudian diperintahkan untuk meminum minyak al-Qur’an, tetapi dari ketujuh orang itu, hanya ada tiga orang yang meminum minyak al-Qur’an itu, yaitu: KH. Hasbulloh (wafat di Tulungagung), Kyai Mubin (wafat di Tulungagung), dan Kyai Murtaji (wafat di Tulungagung).
Kiai Mustaqim menugaskan penyebaran Thoriqoh kepada tiga orang delegasi tersebut dengan tugas yang berbeda-beda. KH. Hasbulloh ditugaskan mengikuti kongres Thoriqoh Syadziliyyah, Qodiriyyah dan Naqsabandiyyah di Krapyak–Yogyakarta, Lasem, Mojosari-Nganjuk, Bendo – Pare dan memimpin para murid di kauman, Tulungagung saat itu. Untuk Kyai Mubin, beliau ditugaskan keluar negeri, yaitu Jerman, Belanda, Perancis dengan berjalan kaki. Sedangkan Kyai Murtaji ditugaskan dikauman, Tulungagung. Diantara tugas Kiai Mubin adalah membimbing para santri dan sebagai Thobibnya pada saat itu. Kini tempat itu (di kauman, Tulungagung) bernama Pondok PETA (Pondok Pesulukan Thoriqot Agung). (ASR)