JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Lutfi Hakim menilai upaya penanganan banjir Jakarta yang masih terfokus pada modifikasi cuaca belum efektif. Menurutnya, langkah tersebut justru dapat menimbulkan masalah baru terkait kesuburan dan kerusakan sumber daya tanah jika dilakukan dalam jangka waktu panjang.
Kiai Lutfi menekankan bahwa hujan merupakan siklus alamiah yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup di bumi, sehingga rekayasa cuaca perlu dipertimbangkan dampak jangka panjangnya. Baca Juga Pemprov Jakarta Minta Perusahaan Berlakukan WFH Selama Banjir.
“Saya kira belum efektif, sebab masih terfokus pada cara lama yaitu modifikasi cuaca. Padahal kita tahu bahwa hujan merupakan siklus alamiah yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup di bumi,” ujarnya seperti dilansir NU Online Jakarta, Jumat (23/01/2026).
Kiai Lutfi menjelaskan bila rekayasa cuaca dilakukan untuk jangka waktu yang panjang, akibatnya dapat menyebabkan masalah baru. Baca Juga PWNU DKI Jakarta Desak Pemprov Lakukan Penanganan Banjir.
“Bila rekayasa cuaca dilakukan untuk jangka waktu yang panjang, akibatnya dapat menyebabkan masalah baru yang berkaitan dengan kesuburan dan rusaknya sumber daya tanah,” terangnya.
Kiai Lutfi juga mempertanyakan besaran anggaran modifikasi cuaca yang mencapai Rp31 miliar. Menurutnya, jika tujuannya hanya menunda atau memindahkan hujan untuk sementara waktu, metode pawang hujan yang relatif lebih murah bisa menjadi alternatif.
“Apalagi sampai memakan biaya besar, yakni Rp31 miliar. Kenapa tidak menggunakan pawang hujan saja yang biayanya relatif lebih murah, kalau hanya menunda atau memindahkan hujan untuk sementara waktu,” katanya.
Kiai Lutfi menegaskan langkah yang harus menjadi prioritas adalah mengkoreksi kebijakan tata ruang yang dapat merusak daerah resapan air. Menurutnya, hujan ekstrem saat ini bukan lagi menjadi siklus lima tahunan, tapi bisa terjadi kapan saja.
“Langkah yang harus menjadi prioritas adalah mengkoreksi kebijakan tata ruang yang dapat merusak daerah resapan air. Sebab hujan ekstrem sekarang ini bukan lagi menjadi siklus lima tahunan seperti layaknya pemilu, tapi bisa terjadi kapan saja,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa hujan seharusnya tidak disalahkan, melainkan dijadikan tantangan dan peluang untuk memaksimalkan pengelolaan air melalui pembangunan sumur resapan dan waduk atau embung.
“Jadi, jangan salahkan hujan, sebab hujan seharusnya menjadi tantangan dan peluang bagaimana memaksimalkan anggaran yang ada agar air cepat surut,” utaranya.
Kiai Lutfi menambahkan dibutuhkan banyak sumur resapan dan pembuatan waduk atau embung untuk mempercepat penyerapan air.
“Oleh karena itu dibutuhkan banyak sumur resapan dan pembuatan waduk atau embung,” pungkasnya.

























