• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Radikalisme Bukan Ajaran Pesantren

Radikalisme Bukan Ajaran Pesantren

August 9, 2022
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memimpin konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)

Ketum PBNU Tegaskan Seluruh Unsur Organisasi Kompak Hadiri Harlah Ke-100 NU

January 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Radikalisme Bukan Ajaran Pesantren

Oleh: KH Busyrol Karim Abdul Mughni, (Ro'is Syuriyyah PCNU Kab Kediri)

liputan9news by liputan9news
August 9, 2022
in Uncategorized
A A
0
Radikalisme Bukan Ajaran Pesantren
498
SHARES
1.4k
VIEWS

Kediri, Liputan9 – Beberapa tahun lampau, pernah mengemuka kecurigaan bahwa pesantren menjadi sarang tumbuhnya radikalisme Islam lantaran adanya sejumlah pesantren disinyalir menjadi sasaran pengembangan gerakan radikal Islam menyusul terungkapnya jaringan pelaku peledakan bom di Bali dan terungkapnya sebuah komplotan yg menyimpan bahan peledak di Solo dan Semarang beberapa tahun silam. Kecurigaan ini terkait dengan kenyataan bahwa para pelaku teror serangkaian pemboman tersebut adalah para alumnus pesantren yg berjaringan dengan pesantren Ngruki Solo yg dipimpin oleh Abu Bakar Ba’asyir, eks Amir Jama’ah Islamiyah yg berodeologi Ialam Fundamentalis.

Jika diamati secara seksama, pesantren-pesantren yang ada dinegeri ini jumlahnya belasan ribu pesantran, selain pesantren yg disebutkan diatas, tak satupun ada pesantren yang menghasilkan tokoh-tokoh ekstrimis yang mempunyai orientasi pada kelompok radikal. Karena kekerasan fisik memang tidak mendapat tempat di dunia pesantren yang mengedepankan kearifan, kelembutan dan kesadaran dalm proses pendidikannya. Jika ada santri yang melanggar tata tertib dipesantren, hukumannya pun bersifat edukatif, seperti membersihkan lingkungan, bukan dengan dicambuk dan adegan kekerasan fisik lainnya.

Demikian pula dengan para kiyai pengasuhnya, dalam sejarahnya, mereka ini rata-rata justru sebagai tokoh nasionalis. Sebaliknya, tokoh-tokoh yang dikategorikan sebagai kelompok garis keras, tdk satupun yang tergolong sebagi kiyai.
Dipihak lain, meskipun tidak sedikit para kiyai yg tak suka dengan jabatan pemerintahan, namun mereka tidak memusuhinya. Dan meski pula tak sedikit dari mereka yang tak segan-segan mengadakan kritik terhadap siapa saja yang mereka anggap tdk sesuai dengan rel yang mereka pahami, termasuk oknum-oknum pemerintah itu sendiri, namun secara keseluruhan, pada umumnya para kiya juga tetap memberi pengakuan sah kpd pemerintah.

BeritaTerkait:

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

PNIB: Jadikan Ruang Digital Indonesia Bersih dari Konten Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

Di Tepi Gerbong Yang Retak

Sepenggal Kisah Inspiratif pada Sebuah Kayu Tua Masjid Pesantren 1825, Jadi Spirit Penaklukan Cicit Kiai Raden Mas Su’ud Situbondo

Bahkan Abu Bakar Ba’asyir, radikalis yang menjadi pemimpin Pesantren Ngruki Solo yang disebutkan diatas itu pun, kini telah mengakui Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. Basyir kini mengakui bhw dirinya memahami hal itu belakangan ini. Ia mangatakan bhw dulunya, ia mengatakan Pancasila itu syirik, sehingga ia melakukan teror dengan maksud utk memerangi negara Kafir.

Dalam ajaran Islam didalam kitab-kitab kuning dipesantren, jihad dlm arti Perang memang ada dan tdk bisa di nafikan. Sebagian fihak ada yang berpendapat bhw ayat ttg “Perang” itu harus dieliminir, karena tidak sesuai dgn konteks zaman, tetapi pernyataan seperti itu tidak benar.

Dalam kondisi tertentu, seperti diserang atau didzalimi, umat Islam oleh Al Qran diperintahkan untuk angkat senjata. Hal ini juga berlaku disemua agama. Hanya saja, jihad dlm arti perang untuk konteks Indonesia dimasa sekarang ini, tidak relevan. Sebab Indonesia bukan negara yang sedang terancam, apalagi diserang. Disini Islam tidak ditindas. Dinegeri ini, para pemimpinnya, aparat-aparatnya tdk ada tanda-tanda yang memusuhi Islam.

Jadi tdk relevan berbicara jihad dlm pengertian perang utk konteks Indonesia sebagaimana yg sering disampaikan oleh para ulama dan kiyai-kiyai pesantren itu sendiri.

Selain itu, Indonesia bukan termasuk dalam kategori Darul Harb (negara musuh). Indonesia sebagaimana diputuskan dlm Muktama NU ke 11 di Banjarmasin 1936, adalah Darul Islam (negara Islam) yg dipimpimpin oleh orang-orang Islam, meskipun ada beberapa orang non muslim di dalm pemerintahannya.

Inilah yang kemudian dipahami oleh Abu Bakar Basyir belakangan ini setelah ia pelajari beberapa lama. Menurutnya, tdk mungkin para ulama dahulu itu menyetujui dasar negara syirik. Karena ulama itu mesti niyatnya ikhlas.

Indonesia berdasar Pancasila karena dasarnya Tauhid, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kata Basyir yg dulu tergabung dlm kelompok yg bertanggung jawab atas sejumlah serangan termasuk bom Bali 1 itu.

Memang, dengan disepakatinya Pancasila sebagai platform kebangsaan dan kemasyarakatan, maka semua komunitas agama di tanah air kita ini dapat hidup rukun dan damai. Pancasila sendiri memang tidak mengatur hal-hal yang bersifat akidah, ibadah dan ritual keagamaan yang diajarkan oleh masing-masing agama, krn masalah tersebut, merupakan ranah ilahiyah yang tidak dapat dicampuri dan diatur oleh regulasi duniawi.

“Islam Radikal” sendiri yang digaungkan oleh para ekstrimis itu, merupakan corak pemahaman Islam yang khas dan berbeda dari yg lain. Radikalisme pada intinya diartikan sebagi aliran dan faham keislaman yg menginginkan diberlakukannya syariat Islam dgn bentuknya yang murni yang tak ada unsur-unsur luar Islam
yang dimasukkan kedalamnya.

Padahal sebenarnya yang dimaksud kemurnian dalam Islam itu, bukan berarti Agama yg dibawa Nabi akhir zaman ini tdk boleh dicampuri dgn unsur–unsur dari luar Islam. Sebab apa yg dari luar Islam itu, seperti budaya dan tradisi setempat boleh saja masuk kedalam ajaran Islam selama hal itu tdk berlawanan dgn prinsip-prinsip ajaran
Islam. Bahkan ulama Fiqih menyatakan bahwa Tradisi bisa dijadikan sebagai sumber hukum.

Sebagai umat Islam, kita memang tdk boleh terjebak kedalam pemahaman sempit yang disebabkan justru oleh sempitnya pengetahuan kita sendiri, bukan sempitnya ajaran Islam yang sebenarnya justru begitu longgar dan tak banyak membebani umatnya, sebagaimana disabdakan Nabi saw sendiri: “Sesungguhnya agama ini mudah dan tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam urusan agama kecuali agama nanti akan mengalahkannya.” (HR: Al Bukhari dari Abi Hurairah r.a.).

Selain itu,
Islam juga dikenal sbg agama yang mengutamakan kedamaian, stabilitas dan harmoni dimasyarakat
daripada apapun dalam bentuk idealisme keagamaan, politik ataupun lainnya. Sementara perjuangan keadilan dan bahkan kebenaran, menurut ajaran Islam harus ditunda dulu manakala hal itu harus dibayar dengan biaya yg terlalu mahal, seperti terjadinya kekacauan dan anarkisme dimasyarakat. Menegakkan kebenaran dan keadilan adalah satu hal, sedangkan menjaga keamanan dan stabilitas dimasyarakat adalah hal lain.

Dalam Islam, pola pikir seperti itu tampak dominan, yg dimaksudkan sebagai upaya untuk mempersatukan faksi-faksi yang berseteru
Dapatlah dimaklumi jika Islam dlm setting politik lebih bersifat fleksibel dan akomodatif dan sebisa mungkin berusaha menghindari apapun bentuk kekerasan yang dalam banyak kasus, rakyat kecil yang tdk tahu apapa justru bisa menjadi korban.

Tags: KH Busyrol Karim Abdul MughnPesantrenRadikalisme
Share199Tweet125SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Hodri Ariev
Opini

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

by liputan9news
February 1, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Satu abad Nahdlatul Ulama bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan momentum reflektif tentang arah, watak, dan kualitas...

Read more
PNIB: Jadikan Ruang Digital Indonesia Bersih dari Konten Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

PNIB: Jadikan Ruang Digital Indonesia Bersih dari Konten Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme

January 21, 2026
Foto: Ilustrasi

Di Tepi Gerbong Yang Retak

January 15, 2026
Sepenggal Kisah Inspiratif pada Sebuah Kayu Tua Masjid Pesantren 1825, Jadi Spirit Penaklukan Cicit Kiai Raden Mas Su’ud Situbondo

Sepenggal Kisah Inspiratif pada Sebuah Kayu Tua Masjid Pesantren 1825, Jadi Spirit Penaklukan Cicit Kiai Raden Mas Su’ud Situbondo

January 12, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In