JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum untuk memperkuat semangat perdamaian, menjaga persatuan Indonesia, serta menempatkan keselamatan bangsa sebagai prioritas utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) , AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal. Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya bulan peningkatan ibadah secara spiritual, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial yang sangat kuat. Utamanya dalam memperkuat solidaritas, kepedulian, dan persaudaraan antar sesama anak bangsa.
Menurutnya, hikmah Ramadan mengajarkan umat manusia untuk menahan diri dari sikap permusuhan, kebencian, dan perpecahan. Nilai tersebut sangat relevan dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang yang berbeda.
“Ramadan mengajarkan kita tentang kesabaran, pengendalian diri, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi energi moral untuk memperkuat perdamaian, mempererat persaudaraan, dan menjaga persatuan Indonesia,” ujar Gus Wal dalam keterangan, Senin (16/03/2026).
Ia menambahkan bahwa dalam situasi dunia yang penuh konflik dan ketegangan, bangsa Indonesia harus tetap menjaga jati dirinya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, serta semangat persatuan Indonesia.
Gus Wal mengatakan keselamatan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus selalu ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun golongan tertentu.
“Persatuan Indonesia dan keselamatan bangsa adalah prioritas yang paling penting. Tidak boleh ada kepentingan apapun yang mengorbankan keutuhan negara dan persaudaraan sesama anak bangsa,” katanya.
Sebagai Ketum PNIB, Gus Waljuga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga Indonesia dengan memperkuat nilai toleransi, menolak segala bentuk provokasi yang memecah belah, serta merawat kerukunan sebagai modal utama dalam membangun masa depan bangsa.
“Indonesia adalah rumah bersama. Karena itu, menjaga Indonesia berarti menjaga perdamaian, menjaga persatuan, dan memastikan bangsa ini tetap berdiri kokoh di tengah berbagai tantangan zaman,” terangnya.
Ramadan 1945 yang melahirkan Kemerdekaan dan Persatuan Indonesia juga harus kita peringati sebagai momentum kebangkitan anak bangsa. Tidak boleh ada ideologi lain selain pancasila. tidak boleh ada bendera selain merah putih yang berkibar diatas Republik ini.
“Kemerdekaan bangsa Indonesia diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dan pejuang dizamanya yang notabene adalah para aktivis baik dari golongan tua maupun golongan pemuda. Melawan setiap upaya pembungkaman terhadap aktivis yang siang malam ikut andil memikirkan rakyat dan bangsa negara Indonesia. Tak boleh ada lagi pembungkaman, penyerangan apalagi pembunuhan terhadap aktivis yang kritis,” jelasnya.
Gus Wal juga menyampaikan jika ulama adalah pewaris anbiya’ (para nabi) maka aktivis adalah penerus dari tongkat estafet para pejuang dan pendiri bangsa. Yang telah berjuang dan berpikir kritis untuk rakyat, bangsa dan negaranya.
“Dan Ramadan adalah pengingat bagi bangsa Indonesia Jika Intoleransi, khilafah, radikalisme, anarkisme, dan terorisme tidak akan pernah diterima di Indonesia yang berdasarkan pancasila ini,” pungkasnya.

























