CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Telah diselenggarakan Forum Bahtsul Masail para Kiai Muda Jawa Barat dan DKI Jakarta di Pondok Pesantren Benda Kerep Cirebon, salah satu pesantren tertua dan keramat yang berdiri pada 1800-an oleh KH. Sholeh Zamzami (dikenal Mbah Sholeh) keturunan Sunan Gunung Jati.
Pesantren Benda Kerep dikenal sebagai ‘Paku Bumi Islam Nusantara berada di hutan Cimeweuh yang terisolasi dan dikeilingi oleh sungai, hingga saat ini tidak ada jembatan, orang yang berkunjung harus melewati sungai, masih menjaga tradisi secara ketat, bangunan tua masih kokoh berdiri, tidak boleh ada radio dan televisi. Listrik pun baru boleh masuk pada tahun 90-an. Sebab sejarahnya Pesantren Benda Kerep merupakan benteng dan sentral perlawanan terhadap penjajang Belanda dan Jepang.
Para kiai muda membahas tentang usulan islah pasca pemecatan kepada Gus Yahya dari jabatan Ketum PBNU oleh Rais Aam dan Syuriyah dengan dua alasan, yaitu afiliasi zionisme dan tata kelola keuangan yang bertentangan dengan syariat, Undang-Undang dan ART Perkum PBNU sebagaimana tertuang dalam Surat Risalah Rapat Harian Syuriyah.
Lalu ada suara islah dari Ploso dan Jombang yang bersifat himbauan. Dilanjutkan di Lirboyo di mana islah diartikan dengan percepatan muktamar (MLB) dan mengembalikan jabatan ketua umum PBNU kepada Gus Yahya dan jabatan-jabatan lain yang sebelumnya dibehentikan kepada yang bersangkutan. Kubu Gus Yahya melakukan viralisasi islah itu di medsos. Tidak lama kemudian hal itu dibantah oleh Rois Aam KH. Miftakhul Akhyar dengan mengatakan bahwa Ketua Umum PBNU yang sah masih dipegang oleh PJ KH. Zulfa Musthofa, dan keputusan rapat Pleno yang memecat Gus Yahya dan menetapkan PJ Kiyai Zulfa Musthofa masih berlaku alias belum dicabut. Jika ingin ada perubahan harus melalui sidang Pleno berikutnya, meminta maaf, dan yang lainnya.
Sebelumnya dari pihak Syuriyah melalui Surat Edaran yang ditandatangani Wakil Rais Aam Dr. (HC). KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag dan Katib KH. Ahmad Tajul Mafakhir, tertanggal 25 November 2025, menawarkan kepada Gus Yahya menggunakan hak untuk mengajukan permohonan kepada Majelis Tahkim Nahdlatul Ulama sesuai dengan mekanisme yang telah diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 14 Tahun 2025 tentang Penyelesaian Perselisihan Internal, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1. Tetapi sepertinya Gus Yahya tidak menempuh Majelis Tahkim, dan melakukan gerakan politik inkonstitusional (di luar mekanisme organisasi) dengan mendorong islah. Sehingga, islah yang disuarakan di luar organisasi itu diduga sebagai manuver Gus Yahya untuk menghindari proses Majlis Tahkim NU.
Dari latarbelakang tersebut muncul pertanyaan apakah hukumnya islah (damai) pada seseorang yang telah melakukan pelanggaran dan kesalahan organisasi maupun syariat? Bagaimana hukumnya islah dalam pengertian mengembalikan jabatan ketua umum PBNU kepada orang yang ditetapkan bersalah dengan dua kesalahan yaitu infiltrasi zionisme dan tata kelola keuangan yang tidak syari sebagaimana dalam surat Risalah Rapat Harian Syuriyah?
Para kiyai merumuskan jawaban bahwa islah (damai) pada seseorang yang diduga telah melakukan pelanggaran dan kesalahan organisasi dan syariat atau dalam menyelesaikan persoalan kesalahan seseorang pemimpin dengan menggunakan islah adalah haram. Begitu juga islah dengan mengembalikan jabatan kepada seseorang yang dinyatakan bersalah secara syariat dan organisasi tanpa ada pertanggungjawaban dan penyelesaian atas kesalahan yang diperbuatnya adalah haram.
Sebab islah (berdamai) boleh dilakukan kecuali berdamai dengan menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan sesuatu yang halal. Islah tidak boleh dalam rangka normalisasi atau pemakluman atas kesalahan yang jelas-jelas merugikan organisasi atau orang lain. Islah juga tidak boleh digunakan pada persoalan kejahatan (jinayat).
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:
الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا.
“Berdamai di antara sesama muslim adalah diperbolehkan kecuali berdamai yang menghalalkan sesuatu yang haram atau mengharamkan sesuatu yang halal.”
Berdasarkan hasil rumusan bahtsul masail para kiyai muda se-Jawa Barat dan DKI Jakarta di Pesantren Babakan Ciwaringin, Pesantren Kempek, dan Pesantren Gedongan Cirebon memutuskan bahwa kerjasama dengan zionisme dan melapangkan jalan infiltrasi zionisme yang dilakukan Gus Yahya ke jantung PBNU dengan memberi panggung kepada para tokoh zionisme seperti Peter Berkowitz untuk mengkader para kiyai pada acara AKN-NU (Akademi Kepemimpinan Nasional NU) sebagai kaderisasi tingkat tertinggi dan tata kelola keuangan organisasi yang bertentangan dengan syariat, Undang-Undang dan Anggaran Rumah Tangga NU adalah haram dan salah menurut syariat (fikih) dan konstitusi organisasi NU.
Karena itu, islah dengan mengembalikan jabatan Ketum PBNU kepada Gus Yahya yang telah melakukan sesuatu yang haram dan melanggar konstitusi organisasi NU tidak melalui prosedur organisasi (Majelis Tahkim dan Pleno) adalah termasuk islah yang menghalalkan sesuatu yang haram, dan itu adalah haram.
Kaum muslim diperbolehkan bermusyawarah dan memutuskan banyak hal dalam sebuah organisasi, kecuali memutuskan dengan menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan sesuatu yang halal. Dalam hadits Nabi dikatakan:
وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا.
“Dan kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang haram.”
Larangan menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya mengharamkan sesuatu yang halal adalah haram sebagaimana ditegaskan di banyak ayat-ayat Al-Quran. Di antaranya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan sesuatu yang baik yang Allah halalkan bagi kamu, dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampai batas” (QS. Al-Maidah: 87)
قُلْ هَلُمَّ شُهَدَاءَكُمُ الَّذِينَ يَشْهَدُونَ أَنَّ اللَّهَ حَرَّمَ هَٰذَا ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَلَا تَشْهَدْ مَعَهُمْ
“Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat memersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan (makanan yang kamu) haramkan ini. Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka” (QS. Al-An’am: ayat 150)
Membantu seseorang yang bersalah dengan berupaya mengabaikan dan menormalisasi kesalahan yang diperbuatnya atasnama islah adalah tergolong i’anah ‘ala al-ma’shiyat (membantu kemaksiatan). Tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran (al-ta’awun ‘ala al-itsmi wa al-‘udwan) adalah haram dan dilarang keras oleh syariat. Sebagaimana dalam Q.S. al-Maidah: 2:
وَتَعَاوَنُوا۟عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”.
Bahtsul masail diikuti para kiai dan nyai di antaranya; KH. Muhammad Miftah putra dari KH. Ahmad Faqih bin Kiyai Abu Bakar bin KH. Sholeh Zamzami (Pengasuh Pondok Pesantren Benda Kerep Cirebon dan cicit Mbah Sholeh pendiri Pesantren Benda Kerep), KH. Muhammad Dian Nafi, K Saeful, KH. Mohammad Aziz, Nyai Hj. Siti Zahro, KH. Jejen Zaenal Arifin, KH. Muchlis, KH Abdul Muiz Syaerozi, KH. Ahmad Baiquni, KH. Rodilansyah, Kiyai Virgi Vergiawansyah, KH. Jamaluddin Mohammad, KH. Mukti Ali, Kiyai Muhammad Sirojuddin, Kiyai Ahmad Subhan, dan puluhan kiai muda lainnya.
وَالْأَصْلُ فِيهِ قَبْلَ الْإِجْمَاعِ قَوْله تَعَالَى : { وَالصُّلْحُ خَيْرٌ } وَخَبَرُ : { الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إلَّا صُلْحًا أَحَلَّ حَرَامًا أَوْ حَرَّمَ حَلَالًا } وَلَفْظُهُ يَتَعَدَّى لِلْمَتْرُوكِ بِمِنْ وَعَنْ وَلِلْمَأْخُوذِ بِعَلَى وَالْبَاءِ غَالِبًا. الى أن قال …….قَوْلُهُ : { وَالصُّلْحُ خَيْرٌ } ظَاهِرُهُ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ دَلِيلٌ عَلَى الصُّلْحِ مُطْلَقًا ، وَفِيهِ أَنَّ هَذَا الصُّلْحَ هُوَ الْوَاقِعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ لِأَنَّهُ أُعِيدَتْ فِيهِ النَّكِرَةُ مَعْرِفَةً ، وَالنَّكِرَةُ إذَا أُعِيدَتْ مَعْرِفَةً كَانَتْ عَيْنًا ، فَكَأَنَّهُ قِيلَ : هَذَا الصُّلْحُ أَيْ الْوَاقِعُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ خَيْرٌ ح ل .وَقَدْ أُجِيبَ بِأَنَّ الْقَاعِدَةَ أَغْلَبِيَّةٌ وَبِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ ، وَيَدُلُّ لِإِرَادَةِ الْعُمُومِ إعَادَتُهُ بِلَفْظِ الظَّاهِرِ لَا بِالضَّمِيرِ.قَوْلُهُ : ( أَحَلَّ حَرَامًا ) كَأَنْ صَالَحَ عَلَى نَحْوِ خَمْرٍ م ر ، وَسَيَأْتِي تَمْثِيلُهُ أَيْضًا فِي الشَّرْحِ .قَوْلُهُ : ( أَوْ حَرَّمَ حَلَالًا ) كَأَنْ صَالَحَ عَلَى أَنْ لَا يَتَصَرَّفَ فِي الْمَصَالِحِ عَلَيْهِ ، شَرْحُ م ر .فَإِنْ قِيلَ : الصُّلْحُ لَمْ يُحَرِّمْ الْحَلَالَ وَلَمْ يُحَلِّلْ الْحَرَامَ بَلْ هُوَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ التَّحْلِيلِ وَالتَّحْرِيمِ ؟ أُجِيبَ بِأَنَّ الصُّلْحَ هُوَ الْمُجَوِّزُ لَنَا الْإِقْدَامَ عَلَى ذَلِكَ فِي الظَّاهِرِ ، عَنَانِيٌّ ؛ أَيْ فَلَوْ صَحَّحْنَاهُ لَكَانَ هُوَ الْمُحَلِّلُ وَالْمُحَرِّمُ فِي الظَّاهِرِ. )بجيرمي على الخطيب(
Kitab Mughni al-Muhtaj, jilid. II, hal. 180:
وإنما امتنع الصلح على غير إقرار خلافا للأئمة الثلاثة قياسا على ما لو أنكر الخلع والكتابة ثم تصالحا على شيء.ولأن المدعي إن كان كاذبا فقد استحل من المدعي عليه ماله وهو حرام وإن كان صادقا فقد حرم عليه ماله الحلال فدخل في قوله صلى الله عليه وسلم إلا صلحا أحل حراما وحرم حلالا .فإن قيل الصلح لم يحرم الحلال ولم يحلل الحرام بل هو على ما كان عليه من التحريم والتحليل.أجيب بأن الصلح هو المجوز له الإقدام على ذلك في الظاهر وأما فيما بينه وبين الله تعالى فسيأتي.ولو أقيمت عليه يينة بعد الإنكار جاز الصلح كما قاله الماوردي لأن لزوم الحق بالبينة كلزومه بالإقرار.ولو أقر ثم أنكر جاز الصلح وإذا تصالحا ثم اختلفا في أنهما تصالحا على إقرار أو إنكار فالذي نص عليه الشافعي أن القول قول مدعي الإنكار لأن الأصل أن لا عقد.
Kitab Is’adu ar-Rafiq, juz II, hal.2:
ومنها التولى للإمامة العظمى أو الإمارة أو سائر الولايات كالتولي على مال يتيم أو على وقف أو مسجد أو على القضاء أو على نحو ذلك من كل ما فيه ولاية ولا يحرم ذلك فضلا عن كونه كبيرة إلا إذا صدر من شخص مع علمه من نفسه بالعجز عن القيام بتلك الوظيفة على ما هو عليه شرعا كأن علم من نفسه الخيانة فيه أو عزم عليها فيحرم عليه حينئذ سؤال ذلك وبذل المال.
Kitab Raudhatut at-Thalibin, jilid 11, hal. 92:
ثُمَّ مَنْ لَا يَصْلُحُ لِلْقَضَاءِ تَحْرُمُ تَوْلِيَتُهُ، وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ التَّوَلِّي وَالطَّلَبُ
Kitab Ithafu as-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya Ulumuddin:
























