CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Para Kiai Jawa Barat dan DKI Jakarta berkumpul menggelar Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Kempek Jawa Barat, pada Jumat (16/01/2026). Dalam Bahtsul Masail tersebut membahas tentang Landasan Keagamaan Pemberhentian Jabatan Ketua Umum Karena Bekerjasama dengan Jaringan Zionis Internasional.
Rumusah Hasil Bahtsul Masail Kiai Jawa Barat dan DKI Jakarta di Pesantren Kempek Cirebon Jumat 16 Januari 2026 yang di ikuti para kiai muda di antaranya; KH. Abdul Muiz Syaerozi, KH. Muhammad Shofy, KH. Jamaluddin Mohammad, KH. Ahmad Baiquni, KH. Mukti Ali, KH. Nanang Umar Faruq, Ustadz Muhammad Sirojuddin, KH. Asnawi Ridwan, KH. Mukhlis, KH. Roland Gunawan, KH. Khozinatul Asror, dan puluhan kiai muda lainnya.
“Pertemuan ini menghasilkan beberapa rumusan pembahasan bahtsul masail, yaitu pemecatan Gus Yahya oleh Rois Aam dan Suriyah dengan alasan bekerja sama dengan zionisme, pemecatan atau penon-aktifan pengurus NU yang terindikasi dan terduga terlibat dalam kasus kuota haji, percepatan muktamar, dan kriteria pemimpin ulama,” tulis keterangan pers yang diterima redaksi Liputan9news, Ahad (18/01/2026).
Selanjutnya, inilah keterangan lengkap hasil Bahtsul Masail yang digelar di Ponpes Kempek Cirebon pada 29 Januari 2026. Tulisan ini menguraikan satu rumusan tentang pemecatan Gus Yahya dengan sebab bekerjasama dengan zionisme. Para kiyai menyimpulkan hal berikut:
Pada dasarnya toleransi (tasamuh) antar agama, perbedaan mazhab, pemikiran dan keyakinan adalah akhlak mulia yang dianjurkan menurut Islam dan bagian dari prinsip asasi NU. Dalam konteks ini, interaksi sosial dan ekonomi serta hal-hal di luar keyakinan.
Dalam terminilogi fikih Islam, kita mengenal jenis dan kategori non-muslim atau kafir, yaitu: kâfir harbîy (non-muslim yang memerangi muslim), kâfir dzimmîy (non-muslim yang hidup damai dengan muslim), kâfir mu’âhad (non-muslim yang punya perjanjian damai dengan muslim), kâfir mustaman (non-muslim yang mendapatkan suaka politik dari muslim).
Terdapat banyak agama dan keyakinan di dunia ini. Di antaranya Islam, Yahudi, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan lainnya. Islam tidak melarang umat Muslim berhubungan dengan umat agama-agama lain. Lebih spesifik, misalnya, umat Muslim boleh menjalin hubungan dengan umat Yahudi selama mereka tidak terkait dengan paham atau ideologi yang mendorong untuk musuhi dan memerangi umat agama lain, seperti zionisme. Yahudi sebagai agama dan zionisme sebagai paham dan ideologi politik adalah hal yang berbeda.
Zionisme atau “al-Shuhyuniyyah” adalah gerakan dan ideologi politik yang mengedepankan kekuasaan, penguasaan, kekerasan militer, menghalalkan segala cara, dan bercita-cita mendirikan negara Israel Raya. Dalam sejarah, sejak lama hingga kini, zionisme telah banyak mengobarkan peperangan terutama terhadap negara yang tanahnya ingin dikuasainya.
Hal bisa kita lihat bagaimana negara Israel yang menganut zionisme merampas tanah Palestina dengan menewaskan jutaan nyawa warga Gaza dalam serangan-serangan militer yang brutal. Jelas, negara Israel yang menganut zionisme tergolong kâfir harbîy, non-muslim yang memerangi umat Muslim. Para pejabat Israel, seperti Benjamin Netanyahu, perdana Menteri Israel dari partai konservatif Likud, atau pemikir seperti Peter Berkowitz, adalah zionis.
Gus Yahya terbukti berhubungan dengan Benjamin Netanyahu dan Peter Berkowits yang termasuk tokoh besar zionis dan tergolong kâfir harbîy. Karena itu pemberhentian Gus Yahya oleh Rois Am dan Syuriyah adalah keputusan yang tepat. Sebab itu, Gus Yahya harus legowo, menerima dengan lapang dada keputusan tersebut.
Hubungannya dengan tokoh-tokoh zionis jelas merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai Aswaja dan AD-ART PBNU yang dengan sangat keras segala bentuk hubungan dan kerjasama dengan non-muslim yang memusuhi dan memerangi umat Muslim.
Islam memerintahkan untuk bersikap tegas dan berjihad melawan orang-orang kafir yang secara terang-terangan memusuhi, memerangi, atau menghalangi dakwah Islam, sebagaimana dalam ditegaskan dalam al-Qur`an,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَاتِلُوا الَّذِيْنَ يَلُوْنَكُمْ مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوْا فِيْكُمْ غِلْظَةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. al-Taubah: 123).
Ayat ini menunjukkan perintah untuk bersikap tegas terhadap mereka yang memusuhi umat Islam. Sikap Gus Yahya yang memilih menjalin hubungan dan kerjasama dengan tokoh-tokoh zionis yang jelas-jelas memusuhi umat Muslim, itu bertentangan dengan pesan tersurat dalam ayat ini. Namun perlu digarisbawahi, alasan Islam memerintahkan untuk memerangi non-muslim bukan karena “kâfir”-nya (kekafiran), tetapi karena “harbîy”-nya (deklarasi perang).
Di dalam kitab al-Jihâd fî al-Islâm, Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, menyatakan bahwa sebab perintah memerangi orang kafir itu sebenarnya bukan karena kekafirannya, tetapi karena deklarasi perang dan permusuhan mereka terhadap umat Muslim.
وُجُوبَ مُقَاتَلَةِ الْمُشْرِكِينَ وَمَنْ فِي حُكْمِهِمْ لِعِلَّةِ الْكُفْرِ لَا الْحِرَابَةِ، يَنْطِقُ كُلٌّ مِنْهَا بِأَوْضَحَ بَيَانٍ بِأَنَّ الْعِلَّةَ هِيَ الْحِرَابَةُ وَالْغَدْرُ، لَا غَيْرُ ذَلِكَ.
“Kewajiban memerangi orang musyrik dan orang-orang kafir semisalnya adalah karena kekafirannya, masing-masing ayat tersebut secara jelas menegaskan, bahwa sebab wajibnya memerangi orang kafir adalah karena permusuhan dan penghianatan yang mereka lakukan. Bukan karena sebab lainnya.” (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Jihâd fil Islâm, Damaskus-Bairut: Dar al-Fikr, 1414 H/1993 M, hal. 101).
Di antara bukti kerjasama Gus Yahya dengan jaringan zionis yang menjadi alasan Rais Aam dan Syuriyah untuk memecatnya adalah:
- Menggunakan kop surat PBNU dengan tanda tangan Gus Yahya sebagai katib Amm tanpa tanda tangan Ketua Umum, Rais Aam dan sekjen yang berisi meminta Rabbi untuk menjadi anggota penasihat CSCV;
- MOU PBNU, Humanitarian Islam, dan CSCV;
- Bertemu dengan Benyamin Netanyahu;
- Kurikulum AKN-NU dengan memasukkan para narasumber zionisme, seperti Peter Berkowitz;
- Memasukkan Hollad Taylor sebagai penasehat khusus luar negeri Ketum Gus Yahya;
- Dalam kronologi dari Suriyah dan Audit PBNU yang viral tersebar ke WAG dan medsos terdapat bukti transfer dari no. Rek PBNU ke no rek Amerika Serikat;
- Mengadakan R20 dengan mendatangkan narasumber zionis.
Kerjasama dengan jaringan zionis yang merupakan kâfir harbîy adalah haram dan bertentangan dengan syariat Islam. Di dalam sejumlah kitab klasik, kerjasama jenis ini, termasuk kerjasama dalam bentuk program-program, termasuk i’ânah ‘alâ al-ma’shîyah (membantu mensukseskan kemaksiatan dan kesalahan). Negara Israel dengan zionismenya yang membantai warga muslim Gaza adalah sebentuk kemaksiatan dan pelanggaran terhadap kemanusiaan. Bekerjasama dengan mereka, dalam bentuk apa pun, sama saja dengan membantu mereka melakukan kemaksiatan dan pelanggaran tersebut.
Oleh sebab itu, ada beberapa alasan pemberhentian Gus Yahya yang harus diterima dengan legowo, yaitu:
- Kerjasama dengan jaringan zionis kâfir harbîy adalah haram dan melanggar syariat;
- Membantu kemaksiatan, i’anah ‘ala al-ma’shiyat;
- Diduga terkait tata kelola keuangan yang bertentangan dengan ART, Perkum, Qanun Asasi, dan syariat;
- Menimbulkan fitnah dan îhâm (asumsi negatif) yang dilarang oleh syariat.
Mengingat waktu dan keadaan yang tidak tepat, seperti saat peperangan dan genosida oleh zionisme Israel ke Palestina bergejolak pada saat yang sama Gus Yahya bekerjasama dan mendatangkan tokoh zionisme ke AKN-NU dan R20.
Kasus 5 kader NU yang berkunjung ke Israel dan kemudian bertemu dengan presiden Israel Isaac Herzog pada saat perang masih berkecamuk di Gaza, membuat mereka diberhentikan dan dipecat dari kepengurusan apa pun di NU. Sementara Gus Yahya bukan hanya datang ke Israel, tetapi juga bekerjasama dan bahkan menjadikan tokoh yang diduga zionis sebagai bagian dari pengurus PBNU. Dalam hal ini kesalahan dan dosa Gus Yahya terhadap NU jelas lebih besar daripada 5 kader tersebut.
Karenanya, pemecatan dan pemberhentian Gus Yahya dari Ketum BPNU oleh Rais Aam dan Syuriyah adalah sah secara hukum organisasi di NU, dan dia harus menerima itu dengan legowo dan meminta maaf kepada seluruh warga NU sebagaimana yang dilakukan oleh 5 kader NU yang berangkat ke Israel.
A. Batasan toleransi dan Kerjasama dengan non Muslim:
تفسير الرازي الجزء 4 صحـ : 168 مكتبة الشاملة الإصدار الثاني
وَاعْلَمْ أَنَّ كَوْنَ اْلمُؤْمِنِ مُوَالِياً لِلْكَافِرِ يَحْتَمِلُ ثَلاَثَةَ أَوْجَهٍ أَحَدُهَا أَنْ يَكُوْنَ رَاضِياً بِكُفْرِهِ وَيَتَوَالاَهُ ِلأَجْلِهِ وَهَذَا مَمْنُوْعٌ مِنْهُ ِلأَنَّ كُلَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ مُصَوِّباً لَهُ فِيْ ذَلِكَ الدِّيْنِ وَتَصْوِيْبُ اْلكُفْرِ كُفْرٌ وَالرِّضَا بِاْلكُفْرِ كُفْرٌ فَيَسْتَحِيْلُ أَنْ يَبْقَى مُؤْمِناً مَعَ كَوْنِهِ بِهَذِهِ الصِّفَةِ فَإِنْ قِيْلَ أَلَيْسَ أَنَّهُ تَعَالىَ قَالَ { وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ الله فِيْ شَىْءٍ } وَهَذَا لاَ يُوْجِبُ اْلكُفْرَ فَلاَ يَكُوْنُ دَاخِلاً تَحْتَ هَذِهِ اْلآيَةِ ِلأَنَّهُ تَعَالىَ قَالَ { يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا } فَلاَ بُدَّ وَأَنْ يَكُوْنَ خِطَاباً فِيْ شَيْءٍ يَبْقَى اْلمُؤْمِنُ مَعَهُ مُؤْمِناً وَثَانِيْهَا اْلمُعَاشَرَةُ اْلجَمِيْلَةُ فِي الدُّنْيَا بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَذَلِكَ غَيْرُ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ وَاْلقِسْمُ الثَّالِثُ وَهُوَ كَاْلمُتَوَسِّطِ بَيْنَ اْلقِسْمَيْنِ اْلأَوَّلَيْنِ هُوَ أَنَّ مُوَالاَةَ اْلكُفَّارِ بِمَعْنَى الرُّكُوْنِ إِلَيْهِمْ وَاْلمَعُوْنَةِ وَاْلمُظَاهَرَةِ وَالنُّصْرَةِ إِمَّا بِسَبَبِ اْلقَرَابَةِ أَوْ بِسَبَبِ اْلمَحَبَّةِ مَعَ اعْتِقَادِ أَنَّ دِيْنَهُ بَاطِلٌ فَهَذَا لاَ يُوْجِبُ اْلكُفْرَ إِلاَّ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ ِلأَنَّ اْلمُوَالاَةَ بِهَذَا اْلمَعْنَى قَدْ تَجُرُّهُ إِلىَ اسْتِحْسَانِ طَرِيْقَتِِهِ وَالرِّضَا بِدِيْنِهِ وَذَلِكَ يُخْرِجُهُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ فَلاَ جَرَمَ هَدَّدَ اللهُ تَعَالىَ فِيْهِ فَقَالَ { وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ الله فِيْ شَىْءٍ }اهـ
الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 4 صحـ : 238 مكتبة الإسلامية
لاَ يَحْرُمُ إذَا قَصَدَ بِهِ التَّشْبِيْهَ بِالْكُفَّارِ لاَ مِنْ حَيْثُ الْكُفْرُ وَإِلاَّ كَانَ كُفْرًا قَطْعًا فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إنْ فَعَلَ ذَلِكَ بِقَصْدِ التَّشْبِيْهِ بِهِمْ فِيْ شِعَارِ الْكُفْرِ كَفَرَ قَطْعًا أَوْ فِيْ شِعَارِ الْعِيْدِ مَعَ قَطْعِ النَّظَرِ عَنِ الْكُفْرِ لَمْ يَكْفُرْ وَلَكِنَّهُ يَأْثَمُ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّشْبِيْهَ بِهِمْ أَصْلاً وَرَأْسًا فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ ثُمَّ رَأَيْتُ بَعْضَ أَئِمَّتِنَا الْمُتَأَخِّرِيْنَ ذَكَرَ مَا يُوَافِقُ مَا ذَكَرْتُهُ فَقَالَ وَمِنْ أَقْبَحِ الْبِدَعِ مُوَافَقَةُ الْمُسْلِمِيْنَ النَّصَارَى فِيْ أَعْيَادِهِمْ بِالتَّشَبُّهِ بِأَكْلِهِمْ وَالْهَدِيَّةِ لَهُمْ وَقَبُوْلِ هَدِيَّتِهِمْ فِيْهِ وَأَكْثَرُ النَّاسِ اعْتِنَاءً بِذَلِكَ الْمِصْرِيُّوْنَ وَقَدْ قَالَ صلى الله عليه وسلم { مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ } بَلْ قَالَ ابْنُ الْحَاجِّ لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَبِيْعَ نَصْرَانِيًّا شَيْئًا مِنْ مَصْلَحَةِ عِيْدِهِ لاَ لَحْمًا وَلاَ أُدُمًا وَلاَ ثَوْبًا وَلاَ يُعَارُوْنَ شَيْئًا وَلَوْ دَابَّةً إذْ هُوَ مُعَاوَنَةٌ لَهُمْ عَلَى كُفْرِهِمْ وَعَلَى وُلاَةِ اْلأَمْرِ مَنْعُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ ذَلِكَ وَمِنْهَا اهْتِمَامُهُمْ فِي النَّيْرُوْزِ بِأَكْلِ الْهَرِيْسَةِ وَاسْتِعْمَالِ الْبَخُوْرِ فِيْ خَمِيْسِ الْعِيْدَيْنِ سَبْعَ مَرَّاتٍ زَاعِمِيْنَ أَنَّهُ يَدْفَعُ الْكَسَلَ وَالْمَرَضَ وَصَبْغِ الْبَيْضِ أَصْفَرَ وَأَحْمَرَ وَبَيْعِهِ وَاْلأَدْوِيَةِ فِي السَّبْتِ الَّذِيْ يُسَمُّونَهُ سَبْتَ النُّوْرِ وَهُوَ فِي الْحَقِيقَةِ سَبْتُ الظَّلاَمِ وَيَشْتَرُوْنَ فِيْهِ الشَّبَثَ وَيَقُولُونَ إنَّهُ لِلْبَرَكَةِ وَيَجْمَعُونَ وَرَقَ الشَّجَرِ وَيَلْقُوْنَهَا لَيْلَةَ السَّبْتِ بِمَاءٍ يَغْتَسِلُوْنَ بِهِ فِيْهِ لِزَوَالِ السِّحْرِ وَيَكْتَحِلُوْنَ فِيْهِ لِزِيَادَةِ نُوْرِ أَعْيُنِهِمْ وَيَدَّهِنُوْنَ فِيْهِ بِالْكِبْرِيْتِ وَالزَّيْتِ وَيَجْلِسُونَ عُرَايَا فِي الشَّمْسِ لِدَفْعِ الْجَرَبِ وَالْحَكَّةِ وَيَطْبَخُوْنَ طَعَامَ اللَّبَنِ وَيَأْكُلُوْنَهُ فِي الْحَمَّامِ إلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي اخْتَرَعُوْهَا وَيَجِبُ مَنْعُهُمْ مِنَ التَّظَاهُرِ بِأَعْيَادِهِمْ اهـ .
بريقة محمودية الجزء 2 صحـ : 51 مكتبة دار إحياء الكتب العربية
بِأَسْمَائِهِمْ وَرَخَّصَ جَمَاعَةٌ اْلابْتِدَاءَ بِالْمَكْتُوبِ إلَيْهِ كَمَا كَتَبَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ إلَى مُعَاوِيَةَ مُبْتَدِئًا بِاسْمِ مُعَاوِيَةَ وَأَنَا أَقُوْلُ فِيْهِ أَيْضًا اسْتِحْبَابُ تَعْظِيْمِ الْمُعَظَّمِ عِنْدَ النَّاسِ وَلَوْ كَافِرًا إنْ تَضَمَّنَ مَصْلَحَةً وَفِيْهِ أَيْضًا إِيْمَاءٌ إلَى طَرِيْقِ الرِّفْقِ وَالْمُدَارَاةِ ِلأَجْلِ الْمَصْلَحَةِ وَفِيْهِ أَيْضًا جَوَازُ السَّلاَمِ عَلَى الْكَافِرِ عِنْدَ اْلاحْتِيَاجِ كَمَا نُقِلَ عَنِ التَّجْنِيْسِ مِنْ جَوَازِهِ حِينَئِذٍ ِلأَنَّهُ إذًا لَيْسَ لِلتَّوْقِيرِ بَلْ لِلْمَصْلَحَةِ وَِلإِشْعَارِ مَحَاسِنِ اْلإِسْلاَمِ مِنَ التَّوَدُّدِ وَاْلائْتِلاَفِ وَفِيْهِ أَيْضًا أَنَّهُ لاَ يَخُصُّ بِالْخِطَابِ فِي السَّلاَمِ عَلَى الْكَافِرِ وَلَوْ لِمَصْلَحَةٍ بَلْ يَذْكُرُ عَلَى وَجْهِ الْعُمُوْمِ وَفِيْهِ أَيْضًا أَنَّهُ وَإِنْ رَأَى السَّلاَمَ عَلَى الْكَافِرِ وَلَكِنْ لَمْ يَرِدْ ِلأَنَّهُ فِي الْبَاطِنِ وَالْحَقِيْقَةِ لَيْسَ لَهُ بَلْ لِمَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى وَظَاهِرٌ أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ تَبَعِيَّةُ هُدًى بَلْ فِيْهِ إِغْرَاءٌ عَلَى دَلِيْلِ اسْتِحْقَاقِ الدُّعَاءِ بِالسَّلاَمِ مِنْ تَبَعِيَّةِ الْهُدَى اهـ
حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 119 مكتبة دار الفكر
قَالَ الشَّيْخُ عَمِيْرَةُ قَالَ الرُّوْيَانِيُّ لاَ يَجُوزُ التَّأْمِيْنُ عَلَى دُعَاءِ الْكَافِرِ ِلأَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ أَيْ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِيْنَ إِلاَّ فِيْ ضَلاَلٍ } اهـ سم عَلَى الْمَنْهَجِ وَنُوْزِعَ فِيْهِ بِأَنَّهُ قَدْ يُسْتَجَابُ لَهُمْ اسْتِدْرَاجًا كَمَا اسْتُجِيبَ ِلإِبْلِيسَ فَيُؤَمَّنُ عَلَى دُعَائِهِ هَذَا وَلَوْ قِيْلَ وَجْهُ الْحُرْمَةِ أَنَّ فِي التَّأْمِيْنِ عَلَى دُعَائِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ وَتَقْرِيْرًا لِلْعَامَّةِ بِحُسْنِ طَرِيْقَتِهِ لَكَانَ حَسَنًا وَفِيْ حج مَا نَصُّهُ وَبِهِ أَيْ بِكَوْنِهِمْ قَدْ تُعَجَّلُ لَهُمُ اْلإِجَابَةُ اسْتِدْرَاجًا يُرَدُّ قَوْلُ الْبَحْرِ يَحْرُمُ التَّأْمِيْنُ عَلَى دُعَاءِ الْكَافِرِ ِلأَنَّهُ غَيْرُ مَقْبُوْلٍ ا هـ . عَلَى أَنَّهُ قَدْ يُخْتَمُ لَهُ بِالْحُسْنَى فَلاَ عِلْمَ بِعَدَمِ قَبُوْلِهِ إِلاَّ بَعْدَ تَحَقُّقِ مَوْتِهِ عَلَى الْكُفْرِ ثُمَّ رَأَيْتُ اْلأَذْرَعِيَّ قَالَ إِطْلاَقُهُ بَعِيْدٌ وَالْوَجْهُ جَوَازُ التَّأْمِيْنِ بَلْ نَدْبُهُ إذَا دَعَا لِنَفْسِهِ بِالْهِدَايَةِ وَلَنَا بِالنَّصْرِ مَثَلاً
تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 9 صحـ : 299 مكتبة دار إحياء التراث العربي
( تَنْبِيهٌ ) قَضِيَّةُ تَعْبِيْرِهِمْ بِالْوُجُوْبِ أَخْذًا مِنَ الْخَبَرِ أَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَى الْمُسْلِمِ عِنْدَ اجْتِمَاعِهِمَا فِيْ طَرِيْقٍ أَنْ يُؤْثِّرَهُ بِوَاسِعِهِ وَفِيْ عُمُوْمِهِ نَظَرٌ وَالَّذِيْ يَتَّجِهُ أَنَّ مَحَلَّهُ إِنْ قَصَدَ بِذَلِكَ تَعْظِيْمَهُ أَوْ عُدَّ تَعْظِيْمًا لَهُ عُرْفًا وَإِلاَّ فَلاَ وَجْهَ لِلْحُرْمَةِ اهـ
B. Hukum haram menyayangi dan mendukung orang kafir dengan berbagai kekafiran dan kerusakannya serta genosida.
حاشية البجيرمي على الخطيب الجزء 4 صحـ : 292 مكتبة دار الفكر
خَاتِمَةٌ تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى { لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ } فَإِنْ قِْيلَ قَدْ مَرَّ فِيْ بَابِ الْوَلِيْمَةِ أَنَّ مُخَالَطَةَ الْكُفَّارِ مَكْرُوْهَةٌ أُجِيْبُ بِأَنَّ الْمُخَالَطَةَ تَرْجِعُ إلَى الظَّاهِرِ وَالْمَوَدَّةَ إِلَى الْمَيْلِ الْقَلْبِيِّ فَإِنْ قِيْلَ الْمَيْلُ الْقَلْبِيُّ لاَ اخْتِيَارَ لِلشَّخْصِ فِيْهِ أُجِيْبَ بِإِمْكَانِ دَفْعِهِ بِقَطْعِ أَسْبَابِ الْمَوَدَّةِ الَّتِيْ يَنْشَأُ عَنْهَا مَيْلُ الْقَلْبِ كَمَا قِيْلَ إِنَّ اْلإِسَاءَةَ تَقْطَعُ عُرُوْقَ الْمَحَبَّةِ قَوْلُهُ ( تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ ) أَيِ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوْهَةٌ وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر وَتَحْرُمُ مُوَادَّتُهُمْ وَهُوَ الْمَيْلُ الْقَلْبِيُّ لاَ مِنْ حَيْثُ الْكُفْرُ وَإِلاَّ كَانَتْ كُفْرًا وَسَوَاءٌ فِيْ ذَلِكَ أَكَانَتْ ِلأَصْلٍ أَوْ فَرْعٍ أَمْ غَيْرِهِمَا وَتُكْرَهُ مُخَالَطَتُهُ ظَاهِرًا وَلَوْ بِمُهَادَاةٍ فِيْمَا يَظْهَرُ مَا لَمْ يَرْجُ إِسْلاَمَهُ وَيُلْحَقُ بِهِ مَا لَوْ كَانَ بَيْنَهُمَا نَحْوُ رَحِمٍ أَوْ جِوَارٍ اهـ وَقَوْلُهُ مَا لَمْ يَرْجُ إِسْلاَمَهُ أَوْ يَرْجُ مِنْهُ نَفْعًا أَوْ دَفْعَ شَرٍّ لاَ يَقُوْمُ غَيْرُهُ فِيْهِ مَقَامَهُ كَأَنْ فَوَّضَ إلَيْهِ عَمَلاً يَعْلَمُ أَنَّهُ يَنْصَحُهُ فِيْهِ وَيَخْلُصُ أَوْ قَصَدَ بِذَلِكَ دَفْعَ ضَرَرٍ عَنْهُ .وَأُلْحِقَ بِالْكَافِرِ فِيْمَا مَرَّ مِنَ الْحُرْمَةِ وَالْكَرَاهَةِ الْفَاسِقُ وَيَتَّجِهُ حَمْلُ الْحُرْمَةِ عَلَى مَيْلٍ مَعَ إِيْنَاسٍ لَهُ أَخْذًا مِنْ قَوْلِهِمْ يَحْرُمُ الْجُلُوْسُ مَعَ الْفُسَّاقِ إِيْنَاسًا لَهُمْ أَمَّا مُعَاشَرَتُهُمْ لِدَفْعِ ضَرَرٍ يَحْصُلُ مِنْهُمْ أَوْ جَلْبِ نَفْعٍ فَلاَ حُرْمَةَ فِيْهِ ا هـ ع ش عَلَى م ر قَوْلُهُ ( الْمَيْلُ الْقَلْبِيُّ ) ظَاهِرُهُ أَنَّ الْمَيْلَ إلَيْهِ بِالْقَلْبِ حَرَامٌ وَإِنْ كَانَ سَبَبُهُ مَا يَصِلُ إلَيْهِ مِنَ اْلإِحْسَانِ أَوْ دَفْعَ مَضَرَّةٍ وَيَنْبَغِيْ تَقْيِيْدُ ذَلِكَ بِمَا إذَا طَلَبَ حُصُوْلَ الْمَيْلِ بِاْلاسْتِرْسَالِ فِيْ أَسْبَابِ الْمَحَبَّةِ إِلَى حُصُوْلِهَا بِقَلْبِهِ وَإِلاَّ فَاْلأُمُوْرُ الضَّرُوْرِيَّةُ لاَ تَدْخُلُ تَحْتَ حَدِّ التَّكْلِيْفِ وَبِتَقْدِيْرِ حُصُوْلِهَا .يَنْبَغِي السَّعْيُ فِيْ دَفْعِهَا مَا أَمْكَنَ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ دَفْعُهَا لَمْ يُؤَاخَذْ بِهَا ع ش عَلَى م ر قَوْلُهُ ( اْلإِسَاءَةَ إلَخْ ) أَيْ وَاْلإِحْسَانُ الَّذِيْ مِنْهُ الْمَوَدَّةُ يَجْلِبُ الْمَحَبَّةَ اهـ
إسعاد الرفيق الجزء 2 صحـ : 93 مكتبة الهداية
وَمِنْهَا كُلُّ قَوْلٍ يَحِثُّ أَحَداً مِنَ اْلخَلْقِ عَلَى نَحْوِ فِعْلِ أَوْ قَوْلِ شَيْئٍ أَوِ اسْتِمَاعٍ إِلَى شَيْءٍ مُحَرَّمٍ فِي الشَّرْعِ وَلَوْ غَيْرَ مُجْمَعٍ عَلىَ حُرْمَتِهِ اهـ
C. Hukum haram I’ânah ‘alâ al-ma’siyah (membantu/menolong kemaksiatan):
الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 4 صحـ : 248 مكتبة الإسلامية
(سُئِلَ) عَنْ كَافِرٍ ضَلَّ عَنْ طَرِيْقِ صَنَمِهِ فَسَأَلَ مُسْلِمًا عَنِ الطَّرِيْقِ إلَيْهِ فَهَلْ لَهُ أَنْ يَدُلَّهُ الطَّرِيْقَ إلَيْهِ ؟ (فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ لَيْسَ لَهُ أَنْ يَدُلَّهُ لِذَلِكَ ِلأَنَّا لاَ نُقِرُّ عَابِدِي اْلأَصْنَامِ عَلَى عِبَادَتِهَا فَإِرْشَادُهُ لِلطَّرِيْقِ إلَيْهِ إِعَانَةٌ لَهُ عَلَى مَعْصِيَةٍ عَظِيْمَةٍ فَحَرُمَ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ . اهـ
إسعاد الرّفيق الجزء 2 صحـ : 127 مكتبة الهداية
وَمِنْهَا اْلإِعَانَةُ عَلَى اْلمَعْصِيَّةِ أَيْ عَلَى مَعْصِيَّةٍ مِنْ مَعَاصِي اللهِ بِقَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ غَيْرِهِ ثُمَّ إِنْ كَانَتِ اْلمَعْصِيَّةُ كَبِيْرَةً كَانَتِ اْلإِعَانَةُ عَلَيْهَا كََذَلِكَ كَمَا فِي الزَّوَاجِرِ
الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 4 صحـ : 239 مكتبة الإسلامية
فَقَالَ وَمِنْ أَقْبَحِ الْبِدَعِ مُوَافَقَةُ الْمُسْلِمِيْنَ النَّصَارَى فِيْ أَعْيَادِهِمْ بِالتَّشَبُّهِ بِأَكْلِهِمْ وَالْهَدِيَّةِ لَهُمْ وَقَبُوْلِ هَدِيَّتِهِمْ فِيْهِ وَأَكْثَرُ النَّاسِ اعْتِنَاءً بِذَلِكَ الْمِصْرِيُّوْنَ وَقَدْ قَالَ صلى الله عليه وسلم { مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ } بَلْ قَالَ ابْنُ الْحَاجِّ لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَبِيْعَ نَصْرَانِيًّا شَيْئًا مِنْ مَصْلَحَةِ عِيْدِهِ لاَ لَحْمًا وَلاَ أُدُمًا وَلاَ ثَوْبًا وَلاَ يُعَارُوْنَ شَيْئًا وَلَوْ دَابَّةً إِذْ هُوَ مُعَاوَنَةٌ لَهُمْ عَلَى كُفْرِهِمْ وَعَلَى وُلاَةِ اْلأَمْرِ مَنْعُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ ذَلِكَ وَمِنْهَا اهْتِمَامُهُمْ فِي النَّيْرُوْزِ بِأَكْلِ الْهَرِيْسَةِ وَاسْتِعْمَالِ الْبَخُوْرِ فِي خَمِيْسِ الْعِيْدَيْنِ سَبْعَ مَرَّاتٍ زَاعِمِيْنَ أَنَّهُ يَدْفَعُ الْكَسَلَ وَالْمَرَضَ وَصَبْغِ الْبَيْضِ أَصْفَرَ وَأَحْمَرَ وَبَيْعِهِ وَاْلأَدْوِيَةُ فِي السَّبْتِ الَّذِيْ يُسَمُّوْنَهُ سَبْتَ النُّوْرِ وَهُوَ فِي الْحَقِيقَةِ سَبْتُ الظَّلاَمِ وَيَشْتَرُوْنَ فِيْهِ الشَّبَثَ وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّهُ لِلْبَرَكَةِ وَيَجْمَعُوْنَ وَرَقَ الشَّجَرِ وَيَلْقُوْنَهَا لَيْلَةَ السَّبْتِ بِمَاءٍ يَغْتَسِلُوْنَ بِهِ فِيْهِ لِزَوَالِ السِّحْرِ وَيَكْتَحِلُوْنَ فِيْهِ لِزِيَادَةِ نُوْرِ أَعْيُنِهِمْ وَيَدَّهِنُوْنَ فِيْهِ بِالْكِبْرِيْتِ وَالزَّيْتِ وَيَجْلِسُوْنَ عُرَايَا فِي الشَّمْسِ لِدَفْعِ الْجَرَبِ وَالْحَكَّةِ وَيَطْبَخُوْنَ طَعَامَ اللَّبَنِ وَيَأْكُلُوْنَهُ فِي الْحَمَّامِ إلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْبِدَعِ الَّتِي اخْتَرَعُوْهَا وَيَجِبُ مَنْعُهُمْ مِنَ التَّظَاهُرِ بِأَعْيَادِهِمْ اهـ
D. Hukum haramnya perbuatan fitnah dan kontroversial yang menimbulkan kegaduhan dan kerusakan seperti bekerjasama dengan zionisme pada saat zionisme sedang bergejolak memerangi dan genosida warga Gaza. Seperti menjual pedang atau pisau ke musuh pada saat perang.
الوجيز، ص: 345
األفعال المؤدية إلى المفاسد إما ان تكون وذاتها فاسدة محرمة واما ان تكون بذاتها مباحة جائزة -الى ان قال- أما االفعال المباحة الجائزة المفضية الى المفاسد فهى على أنواع: النوع االول ما كان افضاؤه إلى المفسدة نادراًاو قليال فتكون مصلحته هي الراجحةومفسدته هي المرجوحة كالنظر المخطوبة والمشهود عليها وزراعة العنب فال تمنع هذه االفعال بحجة ما قد يترتب عليها من مفاسد. الن مفسدتها مغمورة في مصلحتها الراجمة. وعلى هذا حل اتجاه تشريع االحكام وال خالف فيه بين العلماء. النوع الثاني: ما كان افضاؤه الى المفسدة كثيرا فمفسدته ارجح من مصلحته كبيع السالح في اوقات الفتن النوع الثالث: ما يؤدى الى المفسدة الستعمال المكلف هذا النوع لغير ما وضع له فتحصل المفسدة كمن يتوسل بالنكاح لغرض تحليل المطلقة.
Itulah hasi pertemuan para Kiai Jawa Barat dan DKI Jakarta dalam kegiatan Bahtsul Masail terkait pemberhentian KH Yahya Cholil Staquf dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU. Karena menjalin hubungan kerjasama dengan Zionis Internasional. Menjalin kerjasama dengan Zionis haram
























