JAKARTA | LIPUTAN9EWS
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama mempunya visi memberikan dampak kepada dunia internasional semenjak organisasi NU Didirikan. Sebagai wujud konkrit dari visi tersebut adalah partisipasi NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Yahya saat memberikan sambutan dalam gelaranacara peringatan Harlah NU ke-103 yang digelar di Plaza Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Senin (05/01/2026) malam Selasa.
Gus Yahya menegaskan bahwa berdirinya Negara Kesatuan RepublikIndonesia (NKRI) mempunyai maknastrategis dalam pembangunan peradaban. Ia mengatakan, Indonesia menjadi markas utama perjuangan tersebut.
“NKRI ini adalah markasnya, adalah kubu dari perjuangan membangun peradaban,” terangnya dihadapat pada hadirin yang hadir.
Lebih lanjut Gus Yahya menjelaskan, bahwa sejak awal NU tidak pernah berdiri sendiri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Nahdlatululama terlibat aktif dalam berbagai gerakan nasional bersama elemen lainnya demi mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
“Perjuangan tidak bisa didirikan, tidak bisa dilakukan oleh Nahdlatul Ulama sendirian, harus bersama-sama dengan elemen yang lain dan harus ada markasnya,” utara Gus Yahya.
Selaiitu, Gus Yahya juga menegaskan, visi membangun peradaban yang diusung NU sejalan dengan amanat Proklamasi Kemerdekaan dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Lalu, Ia mengutip pembukaan UUD 1945 yang menegaskan kemerdekaan sebagai hak seluruh bangsa di dunia.
“Kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan,” Jelasnya.
Kemudian, Gus Yahya menekankan bahwa sejak awal Indonesia didirikan bukan hanya untuk kepentingan kelompok atau suku tertentu, melainkan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.
“Ini jelas sekali bahwa Indonesia ini didirikan dengan cita-cita untuk kemaslahatan segala bangsa. Bukan cuma orang Betawi saja, bukan cuma Sunda, Jawa, Batak, Bugis dan lain-lain saja menjadi bagian Indonesia, tetapi untuk segala bangsa,” paparnya.
Pada momen Harlah sederhana tersebut, Gus Yahya juga mengajak seluruh warga NU dan masyarakat Indonesia untuk terus menghidupkan cita-cita peradaban mulia dalam pikiran dan hati. Menurutnya, kekuatan perjuangan hanya dapat terwujud jika semua pihak bersatu.
“Tidak ada pilihan menjadi barisan perjuangan yang kuat selain kita harus bersatu,” katanya.
Selain menyoroti visi kebangsaan dan peradaban, Gus Yahya turut mengingatkan pesan pendiri NU, Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, tentang pentingnya menjaga kasih sayang dan persaudaraan di antara sesama Nahdliyin.
“Masuklah kalian semua ke dalam Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini dengan mahabbah, dengan rasa cinta, wal widaad, dan kasih sayang. Kalau sudah mau masuk jamiyyah ini harus bisa saling menyayangi sesama jamaah, harus bisa saling mencintai dengan sesama jamaah,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa prinsip saling menyayangi merupakan syarat utama menjadi bagian dari NU.
“Kalau tidak bisa, pergi saja, enggak usah ikut NU. Kalau ikut NU harus siap harus menyayangi, karena perintah Hadratusyekh,” pungkasnya.
























