BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Industri budaya, di jaman ini, lebih merupakan fenomena yang mematikan kritisisme dan kesadaran. Kapitalisme menciptakan dan memproduksinya demi mengekalkan sistem dan keuntungan korporasi global. Seni, seperti seni musik, oleh kapitalisme dijadikan sebagai komoditas dan industri hiburan yang massif, agar banyak orang lebih asyik dan nyaman dengan hiburan semata.
Oleh kapitalisme, seni menjadi alat atau instrumen untuk mematikan kesadaran banyak orang. Membuat orang tidak sadar bahwa sesungguhnya mereka sedang dijadikan sebagai alat produksi demi meraup keuntungan kapitalisme dan korporasi global.
Hal itulah, yang contohnya, disadari salah-satu filsuf Mazhab Frankfurt, Theodore Adorno. Menurutnya, seni tidak seharusnya menjadi instrumen atau medium pencipta kesadaran palsu dan matinya kritisisme. Sebaliknya, seni semestinya membebaskan orang dari kesadaran palsu yang diciptakan struktur kapitalis yang dominan.
Menurut Adorno, seni bukanlah industri budaya yang diciptakan untuk melahirkan kenyamanan semu dan keuntungan kaum kapitalis. Seni mestinya menjadi medium yang membebaskan dan mencerahkan kita. Membuat kita lebih peka dan sadar pada realitas kehidupan sehari-hari kita. Bahkan bisa menjadi inspirasi untuk lahirnya perubahan sosial yang positif.
Adorno pun mencurigai atau katakanlah sangat kritis terhadap peranan kapitalisme yang menciptakan budaya massa atau mass culture. Menurutnya kapitalisme lah yang menciptakan standarisasi produk-produk seni demi meraup keuntungan sebesar mungkin bagi kaum kapitalis.
Kaum kapitalis menciptakan produk-produk budaya massa atau mass culture, dari mulai musik hingga film-film Hollywood, didisain atau dirancang semata hanya untuk menghibur agar banyak orang tetap pasif dan tidak menyadari struktur sosial tak berkeadilan yang diciptakan para elit. Seni kemudian, demikian menurut Adorno, menjadi alat dominasi kaum elit kapitalis.
Seni, sepatutnya, demikian menurut Adorno, tak hanya hiburan yang justru meninabobokan dan mematikan kesadaran banyak orang, tapi justru harus sanggup melahirkan pencerahan dan kesadaran kritis kita. Sehingga kita tidak dibelenggu dan dikontrol oleh kesadaran palsu yang diciptakan keserakahan elit kapitalis.
Apa yang dulu didiagnosis Adorno itu terasa semakin relevan saat ini, bukannya malah usang. Lihat saja perlombaan mengejar rating dalam fenomena praktik dan perilaku media-media kita, dan yang lainnya. Berjalin-berkelindan bersama iklan (kaum kapitalis), mereka bahkan mengkomodifikasi agama sebagai reality show dan hiburan.
Tak ragu lagi, budaya massa atau mass culture dan industri budaya (culture industry) merupakan produk komersialisasi budaya yang diproduksi secara masif oleh media untuk konsumsi khalayak luas dalam skala global, didorong oleh teknologi dan kapitalisme. Industri ini menciptakan kebutuhan palsu dan perilaku konsumtif, juga dalam skala global, dan mengubah masyarakat menjadi subjek pasif yang menerima realitas buatan atau kenyataan palsu yang menipu.
Sebelumnya, agar kita tidak keluar batas, kita tentu perlu memahami apa itu budaya massa? Secara singkat, budaya massa adalah produk budaya yang dihasilkan secara massal, seragam, dan dipopulerkan melalui media massa, seperti film, musik pop, acara televisi dan lainnya.
Lalu apa yang disebut industri budaya itu? Industri budaya merupakan konsep dan istilah yang merujuk pada industri yang memproduksi, mengomersialkan, dan menyebarkan konten budaya sebagai komoditas untuk keuntungan sebesar mungkin, yang diciptakan kapitalisme dan kaum kapitalis.
Produk-produk budaya itu mengikuti standarisasi dan komodifikasi sebagai penyeragaman agar mudah diterima dan dijual di pasar kepada para konsumen. Tidak aneh jika kemudian industri budaya dan budaya massa semakin mendorong atau memompa perilaku konsumtif masyarakat. Menjadikan masyarakat hanya sebagai konsumen yang seringkali pasif dan menerima pesan yang sama secara berkelanjutan.
Industi budaya dan budaya massa pun kemudian menghilangkan orisinalitas atau otentisitas dan kreativitas individual sebagai dampak dari standarisasi yang diciptakan kaum kapitalis dan sistem kapitalisme yang mereka tetapkan.
Industri budaya dan budaya massa itulah, yang menurut Adorno, membuat masyarakat terasing dari kehidupan nyata karena disuapi realitas buatan (kebutuhan palsu) secara terus-menerus dan berkelanjutan. Begitu pula, budaya populer atau pop culture seringkali dibentuk oleh trend global dan kepentingan media massa, demi meraup keuntungan besar dan rating.
Singkatnya, sebagaimana terjadi di jaman kita saat ini, industri budaya atau culture industry dan budaya massa atau mass culture, memanipulasi kesadaran banyak orang secara global, membuat banyak orang mengikuti trend tanpa sadar, dan menjadikan seni dan budaya sebagai komoditas bisnis belaka.
Adorno mengiterupsi semua itu dan menekankan pentingnya para seniman untuk menghasilkan karya-karya seni yang otentik, yang sekiranya sanggup pula menginterupsi jaman dan banalitasnya, yang kemudian akan menjadi karya-karya seni yang mencerahkan, sekaligus unik dan otentik.
Sulaiman Djaya, Penyair

























