SITUBONDO | LIPUTAN9NEWS
Sebuah Desa bernama Kayuputih, di Situbondo, menjadi jejak sejarah peradaban islam melalui pendidikan pesantren. Pada situs sejarah tersebut berdiri sebuah bangunan kayu yang hari ini disebut musholla.
Namun demikian pada 201 tahun silam, tepatnya 1825, bangunan itu adalah masjid pesantren Kiai Raden Mas Su’ud, ulama besar pengislam Situbondo. Di tempat itulah sejarah, ilmu, dan kekuatan spiritual pernah bertemu.
Kiai Mas Su’ud dikenal sebagai ahli tauhid, teologi, dan kanuragan. Ia bukan hanya pendidik, tetapi pembentuk peradaban. Nisan makamnya yang bercorak khas ulama Pamekasan–Sumenep dan masjid kayu yang masih berdiri hingga kini menjadi bukti bahwa Kayuputih pernah menjadi pusat cahaya Islam di tapal kuda Jawa.
Namun sejarah tidak selalu berlanjut secara linier. Pesantren Kiai Mas Su’ud tidak diwariskan secara institusional kepada anak-cucunya. Yang tersisa adalah cerita, artefak, dan keturunan yang kini berjumlah ribuan.
Salah satu cicitnya, HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa dengan panggilan Haji LIlur atau Gus Lilur, memilih jalan yang tidak lazim. Ia menolak romantisme masa lalu jika hanya berhenti pada nostalgia. Baginya, panggung Kyai Mas Su’ud terlalu kecil jika hanya dihidupkan kembali di Kayuputih.
“Saya tidak ingin menjadi bayangan Eyang. Saya ingin menjadi gelombang,” demikian prinsip Haji Lilur yang ia pegang.
Haji Lilur mengusung gagasan DABATUKA – Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan, Untuk Kemanusiaan – dan BAKIRA, Bandar Kiai Nusantara. Targetnya bukan satu pesantren, tetapi ribuan. Bukan satu masjid, tetapi jutaan di berbagai negara.
Pengusaha sukses yang merupakan alumni Santri MAPK Ponpes Denanyar itu, menantang batas geografis, budaya, dan mentalitas. Baginya, dakwah tidak boleh terkurung oleh peta. Islam harus hadir sebagai kekuatan global, bukan sekadar simbol lokal.
Dengan fondasi kepemilikan ratusan hingga ribuan aset pertambangan di Indonesia, ia memproyeksikan lahirnya jaringan filantropi Islam berskala dunia. Bukan wacana, tetapi struktur.
Di Kayuputih, masjid kayu itu tetap berdiri. Diam. Tua. Sederhana. Namun dari tempat sunyi itulah, lahir ambisi yang bising menggema ke dunia.
“DABATUKA, Bismillah, bumi bukan untuk ditakuti, tapi ditaklukkan demi kemanusiaan,” pungkasnya.

























