TANGERANG SELATAN | LIPUTAN9NEWS
Dengan segala keistimewaan dan keberkahannya, Ramadhan telah menjadi magnit ibadah. Di setiap bulan Ramadhan kita saksikan semarak dan kesungguhan ibadah umat Islam meningkat sangat drastis
Namun sayang, seiring berlalunya Ramadhan, seperti tahun-tahun sebelumnya, semarak ibadah umat Islam pasca Ramadhan tidak paralel/ tidak berbanding lurus dengan semarak, kesemangatan serta kesungguhan beribadah seperti saat Ramadhan
Ternyata kondisi seperti ini sudah disinyalir dan diingatkan oleh Allah Subhanahu wata’aalaa dalam Qur’an surat annahl 92
وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
Artinya: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, sehingga menjadi cerai berai kembali.” (QS. An Nahl: 92
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wata’aalaa merekam kisah seorang wanita yang hidupnya sia-sia. Dari pagi sampai sore, pekerjaannya memintal benang. Sore hari, ketika pintalan benang itu selesai dan kuat, ia cerai beraikan kembali hasil pintalannya.
Kisah tersebut sengaja Allah Subhanahu wata’aalaa tampilkan agar kita dapat mengambil ibrah/pelajaran, jangan sampai amal ibadah yang sudah kita kerjakan secara istiqomah selama Ramadhan, terhenti begitu saja. Dan justru, dirusak oleh perbuatan yang sia-sia setelah ramadhan
Spirit Ramadlan yang menghadirkan suasana dan sinyal religiusitas yang kuat patut dipertahankan, dilestarikan, dilanjutkan bahkan ditingkatkan pasca Ramadhan hingga akhir hayat.
Ulama mengatakan :
الاستقامة بعد رحيل رمضان، تحمل دلالات القبول المتمثلة في المداومة على الطاعة،
Artinya: “Istiqamah setelah Ramadhan merupakan tanda-tanda diterimanya (amal), yaitu dengan terus-menerus melakukan ketaatan.”
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata :
“أن معاودة الصيام بعد صيام رمضان علامة على قبول صوم رمضان فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده كما قال بعضهم : ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها.”
Artinya, “Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388)
Berikut ini beberapa alasan mengapa kita harus istiqamah dalam ketaatan pasca Ramadhan sampai mati :
1. Karena tidak ada akhir bagi amal kecuali dengan berakhirnya ajal (kematian).
Hasan Al-bashry berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menetapkan batas bagi amal seorang mukmin kecuali dengan kematian.” Kemudian beliau membaca ayat,
وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ یَأۡتِیَكَ ٱلۡیَقِینُ
Artinya: “Dan sembahlah (beribadalah) kepada tuhanmu (Allah Subhanahu wata’aalaa) sampai mati” [Surat Al-Hijr: 99].
Seorang mukmin tidak akan berhenti beramal kecuali dengan berakhirnya ajalnya. Imam Ahmad pernah ditanya, “Kapan seorang hamba akan merasakan rasa istirahat ?’ Beliau menjawab, ‘Ketika pertama kali menginjakkan kaki di surga.”
2. Istiqamah dalam ketaatan, terutama amalan sunnah, adalah sebab dicintainya Allah Subhanahu wata’aalaa
Allah Subhanahu wata’aalaa berfirman dalam hadits qudsi, “Hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
Beristiqamah dalam amalan sunnah adalah sebab Allah mencintai hamba-Nya.
3. Istiqamah dalam ketaatan adalah sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.
Dalam Shahih Muslim, dari Aisyah RA, Nabi SAW jika melakukan suatu amalan, maka dia akan terus-menerus melakukannya. Dalam Shahihain, Aisyah RA juga berkata, “Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan atau selain Ramadhan lebih dari 11 rakaat.”
4. Istiqamah dalam ketaatan adalah sebab wafat husnul khatimah
Jika seorang hamba terus-menerus melakukan ketaatan, maka itu adalah salah satu sebab terbesar untuk mencapai husnul khatimah. Sunnah Allah berlaku bagi makhluk-Nya bahwa siapa yang terus-menerus melakukan sesuatu, maka dia akan mati di atasnya, dan siapa yang mati di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atasnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir RA, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap hamba akan dibangkitkan di atas apa yang dia mati di atasnya.”
Berikut beberapa amalan yang seharusnya kita lanjutkan pasca Ramadhan sampai mati :
1. Lanjutkan puasa Ramadhan dengan puasa-puasa sunnah di luar Ramadan
Ramadhan telah membuktikan bahwa ternyata kita mampu berpuasa selama 29/30 hari berturut-turut tanpa terputus walau satu hari. Logikanya, apalagi puasa syawwal yang hanya 6 hari, ayyaamul bidh yang hanya 3 hari dan Senin Kamis yang cuma dua hari, seharusnya kitapun mampu
Maka dari itu, yok kita lanjutkan dengan puasa-puasa sunnah. Karena _puasa merupakan satu-satunya amalan yang pahalanya tak terhingga dan utuh tidak berkurang sedikitpun. Tidak seperti ibadah-ibadah lainnya yang pahalanya berpotensi hangus karena dijadikan kaffaroh (tebusan) terhadap kezaliman yang dilakukan seseorang kepada orang lain berupa fitnah, ghibah, umpat dll).
أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ (رواه وسلم)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu ?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut itu adalah yang tidak mempunyai dirham (uang) maupun harta benda”. Tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, namun (ketika di dunia) dia suka mencaci maki dan (salah) menuduh orang lain, makan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang yang terdzalimi itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikan pelaku dzalim. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim)
Alhamdulillah, semakin menggeliatnya program pengajian di masjid-masjid baik di kota maupun desa, kebiasaan mengghibah, memfitnah, mengumpat orang lain sudah semakin berkurang.
2. Lanjutken kebiasaan shalat berjama’ah di masjid
Selama Ramadhan, jangankan shalat wajib, shalat sunnat saja ternyata Alhamdulillah kita mampu melaksanakannya secara berjama’ah seperti tarawih dan qiyamullail. Karena itu, bila shalat sunnat saja kita lakukan secara berjama’ah, apalagi shalat wajib yang lima waktu.
Orang beriman yang haus akan ridho Allah subhanahu wata’aalaa, sudah tidak memilah-milah dalam beribadah. Asalkan perintah Allah dan Rasulnya, apakah hukumnya wajib atau sunnah dia tetap istiqamah mengerjakannya.
Jika ada umat Islam yang belum tergerak istiqamah berjama’ah di masjid atas landasan hukum dengan berpegang pada pendapat Imam Syafi’i rohimahullah yang mengatakan bahwa hukum shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki adalah fardhu kifayah, ketahuilah bahwa ternyata Imam Syafi’i rohimahullah tidak memberikan keringanan untuk meninggalkan shalat berjama’ah di masjid bagi yang mampu.
Dalam kitab Al-umm (kitab fiqih Imam Syafi’i) disebutkan,
وقال الشافعي رحمه الله: (لا أُرخِّص لمَن قَدرَ على صلاة الجماعة في ترك إتيانِها في المسجد
“Imam Syafi’i رحمه الله berkata: ‘Aku tidak memberikan keringanan bagi orang yang mampu melaksanakan shalat berjamaah untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid’.”
Imam Syafi’i menegaskan tentang pentingnya shalat berjamaah di masjid dan tidak membiarkan seseorang meninggalkannya tanpa uzur yang sah.
Mari kira menauladani sikap para sahabat dalam beribadah seperti digambarkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaani Rahimahullah dalam Kitab Fathul Baari 3/265.
وقد كان صدر الصحابة ومن تبعهم؛ يواظبون على السنن مواظبتهم على الفرائض، ولا يفرقون بينهما في اغتنام ثوابهما
“Dahulu, para Pemuka Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, kesungguhan dan semangat mereka melakukan amalan-amalan sunnah, sama dengan kesungguhan dan semangat melakukan ibadah ibadah yang Wajib. Mereka tidak membedakan semangat melakukannya antara keduanya, Sunnah dan yang Wajib dalam mengambil manfaat pahalanya”.
Sebagaimana sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dalam beramal ibadah. Beliau tidak memilah amalan yang bersumber dari Allah Subhanahu wata’aalaa dan Rasulnya, apakah itu wajib atau sunnah. Dengan ucapan beliau,
“لست تاركًا شيئًا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل به ، إلا عملت به ، وإني لأخشى إن تركت شيئًا من أمره أن أزيغ”
“Tidaklah saya meninggalkan sesuatu pun amalan yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali saya juga mengamalkannya. Sungguh, saya khawatir jika saya meninggalkan satu saja dari perintahnya, saya akan menyimpang.”
3. Lanjutken kebiasaan menunggu waktu maghrib
Hanya di Ramdhan semua orang beriman di dunia ini di waktu yang bersamaan, kompak menunggu waktu maghrib untuk berbuka puasa. Pelajaran yang ingin Allah Subhanahu wata’aalaa sampaikan adalah agar kita ISTIQAMAH SHALAT DI AWAL WAKTU BERJAMA’AH DI MASJID
Jika di sepanjang Ramadhan kita mampu disiplin menunggu datangnya waktu magrib untuk berbuka puasa, seharunya kita pun mampu disiplin dan istiqamah menunggu waktu-waktu shalat fardhu yang lima waktu dalam rangka ISTIQAMAH SHALAT DI AWAL WAKTU BERJAMA’AH DI MASJID
عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا »
Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud hadits shahih).
4. Lanjutken kebiasaan bangun malam
Walaupun berat, alhamdulillah selama Ramadhan (29/30 malam berturut turut) tanpa putus walau satu malam, ternyata
kita mampu bangun antara jam 2 sampai jam 3 malam dalam rangka santap sahur
Seharusnya dengan niat yang kuat dan kesadaran akan keutamaannya, kita dapat melakukannya dengan lebih mudah pasca Ramadhan dalam rangka ISITIQAMAH QIYAMULLAIL, TADDARUS, ISTIGHFAR DAN SHOLAT SUBUH DI AWAL WAKTU BERJAMA’AH DI MASJID.
وَمِنَ ٱلْلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِۦ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam, dirikanlah shalat tahajjud sebagai tambahan bagi kamu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’ (17:79)
يَا أَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ * قُمِ ٱللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا * نِصْفَهُۥٓ أَوِ ٱنْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا
“Hai orang yang berkumpul (di atas kasur), bangunlah (untuk shalat) pada sebagian malam, (yaitu) kurang dari setengahnya, atau lebih dari setengahnya, dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil : (73:1-4).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَفْضَلُ ٱلصَّلَاةِ بَعْدَ ٱلْفَرِيضَةِ صَلَاةُ ٱللَّيْلِ”
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
عَنْ عَبْدِ ٱللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ ٱلْغَافِلِينَ”
Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa shalat malam dengan sepuluh ayat, maka dia tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai.” (HR. Tirmidzi)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ ٱللَّهِ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى ٱلسَّمَاءِ ٱلدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ ٱللَّيْلِ ٱلْآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ”
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Allah turun ke langit dunia pada setiap malam, ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir. Dia berseru, ‘Siapa yang berdoa, maka akan dikabulkan. Siapa yang meminta, maka akan diberi. Siapa yang memohon ampun, maka akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
5. Lanjutkan kebiasaan membaca Al-Qur’an
Jika di Ramadhan Alhamdulillah ternyata kita mampu membaca Al-Qur’an satu juz dalam sekali duduk, harusnya di luar Ramadhan kitapun mampu membaca 2 lembar saja setiap ba’da shalat Fardu, sehingga sehari bisa satu juz dan sebulan sekali khatam.
Dintara sekian banyak keutamaan membaca Qur’an adalah kelak di akhirat Al-Qur’an akan menjadi syafa’at bagi pembacanya
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang sebagai syafaat untuk para pembacanya.” (HR. Muslim).
6. Lanjutken kebiasaan meninggalkan maksiat
Jika di Ramadhan kita mampu menahan diri sementara waktu dari melakukan perbuatan-perbuatan yang halal, seperti makan dan minum dari harta yang halal kepunyaannya sendiri serta menahan berhubungan suami-istri di siang hari Ramadhan KARENA INGAT PERINTAH ALLAH Subhanahu wata’aalaa, diharapkan ia akan selalu istiqamah menta’ati perintah Allah Subhanahu wata’aalaa dan takut serta tidak akan berani melanggar segala larangan-Nya karena sadar selalu dalam murooqobatullah (pengawasan Allah Subhanahu wata’aalaa) setiap saat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu (kemudahan untuk melakukan) kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran.” Aamiin yaa mujiibassaailin (HR. Tirmidzi)
7. Lanjutken kebiasaan bersedekah
Jika di bulan Ramadhan, umat Islam lebih dermawan dalam bersedekah, maka setelah Ramadhan, kebiasaan ini harus tetap dilanjutkan karena sedekah memiliki segudang keutamaan.
Disamping itu karena sedekah merupakan ibadah sosial yang merupakan cerminan dari ibadah individual yang pahalanya jauh lebih besar dan berkelanjutan sampai mati bahkan hingga hari kiamat serta manfaatnya menyebar ke banyak orang. Dibandingkan dengan ibadah individual yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri dan pahalanya terputus saat ibadah itu selesai dikerjakan.
Imam Jalaluddin as-Suyuthi rahimakumullah seorang cendikiawan muslim terkenal abad ke-15 dalam karyanya kitab Al-Asybah Wa An-Nadzoir Fil Qowaidl Fiqhiyyah, terdapat kaidah Fiqih ketiga puluh lima yang berbunyi:
المتعدي افضل من القاصر
“Amalan yang manfaatnya menjangkau banyak orang lebih utama dari amalan yang manfaatnya tidak menjangkau banyak orang”
Hujjatul Islam Imam Ghozali rohimahullah mengatakan :
النفع المتعدي أعظم من النفع القاصر
“Manfaat yang meluas (sosial/muta’addi) itu lebih agung/utama daripada manfaat yang terbatas (individual/qashir).”
Ibadah individual tidak bermakna bila melanggar norma sosial
”Orang shalat akan celaka, bila menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, riya dan enggan membantu (QS. Al-Maa’uun)
Wallahu a’lam bisshowab
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)
Domisili: Thali’a Clauster (Ps. Ceger) Jl. Musholla Nurul Huda No.1, blok B12Jurang Mangu Barat, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222 HP/WA +62852-1737-0897.

























